
Memori soal putaran ke enam puluh enam tak begitu jelas namun aku tahu itu adalah salah satu putaran yang cukup kelam.
Aku terbangun di sebuah meja hitam yang diisi oleh tumpukan kertas bertuliskan huruf dunia iblis, di tanganku sebuah pena tampak ku gunakan untuk menulis sesuatu. Tulisan itu terbaca jelas dan yang lebih mengejutkannya tulisan itu bukan berisi sebuah petunjuk apa yang terjadi diputaran itu tapi petunjuk yang ditunjukan untuk diriku sendiri, seakan diriku diputaran sebelumnya tahu bahwa aku akan mengingat saat ini.
Tidak ada namanya jati diri, tak ada yang namanya masa lalu.
Kita terlahir selalu untuk melihat masa depan, apa yang terjadi sebelumnya hanyalah luka dan proses yang diperlukan untuk berada diposisi ini, untuk menghapus kutukan ini.
Kutukan telah terkikis sedikit demi sedikit, tapi kita tahu bahwa ini tak akan mudah. mungkin butuh seribu putaran lagi untuk kita sampai pada titik dan kesempatan yang tepat.
Aku sudah berusaha dan aku tak menyesali hasil kegagalan dari usahaku ini karena aku yakin suatu hari kita akan melihat masa depan yang selalu kita impikan.
Mimpi kita untuk kembali pulang bersama-sama.
-Raja Iblis Kesengsaraan
Waktu kembali berputar dan pengelihatan ku kembali menjadi normal. Aku memanggil kupu-kupu hitamku untuk kembali dan berubah menjadi bayangan, energi kehidupan yang telah ku renggut berkumpul menjadi sebuah pedang panjang berwarna putih dengan ornamen kristal hitam dipegangnya.
Pedang itu ku ayunkan ke arah jeruji yang menahan para light elf, seketika membebaskan mereka. Jeruji besi yang berwarna hitam itu melebur menjadi abu yang kini terbang diudara, dengan wajah lega dan senang Nik dan Kaleid hendak mendekat ke arahku namun alih-alih kekacauan telah usai kini sebuah panah cahaya menusuk dadaku.
Pandangan semua mata kini tertuju pada Raja Elf yang kini mengarahkan busur panahnya ke arahku, memperjelas keadaan bawah ialah yang barusan menembakan anah ke arahku. Kekuatan cahaya dan kegelapan berbenturan dalam tubuhku, membuat sebuah rasa sakit yang begitu luar biasa.
"Tuan Novan!!"
__ADS_1
Naga merah yang dinaiki Morfeus rupanya adalah Fobetor, keduanya segera berlari ke arahku dan menahan tubuhku yang kini kehilangan keseimbangan. Pikiranku terasa kosong saat rasa sakit dari panah itu menyebar dan berbenturan dengan energi kegelapan ku. Kulitku terlihat retak dan retakan itu bersinar seakan kekuatan cahaya menggerogoti ku layaknya akar putih yang terus melebar dalam tanah.
"Apa maksudnya ini paman?!" Nik berteriak ke arah raja elf, bersamaan dengan itu putri dark elf tampak menatap raja elf dengan tatapan ketakutan. Masalah yang terlihat akan segera selesai ternyata jauh lebih rumit dari yang ku bayangkan.
"Aku sudah mengira bahwa kalian sama saja dengan orang tua kalian yang lembek itu" raja elf menatap rendah Nik dan putri dark elf. "Ini lah alasan mengapa aku menyingkirkan orang tua kalian, karena hanya aku yang pantas untuk memimpin para elf di hutan ini".
"Tidak akan ku biarkan elf seperti mu menghancurkan apa yang telah ayahku perjuangkan!" Putri elf melompat ke arah raja elf dan pedang hitamnya berbenturan dengan energi cahaya yang melindungi raja itu, menciptakan percikan kekuatan yang begitu kuat. Pertempuran tak dapat dihindari, para Dark elf yang ketakutan kini mulai berteriak dan menyerang para light elf yang mencoba menyerang tuan putri mereka.
"Lindungi sang putri!"
"Jangan biarkan raja jatuh! terus bertahan!"
Pertempuran diantara kedua belah pihak terjadi dan Nik Kaleid datang ke arah kami sembari melindungi kami. Disisi lain Pemuda manusia yang tadinya berada disisi sang putri tampak hendak berlari kabur namun Morfeus segera menangkapnya.
"Baiklah! aku memang yang merencanakan kejadian ini tapi konflik sebenarnya telah dimulai jauh sebelum aku datang! Raja Light elf yang sekarang adalah biang masalah dari pertempuran ini!"
"Jelaskan lebih detail bila kau tidak ingin mati" ancam Nik, kini matanya tampak diselimuti oleh kemarahan. Pusaran bola angin yang kencang keluar dari tanganya dan ia mengarahkan tanganya tepat ke arah pemuda itu.
