
Mammon tampak terdiam membeku saat ia diletakkan diantara seekor kucing kecil berwarna putih yang dipanggil dengan nama Naru dan seekor kucing hitam yang di panggil Tuan Blue.
'ini gawat..' di dalam hatinya ia mencoba untuk tenang.
"Wah momon sangat tenang ya! Imutnya!" Arin tampak tertawa senang melihat ketiga hewan itu berdekatan.
"Ia tampaknya lapar? Apa makanan kesukaannya?" Rian tampak mendekat dan hendak mengelus kepala Mammon namun kemudian Mammon memukul tangan Rian dengan tangan kucingnya dan menatap Rian dengan tatapan garang.
'apa yang kau lihat huh manusia?! Ingin ku pukul lagi?!' seakan mengancam anak itu untuk tak sekali lagi coba-coba mengelusnya. Namun satu hal yang Mammon tidak ketahui. Rian adalah maniak kucing. Sekali lagi Rian mencoba untuk mengelus bulu kucing Mammon namun semakin cepat juga Mammon memukul tangan Rian, itu terus terjadi, semakin sering Mammon menghindar atau memukul semakin gigih Rian hendak mengelusnya.
'ada apa dengan anak manusia ini?!' Mammon berteriak kencang di dalam hatinya sembari menahan kemarahannya untuk tak langsung meloncat dan mencakar wajah Rian, karena tepat di belakang anak itu Tuan Blue atau Indra tampak menatap Mammon dengan tatapan curiga.
'manusia! Tolong aku!!!' Mammon menatap ke arah Novan namun Novan hanya tersenyum. Keadaan menjadi semakin gawat saat tangan Rian berhasil menyentuh punggung Mammon.
"Wah.. lebih lembut dari yang aku kira.." matanya tampak berbinar senang dan mulai menarik Mammon mendekat.
'tidak! Tidak jangan pelukan!! Aku tidak suka di peluk manusia!!!'
"Sst.."
Suara desis terdengar dan semua mata menatap ke arah semak-semak yang ada di dekat mereka. Dari dalam semak-semak itu seekor ular merah tampak bergerak mendekat, membuat Rian saat itu juga melepaskan tanganya dari Mammon dan menatap ular itu dengan tatapan mata yang terlihat takut. Akibat insiden ular yang dahulu hampir merenggut nyawanya, kini Rian menjadi takut pada ular. Sadar dengan reaksi Rian Mammon kemudian menatap ular itu dengan tatapan tajam dan mulai memasang sikap waspada di hadapan ular itu, membuat Mammon kini tampak mencoba melindungi Rian.
Keheningan melanda sejenak sebelum kemudian ular itu mendekat ke arah Mammon, kedua mata merah mereka saling bertemu dan kemudian ular itu bergerak mendekati Novan. Fobetor dengan tenang melilit tangan Novan dan kemudian menatap Mammon dari atas tangan Novan. Seakan menunjukan siapa penguasa diantara hewan peliharaan di sana.
'lebih baik kau tidak macam-macam. Karena disini adalah wilayahku' ucap dengan desisan yang hanya di ketahui artinya oleh Mammon.
'beraninya mahluk seperti mu menantangku' Mammon mengeram dengan buku yang mulai mekar, matanya tampak menatap Fobetor dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
Novan tidak ingin ikut campur, baginya pertengkaran antara makhluk yang kini ada di hadapannya hanyalah pertengkaran ringan karena mereka tidak bisa saling berdampingan. Tanpa tahu bahwa Fobetor sebenarnya takut posisinya tergantikan oleh Mammon.
Mammon adalah calon raja iblis, meskipun ia kini mudah untuk di kalahkan namun di masa depan ia adalah salah satu dari iblis terkuat, berbeda dengan Fobetor yang adalah mantan dewa. Fobetor tahu betul apa yang akan terjadi bila ia diam saja, ia tahu Novan tidak akan segan-segan membuang pion yang telah tidak berguna, maka dari itu sejujurnya Fobetor takut akan dibuang.
Ia takut sekali lagi sendirian dan berkelana tanpa tujuan, sama seperti saat ia kehilangan kakak-kakaknya. Baginya kini Novan sudah seperti tuan dan keluarganya yang berharga, ia tidak tahu apa itu karena kontrak jiwa atau hanya spekulasi tanpa dasar dari dirinya yang terlalu lama kesepian, tapi yang bisa ia yakini adalah ia tidak ingin sendirian. Juga ia tidak mau Novan sekali lagi mengalami putaran yang menyakitkan.
"Momon, Fobe. Kalian tidak boleh bertengkar!" Ujar Arin yang kini memeluk Naru.
"Biarkan saja Arin" suara Nikolai memecahkan suasana dan dari kejauhan ia tampak berjalan mendekat dengan membawa sebuah dokumen. Dan langsung menyerahkannya pada Novan. "Dari kak Abdi" ucapan nya terdengar singkat dan dingin, namun itulah Nikolai yang biasanya.
