Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
51. Kucing Yang Serakah (4)


__ADS_3

Rak buku yang besar dan menjulang tinggi tersusun di mana-mana bagaikan membentuk sebuah labirin perpustakaan yang amat besar. Rumput laut, karangdan beberapa mahluk laut lainya tampak menghiasi beberapa sisi perpustakaan itu, ikan-ikan kecil berenang diudara layaknya sebuah keajaiban. Gelembung udara yang berkilau muncul setiap kali ikan-ikan itu bergerak begitu juga dengan Novan. Seakan kini ia berada di perpustakaan bawah laut.


"Jadi berapa lama kau telah menekan emosimu sendiri hingga bisa bertemu denganku sang iblis iri hati ini?" Seorang pemuda bertudung biru tampak menatap ke arah Novan dengan tatapan datar dan terlihat penasaran. Di tanganya sebuah buku berwarna kuning ia pegag, sementara di sekitar tubuhnya gelembung air terlihat jelas tampak berterbangan mengelilinginya.


Butuh beberapa saat hingga akhirnya Novan sadar siapa orang yang ada di hadapanya."Tunggu.. kau wujud manusia dari Leviathan?!" sosok itu mengangkat alisnya terejut dan kemudian mengambil langkah mundur.


"Kau mengenal nama asliku?!" Dimatanya terpancar sebuah perasaan takut dan gelisah. Leviathan adalah iblis yang selalu memendam perasaanya sendiri dan selalu menganggap rendah dirinya dari pada iblis lainya, berkebalikan dengan Lucifer sang iblis labang kesombongan, Leviathan tidak mengenal apa itu kepercayaan diri, ia selalu di selimuti oleh rasa iri dan sedih.


"Ah maaf aku tidak bermaksud untuk menyakitimu" Novan mencoba untuk berjalan mendekat dan berbicara dengan Leviathan, namun secara tidak langsung itu menghilangkan aura iri dari dirinya dan sekarang Leviathan dapat melihat sorot mata Novan yang entah mengapa menginggatkanya akan seseorang.


Dengan cepat Leviathan kemudian berubah menjadi gelembung air dan berteriak "Tidak..menjauh- menjauhlah dariku!" Novan mencoba untuk menangkap tangannya namun Levoiathan sudah lenyap sepenuhnya, meninggalkan sebah buku berwarna kuning yang kini tergeletak di lantai.


"Apa ini...?"


Novan mengambil buku itu dan membukanya, tepat di balik buku itu sebuah coretan lambang iblis terlihat. Novan mengenal satu dari ambang itu, itu adalah lambang keserakahan- lambang yang tergambar pada jubah Kanz saat ia berada di bawah perintah Mammon. "Kalau begitu yang satunya.. Lambang milik Leviathan" berbeda dengan lambang Mammon yang terlihat digambar dengan tinta emas, milik Leviathan terlihat begitu kacau sekaan-akan ia mengambarnya dengan banyak percobaan yang gagal, seakan ia tidak percaya diri dengan lambang buatanya.


Novan membuka lembar selanjutnya dan di sana mulai terlihat coretan huruf dunia iblis yang entah mengapa bisa Novan pahami. "Malam ini bulan merah bersinar di angkasa, aku berjalan di koridor bersama kartu emas kesayanganku- tunggu ini aneh" Novan menghentikan bacaanya dan kemudian mulai membuka buku itu dengan cepat, butiran pasir emas kemudian terbang melayang dan saat itu juga Novan menyadari bahwa itu bukan buku harian Leviathan.

__ADS_1


"Ini buku milik Mammon?"


Novan membuka buku itu kembalii kini di halaman yang berbeda, tepat di halaman kertas yang tampak di batasi oleh sebuah pembatas buku yang berwarna merah. Mata Novan membulat kala ia melihat gambar yang ada di dalam halaman ittu juga membaca kata demi kata yang ada di sana.


Dari awal hingga akhir Novan membaca buku itu, membuatnya kini mengetahui sebuah kisah yang tak pernah ia ketahui sebelumnya, kisah bagaimana Mammon dan Leviathan bisa berteman namun kemudian terpisah.


.


.


.


