Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
42. Posisi Baru Atau..


__ADS_3

Sudah dua hari aku sadar dan dirawat di kediaman akasa, Nikolai banyak memberikanku obat-obatan mujarab dan berharga, Andi, Dian, Abdi dan Rian memutuskan akan mengendalikan situasi keluarga Akasa dan Candra untuk sementara waktu. Nanaru pergi dan tidak membiarkan seorangpun mengetahui keberadaannya disini, Fobetor juga sedang menuju ke pelabuhan utara untuk melihat kondisi Medusa dan Kanz, dia bilang kedua orang itu sudah seperti juniornya.


Tapi masalahnya sekarang adalah...


"Bagaimana perasaan anda?" Kini Valas duduk di sisi kasurku dan mengangkat sebuah jarum suntik.


"Haha.. aku- aku sudah sembuh"


Sial, aku benci jarum..


"Kakak gak boleh bohong!" Arin dengan cepat menyela dan dengan pandangan kawatir berca,mpur kesal ia meremas roknya "padahal kak Novan sampai gak bangun 7 hari... " Aku menatapnya dalam diam, pikiran akan masa lalu terlintas bagaikan kepingan puzzle yang masih belum bisa ku rangkai. Dan satu dari sekian banyak kepingan itu adalah keberadaan Arin di hadapanku. Andi juga bilang terakhir kali ia melihatku adalah saat aku berumur 12 tahun dan sosok yang mirip dengan Arin membawaku pergi menghilang selama 10 tahun.


Jadi bila disimpulkan, selama kurang lebih 10 tahun aku menghilang dari dunia ini atau mungkin bisa di sebut terhapus dari kisah ini, aku tinggal di Astral bersama orang yang memperkenalkan diri dengan nama Hopeless. Namun selang waktunya ternyata berbeda dengan disini, bila waktunya selaras seharusnya aku sekarang berumur 22 tahun, 3 tahun lebih tua dari Abdi, tapi sekarang aku berumur 19 tahun artinya umurku hanya bertambah 7 tahun dari yang seharusnya bertambah 10 tahun, ada jeda 3-4 tahun dalam perbedaan waktu dunia ini dan Astral.


Banyak pertanyaan dalam benakku, tapi tidak ada juga jawabannya saat aku bertanya pada Nanaru. Ia bahkan mengatakan bahwa ia belum pernah ke Astral, dan ia juga ternyata tidak tahu bahwa Hopeless adalah kordinator dari alam mimpi Astral.


"Daripada itu aku dengar kau pernah bertemu dengan Adipati Akasa.. bagaimana dia?"


Arin menundukkan kepalanya dan kemudian menjawab dengan nada sedih "awalnya.. beliau terlihat menyeramkan.. semakin lama Arin mengenalnya, Arin semakin takut akan sikap tegasnya.. tapi.. bila tidak ada beliau saat malam itu.. mungkin Arin tidak akan bertemu kak Nikolai.."


"Apa maksud mu?"


"Tuan Adipati Akasa membantu Arin kabur saat malam sebelum kak Novan datang.. tapi kemudian ia tertangkap. Setelah itu..." Arin menghentikan kalimatnya dan menggelengkan kepalanya. Sudah ku duga, orang yang seharusnya mati tetap akan mati ya, aku tidak bisa senang atas kematiannya terlepas dia adalah sosok ayah yang buruk dalam memoriku tapi juga tidak bisa bersedih karena aku tahu itu karma yang ia terima karena perbuatanya meminta kekuatan bulan dan bukan kekuatan langit yang sesuai dengan takdirnya.


"Setidaknya kali ini ia menyadari kesalahannya.. meskipun sudah sangat terlambat.." gumamku pelan. Valas tampak mengangguk pelan memaklumi atas sikap dingin diriku.


Keheningan melanda diantara kami bertiga, ketukan pintu kemudian terdengar dan seorang pelayan wanita bernama Anna memasuki ruangan. Ia adalah pelayan pribadi Nikolai yang pernah merawat diriku.


