
"Kita adalah para manusia yang mencari keadilan untuk diri kita sendiri" ucapan Novan yang begitu dalam Itu membekas dengan sempurna pada pikiran wanita itu.
"Apa.. itu mungkin?" Novan tersenyum dan dengan tangan yang terulur pada Medusa ia mengangguk. Kini Novan yang ada di hadapan Medusa sudah bukanlah Novan yang asli.
Meskipun ragu namun Medusa pada akhirnya menerima uluran tangan itu, rasa hangat menjalar pada pergelangan tangannya, sebuah perasaan yang dahulu pernah ia rasakan ketika masih menjadi manusia itu menggelitik hatinya, dan bersamaan dengan Cahaya merah yang muncul di tangan keduanya, terciptalah sebuah tanda yang juga dimiliki oleh Fobetor, tanda perjanjian jiwa telah sepenuhnya dibuat. Namun ini perjanjian yang sangat berbeda dengan yang Fobetor lakukan.
Medusa dengan patuh membungkukkan badannya.
"Seluruh yang saya miliki adalah milik anda, tuanku"
Novan tersenyum dan dari dalam tubuhnya kekuatan kegelapan yang kuat menyeruak keluar, saking banyaknya kekuatan itu tubuhnya tidak bisa menahan kekuatan dalam dirinya sendiri. Rasa sakit itu membuat dirinya terpaksa berteleportasi kembali ke penginapan dan saat itulah portal sihir pemanggilan aktif.
.
.
.
Fobetor membuka matanya tepat di sebuah ruangan yang begitu familiar, itu adalah kamar penginapan mereka, dan tepat di depan matanya Novan tampak terkapar tak berdaya. Dengan mata yang terpejam dan tubuh yang merintih, seakan-akan ia tengah mengalami rasa sakit yang sangat menyakitkan.
"Novan?!"
Keduanya dengan segera mendekati tubuh pemuda berambut hitam itu dengan wajah panik, namun baru selangkah Fobetor melangkahkan kakinya jantungnya untuk sesaat terasa seperti tertusuk begitu saja, rasa sakit yang juga dirasakan oleh Novan perlahan memasuki dirinya. Kini Fobetor tahu mengapa sihir pemanggil membawanya kemari, bukan Novan yang memanggilnya tapi karena kontrak yang mereka buatlah pemicu sihir pemanggilan itu.
Sesuai dengan sumpah kontrak diantara mereka berdua, masing-masing dari mereka akan saling merasakan apa yang tengah terjadi pada tubuh mereka satu sama lain. Artinya secara tidak langsung kontrak ini mengharuskan keduanya untuk saling melindungi, dan saat ini adalah saat dimana nyawa Novan tengah terancam.
'πΎπππ‘πππ ππππβ πππππππππππ’ ππππππ ππππππ πππ£ππ πππππ ππβππ¦π.. πππππππππ¦π, πππ π¦πππ π‘ππππππ π πππππ πππ’ πππ π πππ πππππ?!' Fobetor berusaha menahan rasa sakitnya, dan dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sesuatu yang tak dapat ia percayai, energi dewa yang cukup kuat dan gelap menguap begitu saja dari tubuh Novan.
Hanya ada satu kesimpulan dari keadaan ini, saat ini Novan tengah mengalami ledakan energi dalam dirinya sendiri. Apa yang membuat ledakan itu, mengapa dan kapan ledakan itu akan menghancurkan tubuhnya, Fobetor tidak tahu jawaban dari semua itu.
"No.. Van.."
Fobetor mencoba menggapai pemuda itu namun tubuhnya perlahan melebur dan dari kejauhan ia bisa melihat Rian yang begitu panik sebelum kemudian kegelapan melahapnya begitu saja.
Kegelapan yang mengerikan dan dalam menariknya masuk semakin jauh ke dalam jiwa Novan, membuatnya saat itu juga mengetahui apa yang saat ini terjadi di dalam diri Novan.
Dan juga kejadian sesaat sebelum itu semua terjadi..
"Kalau aku berkata aku bisa menciptakan dunia dimana kau bisa benar-benar merasa hidup, apa kau akan membantuku?"
