
Langit biru terbentang luas dan malam begitu indah pada saat itu. Terlalu damai, itulah yang dipikirkan semua orang, para manusia utusan dewa tak lagi bisa mendengarkan suara dewa mereka, para monster yang selalu diliputi oleh amarah dan haus akan darah kini menjadi tenang dan dunia mimpi sekaan berhenti bergerak sejenak.
Kereta kereta cahaya tampak melintas di atas rel cahaya di langit malam melintasi cahaya bintang yang berkelap-kelip di atas awan kelabu. Kereta itu perlahan turun ke daratan dan ketika gerbongnya mereka terbuka tepat di depan jiwa-jiwa manusia di sekitar mereka perlahan semua manusia mengingat kehidupan dunia realita mereka dan berjalan ke dalam gerbong kereta itu.
"Hm? Kereta-" Abdi tampak menatap kereta di depannya dengan tatapan bingung namun kemudian sosok Novan entah bagaimana ada di atas gerbong kereta tampak duduk dan menatapnya.
"Lama tak bertemu ya" Novan tersenyum melihat sosok pemuda yang ia anggap adik itu menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku ingin kembali berbincang bersama mu lebih lama, aku beruntung kau pernah menjadi adikku di dunia ini, dan sebagai rasa terimakasih ku aku merasa harus mengucapkan selamat tinggal padamu" suara Novan terdengar begitu ramah dan lembut. Dan ketika ia menjentikkan jarinya Abdi sekaan terhipnotis dan berjalan masuk ke dalam kereta.
Pemberhentian demi pemberhentian Novan lalui dan tak terasa malam akan segera berakhir dan perlahan Novan menyadari tubuhnya mulai bercahaya, jiwanya akan segera berubah dan perasaan manusianya akan hilang.
Novan menjemput semua orang yang berharga baginya dan menyaksikan momen terakhirnya bersama mereka. Mulai dari Nikolai yang tersenyum ke arahnya dan berjanji suatu hari ia akan menemui Novan dan mengajarinya cara bermain game seperti di dunia nyata. Dian yang memeluk Novan sembari menangis mengingat kematian Andi, bahkan Kaleid yang tersenyum dan berpamitan pada Nik dengan penuh berat hati. Di sela perjalanan itu Novan sempat teringat akan Kiel dan Noah namun ia tak menjemput mereka.
"Biarlah mereka naik kereta dengan sendirinya" tampaknya Novan masih memiliki sedikit rasa kesal karena kejadian terakhir kali.
Semua manusia akhirnya masuk ke dalam gerbong kereta, siap untuk membawa mereka keluar dari tempat yang telah mengurung mereka selama bertahun-tahun.
Kini tersisa dua orang yang masih berada di luar kereta. Nanaru tampak menatap Arin dengan senyuman sendu, dan ketika Novan datang menghampiri mereka dengan sebuah kereta Arin langsung menatap Novan dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kakak!" Akhirnya Arin mengatakan kata itu dengan lantang sembari memeluk tubuh Novan yang bercahaya. Arin menangis, ia mencoba untuk membujuk kakaknya untuk pergi bersama ke dunia realita, namun tak ada sepatah kata yang dapat Arin keluarkan karena Arin tahu kakaknya melakukan semua itu demi menyudahi penderitaan semua orang. Novan tersenyum dan memeluk adikku dengan hangat sembari mengelus kepala gadis itu.
"Arin... jangan nangis ya kan Arin akan segera bisa keluar dari sini. Arin bakal kembali punya banyak teman, bukankah itu yang Arin mau sejak dulu?" Jari jemari Novan dengan lembut menyeka air mata anak itu "Arin harus bisa bahagia tanpa kakak ya" ucapan Novan yang lembut terasa begitu menusuk bahkan untuk Nanaru yang mendengarnya.
__ADS_1
Ivan yang adalah boneka peniru buatan Protogonos untuk meniru sosok Novan bahkan memasang wajah sedih ketika ia melihat kedua berpelukan, boneka yang hanya dapat mengikuti setengah perasaan hati orang yang ia tiru itu kini hampir menangis ketika ia melihat tatapan mata Novan, betapa besarnya kesedihan Novan pada saat itu hingga boneka itu bahkan tak bisa mengendalikan dirinya sendiri dari kesedihan.
"Jangan khawatir Arin... Aku akan menemani Novan di sini" ucapan Nanaru membuat Novan dan Arin terkejut namun kemudian Arin tersenyum.
"Benarkah? Paman Nanaru akan menjaga kakak?!"
"Ya, paman akan menjaganya. Jadi Arin harus jadi anak baik ya di dunia sana" Nanaru tersenyum dan memberikan sebuah pita hijau di rambut Arin. "Suatu hari kita akan bertemu lagi. Paman janji" ucapan Nanaru sukses menenangkan Arin dan dengan langkah yang berat namun pasti anak itu akhirnya memasuki kereta.
Semua kereta akhirnya terisi dan siap mengantar semua orang kembali ke dunia nyata, kini Novan dan Nanaru memutuskan untuk terus berada di dunia mimpi sembari membantu para dewa mengatur the tower.
