Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
64. Membimbing calon Raja (1)


__ADS_3

Cahaya matahari yang menyeruak masuk lewat sela gorden berhasil menganggu tidur pemuda itu dan dengan keadaan bingung ia terbangun di atas sebuah kasur. Matanya menjelajahi ruangan itu dan kemudian ia mengusap wajahnya "kemarin itu... Ada apa ya.." ia bergumam pelan, mencoba mengingat paa yang terjadi kemarin hari namun pada akhirnya ia tak mengingat apapun.


Suara pintu terdengar dan dari balik sana seorang pria berperawakan sama seperti dirinya masuk membawa senapan sarapan dan teh lemon hangat, seakan tahu bahwa Novan telah bangun. Tanpa mengatakan apapun ia meletakan makanan itu di dekat Novan menunggu Novan untuk mengambilnya.


Novan terdiam sejenak mendapat sosok itu dan kemudian berbicara "tumben kau baik, Fobetor" dengan nada heran. Alih-alih menjawab rasa penasaran Novan sosok itu malah tertawa. Novan semakin menatapnya dengan tatapan bingung dan aneh, ia kemudian mengambil teh lemon dan meminumnya sebelum kemudian Novan tersedak karena mendengar jawaban dari sosok itu.


"Haha aku bukan Fobetor"


Novan terbatuk sesaat sebelum kemudian benar-benar memperhatikan sosok itu. Wajahnya memang mirip dengan Novan tapi satu hal yang bisa ia pastikan kalau sosok itu tidak berbohong adalah senyuman lembut yang sosok itu pasang, senyuman yang tak bisa Novan lakukan. "M-morfeus?!" Sosok itu tersenyum dan mengangguk.


"Ya, ada sesuatu yang bisa ku bantu lagi?"


Novan mendengar suara dari arah pintu, di sana Leviathan tampak mengintip bersama dengan Mammon dan Fobetor, Novan tidak ingat kapan ketiga orang itu menjadi begitu dekat tapi ia tahu bahwa ketiganya sama-sama enggan untuk masuk, tidak seperti kebiasaan mereka yang selalu memasuki kamar Novan tanpa izin.


"Jangan khawatir saya tidak akan membiarkan mereka masuk kalau anda tidak mau" ucapan Morfeus menjawab kebingungan di kepala Novan, tak hanya itu jawaban itu memperjelas sesuatu yang mengejutkan.


"Kau masih bisa membaca pikiranku?!"


Morfeus hanya tersenyum dan diam, mengartikan ia tidak membenarkan maupun menyangkal hal itu. Tapi dari sikapnya Novan tahu bahwa Morfeus tahu seperti apa pikiran Novan sehingga ia bisa menebak apa pilihan Novan.

__ADS_1


Novan kembali tersadar ada sesuatu yang aneh dan kemudian ia menatap Morfeus dengan wajah penasaran "bagaimana kau bisa keluar?" Pertanyaan itu membuat Morfeus terdiam sesaat sebelum kemudian menjawab.


"Kau benar-benar tidak ingat ya... Yah itu lebih baik sih" ucapnya menyentuh dagunya dan berpikir sesaat, membuat Novan kembali kebingungan. "Tidak lupakan saja, intinya aku ada disini karenamu" Morfeus tersenyum dan matanya seakan memancarkan cahaya ungu, Novan baru sadar bahwa warna mata Morfeus berwarna ungu yang begitu indah. Sementara itu saat ia melihat kearah Fobetor, mata pemuda itu juga tampak berubah menjadi oranye, sesuatu telah berubah dan Novan tak tahu bagaimana perubahan itu terjadi.


"Apa maksud mu dengan kau disini karenaku? Aku tidak mengerti"


Morfeus tersenyum dan merentangkan satu tanganya "karena aku berasal dari dirimu" tubuhnya mulai berubah menjadi puluhan kupu-kupu hitam yang kemudian mengelilingi ruangan itu, membuat Fobetor, Mammon dan Leviathan langsung menutup pintu seakan mereka ketakutan saat melihat kupu-kupu itu.


Novan menatap kupu-kupu hitam itu dengan tatapan takjub, tanganya terentang dan seekor kupu-kupu kemudian hinggap di tanganya sebelum kemudian kupu-kupu lainya berkumpul dan membentuk kembali tubuh Morfeus. Meskipun aneh tapi Novan sekaan dapat merasakan apa yang Morfeus rasakan, seakan kini keduanya saling terhubung sama seperti ia dan Fobetor yang saling terikat oleh kontrak jiwa.