"Kedua raja elf sebelumnya telah mati! dan Raja elf yang sekarang adalah orang yang telah membunuh mereka. Tujuannya adalah menyatukan kedua ras elf dan memimpin mereka dalam genggaman tanganya sendiri!"
Nik kini tampak mengerti akan kejadian yang terjadi "Jadi karena itu ia mengusirku dan tak membiarkan putri dark elf naik takhta untuk mengantikan mendiang ayahnya sementara ia dengan cepat menempati posisi ayahku dengan alasan aku tidak layak mengantikan ayahku?" angin yang muncul di tangan Nik perlahan membesar dan mengelilingi tubuhnya.
"Hanya demi sebuh mahkota dan jabatan tinggi ia menghancurkan bangsa kami?"
__ADS_1
Udara yang dipenuhi oleh energi positif dan negatif kini tampak diiringi oleh angin yang berhembus begitu kencang, dedaunan berguguran dan pepohonan bergoyang mengikuti arah angin milik Nik. Bersamaan dengan itu beberapa kelopak daun emas terbentuk dari kekuatan sihir yang meluap keluar dari tubuh Nik.
Pandangan semua orang kini tertuju ke arah Nik, dan kepanikan terpancar begitu jelas dari mata Raja Elf. Dan ketika ia hendak mengarahkan panahnya ke arah Nik sebuah pedang yang diselimuti oleh aura kekuatan api telah menembus dadanya "Aku tidak akan membiarkanmu melukai temanku" Kaleid berdiri di belakang raja elf dan berhasil memberikan serangan fatal yang memberikan kesempatan utuk Nik mengarahkan sihirnya ke arah Raja elf.
"Wahai ibu bumi ang kami cintai, wahai suara angin yang berkelana penjuru hutan ini dan segenap spirit yang mendiami tanah air kami. Dengarkan suaraku, pinjamkan aku kekuatan kalian untuk menghukum penghianat bangsa" lima sosok spirit agung menampakan diri mereka di belakang Nik dan menyalurkan energi mereka. "Sucikan kami dari dosa yang telah ia perbuat" energi alam kuat kini bersatu membentuk sebuah bola energi yang seketika melesat cepat ke arah Raja elf dan melenyapkannya menjadi kelopak bunga putih yang berguguran.
Mata Nik menatap puluhan kelopak bunga itu dan kemudian beralih ke arah putri dark elf "Harmony.." Ia memanggil nama gadis itu dan merentangkan tanganya. Tanpa sepatah katapun gadis elf itu memeluknya dan menangis dalam pelukan Nik, kedua sahabat yang terpisah kini kembali bertemu.
Sorakan kegembiraan terdengar dari pihak Dark Elf sementara paar light elf tampak membeku di tempat mereka, mata mereka hanya terkunci pada Nik yang kini tampak begitu mirip dengan mendiang raja yang mereka cintai, membuat sebuah rasa bersalah menusuk hati mereka karena telah mengusir Nik karena kekuatan sihirnya.
Malam telah berlalu dan sebentar lagi mentari akan terlihat, namun rasa sakit di tubuhku tak kunjung hilang. Semua suara kini terdengar begitu tak jelas, pandanganku mulai menjadi kabur namun ditengah semua itu Morfeus mengangkat tubuhku dan dengan sayap hitam yang terentang di punggungnya ia terbang dengan cepat, membawaku kembali ke tempat pohon dunia berada. Di sana ia membaringkan tubuhku sebuah altar tersembunyi yang ada di dalam batang pohon besar itu.
"Aku tahu kau masih ada disini! Fantasos! Tunjukan dirimu!"
Morfeus memanggil nama saudaranya itu namun tak ada jawaban, ketakutan dan rasa panik terlihat jelas di wajahnya ketika ia menatap ke arahku. Aku menggelengkan kepalaku seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. "Dasar.. jangan membuatku terlihat seperti akan segera mati" Gurauku dan mencoba untuk tersenyum.
"disini sangat dingin ya... " Mataku menatap ke arah langit-langit dan kemudian aku menutup mataku sesaat sebelum kembali membukanya "Apa ini yang selalu kalian rasakan?" Entah mengapa sekali lagi aku melihat diriku sendiri, kini wajahnya tampak tersenyum dan menyentuh kepalaku, membuat semua energi yang ada di tubuhku kini meluap keluar.
Energi kegelapan dan cahaya yang masih bergejolak dalam tubuhku perlahan keluar dan lenyap terserap oleh pohon dunia, membuat dedaunan berwarna emas mulai tumbuh drai dahan pohon itu. Bersamaan dengan rasa sakit yang menghilang sebuah mahkota cahaya yang indah terbentuk di udara dan melayang di hadapanku.
Morfeus mengambil langkah mundur sementara para Elf mulai berkumpul di sekeliling pohon dunia, menyaksikan bagaiman akau mendapatkan sebuah mahkota yang mereka sebut sebagai mahkota raja elf yang sebenarnya.
...[Bersambung]...
__ADS_1