__ADS_1
Fobetor menyaksikan memori yang Novan simpan sesaat sebelum ia tumbang, saat ini dirinya bagaikan sebuah roh tanpa tubuh, hanya bisa menonton dan tidak bisa berbicara maupun berbuat. Namun meskipun begitu Fobetor bisa melihat apa yang tidak bisa ia lihat sebelumnya, tepat di depan matanya Novan yang tengah tersenyum itu tampak begitu kosong.
Tepat dibelakang punggungnya, sesosok bayangan pria berjubah hitam dengan sayap elang memegang pundak Novan, seakan ialah yang tengah mengendalikan anak itu tampak sepengetahuan siapapun. Ia bukanlah dewa, bukan juga iblis maupun Roh, namun kekuatannya yang besar membuat Fobetor bergidik ngeri.
Ia berbicara, ia bertindak, ia bergerak menggunakan tubuh Novan, seakan-akan dialah sosok yang selama ini mendiami diri Novan. Namun ketika sosok itu perlahan menengok ke arah Fobetor, tampak dengan jelas bahwa wajah sosok itu sangatlah mirip dengan Novan, lebih tepatnya seperti sosok Novan yang berasal dari masa depan.
Wajahnya yang terlihat lebih dewasa, dengan mata merah darah yang memancarkan penderitaan dan kemarahan tanpa ekspresi itu tampak sangat cocok dengan aura kegelapan yang sangat kuat hingga membuat Fobetor seketika terlempar jatuh lebih dalam, seakan-akan sosok itu mencoba menariknya ke suatu tempat.
ππππ, π΄ππ π¦πππ π‘ππππππ?!
πππππππππ¦π πππ’ ππ‘π’ π ππππ, πππ£ππ?!
Fobetor terjatuh dalam kegelapan yang begitu luas, dan tepat di sampingnya ia melihat Novan yang terapung dengan keadaan tanpa ekspresi dan mata yang kosong menatap sebuah tulisan yang melayang di depannya.
[Sekarang saksikanlah salah satu akhir dari masa lalu mu]
Tepat ketika Fobetor ingin meraih tangan Novan, kilau cahaya mengelilinginya dan sekali lagi memindahkannya menuju ke ingatan masa lalu Novan.
Fobetor mendapati dirinya di suatu ruangan bernuansa istana yang begitu indah, Fobetor tahu tempat itu. Olympus, tempat para dewa Yunani tinggal, namun di sana tak hanya para dewa Yunani melainkan jajaran dewa dari seluruh mitologi.
π΄ππ’ π‘ππππ πππππβ ππππππππππ‘ ππππ πππ€π πππππ’πππ’π π πππππ¦ππ πππ, πππ ππ π πππππβ π πππ.. π΄ππ ππ‘π’ πππ’??
π΄ππ πππ? πΌππ π πππππ‘π πππππ π πππππ..
Pintu ruangan terbuka dan dari balik pintu sosok Novan yang benar-benar berbeda tampak berjalan bersama dengan Nanaru, keduanya tampak mengenakan pakaian yang begitu indah namun bertolak belakang.
"Kami datang memenuhi panggilan dewa-dewi seluruh semesta" keduanya membungkuk hormat, sesuatu yang mustahil Novan lakukan itu tampak begitu natural.
"Kalau begitu mari kita mulai saja sidang kali ini"
"Nanaru dan Novan, kalian berdua adalah manusia yang telah mendapatkan kehormatan untuk bisa berada dan bersanding dengan kami. Tapi bisa-bisanya salah satu dari kalian menghianati kami?!"
π΅πππ ππππππ ππππππ ππππ πππ€π?!
π΄ππ πππ‘πππ¦π ππππππ ππ‘π’ π ππππππππ¦π π‘πππβ πππππππ πππ€π? ππππ ππππππ’ π¦πππ πππ’ πππππ ππππ’π πππππππ πππ€π π‘πππ βπππ¦π π ππ‘ππππβ πππ€π..
π²ππππ ππππππ ππππππ πππ ππππππππ ππππ π ππππ?!
"Kalian berdua telah bersama-sama mengabdikan jiwa kalian pada kami, tapi tidak kami sangka salah satu dari kalianlah yang malah dengan sendirinya menghianati kami.."
