
Bau hujan yang membasahi tanah tercium begitu jelas meskipun saat itu tanah terendam oleh air, aku berlindung di balik pasir emasku dan menatapnya dengan tatapan kesal, di atas kami langit tampak menurunkan hujan dengan lebat. Di bawah guyuran air matanya yang berwarna merah redup kini memancarkan cahaya merah kemarahan, genangan air di sekitar nya membeku menjadi es dan kepalanya yang selalu tertutup tudung kini memperlihatkan sebuah tanduk es.
"Sudah aku bilang bukan aku yang membunuhnya!" Aku berteriak dengan kencang, mencoba untuk menyakinkan dirinya. Hujan jarum es melesat ke arahku dan mencoba melubangi pasir emasku. Sejarum es melesat di samping telingaku dan melukaiku, aku menyeka darah di telingaku dan terus bertahan, untuk pertama kalinya aku tidak ingin melukai seseorang. Seakan ada sebuah bisikan yang mengatakan untuk tidak melukainya, aku tidak bisa melukai teman yang sudah ku anggap keluarga bagiku.
Aku pikir aku bisa menghentikan amukannya bila aku menahanya dengan pasir emas namun kekuatannya bangkit dan tubuhnya mulai berubah menjadi seekor naga es yang begitu besar dan ganas. Begitu aku kalah ia tidak membunuhku dan malah pergi sembari mencuri buku harian yang kami tulis bersama.
Sejak hari itu aku tak lagi melihatnya, aku terus mencarinya, bahkan ketika pertempuran antara pangeran iblis terjadi dan aku terdesak, hanya dirimu yang dapat kupikirkan bisa membantuku. Bahkan aku sampai repot-repot mencari mu ke seluruh nightmare hingga akhirnya tiba di dunia comfort dream ini. Tempat dimana tidak seharusnya kau atau pun aku berada.
.
.
Suara bising membangunkan ku dari tidurku di dalam kereta kuda, ternyata aku tertidur setelah memikirkan banyak hal. Mataku menatap ke arah paus besar diudara "sebenarnya apa yang kau lakukan hingga berhasil membuatnya jadi seperti itu" aku tahu paus itu bukan dirinya, paus itu seharusnya sudah mati, tapi kenapa ia bergerak dan tumbuh sebesar itu. Kenapa kau bersembunyi di balik mahluk itu lagi, Leviathan.
Bayangan sosok Leviathan sekilas muncul dalam pikiran ku, tak akan bisa ku lupakan sosoknya yang dulu bersembunyi di balik hewan peliharaan nya sendiri. Sosok yang begitu penakut itu kini ditakuti oleh semua orang, menjadi monster yang bahkan tega memakan manusia demi keberlangsungan hidup nya sendiri.
Tapi apa benar Leviathan seperti itu?
Iblis yang begitu tidak percaya diri itu berani membunuh orang lain?
Dan kenapa paus itu begitu menganggu perasaanku..
Aku berdecak kesal dan kemudian mataku terpaku pada kilau emas di samping kursi tempat Novan tadinya duduk, kartu emasku tergeletak disana dan aku segera mengambilnya, rasa geram dan kesal menyelimuti hatiku saat aku tahu bahwa manusia itu telah memperkirakan semua ini. Aku segera berkonsultasi dan menyerap kembali kekuatan ku yang tersimpan di dalam sana, seketika mengembalikan wujudku.
Aku bergegas membuka pintu dan saat itu juga tatapan puluhan manusia langsung tertuju padaku seutas senyuman muncul di wajahku dan kemudian aku mengeluarkan sebuah koin emas dari saku ku "baiklah jadi siapa yang siap menjual jiwanya untuk keserakahan?". Kekuatan iblisku terpancar ke segala arah dan pasir emas melayang di atas kepalaku, membentuk sebuah mahkota emas.
__ADS_1
.
.
.
Disisi lain Novan tampak menyusuri lorong demi lorong perpustakaan, mencoba untuk menemukan Leviathan tapi ia tak juga kunjung melihat tanda-tanda Leviathan. Novan terdiam sejenak dan kemudian menatap ke sebuah kaca yang tampak retak, kaca itu juga tampak berada di beberapa sisi lain perpustakaan dengan kondisi yang sama retaknya.
Novan berjalan mendekati cermin itu, ia melihat pantulan dirinya yang tampak kacau seakan dirinya hancur. "Sebenarnya kenapa kaca ini terlihat begitu aneh.." Novan menyentuh kaca itu dengan tangan kanannya dan tepat setelah itu pantulan dirinya di cermin tersenyum.
"Kau ingin tahu?"
Dari dalam sana bayangan hitam yang menyerupai Novan keluar dan mengengam tangan Novan. Bayangan itu tersenyum dan menatap Novan dengan tatapan tajam dan senyuman menyebalkan. Tanpa peringatan ia terus menyerang Novan, kekuatannya tak ada bedanya dengan Novan, begitu juga gaya bertarung dan gerakannya, semua yang bayangan itu lakukan benar-benar persis seperti Novan, seakan kini Novan tengah melawan dirinya sendiri.
