Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
19. Badai Yang Mendekat


__ADS_3

"Tuan Samuel?"


"Ya Arin. Apa kau butuh sesuatu?"


Di tengah perpustakaan yang begitu luas seorang pemuda tampak berdiri di samping seorang gadis berabut coklat pucat. Suasana yang tenang, hawa yang hangat dan dentuman jarum jam menghiasi suasana diperpustakaan sore itu.


"Apa.. kak Novan baik-baik saja?"Samuel mengangkat alisnya sesaat, berpikir untuk beebapa detik sebelum kemudian tersenyum.


"Jangan kawatir lebih baik nak Arin fokus saja dulu dengan pembelajaran Arin ya. Putri Dian dan tuan Andi meminta saya menjaga anda sampai-"


"Kak Novan bilang ini adalah dunia Dongeng, apa itu benar?"


Samuel kini membisu, wajahnya yang tadinya tersenyum kini terganti dengan raut terkejut "Apa Arin juga mengatakan hal itu ke orang lain?" tanya Samuel yang kini memelankan suaranya dan sedikit membungkuk.


"Tidak, hanya kepada anda.."


"Baguslahh, karena ini adalah rahasia, ya"


"J-jadi benar?! Ups.. maaf apa aku terlalu keras?" Arin menutup mulutnya sesaat dan kemudian kembali berbisik "Memang dongeng seperti apa?".


"Apa anda pernah melihat Tuan putri Vivian? Beliau adalah tokoh utamanya" Mata Arin yang kini berbinar tampak menatap ke arah buku yang ia baca namun kemudian raut wajah senang itu luntur dengan cepat.


"Bukankah semua orang adalah tokoh utama dalam hidup mereka sendiri? Apa itu artinya dunia ini akan selesai saat tuan putri menemui pangerannyadan hidup bahagia? bagaimana dengan orang-orang? apa mereka hanyalah tokoh pelengkap saja?" Samuel mengangkat alisnya terkejut sebelum kemudian tatapan matanya menjadi sayu.


"Tidak, dunia ini tidak akan berakhir, karena dunia ini masih memiliki banyak tokoh utama lainnya. Tapi dunia ini juga tak seindah dongen yang anda maksudkan. Di dunia ini para tokoh utama adalah segalanya, mereka lebih dicintai dari pada kita"


"Bukankah itu menyedihkan?" Sekali lagi Samuel terteguk kaget, anak yang kini berada di depannya entah mengapa tampak berbeda "Aku tahu dicintai itu bagus tapi terkadang itu menyeraman bukan? dicintai oleh orang yang tidak kita cintai, itu lebih seperti sebuah beban yang sangat berat.."


"Arin, apa Nanaru yang mengajarimu itu?"


"Hum.. yah.. Terkadang."


π‘€π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿ π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– 𝑖𝑑𝑒, π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž π‘Žπ‘™π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘—π‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘ π‘’π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ π΄π‘Ÿπ‘–π‘›..


π‘†π‘’π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›-π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘–π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘˜ 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑖𝑑𝑒 π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ 𝑖𝑛𝑖..?


"Maaf, tapi apa aku boleh bertanya apa hubunganmu dengan Nanaru dan Novan? kalau kau tidak mau menjawabnya juga tidak apa-" Arin menggeleng, degan tatapan polos dan senyuman ia menjawab dengan suara yang terdengar senang.


"Nanaru itu.. seperti pamanku?"


"Paman?"


"yah dia selalu berkata 'paman Nanaru akan mencarikan apapun yang Arin mau jadi Arin tidak usah kawatir'... Meskipun terkadang ia lebih cocok di sebut kakakku? "


"Haha dari sikapya memang dia akan mengatakan itu dengan mudah.. Lalu bagaimana dengan Novan?" Arin tampak terdiam sejenak sebelum kemudian menjawab dengan tatapan senang dan senyuman lebar.


"Pahlawanku!"