Apapun itu Novan merasa tidak khawatir, ia kemudian menghela nafas dan memilih untuk tak mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, seakan ada suatu alasan yang tak ia ketahui tapi menempel dikepalanya, suatu alasan yang mengatakan bahwa ia tak boleh menjadi ragu karena masa lalu ataupun sesuatu yang tak ia ingat.


Waktu terus berlalu dari hari ke hari perubahan terus terjadi dan kini ingatan tentang sosok Arin telah sepenuhnya hilang dari ingatan semua orang kecuali Mammon dan Leviathan. Kedua iblis itu tahu ada yang telah terjadi tapi selama mereka melihat Novan tampak tak peduli maka mereka juga tidak peduli. Layaknya anak ayam yang mengikuti induknya Leviathan, Mammon dan Fobetor menjalankan setiap misi yang Novan katakan. Bahkan mereka tampak senang dengan itu karena Novan mengizinkan mereka melakukan apapun demi mencapai tujuan misi mereka masing-masing.


Kini Novan tengah duduk di meja kerjanya, rambutnya telah menjadi biru gelap dan matanya telah berubah menjadi emas, ia tengah menyamarkan dirinya kembali menjadi Askara. "Mammon dan Kinan benar-benar berhasil ya..." Ia menatap ke arah papan catur yang ada di samping mejanya.


"Benar, saya juga telah mendapatkan laporan dari tuan Abdi. Beliau bilang perkembangan kota bawah Laut dan taktik mendekatkan diri dengan para duyung berjalan lancar. Tuan Mammon juga memberikan laporan kalau ia menemukan beberapa tempat pelelangan ilegal, saat ini beliau meminta persetujuan anda" Morfeus tampak mengenakan pakaian kepala pelayan yang rapi dan sopan. Ditangannya yang terbalut sarung tangan terdapat beberapa lembar dokumen. Wajahnya yang tampan kini terhias oleh kacamata sementara gaya poninya juga berubah.


"Katakan pada Mammon jangan membuang uang demi sesuatu yang tak berguna. Hancurkan semua pelelangan itu- ah tidak... rebut dan ambil semua yang tempat itu miliki. Budak, harta Karun, emas, bahkan barang-barang berharga. Katakan padanya ia harus mendapatkan semuanya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun" Morfeus tersenyum dan dengan tatapan aneh ia bertanya.

__ADS_1


"Anda hanya ingin agar dia menyelamatkan para budak, bukan begitu?" Morfeus tahu apa yang ada di balik kata-kata Novan dengan baik. Mengambil alih semuanya daripada menghancurkannya adalah cara yang terdengar buruk tapi bila memikirkan apa keuntungan mereka bila mendapatkan tempat itu dan mengoperasikan nya dengan baik akan lebih menguntungkan mereka dalam jangka panjang.


"Entahlah.. berpikir lah semaumu. Bagaimana kabar Leviathan?".


"Dia berhasil mendekati para duyung dengan baik, karena Amfitrit adalah Dewi lautan para duyung menyukai nya".


"Begitu ya..." Seutas senyum terbentuk di wajah Novan dan ia kembali bertanya "menurutmu laut itu lebih cocok untuk seorang raja atau ratu?" Pertanyaan Novan membuat Morfeus berpikir sesaat.


"Kenapa tidak keduanya?"


"Jawab saja salah satu"


"Ratu adalah simbol bulan dan raja adalah simbol matahari. Menurut saja sendiri seorang ratu adalah simbol perdamaian dan kesetabilan sementara raja adalah kekuatan dan kepemimpinan. Entah itu daratan atau lautan, tidak ada tempat yang tak memiliki seorang pemimpin" Novan tampak tersenyum puas mendengar itu.


"Kalau begitu aku sudah memutuskan, aku akan membuat seorang raja dilautan" Novan mengambil bidak catur raja berwarna hitam dan mengangam nya.


"Raja lautan?" Morfeus tampak tersenyum dengan tatapan tertarik "apa sebenarnya rencana anda? anda tahu kan itu sama saja membuat tantangan untuk dewa laut?"


Senyuman Novan semakin melebar dan ia menjatuhkan bidak catur itu kedalam gelas wine miliknya. "ya dan itulah tujuanku, aku akan membuat seorang raja yang akan menguasai lautan Utara, pemimpin para monster dan para duyung yang terbuang juga musuh baru bagi dewa Phoseidon..."

__ADS_1


"Aku akan membuat Leviathan menjadi raja lautan"


...[Bersambung]...


__ADS_2