Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
63. Kegelapan Malam


__ADS_3

Semakin lama pikiran Novan semakin kabur, kepalanya langsung terasa pusing begitu ia menginjakkan dirinya keluar dari perpustakaan dunia, suara dentuman jam terdengar membuat Novan menutup matanya ketika suara itu menjadi semakin jelas dan berubah menjadi suara lonceng dan saat itu ia sepenuhnya melupakan semua yang terjadi.


Novan kini mendapati dirinya berada di Astral, bersama dengan Hopeless atau Hipnos ia kemudian singgah disana dan secara tak terduga Hades tampak telah menunggu keduanya. Mata unggu Hades dan merah Novan kini saling bertatapan, terasa familiar namun juga asing disaat yang bersamaan. Ada banyak pertanyaan dikepalanya tapi ia tak dapat mengucapkannya.


"Tidak ku sangka waktu cepat sekali berlalu" suara Hades yang berat dan terdengar dingin terasa begitu aneh di telinga Novan, rasanya seperti itu adalah suara yang ia rindukan, seperti mendengar suara seorang ayah yang sudah lama tak ia temui. "Aku tidak menyangka kau akan tumbuh seganas ini" seutas senyum terlihat di wajah Hades, dan ketika Novan hendak bertanya apa maksudnya dada Novan tiba-tiba terasa sesak.


Kupu-kupu hitam miliknya keluar tanpa ia inginkan dan mereka kemudian berkumpul membentuk sebuah sosok. Kupu-kupu yang tadinya berwarna hitam perlahan berubah menjadi pucat dan membentuk tubuh seseorang. Dengan kedua matanya sendiri Novan melihat kupu-kupu itu membuat sosok Morfeus.


"Akan aku anggap itu sebagai pujian" Morfeus tersenyum dan menatap ke arah Hades sebelum kemudian berganti ke arah Hipnos. Tanpa sepatah katapun Hipnos menghampiri Morfeus dan tersenyum, senyum yang begitu hangat bagaikan sosok orang tua yang begitu merindukan anaknya "bagaimana kabar ayah?" Morfeus bertanya dengan suara yang begitu lembut, ia ingin memeluk ayahnya tapi ia tahu bahwa dirinya saat ini bukan sepenuhnya dirinya, begitu juga Hipnos.


Seperti yang telah Novan ketahui, baik Morfeus maupun Fobetor keduanya telah mati. Yang tersisa kini hanya kepingan jiwa mereka yang terikat oleh jiwa Novan. Kini menjadi jelas kenapa Hopeless selalu menatap hangat Novan, kenapa Hopeless selalu membantunya, dan kenapa Hopeless begitu terlihat sedih.


Semua itu karena kedua putranya, Hipnos adalah dewa mimpi yang memiliki tiga orang anak dan dua diantaranya adalah Morfeus dan Fobetor. Dahulu merekalah yang menguasai dunia Mimpi, mengatur semua belahan dunia mimpi dengan baik dan membantu manusia untuk masuk dan keluar dari alam mimpi.


Namun kini tak lagi, tak ada lagi dewa mimpi, tak ada lagi yang mengatur dunia mimpi sebaik mereka. Yang tersisa kini hanya kisah dan mimpi buruk tiada akhir yang dibuat oleh para dewa serakah. Para dewa yang rela melakukan apapun demi mencapai tujuan mereka, bahkan mereka rela membunuh dan melengserkan para dewa mimpi agar mereka bisa menggunakan dunia mimpi sebagai 'bumi' mereka.


"Biarkan mereka berdua sendirian" Hades tiba-tiba berada di samping Novan dan mengajak Novan untuk pergi ke suatu tempat "ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu" matanya yang berwarna ungu tampak begitu terselimuti oleh kehampaan, rambut hitamnya tampak seperti langit malam yang berkibar diudara dengan pelan. Kegelapan muncul di setiap langkah kakinya dan jubah hitamnya berayun dengan elegan setiap ia bergerak.


Kini mereka tiba di pinggiran danau yang memancarkan cahaya putih terang, di dalam danau itu Novan bisa melihat beberapa monster berekor duyung dan bertubuh manusia yang tampak menatapnya sesaat sebelum kemudian mereka pergi.


Di sekitar danau bunga teratai yang memiliki aneka warna tumbuh di atas daun teratai biru yang besar dan indah, pepohonan yang berwarna putih tampak begitu banyak dan di beberapa kesempatan Novan bisa melihat beberapa hewan mistis yang begitu indah, seperti rusa putih dan kelinci bertanduk.

__ADS_1


Angin dingin yang berhembus di bawah langit berbintang terasa begitu segar, di tempat ini hukum alam tak berlaku dan matahari tak pernah bersinar, meskipun begitu cahaya tetaplah selalu ada di setiap sisi. Itulah penggambaran dari dunia yang sempurna, dunia yang hanya dapat tercapai bila semua hukum alam yang telah diterapkan hilang dan tidak adanya namanya keberadaan manusia, namun juga berarti bahwa manusia tidak akan pernah bisa memilikinya karena pada dasarnya hukum itu akan selalu ada entah itu dari alam maupun manusia sendiri yang membuatnya.


