Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
62. Perpisahan


__ADS_3

"Novan adalah orang yang ditakdirkan untuk menyelamatkan duniamu, tapi Arin hanyalah penghalang untuk tujuannya, ia hanyalah anak belum siap untuk menghadapi para dewa, berbeda dengan Novan ."


Kalimat Protogonos benar-benar membuat Novan dan Arin terdiam membisu. Kini amarah Hipnos tak lagi bisa terbendung, burung-burung hantu hitam berterbangan keluar dari arah punggugnya, mengelilingi tempat itu dan menjatuhkan puluhan bulu hitam ke arah Protogonos, namun kemudian sebuah cahaya yang kuat muncul dan semua bulu-bulu itu menghilang layaknya bayangan yang sirna karena cahaya.


"Tolong jangan berkelahi..." Arin terlihat merentangkan tanganya dan disanalah asal cahaya itu muncul. Kekuatan lucid dream yang bisa mengendalikan mimpi itu berhasil menghilangkan kekuatan mimpi yang Hipnos lepaskan untuk menyerang Protogonos. Arin mencegah Hipnos untuk melukai Protogonos, menegaskan bagaimana dirinya berada di satu kubu.


"Kalau memang saya adalah beban untuk kak Novan maka saya akan mengikuti rencana tuan Protogonos" Ucapan Arin membuat Novan benar-benar terkejut, dengan tatapan tak percaya ia berteriak.


"Apa maksudmu Arin-"


"Terimakasih" Suara Arin dengan mudah memotong suara Novan, senyuman terlihat di wajahnya itu, senyuman yang terlihat begitu menyedihkan dan sulit untuk dituliskan dengan kata-kata. "Terimakasih atas semuanya" Ia melanjutkan kalimatnya dan melangkah mendekat ke arah Ivan dan tersenyum ke ara Novan.


"Yang tuan Protogonos katakan benar, kak Novan." Mata hijaunya terlihat menatap Novan dengan tatapan sendu "Bila aku terus berada di dekat kakak, aku hanya akan jadi penghalang kakak"dengan seutas senyum tulus ia mengungkapkan apa yang selama ini ia sembunyikan. Sebuah kebenaran dan juga perasaan yang ia tak sempat ungkapkan selama ini.


"Aku merasa berterimakasih, sangat-sangat berterimakasih... Kakak yang membawaku kabur dari Ephemeral, menunjukkan dunia luar yang begitu hangat, melindungi ku dan menjadi tempat untukku bergantung selain Nanaru, tanpa mengetahui bahwa mungkin saja aku bukanlah manusia" Mata Novan kini benar-benar membulat kala Arin mengungkapkan kebenaran akan dirinya.


"Aku tidak dapat merasakan sakit, aku juga tidak merasakan yang dinamakan perasaan itu, meskipun begitu kakak bisa merasakan semua itu. Maka dari itu aku tahu kak Novan akan selalu tidak tenang bila terjadi sesuatu padaku. Keberadaan Ku jauh lebih menghalangi mu daripada keadaanku" Wajah Novan kini benar-benar terlihat begitu sedih dan tanpa sepatah kata pun ia memeluk anak yang sudah ia angap sebagai adiknya sendiri.


Tubuhnya terasa dingin dan suaranya seperti bergetar "Berjanjilah kau akan baik-baik saja" Novan tak bisa menghalangi pilihan Arin, ia tahu bahwa Arin berhak untuk menentukan hidupnya sendiri, sementara Novan harus menyelesaikan semua masalah yang telah terikat dengannya sedari awal. Masalah yang bahkan ia tak tahu bermula dari mana asalnya.

__ADS_1


Senyuman terbentuk di wajah Arin dan air mata menetes membasahi pipinya "Iya, aku janji! kakak juga ya!" suara anak itu terdengar bergetar dan ia memeluk balik pelukan Novan, tanpa menyadari sebenarnya Novan kini tengah mencoba menutupi matanya yang berkaca-kaca. Novan tidak tahu apa yang membuatnya begitu emosional, bahkan sejak pertama kali bertemu dengan Arin, Novan tidak tahu apa yang membuatnya begitu menyayangi anak itu.


Meskipun sebentar, dahulu Novan pernah berpikir bahwa Arin memanfaatkan kekuatannya untuk mengambil simpatinya, namun semakin lama Novan mengenal dirinya dan Arin. Semakin besar rasa sayang dan ingin melindungi anak itu, seakan ada suatu ikatan diantara mereka, ikatan yang jauh lebih kuat dari ikatan jiwa, sebuah ikatan persaudaraan yang lebih kuat dari pada ikatan darah.


