Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
45. Pangeran Iblis Keserakahan


__ADS_3

Di sebuah pesta dansa yang meriah dan mewah, Novan atau lebih tepatnya di kenal dengan Adipati Askara Akasa tampak berdiri di antara kerumunan bangsawan, orang-orang selalu mendatanginya dan berbincang sejenak dengannya, seakan mereka sedang berlomba-lomba menarik perhatian seekor anak anjing.


'Memuakan..'


Novan berterimakasih atas ingatan putaran kelimanya, kini ia merasa terbiasa dengan situasi itu. Dengan senyuman ia terus menjawab dan menyapa semua pengunjung. Malam ini adalah malam untuk merayakan diangkatnya Askara sebagai Adipati Akasa dan Candra yang baru.


Semua saudara Novan tampak menyebar ke segala penjuru untuk menyambut tamu, sama seperti Novan mereka juga sebenarnya merasa lelah dan muak akan situasi itu. Novan tersenyum sesaat ketika melihat wajah Rian dan Nikolai yang sama-sama memasang raut wajah lelah untuk beberapa saat sebelum kemudian mereka melihat Novan dan tersenyum seakan memberikan kode mereka baik-baik saja.


Acara dansa sudah hampir dimulai dan Novan berjalan ke arah bangku yang telah disiapkan untuknya, seakan mengatakan ia tak akan berdansa untuk malam itu. Namun kemudian matanya tertuju pada seorang wanita berambut pirang dengan mata hijau zambrud.


Ia tersenyum dan kemudian berjalan mendekati wanita itu "bolehkah saya berdansa satu lagi dengan anda lady?" Keduanya saling bertatapan untuk sesaat dan bisikan mulai terdengar dari para hadirin. Wanita itu tersenyum dan menerima uluran tangan Novan.


Bagaikan sepasang insan yang dipertemukan oleh takdir keduanya berdansa di bawah cahaya lampu hias, tatapan kagum dan penasaran terlihat dari seluruh penjuru. Namun ketika acara itu telah tiba di pertengahan alunan musik, wanita itu kemudian membuka mulutnya "apa yang kau inginkan sebenarnya?" Matanya yang anggun memancarkan aura intimidasi yang kuat.


Novan tersenyum dan menjawabnya "entahlah, menurut anda? Apa yang saya inginkan?" Keduanya terus berdansa dengan anggun tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali.


"Berhentilah berpura-pura Novan, aku tahu kau sedang mengujiku" Novan tersenyum dan kemudian dengan seringai senang ia menatap wanita itu dengan sedikit tertawa geli.


"Sudah ku duga kau mengingatku, Kinan"


Novan mengenal wanita itu, Kinan Samodra. Putri bungsu dari perdana Mentri kerajaan dan juga adik dari calon Adipati Samodra sekaligus mantan teman masa kecil Novan. Keluarga Samodra adalah keluarga paling berpengaruh di kerajaan. Merekalah lambang dari aturan dan kenetralan hukum kerajaan ini, mereka tidak dikendalikan atau batasi oleh hukum karena mereka adalah yang menciptakan hukum.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Mendengar pertanyaan itu Novan tertawa geli, ia tahu Kinan memang adalah wanita yang cepat tanggap. Tidak perluh di jelaskan pun Novan tahu seberapa banyak ia menggali informasi tentang dirinya.


"Sulit menjelaskannya, tapi aku butuh bantuanmu. Anggap saja aku meminta kau membayar hutang balas Budi karena aku menjadi satu-satunya teman masa kecilmu"


"Bukankah aku juga satu-satunya temanmu?" Kinan mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Siapa bilang?"


"Sudahlah, sulit berbicara dengan orang jenius"


"Haha ku terima itu sebagai sanjungan.."

__ADS_1


Keduanya terus menari dan saling berpegangan tangan layaknya pasangan yang serasi. "Jadi apa yang kau inginkan? Aku tidak bisa mengubah suatu hukum kerajaan untukmu, karena aku bukanlah kepala keluarga" mendengar itu Novan kemudian tersenyum dan menggeleng.


"Mengubah hukum memang menarik tapi buat apa mengubahnya kalau kau tinggal tidak usah mematuhinya saja? Lagi pula aku punya jabatan tinggi.. yang ku inginkan darimu itu bukan sesuatu yang sulit"


"Dan apa itu?"


Novan menyeringai senang dan ketika musik berhenti tanda bahwa dansa telah selesai, Novan menundukkan badannya dan tepat di samping telinga Kinan ia berbisik.


"Berikan aku uang yang sangat banyak"


Kinan mengangkat alisnya terkejut ia ingin bertanya apa maksud dari Novan tapi Novan kemudian memberikan kode dengan jari telunjuk yang menempel pada bibirnya sekaan mengatakan 'kau tidak perluh tahu untuk apa uang itu, hanya perluh siapkan saja sesuai dengan keinginanku'.


.


.


.


"Anu.. kak Novan.."