π΅ππβπππππ‘? π΄ππ π¦πππ ππππππ π’π ππ‘π’ πππ£ππ?
__ADS_1
"Ini pasti kesalahpahaman, mana mungkin kami bisa menghianati kepercayaan anda sekalian" ucap Novan.
"Diam, Novan. Kau adalah serigala milik para dewa, kau jugalah perlambangan dari sayap kejayaan kami dan selamanya kau haruslah menuruti kami..."
"Dengan ini kami memerintahkan mu, bunuhlah Nanaru"
Keheningan seketika terjadi dan dengan tatapan tak percaya Nanaru meneriakkan keadilan, sayangnya belati merah gelap dengan cepat mengoyak lehernya. Novan benar-benar menuruti permintaan para dewa, tawa terdengar dari para dewa termasuk sosok Fobetor yang ada di atas sana.
Namun Fobetor yang asli justru terdiam membisu tepat di belakang Novan. Dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu..
Bahwa sosok dewa yang ada didunia ini adalah sosok yang begitu kejam.
Bahwa kita tidak akan pernah bisa menilai diri kita sendiri.
Selama ini Fobetor terus berpikir, bahwa apa yang ia lakukan adalah benar begitu dengan dewa lainnya, namun kini pikirannya sepenuhnya berubah, sosok-sosok yang agung di depannya kini terasa berubah menjadi sosok paling kejam. Ia tidak pernah membayangkan pandangan orang lain, karena dia adalah dewa, ia tidak pernah merasakan penderitaan karena dia adalah dewa.
Namun kini ia benar-benar bisa merasakannya.
Sosok Nanaru yang tidak bisa menyuarakan pendapatnya, dan sosok para dewa yang mengabaikan nya, serta sosok Novan yang menahan air matanya karena membunuh temannya sendiri. Seakan melambangkan kondisi dunia yang tak pernah bisa ia lihat saya ia menjadi dewa, Nanaru yang ada korban, Novan yang adalah Eksekutor dan para dewa yang adalah Hakim.
Benar-benar dunia yang tidak adil.
Fobetor tidak bisa melakukan apapun, tawa para dewa membuat dirinya mual, kalau bisa ia ingin segera keluar dari sana, namun kakinya sama sekali tak bergerak. Matanya menatap ke arah bawah, berusaha untuk tidak melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.
πΎπππππ πππ πππππβ ππβππ.. π΄ππ πππ‘πππ¦π πππ£ππ ππ’ππ π‘ππ‘ππ ππππ πππ‘π-
Suara teriakan terdengar dan ketika Fobetor mengangkat wajahnya ia tidak menemukan sosok Novan di depan mata Nanaru, melainkan di belakang punggung Zeus.
"Apa yang kau lakukan, dewa Novan?!"
"Apa lagi? Tentu ini adalah konsekuensi yang harus kalian bayar"
Novan telah menusuk punggung Zeus dengan sebilah belati merah yang sama dengan yang membunuh Nanaru "kau pikir kau bisa membunuhku hanya dengan kekuatan kecilmu itu?!" Zeus memanggil petirnya dan dengan bantuan dewa lain, mereka menyudutkan Novan.
Darah mengalir dari tubuh dan mulut Novan, namun kemudian dengan cepat menguap menjadi asal merah "memang kalian kira sudah berapa kali aku mengalami penderitaan ini karena kutukan kalian?!" Asap merah menyebar ke seluruh penjuru dan satu persatu para dewa mulai kesulitan untuk bernafas.
"Kalian pikir berapa lama aku menderita?!"
Amarah, kebencian, dendam, menguap begitu saja bercampur dengan darah dan tanpa Fobetor sadari sekelilingnya hanya ada lautan darah. Kakinya yang membeku bisa ia gerakkan dan ketika ia berhasil menemukan Novan, hanya penyesalan yang ia lihat terpancar pada mata merah pemuda itu.
Semua dewa telah mati, dan Novan berdiri seorang diri di atas takhta putih yang telah ternoda oleh darah. Tidak ada raut wajah lega maupun tenang, yang ada hanya penyesalan dan keputusasaan. Novan telah membebaskan dunia itu dari para dewa yang munafik, tapi ia sama sekali tak menyelamatkan dunia itu.
__ADS_1
[Bersambung]