Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
40. Hopeless


__ADS_3

πΎπ‘’π‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘˜π‘’ π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘ π‘Žπ‘˜π‘–π‘‘...


Seakan ada banyak jarum yang menusuk kepalaku dan mencoba membuatku tidak melihat apa yang barusan ku lihat.


Di dalam halusinasi itu, aku melihat diriku yang tampak sangat berbeda. Aku tidak mengingat putaran pertamaku, tapi hanya melihatnya sekilas. Dan dalam pengelihatan itu aku berdiri di atas korban peperangan, tempat itu begitu asing. Tidak ada mayat satu orangpun yang ku kenal namun rasanya seperti aku tahu aku mengenal mereka saat itu.


Satu hal yang pasti ku bisa simpulkan, kejadian ini terjadi sebelum aku berperan sebagai Novan Akasa. Dengan kata lain putaran pertamaku bukanlah di Abyudara.


Jadi artinya diputaran pertama aku seperti mengikuti sebuah perang dan mati, dan diputaran kedua aku terlahir menjadi Novan Akasa. Selanjutnya ketika aku mati aku akan terus kembali menjadi Novan Akasa, bukan kembali ke putaran pertamaku.


Tapi perang apa yang aku ikuti sampai para dewa tertawa atas kekalahan pasukanku?


Tapi dalam halusinasi itu tidak dijelaskan bagaimana aku mendapatkan kekuatan dan kutukan ini.


Kenapa aku harus kembali ke putaran kedua?


Apa ada sesuatu yang terjadi pada putaran pertama?


Tubuhku terasa melayang dan kemudian perlahan mati rasa dan di tengah gelapnya langit malam yang ditaburi oleh bintang aku melihat sebuah pintu.


Puluhan pertanyaan muncul di benakku tapi ketika aku kembali membuka mata kini aku sudah tidak berada di Astral. Di ujung mataku aku bisa melihat jendela kayu yang mewah tertutup rapat agar tak ada angin yang memasuki ruangan, di baliknya dedaunan pohon yang disinari cahaya mentari tampak bergoyang bersama kicauan burung.


Tenggorokan ku kering dan tubuhku sakit semua, ketika mataku melirik ke samping aku hanya menemukan seekor ular merah meringkuk di atas selimutku. Tubuhnya di penuhi oleh sisik merah dan di atas kepalanya sebuah simbol yang tak asing terukir.


𝑇𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒 π‘˜π‘’π‘›π‘Žπ‘π‘Ž π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π·π‘’π‘—π‘Žπ‘£π‘’?


Ular itu membuka matanya dan dengan cepat mengeliat ke arahku membuatku seketika hampir berteriak kaget.


"Haha kalau kau tiba-tiba seperti itu Novan bisa pingsan lagi, dasar" seorang pemuda berambut pirang dengan topi berpita hijau menjitak kepala ular itu, membuat ular itu seketika mau tidak mau merubah wujudnya menjadi manusia.


Fobetor menatap Nanaru dengan ekspresi kesal dan kemudian kembali menatapku sesaat sebelum kemudian pergi setelah berkata "aku akan panggilkan Valas, tunggu sebentar" aku merasakan ada yang aneh namun kemudian aku segera mengalihkan perhatian ku ke arah jendela dan kemudian Nanaru hanya diam sambil tersenyum.


Aku mencoba untuk duduk dan rasa sakit menyebar kembali ke seluruh tubuhku, Nanaru kemudian membantuku dan meletakkan beberapa banyak tambahan di belakang punggung dan leherku.


"Bagaimana keadaanmu?"


π΄π‘π‘Ž 𝑖𝑑𝑒 π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘Žπ‘›?

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau minum dulu?" Nanaru menyodorkannya sebuah cangkir putih dan aku menerimanya tanpa melihat isinya, namun ketika aku meminumnya rasa sayuran seperti wortel mengalir masuk ke tenggorokan ku.


"Jus wortel?!"


"Haha enak kan?"


"Memangnya kau kelinci?" Saat aku bertanya begitu ia hanya tersenyum dan memiringkan kepalanya seperti anak polos yang diberikan pertanyaan bodoh.


"Aku lebih suka teh lemon" ujarku ingin menyerahkan kembali cangkir itu pada Nanaru namun kemudian ia malah tertawa.


"Seleramu buruk, kalau kau menghabiskan nya aku akan memberimu kesempatan untuk bertanya apa yang terjadi saat kau pingsan" aku menghentikan tanganku dan kemudian menatapnya remeh.


"Kalau itu aku bisa tanya Fobetor-"


"Menurutmu antara dia dan aku siapa yang paling punya banyak koneksi dan informasi?" Ia menyela dan kemudian memasang ekspresi sombong.


Dengan wajah kesal dan terpaks aku menghabiskan jus wortel itu dan kemudian mencoba menahan rasa mual di perutku yang kosong dan keroncongan.


"Sial berapa lama aku pingsan sih.."