Dua hari telah berlalu dan uang yang sangat banyak tiba-tiba terkirim ke kediaman Akasa. Saling banyaknya Nikolai bisa memastikan bahwa uang itu setara dengan 50% penghasilan keluarga Candra setiap bulan.


"Dari mana datangnya semua uang ini..?" Nikolai menatap secarik dokumen dengan angka nol yang berderet banyak. Novan melempar sebuah koin emas dan dengan wajah santai ia menjawab pertanyaan Nikolai.


"Dari teman masa kecilku"


Nikolai terbelalak dan menatap Novan dengan tatapan tak percaya "kakak.. memangnya punya teman? Dengan sikap seperti itu-" koin emas seketika terlempar dan dengan cepat Nikolai menahan koin itu sebelum mengenai kepalanya.


"Terkadang aku bingung kemana perginya adiku yang polos dan cuman tahu menghitung koin dimasa lalu.."


"Saya kan sudah dewasa, wajar kalau sikap saya berubah"


Novan menatap ke arah Nikolai dan tersenyum "pada dasarnya manusia itu tidak pernah berubah, meskipun mereka akan mengalami banyak kemajuan atau kemunduran dalam diri mereka" Novan menyilangkan tanganya dan kemudian tersenyum "sepertinya kau begitu karena mirip denganku.." ketika Nikolai mendengar itu ia seketika terdiam, bingung ingin merespon apa bahkan di dalam hatinya ia sendiri bertanya-tanya sebenarnya sikap Novan itu lebih mirip mendiang ibu atau ayah mereka.

__ADS_1


"Mau diapakan semua uang ini?" Akhirnya Nikolai mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Membeli harga diri seseorang" Novan tersenyum dan dengan mata yang memancarkan cahaya merah ia menatap ke arah perapian yang menyala.


"Kau tidak perluh bertanya siapa dan apa maksud ku, perhatikan saja setiap sudut kota- tidak tapi setiap sudut kerajaan ini. Laporkan padaku bila ada sesuatu yang menarik.."


"Kau mendengar ku? Fobetor?"


.


.


Di atas sebuah menara Fobetor tampak berdiri diam dan mengangguk "maaf tapi tampaknya sesuatu yang menari baru saja terjadi, Tuanku" sebelum kemudian ia tersenyum melompat ke bawah dan merubah wujudnya menjadi seekor kelelawar. Di sebuah gedung yang jendelanya terbuka ia tampak melesat masuk dan di atas tangga di dalam ruangan yang gelap ia melihat pintu sebuah ruangan terbuka.


"Kalau tidak salah para manusia menyebut tempat ini bank kan? Memangnya ada apa di dalam sini sampai orang itu kemari.. oh itu dia, Kanz" mata merah Fobetor menatap ke arah seorang pemuda yang tampak keluar dari ruangan itu. Dan di tanganya sebuah cincin permata berwarna kuning bersinar, dari cincin itu Fobetor bisa merasakan aura dosa yang amat kuat.


"Benda terkutuk-"


Fobetor hendak menghampiri Kanz dan sebuah tangan tiba-tiba menghentikannya dan Novan tampak berada di belakangnya. "Jangan. Masih belum saatnya.." ucap Novan tersenyum melihat Kanz menyeringai ke arah cincinnya.


"Bagus, dengan benda ini aku bisa menyimpan emas sebanyak yang aku mau.. benar-benar sangat praktis.." sinar di cincin itu semakin teran dan suara tawa kemudian terdengar dari balik kegelapan.


"Sudah ku duga kau memang manusia paling serakah di tempat ini. Sangat menarik.." seorang pemuda berambut pirang dengan mata merah menatap Kanz dengan tatapan senang dan puas. "Sungguh keserakahan yang sangat kuat.. kau akan menjadi tangan kanan yang sempurna"


Novan tersenyum mendengar percakapan diantara keduanya, dari balik jasnya ia mengeluarkan sebuah topeng seakan bersiap untuk melakukan sesuatu.


"Siapa kau.. lebih baik kau pergi dan jangan campuri urusan ku" Kanz menodongkan senjatanya pada pemuda itu namun pemuda berambut pirang itu malah tersenyum dan sebuah pasir emas melilit tubuh Kanz dengan kuat.


"Sungguh manusia yang sombong, tapi tidak apa karena kesombonganmu itu bisa dibeli.." mata Kanz menatap ke arah pasir emas yang melilitnya.


"I-ini.. emas?!"


Pemuda itu tersenyum dari wajahnya ia seakan puas dengan reaksi manusia di depannya itu dan kemudian dengan tatapan senang ia melanjutkan kalimatnya "benar, benda yang paling berharga di dunia ini.. bukankah kau tertarik akan pasir ini? Aku bisa memberikannya padamu.. aku Mammon, satu dari tujuh pangeran iblis ingin menawarkan mu sesuatu.

__ADS_1


"Jual lah jiwamu itu padaku"


...[Bersambung]...


__ADS_2