
"Apa ada yang menganggu pikiran anda, yang mulia putri mahkota?" Seorang pemuda berjubah putih tampak menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan bingung. Di tangannya sebuah buket bunga mawar merah tersusun rapi dalam sebuah keranjang.
"Ah tidak hanya saja.. entah mengapa aku gelisah. Ku dengar ada kekacauan di daerah pelabuhan Utara? Para duyung menjadi begitu agresif terhadap kapal-kapal yang berlabuh terlalu jauh dari daratan, ditambah dengan cuaca yang tidak menentu terkadang membuat kapal terseret ombak"
"Benar yang mulia, untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan selain memusatkan perdagangan dan transportasi ke pelabuhan sebelah Barat" Ujar Abdi yang kemudian membungkuk dan memberikan buket bunga itu "Saya dengar kondisi kak Novan menjadi semakin memburuk, katanya dia tiba-tiba terkena cacar air.."
"Ya ampun, aku jadi mau melihatnya.. kasihan sekali"
𝐴𝑛𝑑𝑎 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑝𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑦𝑢𝑚..?
di tengah kebingungan Abdi itu, Vivian sekilas tampak begitu iba tanpa mengetahui itu bohong atau hanya informasi yang telah berhasil di palsukan oleh Nikolai atau Samuel. "Apa tidak ada kabar soal pergerakan para pemberontak?" Vivian menganti topik pembicaraan dengan mulusnya, membuat Abdi sejenak berpikir.
"Ada kemungkinan ayah saya terlibat"
"Ayahmu? Adipati Akasa? kenapa..?"
Abdi hanya menggeleng "Yang saya tahu ayah saya hanya terobsesi dengan kedua adik kembar saya, Dian dan Andi tampaknya belakangan ini begitu tenang.. Meskipun memang ini terdengar sangat tidak sopan mencurigai keluarga saya sendiri tapi saya mengenal mereka lebih dari siapapun, sikap mereka yang rela mengorbankan apa saja demi tujuan itu sudah berdampak pada kedua adik kecil yang tidka bisa saya jaga.."
"Adik mu? apa ini tentang Rian yang dikirim untuk memberantas moster dan Nikolai yang sekarang malah menjadi kepala keluarga Candra..?"
.
.
.
"Tuanku.. apa anda itu memang gila atau bodoh ya?"
Di dalam sebuah kereta kuda yang berjalan Fobetor tampak telah berubah menjadi sosok manusianya menatap ke arah Novan yang sedari tadi hanya terdiam membaca koran-koran yang begitu banyak. "Ini mempertaruhkan nyawa anda loh.. Anda akan melawan dewa, sudah begitu anda tahu ini cuman jebakan si Loki atau siapa lah itu tapi tetap mau berangkat? sudah begitu tanpa persiapan?!"
"Siapa bilang? ini aku sedang bersiap.."
"Tapi anda hanya membaca koran!!"
"sebelum melancarkan serangan kita harsu mengenal baik siapa musuh kita dan markasnya, mencari informasi itu penting.. hm apa ini? Medusa? Leviathan? oh menarik.."
"Hm? memangnya mereka siapa- ah moster?! mengapa anda malah tertarik dengan moster menjijikan seperti mereka?!" Fobetor berteriak kaget saat mengetahui apa yang ternayata sudah Novan kaget "Apa yang menarik dari makhluk kotor seperti mereka memangnya?"
__ADS_1
"Cara bicaramu yang menyebalkan itu seperti dewa saja.."
"I-itu kan juga karena terpengaruh olehmu-"
"Meskipun wujud mereka begini dahulunya Leviathan itu malaikat surga sementara dulu Medusa adalah Pendeta wanita di kuil Athena" Novan memotong ucapan Fobetor tanpa menatapnya, matanya yang coklat samar itu terus membaca kata demi kata dengan cepat mekipun sesaat ia juga bingung mengapa ia bisa memahami bahasa dan tulisan yang bahkan ia tak pelajari.
"yang benar?! lalu mengapa mereka bisa jadi moster begitu?"
"Kau tampak penasaran ya.." Fobetor hanya mengangguk antusias, Novan kemudian menghela nafas, melihat orang yang sangat mirip dengannya membuatnya begitu canggung.
"Ceritanya nanti saja, dari pada itu sepertinya kita harus turun sekarang.. "
"Apa? ah aku mengerti"
Goncangan besar kemudian terjadi dan hanya dengan melirik kaca Novan tahu ada segerombolan moster tengah mengejar kereta kuda mereka "Ku kira dengan pakai jalan yang jauh dari jalan utama tidak akan memancing perhatian orang, kita malah memancing perhatian moster" dari dalam kantung jas merahnya Novan mengeluarkan sebuah belati "Yah gak seru juga sih kalau perjalanan kita mulus"
"Sekarang bagaimana?"
"mumpung begini ada sesuatu yang harus aku pastikan, Fobe.."