"Maaf menganggu waktu anda tapi saya harus segera menyerahkan ini. Tolong segera ditandatangani" ia menyerahkan sebuah dokumen dengan cap lambang keluarga Candra yang berwarna putih emas.


"Surat pengalihan jabatan dan kekuasaan? Apa ini?" Aku membaca isi dokumen itu sekilas dan di sana tertera bahwa Nikolai Candra selaku kepala keluarga Adipati Candra yang sekarang menyerahkan segenap Gelar, jabatan, tanggung jawab dan hartanya padaku.


"Seperti yang sudah tertera dalam surat. Anda sekarang adalah calon Adipati Candra" aku menatapnya dengan tatapan terkejut, namun Anna tersenyum dan menunduk hormat.


"Selamat nak, ah maksudku tuan Novan" valas tampak bertepuk tangan dan tersenyum, begitu juga Arin.

__ADS_1


Namun aku hanya bisa membisu karena syok, Nikolai, dasar anak itu. Apa dia mau aku mengerjakan tugasnya?! Mentang-mentang aku kakaknya?!


"Tunggu sebentar! Itu tidak boleh terjadi!"


Suara teriakan yang kencang terdengar, dari ambang pintu Kaleid masuk dengan membawa sebuah keranjang buah. "Tuan Novan sejak awal adalah putra pertama Adipati Akasa! Itu artinya beliau berhak atas gelar kepala keluarga kami!"


Percikan permusuhan muncul diantara Anna dan Kaleid. Keduanya tampak menatap tajam satu sama lain sebelum kemudian saling beradu argumen.


"Bukankah pewaris keluarga kalian adalah tuan Jenderal Abdi? Kenapa sekarang malah berganti?"


"Anda tidak seharusnya mengatakan hal itu! Biar bagaimanapun tuan Abdi dan Novan sama-sama adalah anak tertua yang berhak mewarisi gelar kepala keluarga. Justru sikap Adipati Candra lah yang kurang sopan, padahal beliau belum memasuki masa pensiun tapi sudah mau lepas jabatan?"


Argumen berjalan dengan seru- maksud ku panas, haruskah aku bersyukur Valas hanya diam dan tersenyum menyaksikan mereka bertengkar? Karena aku yakin saat ia ikut terjun dalam perdebatan itu maka sudah dipastikan bahwa Kaleid akan terdiam seribu bahasa. Valas adalah pembohong yang cerdik.


"Sepertinya ada sebuah kesalahpahaman disini.." dari ambang pintu Nikolai tampak berdiri bersama Abdi, ia kemudian melanjutkan kalimatnya "istri saya memang sudah meninggal dan tidak ada yang tersisa dari keluarga Candra kecuali saya yang adalah menantu mereka, tapi perluh anda ketahui.. mendiang istri saya itu sebenarnya mantan tunangan kak Novan"


Tidak hanya aku, tapi semua orang di ruangan tercengang dengan kabar itu. Sekarang aku baru ingat, apa yang Nikolai katakan benar, itu karena mendiang istrinya atau dalam tanda kutip istri kontraknya dahulu menyukaiku tapi kemudian Adipati Akasa tidak setuju dengan pertunangan ku dan dia, akhirnya Nikolai lah yang jadi kambing hitam.


Cinta anak umur 10 tahun itu berbahaya... Apalagi kalau orang tuanya juga terlalu menyayangi anak itu...


"Dengan kata lain kalau anda mengatakan bahwa menghilangnya kak Novan selama sepuluh tahun itu tidak dihitung maka aku juga akan mengatakan yang sama. Kalau saat itu kak Novan masih ada mungkin istri saya benar-benar akan bertunangan dengan kak Novan karena dia tulus mencintai kakak saya"


Jangan mengatakan itu dengan wajah serius! Kau membuat situasi ini seperti adegan seorang suami yang rela istrinya selingkuh dengan kakaknya!


Abdi! Katakan sesuatu dan tentang anak itu! Kau satu-satunya harapanku disini!


Abdi tampak berpikir untuk sesaat dan kemudian tersenyum lembut "bagaimana kalau kakak saja yang memegang keduanya" sekali lagi keheningan melanda ruangan itu dan dalam hati kecilku aku berteriak marah.


