
Lagi-lagi aku terbangun dalam ruangan yang gelap, hawa dingin yang menusuk kulitku bersamaan dengan perasaan aneh yang menganggu ini benar-benar terasa begitu nyata.
Perlahan namun pasti kegelapan yang melahapku kemudian berubah menjadi pemandangan bangunan kastil hitam dengan lorong-lorong gelap yang berada di mana-mana.
Aku terus melangkah, entah di lorong mana aku pergi pada akhirnya aku terus berakhir di tempat yang sama, sebuah aula batu yang ditengahnya terdapat peti mati. Kakiku terus melangkah melewati lorong demi lorong dan kembali ke tempat yang sama.
Dan tepat ketika putaran ke tujuh peti yang tertutup itu kemudian terbuka, pada putaran ke sepuluh sebuah kursi putih terletak di sampingnya dan ketika aku kembali ke sana untuk ke duabelas kalinya seorang pemuda dengan wajah yang buram dimataku tampak tertekuk menatap tangannya sendiri.
Kulitnya pucat, rambutnya berwarna putih dengan pakaian yang terlihat seperti jubah merah dan sepasang sayap hitam di punggungnya. Aku tidak bisa menghentikan langkahku yang perlahan mendekatinya, seakan-akan aku ingin segera menghampirinya. Dari pada rasa takut, apa yang kurasakan saat melihatnya adalah rasa bersalah dan kerinduan.
"Kira-kira ini sudah yang keberapa ya.." ia tampak menengok ke arahku dan kemudian melanjutkan kalimatnya "sudah berapa putaran yang telah kita lewati, berapa tahun yang telah berlalu, dan apa saja yang telah terjadi.. apa kau mengingat semuanya, Novan?" Aku hanya bisa membisu, semua ucapan yang pemuda itu katakan tak satupun bisa ku cerna.
"Bukan salahmu karena gagal, juga bukan salahmu untuk terus kembali ke awal" pengelihatan ku yang jernih perlahan menjadi buram dan tanpa ku ketahui air mataku terjatuh.
Rasa sedih, kecewa, marah bahkan dendam terasa begitu kuat muncul di dalam diriku. Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi apalagi mengingat apa yang membuatku menjadi seperti ini.
"Rasanya sudah sangat lama namun di saat yang sama terasa baru saja kemarin aku melihatmu mati lagi" ia menyentuh pundakku dan entah bagaimana cara aku kemudian mengingat siapa dia.
"Morfeus?"
Namun ketika aku ingin bertanya kepadanya mimpi itu telah berakhir begitu saja, dalam keadaan sakit di sekujur tubuhku aku terbangun disebuah ruangan penginapan yang begitu sederhana. Cahaya hangat mentari memancar cerah dari jendela yang terbuka bersamaan dengan angin segar yang berhembus meniup gorden berwarna hijau di kedua sisi jendela itu.
Sudah berapa lama aku tertidur, apa yang terjadi kemarin saat aku sepenuhnya kehilangan kendali diriku sendiri. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dengan susah payah aku menganti posisiku, berdiri dari kasur rasanya begitu sulit bahkan hanya untuk berdiri diam saja rasanya tubuhku akan ambruk.
Langkah demi langkah pelan aku lakukan dengan hati-hati hanya untuk mendekat ke arah jendela. Mataku seketika terbelalak sesaat melihat pemandangan yang jauh berbeda dengan kota Abyudara yang pernah ku lihat. Bangunan besar bergaya Eropa klasik berdiri dimana-mana, kereta kuda berjalan di jalan bebatuan bersama dengan lautan manusia yang mengenakan pakaian era Viktoria.
"Apa aku telah sampai ke wilayah barat?" Gumamku penasaran.
Di bawah sana banyak para pedagang yang memamerkan dagangannya, tak lupa musik dan pertunjukan kecil-kecilan juga ada di setiap. Meskipun tak semaju Abyudara kota itu terlihat begitu bebas. Ketika seekor merpati putih mendarat tepat di samping jendelaku sebuah surat yang terikat pada kakinya menarik perhatianku.
Aku mengambil surat itu, membukanya dan membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Orang yang mengirim surat ini ternyata adalah Samuel, tak jelas bagaimana ia bisa mengetahui lokasiku tapi yang pasti ia mengatakan kalau ada sesuatu yang tak beres di keluarga Akasa. Kabar Arin tampaknya baik-baik saja namun mereka harus tetap berhati-hati pada kedua anak kembar Akasa yang sepertinya berpotensi adalah Antagonis dalam putaran kali ini.
Samuel juga menegaskan untuk berhati-hati di wilayah ini, meskipun kecil aku masih bisa melihat peta yang ia gambarkan dibalik surat ini. "Terimakasih, kembalilah dan sampaikan kalau aku sudah menerima suratnya" dan kemudian merpati itu terbang ke langit.
Ketukan pintu yang terdengar sesaat kemudian diselingi oleh suara seorang pemuda terdengar dari belakang ku, pintu berbahan kayu itu kemudian terbuka dan tampaklah seorang pemuda yang begitu mirip denganku membawakan sarapan, di belakangnya seorang anak kecil berambut biru tampak mengikutinya.
__ADS_1
"Fobe dan.. Rian?"
Untuk sesaat kepalaku terasa sakit dan secara misterius wajah anak itu yang berlumuran darah muncul dalam ingatanku, tak hanya sekali tapi puluhan kali rasanya aku melihat wajahnya yang berlumuran darah.
๐ด๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐๐?
๐ต๐ข๐๐๐๐๐โ ๐๐๐ข โ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐ฆ๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐๐ฆ๐ ๐ ๐๐๐๐๐?
๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ฆ๐ ๐๐ก๐ข ๐๐ข๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐ข?
.
.