Protogonos dan Hopeless kini hanya dapat menghargai pilihan Arin itu dan ketika keduanya telah selesai berpelukan Arin berjalan ke arah Protogonos dan Ivan, meninggalkan Novan dan Hopeless yang kini berdiri di depan portal kegelapan.


"Hey kau" Novan memanggil ke arah Ivan dan dengan cepat melempar sebuah barang ke arah pemuda yang diciptakan berdasarkan sosoknya sendiri itu "Jaga baik-baik adikku" Itulah pesan Novan. Ivan menatap ke arah sebuah kalung permata merah yang Novan berikan dan kemudian tersenyum.


"Jangan khawatir, aku akan menjadi kakak yang lebih baik darimu" gurau Ivan.


"Haha dasar peniru" Novan tertawa hambar dan kemudian menatap Protogonos. "Bolehkah aku bertanya apa yang selanjutnya akan terjadi?"


"Begitu kau keluar dari perpustakaan ini aku akan menghapus ingatanmu tentang Arin, tidak semuanya tapi tentang perjanjian ini dan sosok Arin. Dan kemudian Arin akan tinggal disini untuk sementara waktu hingga bencana yang akan menerjang mu telah usai sepenuhnya".


"Diluar sana ada beberapa dewa yang bisa membaca ingatan dan pikiran manusia, itulah alasan Hipnos juga menghapus ingatan masa kecilmu, dengan begitu kau tidak akan mengingat hal-hal penting dan berbahaya yang dapat memancing kemarahan dewa, terutama ingatan yang berhubungan dengan alasan kau membenci dewa. Maka dari itu kedepannya kau membutuhkan bimbingan Hipnos untuk mencapai tujuanmu..." Jawaban Protogonos itu membuat keheningan tiba untuk sesaat namun kemudian Novan kembali bertanya.


"Tujuanku? Apa kau tahu apa tujuanku sebenarnya?"


Protogonos tersenyum dan menatap Novan dengan tatapan lembut, seakan rasanya seperti ada yang lucu. Baik Protogonos maupun Hopeless, keduanya telah menyaksikan perjuangan Novan selama ratusan putaran, dan pertanyaan itu bukanlah pertanyaan pertama yang pernah mereka dengar dari Novan.

__ADS_1


"Tujuanmu ada di tanganmu sendiri, kaulah yang akan menentukan akhir dari kisah panjangmu"


Novan kini benar-benar diam, apa yang ia inginkan, apa yang ia cari, dan apa tujuannya. Hanya ada satu tujuan yang kini terlintas dibenaknya.


"Akan ku bebaskan dunia ini, akan ku hancurkan semua tataan dan aturan yang mengatur dunia ini"


Mata merahnya bersinar terang sama seperti tekat dan ambisi nya yang telah menjadi bulat. Apapun rintangannya, apapun yang akan terjadi kedepannya, Novan akan menghadapi itu semua karena ia harus mempertanggung jawabkan ucapannya, dan ia tak keberatan akan hal itu.


"Tujuanku adalah menghancurkan semua yang para dewa itu miliki, tidak peduli apapun yang terjadi bahkan bila kalian akan menghentikan ku" jangankan tatapan terintimidasi, Protogonos dan Hopeless malah tersenyum. Mereka percaya akan ucapan itu dan bersedia membantu Novan. Demi dunia mimpi, demi alam semesta dan para jiwa manusia yang menderita karena permainan para dewa.


"Kami berada di pihakmu"


Bersamaan dengan ucapan Hopeless dan Protogonos sebuah bisikan terdengar dari kepala Novan, sekaan Morfeus kini juga tengah mendukung nya. Portal hitam yang berada di belakang Novan semakin besar dan bersamaan dengan sebuah benang emas yang menghapus ingatan Novan, untuk terakhir kalinya Novan mengucapkan selamat tinggal pada Arin.


"Jaga dirimu baik-baik.. meskipun nanti aku tak akan melihat mu lagi, kau tetap harus jaga dirimu"


Arin mengangguk dan dengan mata berkaca-kaca ia melambaikan tangannya, melepaskan kepergian Novan yang mulai menghilang ke dalam kegelapan portal. Ia harus segera pergi, dengan begitu Protogonos bisa menutup kembali gerbang, mencegah para dewa untuk memasuki perpustakaan itu.


Novan tersenyum dan kemudian bersama dengan Hopeless ia memasuki portal itu.

__ADS_1


Sembari mulai kehilangan semua ingatannya tentang Arin dan perpustakaan alam semesta.


...[Bersambung]...


__ADS_2