__ADS_1


"P-pahlawan?"


π»π‘Žβ„Žπ‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘’ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘—π‘Žπ‘€π‘Žπ‘π‘Žπ‘› π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘Žπ‘ π‘–β„Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘–π‘Ž 9 π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘›?


π‘ˆπ‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘ π‘’π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘Žπ‘˜π‘’ π‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘šπ‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘—π‘Žπ‘€π‘Žπ‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Ž π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘ π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘˜π‘’...


πΎπ‘’π‘›π‘Žπ‘π‘Ž π‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘”π‘– π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘˜π‘˜π‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π΄π‘Ÿπ‘–π‘›..?


.


.


.


"Protagonis itu tidak akan tahu siapa Antagonis dalam kisahnya sebelum menuju ******* kisahnya, tapi Antagonis sejati pasti selalu tahu siapa Protagonis yang harus ia kalahkan, jadi pasti penyerangan yang terjadi saat pelantikan itu adalah ulah Antagonis "Ujar Nikolai dengan membawa setumpuk berkas.


"Jadi bagaimana? Hera pasti ada di pihak Vivian, apa kita harus berada di pihak Antagonis? bukankah kau menyukai Vivian?" Tanya Novan dengan tangan tersilang.


"Hah? kau bicara apa sih? kenapa aku suka sama nenek lampir?" Jawab Nikolai dengan wajah tak terima.


"N-nenek lampir?"


"diputaran sebelumnya kan dia menjadi penyihir dan aku adalah korbannya, jadi buat apa aku sekarang ada di pihaknya?"


"Lalu mengapa kau seakan tergila-gila dengannya saat di istana?" Novan bertanya dengan salah satu alisnya terangkat, keheningan sesaat melanda dan dengan wajah tak sudi Nikolai akhirnya menjawab.


"Sejak kapan?.. ah mungkin itu karena peraturan dunia ini!"


π΄β„Ž π»π‘’π‘Ÿπ‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› β„Žπ‘Žπ‘™ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘–π‘Ÿπ‘–π‘..


"Para dewa tidak mau kisahnya menjadi kacau tapi mereka juga tidak mau terlalu sayang pada orang yang menjadi tokoh utama mereka, jadi mereka membuat peraturan, semacam itu. Misalnya orang-orang yang ada di dekat tokoh utama akan mencintai tokoh utama secara tidak sadar atau sebaliknya.."


πΎπ‘’π‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿ π‘‘π‘–π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘’π‘˜π‘Žπ‘– π‘‰π‘–π‘£π‘–π‘Žπ‘›..


π‘π‘”π‘’π‘Ÿπ‘– π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘Žπ‘‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘›π‘–π‘Ž 𝑖𝑛𝑖...


Masa tokoh utamanya diperlakukan begitu, jadi percuma dong mau berbuat baik tapi kisahnya dia tetap penjahat pasti bakal tetap di benci..


Di tengah helaan nafas kecewa Novan ia seketika tersadar akan sesuatu


"Kau bilang di putara sebelumnya dia jadi penyihir? berarti dia jadi Antagonis?" Nikolai hanya mengangguk sembari membaca setiap laporan keuangan yang harus ia kerjakan "Artinya Tokoh utama itu tidak berubah meskipu lokasi putaran telah berganti dan kisah telah selesai?" Nikolai menghentikan gerakan pena di tangannya yang menuliskan tinta pada selembar kertas.


"Benar juga ya... kasihan sekali.."


"Jangan katakan itu dengan wajah tersenyum"


"Kau tidak tahu dendamku ini lebih dalam dari rasa empatiku"

__ADS_1


"dasar..."