Aku tidak pernah menunjukan ampunanku pada setiap lawanku, aku menginginka taktha iblis tertinggi juga kekuasaan tiada tanding dan demi mendapatkan itu aku harus mengeliminasi semua pangeran iblis, satu orang, dua dan bahkan akhirnya aku telah berhasil membunuh empat pangeran, tapi masih ada sekitar enam belas orang pangeran lagi, aku harus segera membunuh mereka sebelum mereka dewasa.


"Iblis yang menyedihkan" Kalimat itu membekas dalam diriku, mata ku menatappnya tajam dan mantan malaikat itu tampak memandang rendah diriku, disuatu malam yang penuh darah Lucifer berhasil membunuh enam orang pangeran iblis dari total tiga belas pangeran yang berhasil ia jebak, ia hanya menyisakan tujuh orang iblis dan aku adalah salah satunya. Buntut dari tragedi malam itu ialah ia menjadi satu-satunya Iblis tertinggi diantara kami, juga satu-satunya iblis dewasa yang mendapatkan gelar calon raja iblis.


Aku tidak bisa menerima ini, aku tidak terima malaikat yang telah dibuang sepertinya mengambil alih taktha neraka, hanya aku yang boleh, seharusnya hanya aku yang layak untuk menyandang gelar raja!!!

__ADS_1


Suatu hari aku mencoba untuk membunuhnya diam-diam, tapi aku gagal dan malah tertangkap olehnya, rantai emas mengikatku dan ia mulai berbicara omong kosong yang tak ingin ku ingat, namun begitu ia memperlihatkaku sebuah kaca yang begitu aneh dan bersinar, di pantulan kaca itu aku dapat melihat pantulan diriku yang bermata biru dengan lingkaran cahaya di atas kepalaku, seakan-akan aku melihat diriku yang adalah malaikat.


Aku memecahkan kaca itu dan kemudian berlari sekuat yang aku bisa, beruntung seseorang membantuku. Seorang anak berambut putih dengan bola air yang mengelilingi tubuhnya, seekor anak paus terbang di dalam air itu dan mendekatiku, menciptakan sebuah pelindung air yang membuat diriku tak terlihat, itulah kali pertama aku bertemu dengan Leviathan.


Begitu Lucifer datang dan bertanya akan keberadaan pada Leviathan, ia mempercayai ucapan Leviathan yang berbohong kalau ia tidak melihatku. Bagi Lucifer sendiri sepertinya Leviathan bukankah ancaman yang harus repot-repot ia bereskan, justru Leviathan terlihat seperti pion yang bagus untuk dikendalikan.


Namun begitu Lucifer menjauh, raut wajah Leviathan berubah menjadi masam, menunjukkan betapa ia sangat tidak menyukai Lucifer yang sangat percaya diri dan lebih hebat darinya. Dan karena pikiran kami yang sama-sama tidak menyukai Lucifer, kami pun menjadi teman baik.


Bila aku adalah gurun pasir berisi emas dan harta Karun maka Leviathan adalah lautan dalam yang begitu dingin dan gelap. Ia bisa membekukan apapun dan menciptakan air di manapun ia mau, kemampuannya yang hebat itu terkadang membuatku jengkel saat kami berlatih bersama tapi aku tidak bisa membencinya, itu karena daripada ia membanggakan kekuatannya, ia justru terus merendahkan dirinya. Rasa irinya benar-benar menutup matanya, sama seperti keserakahan yang menutup hatiku.


Hari demi hari berlalu dan Lucifer mulai melihat kami sebagai ancaman, tepat sebelum malam bulan merah, tepatnya 15 tahun setelah kami bertemu. Ku melihat Leviathan terpaku diam di depan segumpal daging yang berlumuran darah. Semakin aku dekati semakin jelas bahwa yang ada di hadapannya adalah paus kecil miliknya, satu-satunya teman kecilnya yang menemani nya jauh sebelum kami bertemu.


Tatapan Leviathan menjadi kosong dengan air mata yang menghiasi wajahnya dan dengan tatapan dingin ia perlahan menengok ke arahku dan bertanya dengan aneh.


"Kenapa.. kenapa kau membunuhnya?"


...[Bersambung]...

__ADS_1


__ADS_2