
Malam telah tiba dan langit yang gelap tanpa cahaya matahari kini bertaburkan bintang dan cahaya rembulan. Diatas sana sebuah badai pasir emas tampak menutupi hampir seluruh tubuh paus biru yang biasa berenang diangkasa yang luas.
Pasir emas yang bergerak bagaikan badai kini terlihat seperti ombak yang menghalangi gerakan sang paus, paus itu terus memberontak terbang dengan begitu cepat hingga para manusia tak lagi bisa mengikutinya, ia terus bergerak menjauh dari langit kerajaan dan terbang di langit yang begitu luas.
Kanz terbang menggunakan dua buah sayap hitam yang terbuat dari sihir hitam, mata birunya kini memancarkan kekuatan kegelapan dan pedang besinya kini terselimuti oleh petir emas. Sementara itu Mammon tampak tetap berdiri diatas tubuh paus itu dengan tegap.
Paus itu kini membuat sebuah dinding sihir yang menyelimuti kulitnya, membuat Kanz maupun serangan Mammon tidak berarti apa-apa padanya. Satu-satunya cara untuk membunuh paus itu kini hanya dari dalam.
"Hey kau, kalau begitu cobalah untuk masuk"
Kanz tampak keberatan, ia kemudian menolak perintah Mammon "masuk dalam mulutnya? Itu menjijikan-" namun kemudian ia menutup mulutnya saat Mammon mengancamnya.
"Kalau begitu lupakan soal penawaran ku tadi"
"Tidak, saya akan lakukan"
Paus itu tiba-tiba bergerak dengan aneh, ia terbang semakin cepat dan memutar tubuhnya beberapa kali mencoba untuk melepaskan rantai emas yang melilitnya. Beruntung para manusia yang Mammon pengaruhi telah tidak ada, kini hanya ada Mammon dan Kanz di atas paus itu.
"Kau pikir kau bisa melepaskan rantai emasku? Dasar mahluk tiruan bodoh" Mammon tersenyum senang dan tetap berdiri tegap meskipun angin kencang menerjangnya, badai emasnya telah sepenuhnya menutupi pengelihatan paus itu dan kini sang paus tak lagi tahu dimana ia berada.
Mammon membulatkan matanya saat ia merasakan energi paus itu mulai melemah dan kemudian sebuah getaran terjadi, membuat paus itu tiba-tiba membuka mulutnya. Dari dalam sana seorang manusia terjatuh tak sadarkan diri.
Novan terlempar keluar dari mulut paus itu, jatuh tak berdaya di atas langit yang luas dan tinggi. Tubuhnya yang tak berdaya tampak terus bergerak jatuh, ia bisa merasakan angin dingin menerjangnya dan tubuhnya terasa begitu berat karena gravitasi yang begitu kuat menariknya. Ia tak membuka matanya, rasa lelah seakan benar-benar menguasainya.
Namun ketika ia terus jatuh dan jarak antara daratan dengan dirinya semakin sedikit Mammon menangkapnya. Mata merahnya menatap ke arah Novan dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Jangan berpikir bisa mati dengan tenang sebelum aku membuatmu membayar semua ini, manusia!"
Paus itu kemudian mulai bergerak dengan pelan dan dari punggungnya sebuah sayap keluar, membelah tubuhnya dan seekor naga akhirnya muncul dari dalam tubuh paus itu, naga yang kemudian membawa hawa dingin dan kegelapan yang begitu mencekam. Leviathan akhirnya keluar dari dalam tubuh paus itu.
.
.
.
Dua orang dewa tampak duduk diatas sebuah kursi sembari menatap ke arah cermin yang ada di hadapan mereka, senyuman terukir pada wajah mereka. Baik Hopeless maupun Hades, keduanya tampak puas dengan apa yang tengah terjadi di salah satu belahan dunia comfort dream. Sang iblis iri hati akhirnya mau menerima dirinya, menyerap semua energi negatif dan memanfaatkan semua itu untuk kebangkitan dirinya.
"Dunia atas pasti akan heboh.." Hopeless meminum teh lemonnya dan tersenyum puas.