"Tapi sepertinya kita harus membahas ini lain kali. Saatnya membayar makananmu" Nikolai menyerahkan sebuah dokumen ke arah Novan, sebuah dokumen lengkap dengan koran tentang penyerangan bajak laut di pelabuhan "Aku tidak bisa bertarung, sementara bawahanku juga pasti percuma kalau di kirim ke sana jadi yah.. kau saja"


"Apa-apaan ini?! Aku kan bukan babumuβ€”"


Sebuah kantong berisikan emas dan permata dengan mudah Nikolai lempar ke hadapan Novan "aku tahu kau membutuhkan ini" dan dengan tatapan seorang pebisnis ia menatap Novan dengan tajam.


"M-memangnya aku akan terpikat? Uang kan bukan segalanyaβ€”"


"Tapi segalanya butuh uang" seakan telah mengeluarkan kartu andalannya, Nikolai menunjukan sebuah buku yang telah Novan cari sedari tadi "aku mencurinya dari Valas, lebih baik kau terima saja permintaanku ini, lagi pula ini juga berhubungan dengan dewa kok" wajah Novan yang tampak terpanah oleh gemerlap emas kemudian tersadar.


"Dewa? Di pelabuhan? Mungkinkah.."


"Ya Poseidon"


Dewa yang menguasai lautan sekaligus dewa gempa bumi dan kuda dalam mitologi Yunani, dalam mitologi Romawi juga ia dikenal dengan nama Neptunus. Dikisahkan setelah membantu adiknya, Zeus sang raja para dewa Yunani dalam mengalahkan ayah mereka sendiri yaitu Kronos sekaligus mengurung semua Titan di Tartaros, Poseidon kemudian menerima laut sebagai daerah kekuasaannya.


"Biar ku tebak, apa Dewa mu yang meminta dirimu untuk mengirim ku?"


"Yah sebenernya aku juga ada bisnis di sana tapi memang dewa pencari masalah itu juga bilang untuk meminta bantuannya sih.. katanya percuma mengirim manusia biasa karena tidak akan bisa melawan Poseidon"


"Lalu dia kira aku bisa?! Hah dasar.. memangnya pikiran Giant sepertinya tidak bisa di prediksi.."


"Giant? Maksud mu Titan? Tapi kan Loki dewa.."


"Mumpung kau tidak tahu sini ku ceritakan.. Loki adalah dewa keturunan Jotun, dia adalah saudara angkat Odin pemimpin dewa Aesir- dewa Dewi utama dalam mitologi Nordik. Meskipun demikian Loki sebenarnya tidak diakui Sebagai golongan Aesir maupun Vanir karena ia keturunan Jotun. Jotun sendiri adalah Giant atau raksasa, manusia perkasa yang memiliki ukuran tubuh yang besar dan kekuatan yang menakjubkan, mereka itu bermusuhan dengan para dewa" ujar Novan, Nikolai hanya bisa terbengong sejenak sebelum kemudian ia mengangguk.


"Yah meskipun aku tidak sepenuhnya mengerti seluruh ceritamu itu.. apa kau pikir Loki ingin mengusik para dewa dengan perantara kita?"


"Lebih tepatnya dengan perantara aku, dia pasti melihat ini sebagai peluang. Sikapnya itu sama liciknya dengan Nanaru.. jangan-jangan mereka berteman.."


"Jadi bagaimana? Apa kau akan pergi?"


"Menurutmu berapa kemungkinan ku untuk menolak dan berhasil?"


"75% kau akan menerima ini, dan 5% kemungkinan kau akan berhasil" jawab Nikolai dengan meminum tehnya.


"Huh jahat sekali, kalau begitu aku terima. Sebagai gantinya kalau aku berhasil.." Novan mengambil kantung yang ada di depan meja dan menyodorkannya kembali pada Nikolai.


"Kau harus menyerahkan 65% hartamu untukku"


"Apa ini taruhan?"


"Menurutmu?"


"Kalau begitu aku terima, pergilah"

__ADS_1


"Jangan kawatir, lebih baik kau bersiap saja untuk penyambutan ku nanti"


[Bersambung]


__ADS_2