.
"Jadi bagaimana keadaan anda?" Seorang pemuda berambut kuning dengan paras tampan tampak bertanya pada ketiga pemuda yang ada di hadapan nya. Baik Rian maupun Novan, keduanya saling terdiam, memaksa Fobetor mau tidak mau untuk berbicara menjawab pertanyaan pemuda bernama Perseus itu.
"Berkat anda kami baik-baik saja sekarang. Terimakasih banyak"
Di sebuah tempat makan yang tampak begitu ramai keempat pemuda itu duduk bersama dalam sebuah meja. Beberapa makanan tampak tersaji di hadapan mereka seperti sup dan roti lengkap dengan segelas air.
๐๐โ ๐ก๐๐๐๐๐๐ ๐๐โ๐๐๐ค๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐..
Batin ketiga pemuda itu tampak memikirkan hal yang sama, orang yang ada di hadapan mereka benar-benar sangat cocok untuk di sebuah pahlawan. Dari sikap, turut kata bahkan penampilannya semua orang pasti akan percaya bahwa ia adalah pahlawan sungguhan.
'๐ท๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐โ๐๐๐ค๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐๐....' Novan tampak memperhatikan pemuda itu dengan seksama '๐๐๐๐ ๐๐ข๐ , ๐๐โ๐๐๐ค๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐โ ๐๐๐ค๐, ๐ ๐๐๐โ ๐ ๐๐ก๐ข ๐๐๐๐ ๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐ข-๐ ๐๐ก๐ข๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข ๐๐๐๐๐ข๐๐ขโ ๐๐๐๐ข๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ก๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐-๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ค๐' Novan ingat dengan jelas kisah pemuda itu.
Sadar bahwa ia diperhatikan Perseus kemudian tersenyum "apa anda butuh sesuatu?" Dan dengan cepat Novan menolak.
"Tidak, hanya saja.. perisai anda unik ya.." mata coklat Novan tampak tertuju pada perisai yang ada di belakang punggung Perseus, sebuah perisai yang sangat mengkilap bagaikan kaca, salah satu benda yang di berikan oleh Dewi Athena kepada Perseus.
"Oh ini, seseorang yang saya anggap kakak sepupu saya yang memberikannya"
'๐๐โ ๐๐๐ โ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ด๐กโ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐ข.. ๐ท๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐โ๐๐ฆ๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐-๐๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐, ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ก๐ข ๐ด๐กโ๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐ด๐๐๐ ๐๐๐ข๐ ๐๐ข๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ก๐ ๐๐ข๐๐ฆ๐ โ๐ข๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐.. ' batin Novan mengangguk seolah paham akan penjelasan Perseus.
__ADS_1
"Anu.. meskipun saya tidak tahu bagaimana kejadiannya tapi terimakasih sudah menyelamatkan saya juga" ujar Rian dengan menunduk.
"Eh jangan berterimakasih padaku, kan kakak yang ada di sebelah mu itu yang menyelamatkan mu dari perut ular besar kemarin" jawab Perseus sambil menunjuk Novan yang tampak terkejut.
"D-dia?" Rian tampak tak dapat mempercayai fakta itu, namun hutang adalah hutang dan ia harus menunjukkan sopan santunnya pada orang yang telah menyelamatkan nyawanya "meskipun aku tidak yakin tapi.. Terimakasih"
'๐๐๐๐ข๐๐ข๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข ๐๐๐ ๐ ๐๐๐ข ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐ ๐๐ข....' batin Novan yang kemudian berpura-pura tersenyum ramah dan menjawab "tidak apa" sementara Fobetor hanya bisa terdiam menyaksikan mereka.
"Kalau begitu apa saya boleh bertanya apa yang anda lakukan di daerah berbahaya ini?" Tanya Perseus.
"Anda sendiri?" Namun Novan balik bertanya.
"Saya ditugaskan oleh para dewa untuk menjaga wilayah ini dari para Gorgon" jawab Perseus jujur.
'๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐.. ๐ต๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐ขโ ๐๐๐๐ข๐ ๐? ๐๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐โ ๐๐๐ ๐๐๐...' batin Novan dan Fobetor.
"Kalau kami ke sini sebenarnya untuk berlibur, ya kan Fobe?" Ujar Novan berbohong.
"Ah sayang sekali tampaknya suasana hati dewa laut sedang tidak baik, saya rasa akan sulit menikmati pemandangan laut di daerah ini"
"Begitu ya, haha sayang sekali padahal kami sangat ingin segera ke sana.."
'๐ท๐๐ ๐๐๐๐โ๐๐ก ๐๐๐๐ก๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ' lanjut Novan dalam hati dengan perasaan kecewa.
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan tubuh anda? saat anda bertarung dengan para ular itu anda terlihat begitu terbiasa, namun ada yang aneh... tubuh Anda terlihat tidak biasa bertarung" ucap Perseus yang telah mengetahui terjadi beberappa keram otot dan saraf yang rusak.
"Haha mungkin karena sudah lama tidak bergerak otot saya jadi kaku.."
'๐ป๐โ๐ ๐ ๐๐๐ข๐๐ข๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ข ๐๐ข๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐ก๐โ๐ข.....' lanjut Novan dalam hati.
"jadi sekarang apa yang akan kalian lakukan?"
"Sepertinya kami akan tetap menetap selama beberapa hari karena kusir kami tampaknya kabur meninggalkan kami" Ujar Fobetor dengan wajah kesal sembari mengingat wajah Loki.
"Kalau begitu saya sarankan jangan mendekati tempat yag terlihat seperti kuil, karena disanalah markas para Gorgon berada "
__ADS_1
"Baiklah, tapi sebelum itu apa anda bisa menunjukkan pada kami tempat yang menjual cermin?"
[Bersambung]