Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
77. Sebuah Harapan


__ADS_3

"Kami ingin kau membantu kami mengurung para dewa" Compassion Misery memotong ucapan Novan, membuat pemuda itu kini membulatkan matanya kaget "Namun sebelum itu kau harus melakukan banyak persiapan...".


"Novan, maukah kau menjadi setengah dewa?"


Pertanyaan itu membuat Novan terdiam sebelum kemudian ia tertawa "aku? Menjadi setengah dewa seperti kalian? Jangan bercanda" mata merahnya yang memancarkan kebencian dan amarah tampak bersinar terang "mana sudi aku menjadi bagian dari mahluk sok suci seperti kalian" namun alih-alih murka Compassion Misery malah mengangguk setuju.


"Benar, kalau aku menjadi kau juga aku akan mengatakan hal yang sama" tingkah Compassion Misery membuat Novan menjadi bingung "mereka mengatakan bahwa merekalah puncak penguasa dunia, pendiri cahaya dan sosok yang mulia daripada mahluk lain. Padahal sebagian dari mereka masih memiliki kegelapan di hati mereka. Kau benar mahluk sok suci seperti mereka memang menyebalkan..."


"Maka dari itu aku mau kau berdiri bersama kami, kami tidak berada di cahaya maupun kegelapan, kami para dewa legenda atau abstrak hanya ingin mengawasi dunia berjalan sebagaimana mestinya. Kami ini menjaga bukan menguasai atau membuat dunia"


Perkataan itu sedikit membangun kepercayaan Novan pada sosok itu. "Jadi maksud mu aku jadi ujung tombak kalian dan kalian akan menyokong ku?"


"Bisa dibilang begitu... Tentu kami tidak seaktif itu. Kau bebas melakukan apapun, dan kami akan memberimu petunjuk dengan beberapa tanda. Karena akan merepotkan bila turun langsung dan membantumu menghadapi ancaman"


Novan mengangguk paham dan kemudian sebuah arus energi aneh bergelombang di udara. "Tampaknya waktuku tidak banyak, baiklah aku akan memberimu petunjuk pertama" Compassion Misery kemudian berjalan di udara dan menatap punggung Novan yang kini terdapat sebuah sayatan bercahaya "bila kau tidak segera menghilangkan cahaya ini maka kau akan kehilangan semuanya" Novan mengerti apa maksud dari kata kehilangan semuanya, artinya ia akah mati dan semua udahannya akan terulang menjadi nol kembali.


"Hanya ada satu jalan keluar untuk menghapus cahaya, yaitu datang ke dunia tempat cahaya tak pernah menyentuhnya" setelah Compassion Misery mengatakan itu tubuhnya melebur menjadi serpihan bintang dan perlahan waktu mulai kembali berjalan.


Novan menatap kepingan bintang yang kemudian menghilang itu dan beralih ke arah cahaya mentari yang muncul dari arah timur. "Tempat dimana cahaya tak pernah menyentuhnya ya.... Aku yakin aku tahu dimana tempat itu".


Pagi datang dengan cepat dan Novan kemudian berjalan masuk ke dalam benteng bersama dengan yang lainya.


.

__ADS_1


.


.


Bencana benar mengacaukan semua tempat, banyak korban berjatuhan dan banyak orang kehilangan tujuan mereka untuk hidup. Udara tak lagi terasa segar, raungan monster terdengar setiap beberapa menit dan bila seseorang keluar dari zona aman maka hanya ada dua nasib untuk mereka, dimakan monster atau mati kelaparan.


Zona aman, itu hanyalah perumpamaan untuk tempat yang aman dan terdapat perlindungan sihir. Dan kini satu-satunya tempat aman di kerajaan Abyudara yang telah hancur adalah di sebuah benteng dekat dengan tebing bebatuan, benteng berwarna hitam yang berdiri tegap selama beberapa abad itu adalah tempat dimana Samuel, Nikolai dan Novan pertama kali bertemu, tempat dimana orang-orang dengan ingatan putaran atau kehidupan realita tinggal.


"Sudah lama ya, dulu aku membawamu ke sini untuk bertemu Nikolai... Sekarang dia sudah tidak ada ya..." Samuel meminum tehnya dan Novan hanya dapat menatap gelas wine yang ada di hadapannya. Keduanya memang berada di bar yang dahulu mereka datangi untuk bertemu Nikolai, tapi kini hanya Novan yang memesan minuman beralkohol itu pun ia belum menyentuhnya. Sementara Samuel tampaknya tak berselera, ia seakan tidak ingin menyentuh minuman beralkohol agar pikirannya tetap menjadi jernih.


"Aku tidak mengira kau pemilik tempat ini" Novan akhirnya berbicara dan Samuel kemudian tertawa pelan.


"Dan aku tidak mengira kau adalah orang gila yang mau menginvestasikan kekayaan yang luar biasa demi tempat ini. Sesuai keinginanmu aku memakai uang itu untuk memperkokoh benteng dan mengumpulkan bahan makanan yang sangat banyak" semua uang yang dihasilkan Mammon dan Kinan ternyata dikirimkan rutin ke benteng itu selama beberapa bulan dengan beberapa persyaratan berupa ditingkatkannya beberapa aspek seperti ketahan benteng dan juga pasokan bahan makanan.


Sejujurnya Samuel bingung siapa orang gila yang mau menghabiskan uang yang begitu banyak hanya untuk sebuah benteng, tapi karena ia mendapatkan petunjuk dari dewa Wisnu untuk menerima uang dan melakukan permintaan itu kini Samuel paham.