Aku lupa kalau dia itu bodoh dalam urusan kepala keluarga! Dia hanya seorang anak yang pintar memerintah armada prajurit!!!


"Saya tidak yakin bisa menjadi kepala keluarga yang baik, begitu juga Nikolai. Kejadian kemarin hari membuat kami sadar, bahwa kak Novan adalah orang yang jauh lebih layak dari kami berdua"


"Bagaimana kalau ada orang yang menentang?" Sahutku.


"Menentang? Haha.. mana mungkin" senyuman misterius terbentuk di wajah Nikolai dan Valas. Kedua orang ini tampaknya memiliki suatu rencana.

__ADS_1


"Bukankah kalau begitu tinggal di singkirkan saja?" Suara Dian kemudian terdengar dari ambang pintu dan dengan senyuman yang sama dia dan Andi tampak menatapku dengan tatapan mata lembut namun senyum di bibir mereka begitu membuatku merinding.


Anak-anak ini.. sudah pasti sengaja membuat situasinya menjadi seperti ini.


.


.


.


Normal POV:


Kicauan burung terdengar begitu merdu dari balik jendela, Seorang wanita berdiri disamping jendela dengan tatapan hampa, tanganya terentang ke atas dan burung kenari hinggap di jarinya.


"Jadi keluarga Akasa dan Candra akan menganti kepala keluarga mereka?" Vivian bertanya dengan wajah yang menunjukan ketenangan dan kedamaian, dibelakangnya lima orang kepala keluarga dari masing-masing keluarga besar berdiri dan diantara mereka Samuel tersenyum lembut ke arah Vivian.


"Benar yang mulia, Jenderal Abdi sendiri juga memutuskan akan mundur dari jabatannya dan secara resmi juga Adipati Candra mengajukan surat pengalihan kekuasaan pada seseorang" Jawab Samuel. Wajahnya terlihat tenang namun senyuman masih terllihat jelas di matanya, selama ini ia terus menyembunyikan sosoknya dan bersembunyi dalam bayangan sesuai perintah dari dewanya, tapi kini secara aktif ia akan mulai menjalankan tugas keduanya.


Sesuai dengan pesan dewa yang ia layani...


"Tunjukan pada utusan dewa lainnya, bahwa ini adalah wilayah kami para dewa mitologi hindu!"


Kembali pada masa saat ini, Samuel tampak tersenyum pada Vivian dan ia berjalan mendekat. "menurut saya sendiri ini adaah pilihan yang gegabah tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya kedua keluarga itu pikirkan hingga memutuskan untuk menunjuk satu orang sebagai kepala keluarga mereka"


Vivian mengangkat alisnya dan bertanya "Mereka menunjuk satu orang? maksudmu kini ada seseorang yang akan menyandang dua gelar kepala keluarga?" Samuel mengangguk dan kemudian tersenyum senang saat kegaduhan mulia terdengar keluar dari mulut para kepala keluarga lainnya.


"Dua keluarga besar dalam satu genggaman tangan seseorang? bukankah itu sama saja setara dengan kekuasaan ratu?"


"Apa ini tidak masalah? sebenarnya apa yang Tuan Abdi dan Nikolai pikirkan?"


"Kedua keluarga itu kan yang memegang kendali atas keamanan dan kekayaan negeri ini, kalau begitu bukankah ini berita besar?"


"Benar, dan sepertinya sebentar lagi dia akan tiba kemari" Ucapan Samuel terdengar seperti ramalan dan tak lama kemudian semua mata tertuju ke arah sebuah lorong tempat mereka sebelumnya datang.


Suara langkah kaki yang tegap terdengar dari arah lorong istana dan Andi dan Nikolai tampak berjalan di kedua sisi Novan. Jubah berwarna putih emas khas keluarga Candra berpadu dengan warna biru dan hitam yang identik dengan keluarga Akasa terpasang di pundak Novan, menegaskan siapa yang kini memegang kendali atas kedua keluarga itu.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2