Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
38.Kenangan


__ADS_3

Berkobar bagaikan api tapi terasa begitu dingin dan hampa seperti kegelapan, itulah aura yang kini dapat dilihat keluar dari tubuh Novan. Aura yang seakan melahapnya dalam kegelapan dan menghilangkan emosinya. Kupu-kupu yang mengerubungi dirinya masih melukai dirinya.


Darah keluar dari tubuhnya namun tak ada ekspresi pada wajah pemuda itu hingga baik Hera maupun Ratna, keduanya tampak seketika bergidik merinding ketika seutas senyum terbentuk pada wajah Novan. Matanya yang hampa menatap lurus ke arah ketiga wanita di depannya bersamaan dengan itu awan hitam menutupi cahaya bulan.


"Ka,kau.. beraninya menatapku dengan mata seperti itu!!" Sebuah kupu-kupu merah berterbangan ke arah Novan namun tiba-tiba semua kupu-kupu itu berguguran layaknya daun kering dimusim kemarau begitu juga tanaman mawar yang mengikat tubuh Novan.


Semua luka Novan sembuh begitu saja dan dengan tatapan senang ia masih menatap ketiganya sebelum kemudian berbicara.


"Matilah"


Matanya memancarkan aura dendam dan dari balik tubuhnya seakan ada sepasang sayap yang terbentang lebar.


Kupu-kupu hitam tiba-tiba terbentuk dari sisa-sisa jasat kupu-kupu rembulan dan kupu-kupu merah. Semua kupu-kupu itu tebang bebas ke udara dan dari kepakan sayapnya sebuah serbuk hitam bercampur dengan udara, menciptakan kegelapan yang melahap seluruh taman itu.


"Mu,mustahil... "


Tanaman bunga yang tumbuh subur di sekitar taman itu perlahan layu dan mengering, dan di tengah kegelapan tersebut Novan tersenyum lebar. Dewi Ratna seketika melangkah mundur, begitu juga Dewi Hera, ketika keduanya merasakan tekanan yang teramat aneh muncul dari aura aneh Novan.


"Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin manusia seperti mu bisa mengunakan kekuatan Dewa Morfeus dan Hades?!"


Hera tahu kedua kemampuan itu dengan jelas. Kupu-kupu hitam yang seakan bangkit dari kematian, asap hitam kekal yang seakan gambaran dari halusinasi mimpi buruk.


Luka sayatan kemudian terlihat pada kulit Dewi Hera.


"D-dewi.. ini tidak seperti yang saya takutkan kan?" Dian bertanya ke arah kedua Dewi itu dengan tatapan ketakutan. Hera berdecak kesal sebelum kemudian dengan senyuman lembut ia mengelus pipi Dian.


"Manusia, berkorbanlah demi kami"


"A,apa?.."


Tubuh Dian terasa kaku dan kekuatan dewa mengambil alih tubuhnya, membuatnya seketika diselimuti oleh energi suci yang berlawanan dengan Novan. Dan dengan senyuman licik Hera kemudian menatap Novan dan pergi menghilang bersama Dewi Ratna.

__ADS_1


"Dewi...?" Dian merasa tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, dan tanganya dengan lihat kemudian memainkan angklung ditangannya, menciptakan melodi indah yang kemudian memanggil angin kencang yang menghempaskan semua kupu-kupu hitam Novan.


Tatapan gadis itu kini telah menjadi hampa, sama seperti Novan. Keduanya saling tidak bisa mengendalikan tubuh mereka masing-masing, kini di benak mereka hanya ada keinginan untuk membunuh.


Pertempuran tak dapat dihindari dan Dian semakin terdesak, namun ketika belati merah darah Novan hampir mengenai nya tangan Novan tiba-tiba berhenti dan dari kedua matanya air mata hampir jatuh.


"A..dik..ku.."


.


.


.


Novan mendapati dirinya dalam sebuah hutan gelap, lagi lagi berbagai pertanyaan menghantui pikirannya, ada dimana dia sekarang, apa yang terjadi, bagaimana keadaan diluar sana. Novan tidak mengetahui apa pun, setidaknya sebelum ia menemukan seorang gadis kecil berambut biru cerah tengah menangis sendirian.