Benteng itu berbentuk seperti sebuah dinding yang terbuat beton yang tebal dengan bentuk segi enam dan beberapa menara pengawas serta penyerang di beberapa sisi tembok. Di tengah benteng terdapat sebuah pemukiman penduduk yang cukup luas layaknya sebuah kota kuno dari zaman dahulu, penampakan kota itu tak dapat disamakan dengan kota di kerajaan Abyudara yang kini telah hancur. Kesan klasik dan sederhana masih terlihat di tempat itu, tapi tentu ada beberapa bangunan yang memiliki model yang berbeda.


"Kalian mengevakuasi warga dengan baik ya... Jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang aku perkirakan" ujar Novan melihat gambar itu. Matanya kemudian mengarah ke jendela bar dan di sana ia melihat gedung pencakar langit yang tampak sangat asing dengan suasana benteng itu namun terasa familiar baginya "apa itu buatan para manusia yang mengingat dunia realita?" Tebakan Novan membuat Samuel kemudian tersenyum.


"Ternyata anda memang peka ya. Ya itu gedung pencakar langit yang katanya ada di dunia realita. Sebenarnya gedung seperti itu akan sangat populer di bangun di kerajaan-kerajaan maju tapi..."


"Para dewa membuat banyak alasan agar gedung seperti itu tidak dibangun di wilayah mereka. Benar?"

__ADS_1


Samuel menghela nafas dan mengangguk "apa anda tahu alasan para dewa mengurung para manusia dan membuat beragam 'kisah' di dunia ini?" Novan sudah bisa menebaknya tapi ia memilih untuk mendengarkan "selain karena untuk menghilangkan rasa bosan mereka, para dewa ingin mengulang lagi peradaban dahulu kala- saat ketika mereka masih di sembah dan manusia mengunakan alasan spiritual dalam setiap tindakan mereka. Karena di dunia realita, manusia telah melupakan dewa dan membangun peradaban maju, maka para dewa tidak ingin itu terjadi lagi disini"


Novan kemudian kembali menatap gedung itu "jadi mereka benci sesuatu berbau masa depan? Alasan yang bodoh" Novan berdiri dari kursinya dan ia mendekat ke arah kaca, tangannya yang tertutup oleh sarung tangan hitam menyentuh kaca itu dan ia kemudian menyaksikan keindahan cahaya mentari yang terpantul dari jendela-jendela gedung pencakar langit itu.


"Dunia realita ya... Aku sendiri tidak bisa mengingat apapun soal itu... Bahkan jati diriku" Novan terdiam sejenak dan ia kemudian mengepalkan tangannya "dan semua itu karena para dewa itu..."


"Kalau begitu anda bisa membuat jati diri anda sendiri"


Saran Samuel membuat Novan kini membalikan badannya dan menatap Samuel dengan tatapan bingung. "Apa anda tahu apa arti benteng ini tanpa semua bantuanmu? Mungkin benteng ini juga akan runtuh. Tapi tidak, kami masih bisa bertahan berkat dukungan anda" Samuel mengambil gelas wine milik Novan dan ia berjalan ke samping Novan "dengan kata lain tempat ini secara tidak langsung masih ada karena anda, tempat ini milik anda sekarang." Samuel memberikan wine itu dan ia kemudian tersenyum.


"Anda adalah penguasa baru wilayah ini."


Samuel kemudian membuka jendela yang tadinya di sentuh oleh Novan, ia menunjukkan pada Novan pemandangan jalanan yang kini ramai oleh orang-orang yang bersuka cita menghapus kesedihan mereka. "Dahulu jalan itu selalu di hiasi oleh lubang dan kereta kuda pun tak dapat berjalan di sana, namun kini seperti yang anda lihat, tak hanya jalanan itu tapi benteng ini mengalami banyak renovasi karena dana yang anda berikan. Dan semua orang mulai mengetahui siapa sosok yang memperbaiki kehidupan mereka.


"Semua penghuni benteng ini segera merayakan kedatangan sosok yang telah membantu mereka itu, dan anda lah sosok itu." Mata Novan tampak terpaku oleh kegembiraan yang terpancar di wajah orang-orang di bawah sana, ia tidak menyangka dia bisa membuat orang-orang gembira dengan aksinya selama ini, hal yang ia bayangkan adalah para manusia mungkin akan membencinya karena ia adalah penyebab utama bencana terjadi, tapi kini Novan tidak tahu apa manusia menganggap nya begitu atau tidak.


"Tapi... Aku adalah penyebab semua ini-"


"Tanpa ada anda pun bencana akan tetap terjadi, karena faktanya bukan hanya anda yang berjuang untuk membebaskan dunia ini. Diluar sana masih ada banyak manusia yang menginginkan kebebasan dan anda adalah bagian dari mereka..."


"Jadi tolong jangan menyalahkan diri anda atas takdir kejam yang menimpa anda"


Ucapan Samuel membuat Novan benar-benar membisu, matanya terus menatap ke arah jalanan dan kemudian ia melihat Fobetor tampak melambaikan tangannya bersama dengan Morfeus yang memegang sebuah jagung bakar. Senyuman muncul di wajah Novan dan ia meletakan gelas winenya lalu melompat keluar dari jendela, Samuel hanya dapat menatap Novan yang turun dari jendela dengan sepasang sayap elang yang kokoh dan indah. Di belakang Samuel sosok seorang dewa sekilas terlihat.

__ADS_1


"Dengan ini saya harap anda bisa tenang, dewa Wisnu" Samuel mengambil wine Novan dan kemudian meminumnya dan perlahan sosok dewa di belakangnya menghilang bersamaan dengan seruling emas yang ada di pinggang Samuel, menandakan bahwa kini dewa Wisnu tak lagi menjadi dewa dari Samuel.


...[Bersambung]...


__ADS_2