Semua manusia terbangun di dunia nyata dan mereka meras atelah melalui mimpi yang panjang. Beberapa manusia yang koma perlahan terbangun dan yang lainya seakan baru bangun dari mimpi yang mereka alami hanya semalam, waktu tidur dan terjebak mereka berbeda-beda namun pada dasarnya kini mereka merasa lebih bebas.
Arin terbangun di sebuah kamar rumah sakit dan di sampingnya Abdi dan Dian tampak tersenyum melihatnya terbangun. "Arin! Ya ampun akhirnya kamu bangun!!" Arin mengenal kedua orang itu sebagai kakak kedua dan ketiganya. Namun satu nama yang langsung Arin ingat ketika bangun.
"Kak Novan?"
Kedua kakaknya itu langsung memasang wajah sendu dan Arin melihat ke arah samping, tak jauh dari ranjangnya berada sosok seorang pemuda berambut hitam tampak tertidur dan itu adalah Novan.
Sementara itu dunia mimpi berjalan seperti sedia kala. Orang selalu datang dan pergi layaknya pengunjung yang mengunjungi tempat pariwisata, tak ada manusia yang tertahan di dunia mimpi seperti dulu. Orang-orang yang tinggal lama di sana hanyalah manusia yang tertidur lama atau koma sementara yang lainya pasti hanya akan datang sebentar dan kemudian kembali ke realita.
Diantara dunia mimpi yang begitu banyak terdapat sebuah menara di tengah-tengah mereka. Itulah The tower, tempat para dewa tinggal dan berkuasa di setiap lantainya. Terkadang beberapa manusia diundang masuk ke dalam tower atas izin beberapa dewa. Namun semakin lama para manusia semakin banyak masuk ke tower dan itu menjadi pekerjaan tambahan bagi Novan dan para kordinator tower.
__ADS_1
"Kalau bosan kan mereka tinggal cari kesibukan.. aku tidak mengerti pola pikir dewa-dewi ini..." Novan menghela nafas lelah dan menatap setumpuk dokumen yang berterbangan di ruanganya. Hipnos tampak tersenyum, suatu hiburan tersendiri baginya bisa melihat Novan menggerutu seperti diri Novan yang dulu. Kini sosok Novan dikenal memiliki banyak keperibadian dan sikap, para penghuni dunia mimpi mengenal Novan sebagai the God of tower dan juga sosok penting yang memimpin para dewa mimpi.
"Novan!!!" Suara teriakan terdengar memecahkan keheningan di ruangan itu dan kepala Novan semakin sakit saat melihat dua orang sosok yang berdiri di ambang pintu besar ruanganya itu. Nanaru dan Compassion Misery tampak datang dengan aura berbinar dan penuh semangat, berkebalikan dengan Novan dan Morfeus yang kelelahan.
"Kenapa dua pembuat onar ini harus datang di akhir pekan.." gumam Morfeus diam-diam mengutuk kedua dewa itu karena menganggu waktu lemburnya.
"Kami punya ide bagaimana cara menghapus segala kebosanan di menara ini!!!" Suara Nanaru tampak begitu percaya diri dan ia menyerahkan sebuah benda yang di kenal di dunia manusia sebagai tablet.
"Apa ini? Benda buatan manusia lagi?"
"Jangan fokus ke bendanya! Lihat layarnya!" Ujar Compassion Misery.
"Ini... Game kan? Tapi kenapa gambarnya menara kita..?" Novan tampak penasaran dan juga kebingungan.
"Haha itu dia! Game virtual reality! Kita akan membuat itu!" Nanaru kini tersenyum lebar "selama ini pengunjung menara hanya datang dari para manusia yang diundang langsung oleh para dewa tapi dengan game virtual reality kita bisa membuat portal dunia dimana manusia bisa masuk ke dalam the tower dan para dewa bisa menyaksikan setiap tindakan mereka di setiap lantai! Bukankah itu menarik-"
"Kau menganggap nyawa seseorang sebagai mainan?" Ucapan Novan seketika menusuk Nanaru namun dengan cepat Compassion Misery membatu Nanaru tenang.
"B-bukan begitu. Kan ini game artinya sosok mereka di sini bukan sosok asli mereka. Ya intinya di dalam game ini mereka berbeda dengan sosok mereka yang asli bahkan kemampuan mereka" ucap Nanaru mencoba menjelaskan sesederhana mungkin kepada orang yang bahkan tidak pernah ingat bermain game, tentu saja orang yang di maksud adalah Novan dan Morfeus.
Novan tampak berpikir sejenak dan kemudian ia mengangguk "itu... Menarik" mendengar ucapan Novan seketika Nanaru dan Compassion Misery menjadi girang.
__ADS_1
"Ya kan! Benar benar akan menjadi seru!!"
"Kalau begitu ayo kita bersiap! Para player akan memasuki menara ini! Aku tidak sabar melihat mereka tersiksa- maksud ku bersenang-senang!" Meskipun ucapan Compassion Misery sempat kepeleset namun Novan tak menaruh curiga, karena sejujurnya ia juga penasaran dunia seperti apa yang akan ia lihat bila para manusia menjelajahi menara dan kisah baru apa yang akan dibuat oleh para player itu.