"Hiks.. ayah membenciku.. kakak tidak mau bermain denganku.. selalu- selalu saja aku yang paling di abaikan! Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Mengapa mereka tidak menyukaiku? Hiks.. tidak ada.. tidak ada yang mau bermain denganku.."


"Kau juga.." Dian menatap ke arah bonekanya dan kemudian semakin menangis dan berteriak keras "kau berbohong! Kau bilang akan selalu ada untuk kami?! Katanya kau mau menemani kami, tapi kau malah menghilang!"


Boneka itu terlempar begitu jauh hingga jatuh ke depan kaki Novan. Novan, mengambil boneka itu dan melihatnya sejenak. Boneka itu, kata-kata dan kemarahan itu, semuanya tertuju padanya bagaikan panah yang menusuk dada. Kini Rasanya hati Novan terasa sakit.


Novan menyadari, bahwa perubahan yang terjadi dari tidak adanya dirinya dalam kehidupan Dian membuat anak itu semakin tertekan, tak ada yang memberinya semangat, semua menekannya karena identitas dirinya dan ia tidak tahu harus marah pada siapa.


Dian seakan mengingat Novan, namun ia kemudian bertanya pada dirinya sendiri sebenarnya siapa Novan? Siapa sosok yang dahulu memberinya kasih sayang lebih dari apa yang ia harapkan? Siapa yang telah hilang dari memori ya? Siapa yang memberikannya perasaan hangat yang dahulu pernah ia rasakan? Bagaimana rasanya di sayangi?


Namun pada akhirnya itu berakhir dengan Dian yang tidak bisa mengingatnya.


"Dian"


Novan berjalan mendekati gadis kecil itu, namun semakin ia dekati wujud gadis itu semakin berubah. Awalnya hanya seorang gadis mungil dengan mata yang mengeluarkan air mata, lalu berubah menjadi remaja yang terdiam dengan mata sembab, dan akhirnya ketika Novan tepat berada di hadapan Dian, kini yang ada di hadapannya adalah wanita dewasa dengan mata kosong tanpa cahaya.

__ADS_1


Novan ingin mengapai adiknya itu namun kemudian tanaman mawar rambat dan kupu-kupu rembulan mengelilingi tubuh Dian, mengurung wanita itu dalam sebuah kesakitan yang teramat menyedihkan bagaikan boneka. Tak bisa menangis, tak bisa berteriak apa lagi meminta tolong, begitulah selama ini Dian menjalani hidupnya.


"Aku benci semuanya.." suara pelan terdengar dari bibir pucat Dian yang mulai berbicara "akan ku hancurkan semua.. semua yang telah membuatku menderita.. aku.. aku benci semuanya.."


"Keluargaku.. akan ku bunuh semuanya!"


Dian tengelam dalam perasaan sedihnya, kesengsaraan begitu banyak melukai jiwanya dan kini dalam tekanan Dewi Hera ia semakin kehilangan alasan untuk tenang.


Novan berjalan mendekatinya, semakin dekat hingga tubuhnya ikut tertusuk oleh duri mawar, dan ketika ia bisa menggapai Dian, ia memeluknya dengan hangat.


"Maafkan kakak.."


Mata Dian seketika melebar dan ingatan manis dan hangat memasuki kepalanya bagaikan angin segar dipagi hari. Inagtan kecilnya, memori bahagia yang telah lama terhapus dan perasaan hangat yang tak pernah ia rasakan lagi.


Kini ia mengingatnya.


Kakak yang selama ini ia cari.


"Kak... Novan..?"


Dian tersadar dari pengaruh kekuatan Hera tapi begitu ia membuka matanya, hanya ada darah yang menodai tangan dan bajunya.


"Kak..kakak?"


Dan di hadapannya Novan tampak memeluknya dengan darah yang mengalir pada luka di tubuhnya. Dengan susah payah Novan mengelus kepala adiknya dan kemudian berbicara dengan suara serak dan berat. Kini baik kepala maupun tubuhnya, semuanya terasa sakit.


"Terimakasih sudah mau bertahan.."


Sebelum kemudian tubuh Novan ambruk dalam pelukan adiknya sendiri.


"Ka, kakak?"

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2