"Apa ada alasan kenapa harus Leviathan? Entah kenapa aku merasa ini ada hubungannya dengan masalah sebelumnya..." Hades bertanya dengan tatapan penuh dengan keingintahuan namun terlihat tenang. Leviathan adalah iblis yang menguasai lautan, dengan kata lain berbeda dengan Mammon yang bisa berbaur dengan manusia, Leviathan cenderung lebih menyukai kesendirian dan dekat dengan monster, entah mengapa hal itu membuat Hades teringat akan wilayah laut yang diminta oleh Hopeless.
"Kenapa kau seperti tahu akan segalanya.. apa itu kekuatan mu?" Hades menerka dengan asal sembari menatap ke arah cermin, diluar dugaan Hopeless terdiam dan ia menatap teh nya sesaat sebelum kemudian ia menjawab pertanyaan Hades dengan suara yang terdengar menyedihkan dan penuh oleh rasa lelah.
"Ini berdasarkan pengalaman ku"
.
.
.
__ADS_1
Novan membuka matanya dan hanya ada kegelapan di hadapannya, membuat sekali lagi ia berasumsi bahwa ia terjebak kembali di alam bawah sadarnya karena berada dalam ambang kematian. Ia terus berjalan dan akhirnya menemukan peti mati yang di dalamnya terdapat Morfeus yang terduduk menunggu dirinya.
"Lagi-lagi kau tidak menyadari akan bahaya" ucap Morfeus, Novan tak dapat membantah. Ia telah masuk dalam lubang buaya, ia hampir kehilangan nyawanya karena terjebak dalam dimensi yang di buat untuk mengurung Leviathan, dimensi yang dapat dengan mudah menyerap energinya.
"Aku terpaksa tahu.." Novan mendengus dan duduk di kursi samping peti mati.
"Kenapa kau menyelamatkan nya lagi?" Pertanyaan Morfeus sejenak menimbulkan kebingungan pada diri Novan, namun kemudian Novan menjawabnya dengan tulus.
"Aku tidak butuh alasan untuk membantu orang yang ingin ku bantu" suara Novan terdengar sangat yakin, ia tidak akan mengingkari kata-katanya. Ia begitu yakin bahwa bertindak jauh lebih baik daripada diam, entah mengapa di dalam dirinya ia akan merasa begitu menyesal bila ia hanya berdiam diri, sekaan tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada disetiap detik yang ia lewati.
Seutas senyuman terlihat di wajah Morfeus, tampak amat jelas bahwa ia sudah menduga jawaban itu dan ia tak menyesal mendengar jawaban tersebut. "Tampaknya kekuatanmu berkembang.." Morfeus menatap kumpulan kupu-kupu hitam yang terbang diatas udara, kupu-kupu yang begitu indah dan mematikan.
"Jangan bercanda, aku tahu kau yang melakukan itu. Bukankah kekuatanmu adalah meniru seseorang? Bukan begitu?" Novan tersenyum dan kemudian Morfeus sedikit tertawa. Wajahnya masih terlihat blur dan suaranya terdengar samar namun dapat di pahami.
"Apa aku boleh bertanya lagi? Tampaknya kau juga punya hobi baru ya.. ah atau tidak" pertanyaan itu membuat Novan kembali terdiam bingung, orang yang ada di hadapannya ini benar-benar penuh akan tanda tanya.
"Apa maksud mu?" Novan tampak kebingungan, sebuah tanda tanya terlihat jelas pada matanya yang kebingungan.
"Mengumpulkan bawahan, sampai kapan kau akan membuat semua orang mempercayai mu? Bukankah ini tidak cocok dengan image mu?" candaan Morfeus membuat Novan tersenyum dan kemudian satu alisnya terangkat ke atas.
"Benarkah? Kalau begitu berarti tebakan ku benar. Kau mengetahui sesuatu tentang putaran-putaran ku yang sebelumnya kan?" Tanya Novan tersenyum.
"Kau memang peka, benar aku ingat"
"Kalau begitu putaran berapa aku berada saat ini?"
__ADS_1
"Kau berada diputaran ke 1947"
...[Bersambung]...