"Semakin lama kau menahanya semakin kuat itu hatimu melahap dirimu" di lorong yang cukup jauh Leviathan tampak mengawasi Novan dan memberikannya petunjuk, bahwa apa yang saat ini Novan hadapi adalah rasa iri hati yang ada di dalam lubuk hatinya.
"Semakin kuat rasa iri seseorang semakin ia jatuh dalam lautan kebencian, dengan begitu ia akan bisa bertemu denganku namun para dewa meletakan cermin-cermin itu. Cermin yang dapat mengeluarkan energi negatif seseorang dan mengubahnya menjadi bayangan yang ganas" ucapan Leviathan memperjelas semuanya, kenapa tidak ada seorang pun di perpustakaan itu selain mereka, kenapa ada banyak kaca di dalam sebuah perpustakaan dan kenapa semua kaca itu pecah.
Leviathan sudah lama terjebak disana, membuatnya begitu muak setiap kali berjalan melewati kaca-kaca itu, setiap ia melihat pantulan dirinya semakin besar rasa bencinya akan dirinya sendiri, itulah alasan ia mencoba menghancurkan semua kaca itu tapi ia tidak bisa.
"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?! Mengalahkannya?!" Novan tidak memiliki ide ataupun menemukan jalan keluar, apa yang bisa membuatnya mengalahkan rasa iri hatinya sendiri, semakin ia pikirkan hanya ada satu pertanyaan dalam benaknya.
Aku sebenarnya iri pada apa?
Novan terus berusaha untuk melawan tapi semua tidak ada gunanya, bayangan itu terus semakin sempurna hingga akhirnya ia bisa menggunakan kekuatan kupu-kupu hitam milik Novan, membuat Novan begitu tersiksa dengan kemampuan miliknya sendiri.
__ADS_1
Pertanyaan terus berputar pada kepala Novan, ia merasa ada yang salah, tapi ia tak juga menyadari nya. Hingga akhirnya Leviathan sekali lagi berbicara dengannya, memintanya untuk mengambil pilihan besar.
"Hapuslah iri hati itu sendiri"
Atau dengan kata lain..
"Bunuh aku"
Mata Novan membulat sempurna dan saat itu juga bayangan dirinya semakin menyerangnya dengan ganas, seakan mencegahnya untuk mendekati Leviathan. Kini Novan sadar apa yang aneh dan apa yang harus ia lakukan "baiklah.. kalau begitu ayo kita buat permainan ini semakin seru.." Novan sekali lagi berhadapan dengan bayanganya namun kali ini gerakannya menjadi sedikit lambat.
Dan tepat setelah itu Novan membiarkan belati bayangan itu menusuk perutnya, seketika membuatnya masuk dalam ilusi. Lagi-lagi Novan melihat dirinya yang lain entah dari putaran yang mana, tengah berdiri disamping Leviathan dan menatapnya dengan tatapan hampa sebelum kemudian waktu terasa berhenti dan ia berjalan mendekat. Menyentuh pundak Novan dan berbisik.
"Semoga kau dihantui oleh masa lalumu"
Mata Novan memancarkan cahaya merah terang dan dengan mudah ia mendorong bayangan dirinya sendiri ke arah rak buku hingga tak itu roboh menimpa bayanganya, wajah Novan kini terlihat datar dan tak ada cahaya dimatanya. Ia menengok ke arah Leviathan dan berbicara.
"Membunuhmu artinya mengikuti keinginan dewa.. dan aku tidak suka itu" Novan melempar pisau belatinya ke arah kaca dan tepat saat itu juga kaca itu hancur berkeping-keping namun tak lama kemudian kaca itu menyatu kembali.
"Membunuhmu sama saja menghapus sifat iri hati didunia ini, membiarkan semua orang tidak lagi memiliki rasa ragu atau ambisi akan suatu hal yang gagal mereka capai" sosok di dalam diri Novan seakan tahu betul apa itu artinya dari sifat iri. Sifat dimana kita cemburu akan pencapaian orang lain dan cikal bakal dan lahirnya kebencian. Namun di satu sisi iri hati adalah sifat yang dapat melahirkan ambisi untuk mengalahkan seseorang.
Rasa tak ingin kalah dari orang yang lebih hebat, rasa tidak puas akan pencapaiannya dan keinginan untuk mendapatkan apa yang juga orang lain dapatkan, itulah ambisi, hasil dari suatu rasa iri. Atau bisa di sebut, rasa iri adalah bahan bakar untuk seseorang menciptakan suatu ambisi.
"Jangan pernah membenci dirimu karena kau adalah sang iri hati. Manfaatkan itu untuk mendorong dirimu menuju suatu ambisi, itulah yang seharusnya kau sadari, Leviathan"
...[Bersambung]...
__ADS_1