Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
50. Kucing Yang Serakah (3)


__ADS_3

"Seperti yang aku katakan.. ini adalah ekspedisi penaklukan Leviathan. Kami akan membunuhnya"


Bola mata merah Mammon membulat dan tubuhnya membeku. Kebingungan, ketakutan dan kekhawatiran terpancar dari matanya, ia menatap ke arah Novan dengan segera dan kemudian bertanya dengan suara yang sedikit gemetar "apa maksud mu?! Memangnya kalian bisa membunuhnya?! Kalian kan hanya manusia biasa!" Novan menatap Mammon dengan tatapan serius.


"Ya kami bisa"


Mammon menatap Novan dengan tatapan tajam dan kemudian ia berteriak kesal "jangan bercanda manusia! Kalian ini hanya mahkluk lemah! Kalian tidak akan bisa melawan wujud asli Leviathan!" Mammon terus memberi peringatan, seakan menekan Novan untuk tak menyarang Leviathan. Mungkin sekilas itu terdengar seperti Mammon menghawatirkan Novan, tapi Novan bisa menebak apa isi pikiran Mammon.


"Bukankah kau mencoba untuk mengatakan, kalau kami tidak boleh membunuhnya? Seakan-akan kau begitu kawatir dengan Leviathan"


"Tidak! Untuk apa aku kawatir padanya-"


"Kau bohong" Novan menatap mata Mammon dengan tatapan serius "kau menghawatirkan nya.." di dalam kepala Novan sebuah kilas balik terputar, memperlihatkan sosok Mammon yang sudah lebih kuat tampak menatap jasat Leviathan yang berlumuran darah "kau menyayangi nya.." di dalam ingatan itu, Novan dengan jelas melihat Mammon tampak begitu murka namun di matanya air mata terus menetes. Mammon terlihat sangat jelas terpukul akan kematian Leviathan di putaran kelima "Karena ia adalah sahabatmu".


Ucapan Novan sepenuhnya membuat Mammon terdiam, hanya ada keheningan diantara mereka hingga akhirnya kereta kuda berhenti tepat di sebuah kamp pasukan yang terdiri dari beberapa pasukan keluarga Adipati dan pihak kerajaan. Novan dan yang lainya turun dari kereta kuda, meninggalkan Mammon sendirian di dalam sana. Mammon terlihat menunduk diam tanpa ekspresi, mencoba memikirka apa yang seharusnya ia lakukan.


"Apa tidak masalah membiarkanya seperti itu? dia tampaknya tidak baik-baik saja-" runtutan pertanyaan Kanz seketika hilang saat Novan menunjukanya sekoin emas "Maaf, benar dia pasti akan baik-baik saja" ucap Kanz dan kemudian menerima koin emas dari Novan.


"Semuanya bersiap!"Abdi berteriak lantang dan saat itu juga pegasus yang mereka naiki mulai terbang ke arah Leviathan. Udara yang dingin dan angin yang kencang tak memadamkan semangat para pasukan untuk terus meyerang iblis berbentuk paus itu, Leviathan dengan gigih terus bergerak, ia terbang diangkasa dengan kecepatan tinggi, kulitnya lebih tebal dari baja dan ketika mulutnya terbuka lebar, tidak ada satupun yang bisa lepas dari hisapannya.


Leviathan tidak bisa menggunakan sihir maupun energi iblis, ia bagaikan hewan buas yang terbang diatas langit dan sesekali turun untuk menghancurkan kota. Novan tidak tahu apa yang membuat iblis tingkat tinggi seperti Leviathan bisa kehilangan akal sehatnya dan mengamuk seperti monster, diputaran kelima Novan gagal menghadapinya, dan Leviathan mati tepat pada saat bencana melanda kerajaan.

__ADS_1


Mata Novan sempat melihat ke segala penjuru, matanya kemudian terpaku pada sosok seorang pria berambut hitam yang tengah menunggangi seekor pegasus putih. Pria itu tampak memiliki wajah yang tampan namun datar dan di seragamnya yang berwarna hitam dengan motif batik emas tampak menjelaskan bahwa ia berada di pasukan kerajaan.


