Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
30. Memanfaatkan Dewa


__ADS_3

Angin malam yang segar menerpa dedaunan dengan kencangnya, di atas sebuah menara Novan menatap seluruh pelabuhan dengan tatapan nyalang.


"Apa rencanamu? Bukankah kita harus menyelamatkan anak itu?" Fobetor terbang menjadi sosok burung camar.


"Tidak sekarang, Loki pasti telah ketahuan dan bila kita menyerang sekarang kau juga akan dalam masalah" ucap Novan dengan tatapan serius. "Semua pasti ada waktunya dan sebentar lagi tsunami akan datang"


"Tsunami?"


"Ya, awal dari kehancuran tempat ini sekaligus awal penderitaanku di putaran kelima.."


langit malam yang cerah kemudian terselimuti oleh awan hitam yang diselingi oleh petir, langit yang tenang seakan menjadi marah dan dengan cepat Novan bergerak menuju ke suatu tempat.


Di sebuah mansion mayat seorang pemuda tergeletak bersimbah darah, tubuhnya yang hancur benar-benar mengerikan. Di depannya seorang pria berjas tampak berlumuran darah.


"Itu.. Mustahil.."


Fobetor tidak bisa mempercayai matanya, Ares berdiri diam tepat di depan mayat Alirrothios, anak dari dewa Phoseidon. Tepat di malam itu sesuai dengan ingatan Novan, Ares membunuh Alirrothios karena telah melecehkan putrinya, Alkippe.


"Dasar manusia tidak sopan, bila kau tidak segera keluar maka aku pastikan kau akan bernasib sama dengannya"


Novan keluar dari balik jendela gorden bersama dengan Fobetor yang berubah menjadi elang dan bertengger di pundaknya. "Tolong jangan salah paham, saya datang bukan untuk berkelahi. Anda tahukan saya ini bukanlah manusia yang berada di pihak dewa manapun"


"Lantas mengapa kau kemari?"


"Saya punya sebuah penawaran"


Di saat itu juga pintu di belakang Ares terbuka dan Medusa tampak masuk ke dalam ruangan sembari membawa sebuah kristal biru tempat seorang wanita berekor ikan tertidur. Sosok Medusa yang dipenuhi oleh energi negatif dan tertutup kegelapan membuat Ares merasa risih.


"Mahluk terkutuk.. Beraninya kau membawa mahluk ini di hadapanku!" pedang darah Ares terarah ke leher Novan. Namun Novan malah tersenyum dan membiarkan pedang itu sedikit menggores kulit lehernya.


"Apa anda akan tetap menyebutnya begitu kalau anda tahu apa yang telah ia alami?" Novan menatap Ares dengan mata tajam "dari reaksi anda tampaknya anda benar-benar tidak tahu ya.."


Di bawah cahaya rembulan yang mulai terlihat dan saat itulah Ares tahu bahwa sosok di hadapannya ternyata adalah sosok wanita yang sempat menyelamatkan putrinya.

__ADS_1


"Kau.. Apa yang terjadi padamu..?"


"Buah jatuh tak jauh dari pohon nya bukan? Bukankah Poseidon juga pernah melakukan perbuatan tidak pantas seperti anaknya? Apa anda pernah mendengar soal pendeta Athena yang pernah terlibat masalah dengan dewa Poseidon? Pasti anda pernah mendengarnya.." Suara lantang Novan yang seakan mengalihkan pembicaraan membuat Ares kini terkejut.


"Menurutmu apa yang terjadi pada pendeta itu? Apa hasil dari kekejaman dan ketidak adilan itu? Jawabannya ada di hadapan anda"


Ares terdiam seribu bahasa dan dengan mata terbelalak ia menatap Medusa. Seakan belum puas dan tanpa rasa takut Novan melanjutkan kalimatnya "Benar, ini lah yang kalian para dewa lakukan. Kalian mempermainkan manusia layaknya mainan yang tidak berguna meskipun kami mempersembahkan seluruh yang kami miliki-"


"Dasar sialan!!"


Aura kekuatan yang dahsyat terpancar dari tubuh Ares dan dengan penuh emosi ia menggenggam erat pedangnya.


"𝐏𝐑𝐨𝐬𝐞𝐒𝐝𝐨𝐧.. πƒπšπ¬πšπ« 𝐛𝐫*𝐧𝐠𝐬*𝐀!!!"


π΅π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žβ„Žπ‘™π‘Žβ„Ž..


π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘Žβ„Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘  π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘‘π‘–π‘™π‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘–π‘™π‘Žπ‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘œπ‘™π‘’β„Ž π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘‘π‘’π‘€π‘Ž 𝑖𝑑𝑒..


πΎπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž 𝑝𝑒𝑙𝑖𝑛𝑑𝑒𝑛𝑔 π‘Šπ‘Žπ‘›π‘–π‘‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘–π‘Žπ‘¦π‘Ž.


"Kristal yang ada di tanganmu.. Apa itu Dewi Amfitrit?" Ares bertanya dengan mata penuh kemarahan. Ares mengenal sosok itu, Amfitrit, istri dari Poseidon sekaligus dewi dari laut.