"Mau dilihat berapa kali pun dunia ini benar-benar tidak pernah membuat para pengunjungnya bosan" Hades berbicara sembari merentangkan tanganya ke pinggiran danau, beberapa ekor ikan menghampiri tanganya. "Disini tidak ada yang namanya hukum, semua menyatu dan saling berdampingan, tak ada batas maupun penghalang karena ini adalah alam antara realita dan ilusi. Kegelapan dan cahaya saling berdampingan dan baik yang mati dan hidup semuanya bersatu disini"


Hades mengatakan bahwa alam itu adalah alam yang tak terikat oleh aturan, semua jiwa yang masuk dan tinggal disana adalah jiwa para roh yang tak bisa tenang. Entah roh yang telah mati dan tak bisa menerima kematiannya atau roh yang terpisah dari tubuhnya karena koma dan tak dapat kembali. Semua roh itu diterima didunia Astral, menjadikan tempat itu sebagai rumah kedua mereka yang tak memiliki tujuan, karena banyaknya sosok yang mendiaminya dan kuatnya kekuatan spiritual disana maka para dewa tak dapat mengambil alih alam itu.


Hanya ada satu orang yang dapat berteman dengan para penghuni dunia itu, itu adalah Hipnos pemimpin para dewa mimpi, seperti yang telah Novan ketahui, perang terjadi dan Hipnos di ketahui telah mati. Tapi kini para dewa menyerahkan posisi kordinator alam astral pada Hopeless, tanpa mengetahui bahwa Hopeless itu sendiri adalah Hipnos yang menyamar.


"Sebenarnya kenapa kalian membantuku?" Hanya dengan satu pertanyaan itu, semua kebingungan Novan akan sikap Protogonos, Hopeless, dan Hades terwakilkan. Mengapa mereka mau membantu manusia yang bahkan membenci dewa, bahkan mereka terlihat tanpa ragu menunjukan aksinya.


"Aku masih tidak boleh mengatakan ini padamu, yang pasti adalah kami melakukannya bukan karena kami ingin. Tapi karena kami merasa perluh melakukan itu. Mata dibalas dengan mata, dan gigi di balas gigi" Hades mengungkapkan jawabnya dengan baik tanpa harus menjelaskannya secara langsung. Dan Novan tahu arti dari ucapan Hades adalah mereka ingin membalas sesuatu ke pada dewa lain, entah itu dendam, atau sejenisnya.


"Yang pasti bukan hal baik ya...?" ujar Novan dan Hades kemudian mengangguk.


"Aku?"


"Aku tahu alasanmu bisa berada di dunia ini" mata Novan membulat dan ia menjadi tertarik dengan topik pembicaraan ini.


"Apa maksudnya kau tahu aku didunia nyata ini seperti apa?! Apa kau bisa menceritakannya padaku?!" Hades tampak puas dengan reaksi Novan dan ia kemudian mengangguk dalam diam sebelum kemudian kembali bicara.


"Kau adalah salah satu manusia yang dapat menikmati kegelapan jauh lebih baik daripada cahaya yang berada di sekitarmu. Kegelapan menyayangimu dan merekalah yang memanggilmu ke dunia ini"

__ADS_1


.


.


.


Sementara itu di kediaman Candra, Fobetor tampak mencengkram erat kerah baju Valas "bagaimana kau bisa ceroboh ini?!" Ia mengungkapkan kemarahan nya karena cairan Protogonos rupanya habis karena digunakan pada Arin sementara itu Arin menghilang ke sebuah portal aneh yang sampai saat ini belum tertutup dan tak bisa dimasuki. Dengan panik dan kesal akhirnya Abdi dan Nikolai bisa memisahkan Fobetor dan Valas.


"Ini sudah pasti menuju ke perpustakaan alam semesta" ujar Mammon.


"Hm, mau masuk?" Leviathan memberikan masukan.


"Kalau kita bisa masuk sudah sedari tadi kita masuk!"


Leviathan kemudian memutar lengannya yang terasa sakit, ia kemudian mulai mengeluh "ck karena dewa rendahan tadi punggung ku jadi pegal, kekuatannya yang bisa membaca pikiran itu benar-benar merepotkan saat pertarungan tadi" ujar Leviathan. Meskipun Mammon masih bingung dengan sikap Leviathan yang sekarang berubah drastis ia tak mempermasalahkannya.


"Kalau tidak salah dia salah satu dewa Olympus kan..?"


"Ya, namanya Hermes." Leviathan tampak begitu kesal saat mengucapkan nama itu, ia kemudian menggertakkan giginya dan kembali mengeluh "dasar dewa kurang ajar, karena mereka sedari dulu tinggal di langit sikapnya juga jadi seperti langit, padahal mereka bukan manusia tapi kenapa tidak ada aura kebijaksanaan sekecil biji wijen di dirinya?"


"Sudahlah, lain kali kita harus benar-benar menangkapnya"

__ADS_1


"Bukankah dengan begitu Novan akan senang?"


...[Bersambung]...


__ADS_2