
Sebuah mahkota berwarna putih yang terlihat seperti terbuat dari kristal muncul di hadapanku. Altar yang berdebu kini bercahaya dan memberikan energi untuku berdiri seakan memintaku untuk menerima mahkota itu dalam genggaman tanganku.
Semua mata tertuju pada mahkota ini seakan menunggu apa yang akan ku lakukan pada benda ini. Bukan berarti aku tidak tahu harus berbuat apa tapi aku tahu bila mengenakan mahkota ini itu berarti aku bisa menguasai seluruh bangsa elf dan hutan ini dengan mudah, dengan begitu rencanaku untuk mencegah bencana akan semakin lancar.
Nik berjalan ke atas altar bersama dengan putri elf yang ternyata bernama Harmony, keduanya menatap ke arahku dengan tatapan serius dan hormat, suatu sikap yang normal ditunjukan oleh semua elf dihadapan orang yang memegang mahkota raja mereka.
"Saya ucapkan selamat" Nik membungkuk hormat seakan memberiku pujia atas pencapaian besar yang ku terima, bersamaan dengan itu semua orang menunduk hormat, menunjukan kepatuhan mereka pada sang pemegang kekuasaan baru yang telah dipilih oleh pohon dunia. Dan ini membuatku tidak senang.
"Nik sebagai tuanmu aku memiliki sebuah pertanyaan dan kau harus menjawab dengan jujur"
"saya akan menjawab semua yang anda tanyakan dengan jujur, tuan!" ia menjawab pertanyaanku dengan yakin dan tak mengangkat kepalanya.
"Seberapa besar rasa patuh mu padaku?"
"Saya akan mematuhi anda sampai akhir hayat saya."
"Kalau begitu aku tidak membutuhkan ini"
Aku tidak membutuhkan posisi ini, prinsipku sudaha bulat yaitu aku hanya akan menerima sesuatu yang ku peroleh dari usahaku sendiri dan bukan berdasarkan pemberian orang lain.
Aku sadar semua orang memiliki takdirnya masing-masing, dan aku tidak ingin mengubah takdirku dan menyeret lebih banyak nyawa untuk menanggung dosa yang akan ku perbuat meskipun mereka hanyalah tokoh ilusi yang dibuat oleh dunia ini. Mahkota ini muncul di hadapanku bukan untuk memilihku menjadi pemiliknya, tapi memintaku untuk menentukan takdir seseorang.
Nik, ialah salah satu bawahan yang paling ku percaya yang dahulu mati diputaran kelima karena melindungi ku, kini aku tidak akan membiarkan takdir itu kembali terulang. Karena aku sudah berjanji untuk tidak akan menyerah dalam mengubah takdir kelam yang akan terjadi.
Aku memasangkan mahkota itu ke kepala Nik, cahaya keluar dari mahkota itu dan kemudian pohon dunia kembali bersinar terang bersamaan dengan ribuan peri hutan yang telah lama bersembunyi kini berterbangan memenuhi langit pagi yang mulai disinari oleh mentari. Matahari menunjukan sosoknya dan bersamaan dengan cahaya pohon dunia keduanya menyinari hutan itu dengan cahaya yang hangat dan indah.
Nik mengangkat wajahnya yang kini tampak terkejut dan meneteskan air mata, ia seakan tak mempercayai apa yang telah terjadi padanya. Ia yang awalnya dianggap sebagai pangeran buangan dari bangsanya kini berdiri dipuncak tertinggi bangsanya sendiri.
"Tuan.. a-apa maksudnya ini?"
Ia bertanya ke arahku dan aku tersenyum "Kedepannya teruslah melayaniku" cahaya seakan muncul kembali di mata pemuda itu dan dengan senyuman ia mengangguk paham.
"Tentu saja, saya akan terus melayani anda! Saya bersumpah dengan jiwa raga saya!"
__ADS_1
Sorakan terdengar dari semua bangsa elf bersamaan dengan pagi hari yang datang begitu cepat, pohon dunia yang hampir mati kini tampak kembali subur dan mengugurkan puluhan dedaunan emas yang indah.
Dan untuk pertama kalinya para elf mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari runtutan semua tragedi yang mereka alami. Bahwa sebuah hubungan dan kerjasama antar sesama sangat dibutuhkan untuk menjaga suatu tataan sebuah bangsa.
Dengan kembalinya Nik dan pohon dunia yang kembali subur kini tak ada alasan untuk paar elf menolak keberadaan Nik. Putri Harmony dan para bawahannya diputuskan akan menerima hukuman mereka karena telah tega membiarkan para light elf diburu oleh manusia. Sebelum ia dibawa ke dalam penjara kerajaan elf, putri itu memintaku dan Nik untuk mengabulkan satu permintaannya.
"Tolong hapuskan sistem golongan dalam ras kami."
"Maksudmu kau ingin tidak ada lagi sebutan Light elf dan Dark elf di kerajaan ini?"