"7 hari! Kau sudah terbaring pingsan 7 hari di kediaman Akasa, selamat!" Jawab Nanaru dengan senyuman polos.


"Loki, Hera, Ratna, dan para dewa yang berpotensi berhubungan dengan mereka dan kekacauan Minggu lalu di seret ke sidang tertinggi, sidang para dewa. Ares sejauh ini di tetapkan sebagai pihak yang tidak bersalah karena membela anaknya yang teraniaya sementara sisanya masih belum diputuskan" ujar Nanaru.


"Bagaimana dengan Loki? Dia kan dewa mitologi lain"


"Loki? Ah jangan kawatir, selain dia masih ada satu lagi kok" aku mengangkat alisku, siapa lagi dewa lain dari mitologi luar Yunani selain Loki? Apa yang dewa itu lakukan dan kenapa aku tidak tahu. Berbagai pertanyaan terbesit pada kepalaku namun ketika Nanaru kembali menjelaskan sosok itu aku seketika terdiam membeku.


"Hopeless juga terlibat dalam pertempuran kali ini"


Aku menatap Nanaru dengan mata yang melebar, ia melanjutkan kalimatnya sembari mengelengkan kepalanya "dasar orang itu, siapa yang mengira ia akan membuat awan hitam menutupi rembulan dengan alasan ia tidak suka melihat bulan.."


"A-apa?"


"Begini, pada malam kau bertempur tiba-tiba Hopeless menurunkan kapal terbangnya ke samudra dengan alasan ia ingin memancing mumpung Phoseidon sedang bertempur namun karena cuaca begitu buruk dan air mulai terus naik akhirnya Hopeless memanggil awan hitam dan menutupi cahaya rembulan karena kesal. Karena aksinya itu seluruh Abyudara tertutup awan gelap dan petir selama 2 hari"


Tunggu, bukankah itu artinya dia yang membantu kami? Kalau tidak ada awan hitam itu pada saat pertempuran aku yakin, kondisinya tidak akan seperti ini. Tapi awan yang menutupi Abyudara selama 2 hari? Sebenarnya sekuat apa sosok Hopeless ini..

__ADS_1


"Hopeless itu.. dewa apa?" Aku bertanya dengan ragu dan Nanaru tampak terkejut.


"Hm... Aku juga tidak tahu, ia bisa dibilang sangat misterius. Bahkan terkadang aku takjub akan tindakan nya yang seakan tahu masa depan apa yang akan terjadi.." Nanaru memasang wajah serius dan kemudian menatap ke arah jendela "bisa dibilang dia itu seperti sosok abstrak yang begitu cerdik.. dia bukan dewa dari mitologi manapun, di dunia ini dewa digolongkan berdasarkan mitologi, kategori dan juga abstrak..


Para dewa abstrak lebih suka memanggil diri mereka 'penuntun' atau 'legenda'. Mereka bukanlah sosok yang suka memerintah, mereka sosok yang mengantar manusia ke suatu tujuan yang mereka ingin lihat. Jumlah mereka lebih banyak dari para dewa mitologi dan kebanyakan kekuatan mereka itu beragam tergantung hati diri mereka"


Aku mengangguk mengerti, kini menjadi jelas mengapa aku tidak mengingat dewa sepertinya. Ternyata ada dewa yang tidak memiliki kisah yang aku ketahui dari duniaku. Awalnya aku heran mengapa aku bisa gagal diputaran-putaran sebenarnya padahal aku punya banyak informasi soal dewa-dewi. Ternyata karena ada dewa-dewi yang tidak aku kenal..


Ditengah keheningan yang melanda tiba-tiba suara pintu yang terbuka terdengar dan dari ambang pintu beberapa orang yang aku kenal berdiri di sana, menatapku dengan mata yang dipenuhi amarah.


.


.


.


Normal pov:


Ditengah hamparan bintang dan kegelapan, Hopeless menatap Novan dari pantulan sebuah cermin dan ia tersenyum.


"Aku punya firasat baik pada putaran kali ini"


"Apa menculik orang lain adalah hobimu?" Sekarang pria berambut hitam dengan mata unggu menatap Hopeless dengan tatapan tajam.


"Hoho, anda sejujurnya juga ingin ke sini kan? Bukankah anda penasaran akan keadaan anak itu? Anda kan yang merawatnya di sini selama 7 tahun hingga rela meminjamkan kekuatan anda padanya, ya kan dewa Hades?" ucap Hopeless tertawa di balik topeng kertasnya.


"Ngomong-ngomong anda mau limun? Mau dingin atau teh?" Hopeless dengan ramah menawarkan dua buah gelas berisi minuman yang tercampur lemon namun kemudian Hades mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.


"Kesukaanmu itu jadi mirip dengan nya"


"Hoho anda memang yang paling tahu saya"


Hades menerima teh berisi lemon dan kemudian menatapnya sesaat sebelum kemudian menghela nafas dan kemudian tersenyum.


"Yah setidaknya ini mengingatkanku padanya.."


"Tidak buruk.."

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2