"Saya tahu anda merasa sangat kesal begitu juga saya, tapi selayaknya Medusa. Amfitrith tidak ada hubungannya dengan perilaku buruk Poseidon, justru ia juga hampir menjadi korban" Novan mencegah Ares untuk semakin berjalan mendekat ke arah Medusa. "Bukankah anda tahu kalau sehari sebelum menikahi Poseidon, dewi Amfitrit kabur?"


Ucapan Novan benar, Amfitrit secara tertulis memanglah istri Poseidon, namun ia tidak pernah menikah dengan Poseidon karena sehari sebelum mereka menikah, Amfitrit yang mengetahui reputasi buruk Poseidon terhadap wanita kemudian pergi dan bersembunyi di samudera Atlantik.


"Saat ini ia berada dalam bentuk Kristal demi menutupi aura dewanya agar tak di temukan oleh Poseidon" lanjut Novan yang entah tahu dari mana.


"Jangan berputar-putar, cepat katakan apa maksudmu membawa mereka ke hadapanku"


"Saya hanya ingin menunjukan bahwa saya juga sama seperti anda, saya ada di pihak orang-orang seperti mereka, meskipun saya membenci dewa namun mana bisa saya membenci wanita yang teraniaya? Untuk itu saya memiliki permintaan pada anda"


"Aku adalah anak sekaligus dewa yang tengah diminta untuk membunuhmu, dan kau malah meminta tolong padaku?" tanya Ares dengan sedikit tertawa.

__ADS_1


"Hanya untuk kali ini saja. Bukankah anda juga ingin mendengarkan permintaan saya? Saat ini anda telah terjun dalam masalah karena membunuh orang yang memang seharusnya pantas untuk mati. Namun pasti Poseidon tidak akan membiarkan ini, kalaupun persidangan antara dewa dilakukan pasti anda hanya akan di cap tidak bersalah dan suatu saat Poseidon atau anak-anaknya akan melakukan hal yang sama, bukankah anda tidak ingin itu terjadi?"


"Tampaknya kau tahu banyak ya soal kami para dewa.." ucap Ares dengan tatapan curiga.


"Apa yang saya ketahui itu bukan masalahnya sekarang. Sebentar lagi masalah yang sebenarnya akan datang, Poseidon yang marah pasti akan mengirimkan banyak bawahan nya untuk menyerang pelabuhan ini. Saya tidak bisa tinggal diam melihat banyak korban yang akan berjatuhan karena ulahnya lagi.." Novan sedikit mengingat masa lalu yang ia ingat, itu membuatnya sedikit emosional.


"Jadi kau memintaku untuk melawannya? Huh dasar manusia congkak kau pikir aku akan terjebak dalam rayuan licik mu itu?"


"Aku tidak meminta anda untuk menghancurkannya, hanya saja aku ingin anda untuk membantu seseorang.. Orang yang saat ini adalah dewa yang tengah Poseidon hadapi"


Petir mulai semakin kuat terdengar bersamaan dengan angin kencang yang menerpa gorden dengan cepatnya, dari arah jendela seorang pria berparas tampan yang terselimuti cahaya memasuki ruangan. Dengan mata yang tenang ia menatap sosok di depannya dengan senyuman.


"Jadi kenapa kau memanggilku kemari wahai manusia yang telah menyelamatkan utusanku?"


Dewa Indra tersenyum menatap sosok Novan yang tampak telah menunggunya. Dengan tatapan tak percaya Ares tampak tercengang.


"Kau bagaimana kau bisa ada di sini?!"


"Oh siapa ini? Dewa Ares dari Yunani rupanya. Ternyata kau mempertemukan ku dengan sosok yang unik ya, Manusia" Indra tersenyum dengan wajah yang bersinar. "Kau bilang akan membantuku untuk mengalahkan dewa laut menyebalkan itu, tapi mengapa sekarang kau malah mengajakku ikut berdiskusi dengannya?"


"Maaf bila saya membuat anda kebingungan tapi saya harap anda berdua bisa bekerja sama untuk mengalahkan Poseidon"


"Mengapa kami harus mendengarkan mu?" Mata Indra yang menatap lembut berubah menjadi tatapan dalam yang mengintimidasi dan dengan suara berat ia bertanya ke arah Novan.


"Karena kalian tidak punya pilihan lain, Poseidon akan segera memulai perang dengan Dewa Indra, namun kemudian Dewa Ares malah membunuh putranya, dengan kata lain kalian ini sama-sama musuh Poseidon untuk saat ini. Bukankah ada pepatah bilang musuh dari musuhku adalah temanku?" ucapan Novan terasa begitu masuk akal.


"Manusia apa kau tahu kalau pertarungan antar dewa itu tidak sesepele itu? Meskipun kami berdua melawannya ini bukan wilayah teritorial kami tapi wilayah Poseidon, ia bisa dengan leluasa mengendalikan wilayahnya"


"Dewa Indra benar, minimal kami hanya akan bisa menghalangi semua anak buahnya yang akan datang kemari"


"Maka dari itu aku meminta kalian saling bekerjasama, dan untuk masalah itu serahkan saja pada kami" Novan menatap ke arah Medusa dan Fobetor.


"Para pasukan Gorgon dan pasukan kota ini akan membantu kalian juga. Kalian hanya perluh menjadi ujung tombak serangan ini dan buat Poseidon membayar atas semua kejahatannya!"

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2