"Saya tahu ini permohonan yang bodoh tapi setidaknya suatu sata bila saya keluar dari penjara ini, saya ingin seluruh elf sadar bahwa mereka adalah bangsa yang sama, tidak peduli bagaimana penampilan dan perbedaan mereka"
Nik menatap ke arahku dan aku mengangguk paham. "Kalau begitu akan ku kabulkan, mulai hari ini semua bangsa elf adalah satu kesatuan yang utuh dan semua peraturan suku yang mencerminkan sikap diskriminasi dan perbedaan akan dibetulkan"
Sorakan terdengar dari sebagian besar rakyat elf, sudah lama mereka menantikan hari ini. Hari dimana bangsa elf akhirnya memulai sebuah langka baru. Untuk merayakan hari ini perayaan digelar dan berbagai hidangan di sajikan, aku tidak dapat mengikuti pesta karena tubuhku bahkan tidak bisa digerakkan dengan benar, sepertinya pohon dunia juga menyerap energi tubuhku.
"Ini diluar ekspetasi ya..." Fobetor tertawa sambil membantuku berdiri.
"Haha sepertinya bukan itu yang Fobetor maksud tuan"
"Bukankah ini pertama kalinya kau tidak kehilangan kesadaranmu setelah pertempuran yang sengit? kau tahu aku sempat panik membayangkan harus kembali membawamu pulang!"
"Jadi kau mengejekku karena aku selama ini selalu pingsan setelah pertempuran?!"
"Hahaha!"
Fobetor tertawa lepas diiringi oleh senyuman Morfeus. Amarah yang terkumpul dalam dadaku untuk sesaat kini pudar menjadi tawa. Untuk pertama kalinya aku berharap saat-saat seperti ini sering terjadi. Saat dimana aku benar-benar bisa tersenyum dan tertawa dengan lepas.
Namun tiba-tiba sebuah suara yang hanya bisaku dengar mengema di kepalaku.
"ini benar-benar diluar ekspektasi, pilihan bijak mu membuatku terkejut wahai pahlawan" Sosok kakek elf yang tak terlihat kini tampak menampakan dirinya dalam bentuk astral dan perlahan merubah wujudnya menjadi seorang anak kecil berambut putih dengan kacamata dan tangan berbalut sarung tangan hitam yang memegang sebuah tongkat kayu menyerupai bentuk pohon dunia. "Kini aku paham kenapa kedua saudaraku mempercayaimu"
Ia tersenyum dan memberikan isyarat untuk diam, sekaan memintaku agar hanya melihat dan mendengarkan dirinya yang kini berdiri di tempat yang sedikit jauh dari kami. Fobetor dan Morfeus tampak tak menyadari keberadaanya dan ia pun berharap semua orang kecuali diriku tidak menyadari dirinya.
__ADS_1
"Pertama izinkan aku berterimakasih dan memperkenalkan diriku. Kau bisa memanggilku Fantasos, satu dari tiga mantan dewa mimpi dan juga perwujudan dari alam ini" Fantasos, pemilik nama yang sempat ku dengar itu kini menampakkan dirinya.
Ialah dewa yang mengatur dunia mimpi dahulu bersama Fobetor dan Morfeus. Julukan untuk mereka bertiga adalah para dewa Oneiroi, merekalah yang menjaga dan mengatur dunia mimpi dahulu kala.
Morfeus adalah ketua dari Oneiroi, dia bisa mengubah wujudnya menjadi manusia bahkan tak akan ada yang tahu penyamaran itu karena ia bisa benar-benar meniru semua orang.
Fobetor yang berarti ketakutan adalah dewa yang menguasai mimpi buruk dan mengubah wujudnya menjadi hewan apapun, sementara Fantasos adalah wakil dari Morfeus, dialah dewa mimpi yang merubah wujudnya menjadi benda.
"Harus aku akui pengetahuan mu terhadap dewa begitu baik, pahlawan"
jangan panggil aku pahlawan...
"Haha tapi memang hanya itu yang cocok untukmu, atau arsukah ku panggil pahlawan terbuang?"
Mataku bergerak menatap ke depan mecoba untuk terlihat seperti biasa mencoba mengalihkan perhatian Morfeus dan Fobetor.
Tampaknya anda mengetahui sesuatu soal perang yang pernah ku ikuti dahulu.
"Aku mengetahui semua masa lalu tempat ini. Biar ku tebak pasti perang yang kau maksud adalah perang yang terjadi diantara manusia dan dewa di tempat ini, benar?"
Sebenarnya apa penyebab perang itu terjadi?
Aku bertanya didalam kepalaku sementara diluar aku tengah berbincang ringan dengan Fobetor. Memulai dua pembicaraan memanglah sulit tapi aku harus bertahan.
"Perebutan kekuasaan, manusia manusia yang sadar bahwa dunia ini bisa dikendalikan bila mereka menghancurkan kami mulai mengumpulkan kekuatan dan memulai perang."
"tentu saja karena aku tidak berpartisipasi dalam perang saat itu."
Dan aku adalah salah satu dari manusia itu, tapi kenapa kau tidak membenciku?
"Karena sejujurnya aku berharap kaulah yang memenangkan perang itu, bukan para dewa"
...[Bersambung]...
__ADS_1