'Akhirnya ketemu! satu-satunya orang yang dapat membunuh Leviathan hanyalah orang itu...' Novan mengarahkan pegasusnya ke arah pria itu namun belum sempat ia mendekat tiba-tiba Leviathan tampak mengeluarkan suara yang kencang, membuat para pegasus seketika panik dan terbang tak menentu arah. Suara itu diselimuti oleh energi hitam dan membawa ketakutan dan perasaan tak nyaman pada seluruh pasukan.


Semangat juang mereka yang membara kini padam bagaikan api yang tersiram oleh air dingin, di hadapan mereka kini Leviathan tampak begitu mengerikan, bagaikan monster yang siap menerkam mereka dan membawa mereka ke neraka. Seluruh perajurit kemudian memegang kepala mereka, mata mereka tampak berair kala pemikiran yang dipenuhi oleh penyesalan menyerang mereka, mengapa dunia begitu tidak adil, mengapa kami harus menderita, mengapa hidup kami begitu tida berharga. Rasa iri dan tidak bersyukur memenuhi hati mereka, memecahan mereka menjadi dua kubu.


"Jangan halangi aku! aku tidak ingin mati disini! aku tidak ingin-"


"Hey lihat di belakangmu! Cepat menghindar!"


Dan ketika para manusia termakan oleh perasaan itu maka mereka akan benar-benar hancur. Manusia yang terpengaruh oleh Leviathan secara tidak sadar akan mengarahkan pegasusnya ke arah mulut Leviathan, tanpa mereka sadari mereka menyerahkan diri mereka untuk dimakan oleh sang iblis iri hati itu sendiri.


"Sial.. emuanya mundur! ajag jarak dari monster itu!!" Abdi memberikan perintah untk mundur, para manusia yang masih sadar kemudian menggiring pegasus mereka untuk menjauh, sementara para manusia yang terpermakan oleh perasaan iri hati mereka menyerahkan diri mereka pada Leviathan, memberikan iblis itu lebih banyak energi untuk terus bertahan hidup.


"Saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan-"


Abdi menghentikan kalimatnya kala Novan tampak mengiring pegasusnya menuju ke arah Leviathan. Untuk sekilas Abdi tampak melihat mata Novan yang kosong, seakan ia juga telah terpengaruh oleh Leviathan. "Kak Novan, apa yang kau lakukan?!" Abdi mencoba berteriak menyadarkan Novan, namun Novan tetap bergerak mendekati mulut Leviathan, tepat sebelum mulut iblis itu tertutup Novan tampak berhaisl masuk ke dlaam sana, meninggalkan Abdi dan yang lianya di luar sana.


Di dalam sana Novan tampak memasuki dunia yang berbeda.


.

__ADS_1


.


.


Suara iblis itu sekaan menyihir semua orang, aku yakin dahulu itulah suara yang membuatku mengalami trauma. namun kenapa sekarang aku justru merasa sedih saat mendegar suara itu, suara itu tersengar seperti tangisan penderitaan dan juga teriakan meminta tolong. suara yang membuat dadaku seketika sakit dankemudian aku berpikir, apa yang akan terjadi bila aku menghampiriu tangisan itu? apa aku bisa menyelamatkan pasukan kami? apa aku bisa membuatnya berhenti mengeluarkan suara itu? atau malah hidupku yang berakhir?


Aku membiarkan diriku merasaan suara itu, membiarkan diri terjatuh dalam perasaan sedih dan kesal akan dunia. Rasanya dunia telah membuangku, tidak berguna sebanyak apa paku berusaha, itu tidak akan ada artinya.


Namun entah mengapa..


Rasanya aku juga bisa merakan suatu perasaan lega..


Seaka semua emosi yang ku pendam terhisa keluar, meluap bagaikan air..


"Manusia memang harus meluapkan emosinya untuk beberapa kali, dengan begitu, mereka bisa mempertahankan akal sehat mereka."


Begitu aku tersadar aku sudah terbangun di sebuah perputakaan bernuana biru dan beberapa ekor ikan tampak berenang di atas udara, sekaan-akan perpustakaan ini berada di bawah air. Mataku menatap ke arah seorang pemuda bertudung biru, rambutnya berwarna putih dengan mata merah terang yang kini menatap ke arahku.


"Jadi berapa lama kau telah menekan emosimu sendiri hingga bisa bertemu denganku sang iblis iri hati ini?"


"Tunggu.. kau wujud manusia dari Leviathan?!"

__ADS_1


...[Bersambung]...


__ADS_2