"Coba sayat tanganmu dengan ini.."
.
.
.
"Kenapa?! Kenapa kalian bisa gagal?!!"
Dalam sebuah ruangan yang begitu megah seorang dewi meluapkan amarahnya "Padahal kalian lebih dari atu, tapi kalian sendiri tidak bisa menghabisi lalat kecil itu?!" Hera menatap prajurit bawahan nya dengan tatapan amarah yang mendalam, kalau bukan karena ada seseorang yang menghentikannya bisa saja para prajurit itu lenyap.
"Tenanglah, yang mulia kecantikan anda nanti bisa luntur nantinya.." Seorang Pria berpakaian baju perang tampak memasuki ruangan, Ares sang dewa perang itu hanya berniat berkunjung karena merasa bosan terus mengawasi manusia-manusia yang ia perbudak di Nightmare, ia tidak pernah menyangkan ibunya itu kini tengah sangat marah.
𝐴𝑝𝑎 𝑎𝑦𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑢ℎ 𝑙𝑎𝑔𝑖..?
Terkaan Ares yang selalu tepat sasaran itu kini dengan mudah sirna karena permintaan ibunya kini "Ares! kau harus membantuku! Seorang manusia berkekuatan Hades muncul di duniaku, ia mengacaukan kiah yang telah susah payah ku bangun!" Ares yang tak mengira Hades yang begitu pendiam malah meminjamkan kekuatannya pada manusia kemudian memilih untuk mendengarkan permintaan Hera.
__ADS_1
"Tapi bukankah itu mustahil, dia kan sosok yang hanya bisa berdiam dalam kegelapan, mana mungkin tiba-tiba mengusik urusan Dewa lain.. atau jangan-jangan ia ingin menurunkan ibu dari posisi kordinator dunia itu?" Dengan liciknya Are melemparkan tuduhan palsu yang kini membuat Hera semakin curiga.
"Kau benar.. dia bisa saja mulai melakukan itu.. Ares putraku, lalu apa yang harus ibumu ini lakukan? Ayahmu itu hanya sibuk dengan para wanita simpanannya, ia pasti tidak ingin memulai perkelahian dengan kakaknya itu.. "
"Bukankah ada aku?" Ares tersenyum puas menangapi respon sang ibu, dan dengan tatapan penuh akan kehausan darah ia kembali berkata "Ibu hanya perluh mengizinkanku ke tampat ia berada dan aku akan membereskannya"
.
.
.
.
"Dasar manusia gila.. dia memengal satu kepala ular itu dengan satu belati?!" Dari atas udara Fobetor tampak terbang dengan sepasang sayap elang dan menangkat seorang kusir kuda yang tadi mereka tumpangi.
"𝑆𝑎𝑦𝑎𝑡 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎.."
"𝐴𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑝𝑒𝑟𝑖𝑏𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛𝑘𝑢 ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑎𝑛𝑡𝑖 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑎𝑡-𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎.."
"𝐵𝑖𝑙𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑢𝑘 𝑑𝑖𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑒𝑔𝑒𝑟𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑢𝑘𝑢𝑙 𝑙𝑒ℎ𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑘𝑎𝑛𝑔𝑘𝑢, 𝑖𝑡𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡𝑘𝑢 𝑝𝑖𝑛𝑔𝑠𝑎𝑛"
Perkataan terakhir sebelum akhirnya Novan lepas kendali itu benar-benar membuat Fobetor tidak habis pikir, jangankan memukul kepala pemuda itu, rasanya itu tidak akan bisa mendekat. Tatapan Novan yang kini hanya di tutupi oleh kemarahan itu memancarkan aura membunuh yang kuat, semua kekuatan gilap di tubuhnya dengan cepat meluap bahkan membuat moster itu mulai ragu untuk menyerangnya.
"Dia memang kuat tapi tetap saja kan ia tidak bisa mengendalikannya.." Fobetor sadar apa yang kini ada di dalam diri Novan bukanlah hanya Morfeus, kakaknya saja tapi sesuatu yang lebih gelap dan kuat bahkan mungkin setara dengan iblis.
"Apa kau tidak mau membantunya?" Kusir itu bertanya dengan mata yang menatap ke bawah "Sepertinya susah tuh" dan perlahan namun pasti sebuah kekuatan magis menyelimuti tubuhnya.
"Sial jadi kau itu Loki?!"
Wajah kusir yang tadinya berkerut dengan rambut berwarna coklat itu kemudian berubah menjadi muda dengan rambut hitam pendek yang rapi dan bermata hijau. Loki hanya tersenyum mendapati penyamaranya ketahuan sembari berkata "Lama tak bertemu ya Ikelos oh tidak.., haruskah saya memberi salam pada tiga dari mantan dewa mimpi?"
"Kau-"
"Senang berjumpa dengan anda, Fobetor sang dewa pemberi mimpi buruk dari Yunani"
[Bersambung}
__ADS_1