Novan membuka dokumen itu dan kemudian mengangkat alisnya "pemburuan paus biru.. ah mahluk itu ya.." Novan menatap ke langit dan samar-samar bayangan paus raksasa tampak melintas jauh di atas awan. Seutas senyuman terlihat pada wajah Novan dan kemudian dia menatap ke arah Fobetor dan Mammon secara bergantian.
"Kalau begitu aku ada tugas untuk kalian berdua.."
.
.
.
"Dasar manusia gila! Masa aku harus bersama dengan kalian?! Sudah begitu aku harus melihat kalian menghadapi Leviathan?!" Suara Mammon memecahkan suasana dan mendengan suara protesan iblis itu membuat Kanz dan Abdi tampak terdiam tegang dan bingung sementara Novan kemudian hanya tertawa.
"Apa ini akan baik-baik saja? Kakak bilang kakak akan berperan menjadi Askara dan Fobetor akan jadi diri kakak. Tapi kenapa sekarang kebalikannya? Apa ada suatu hal yang membuat kakak harus ikut langsung dengan kami?" Tanya Abdi bingung.
"Abdi, menurutmu mengapa aku sejak kecil terus berlatih menggunakan pisau? Itu karena aku tahu, suatu hari aku akan dikirim untuk melawan makhluk itu.." Novan menatap ke arah langit dengan tatapan mata yang dalam ".. karena ayah membenciku, aku tahu ia pasti akan melakukan segala cara untuk membuatku mati. Bahkan bila itu artinya mengirimku ke dalam pembasmian Leviathan.." meskipun tidak benar-benar terjadi diputaran kali ini, tapi Novan diputaran kelima benar-benar mengalaminya.
Diumurnya yang ke dua belas tahun ia benar-benar dikirim dalam ekspedisi penaklukan Leviathan, dan hasil dari kejadian itu adalah Novan kehilangan para bawahan setianya dan trauma yang mendalam. Butuh waktu bertahun-tahun untuk Novan pulih dari trauma nya, dan karena itu ia kehilangan banyak waktu untuk mengasah dirinya. Novan kini berpikir, apa kalau ia tidak mengalami trauma itu ia bisa mengubah masa lalu, apa sebenarnya Hopeless menculiknya agar ia selamat dari nasip buruk itu? Novan tidak tahu.
__ADS_1
Novan tidak bisa melepaskan pikiran nya dari banyaknya pertanyaan yang terus bermunculan. Tanpa ia sadari ia melamun cukup lama, membuat Abdi menjadi kawatir. Namun Novan segera tersadar saat kaki kucing Mammon menyentuh pipinya "jangan melamun seperti itu.. itu menyeramkan" ucap Mammon menatap lurus ke arah Novan. Novan tersenyum dan kemudian menyentuh hidung Mammon.
"Kau itu lebih menyeramkan tahu, saat kau marah kau jadi terlihat seperti kucing gurun yang liar"
"Apa maksud mu manusia?!" Mammon mengeram kesal dan bulu-bulu di tubuhnya mekar, membuat beberapa bukunya rontok dan menempel pada baju Novan.
"Haha maaf-maaf. Jadi bagaimana perasaanmu?"
"Apa maksud mu?" Mammon memiringkan kepalanya dan bertanya dengan wajah bingung.
"Bagaimana perasaanmu? Kau kan akan segera bertemu dengan Leviathan, bukankah kalian saling mengenal?" Mammon terdiam sejenak dan menatap ke arah bawah.
"Kami... Tidak tuh, kami bukan teman"
"Tapi aku hanya bilang kalian saling mengenal, saling mengenal bukan berarti berteman.." ucap Novan yang kini benar-benar membuat Mammon panik.
"Intinya aku tidak mau bertemu dengan nya! Buat apa aku berteman dengan iblis yang hanya mempedulikan dirinya sendiri dan meninggalkan dunia iblis tanpa berpamitan dengan temannya?! Dia hanya iblis aneh yang bahkan tidak bisa bersosialisasi! Dia berbeda denganku! Kami bukan teman!" Mammon membalikan badannya dan memunggungi Novan.
"...ucapanmu terdengar seperti kau kecewa karena dia.. " Novan terdiam sejenak dan kemudian kembali berbicara "apa kau tahu bahwa Leviathan terperangkap didunia ini?" Mammon membalikkan badannya dan kembali menatap Novan.
"Apa maksud mu?"
Novan hanya terdiam dan kemudian melihat ke arah jendela, Mammon mengikuti arah pandangan Novan dan saat itu juga matanya membulat. Di atas awan puluhan pegasus tampak terbang dan diatas mereka para manusia melemparkan tombak dan panah ke arah Leviathan.
"Apa.. apa yang kalian manusia lakukan..?" Wajah Mammon berubah menjadi kawatir dan bingung.
"Seperti yang aku katakan.. ini adalah ekspedisi penaklukan Leviathan. Kami akan membunuhnya"
__ADS_1
...[Bersambung]...