Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
76. Kegelapan Abadi (2)


__ADS_3

"Buat saya menjadi bagian dari kegelapan yang tenang itu"


Cahaya dalam diri pemuda itu telah redup dan kini tubuhnya perlahan termakan oleh kegelapan. Namun berbeda dengan Vivian yang berubah dan memutuskan untuk berada di jalan kegelapan, Perseus ingin tengelam di dalamnya yang artinya ia ingin mati karena kegelapan itu bukan hidup dengan berdiri di atas kegelapan.


Novan mengarahkan belati merahnya ke dada kiri Perseus, matanya menatap pemuda itu. Senyuman terlihat di wajah Perseus dan tanpa sepatah katapun Novan menusuknya, mengakhiri kisah Perseus di putaran saat itu.


Darah Perseus mengalir memasuki kegelapan energi Novan dan kekuatan baru terbentuk. Kabut merah tercipta disekelilingnya, dan udara perlahan mulai dipenuhi oleh bau darah, membuat semua mahluk hidup yang ada di jangkauan kabut itu mengalami sesak nafas.


Suara lonceng terdengar saat jam istana menunjukan angka 00.00 malam. Bersamaan dengan suara yang menggema di seluruh kerajaan yang hancur kabut merah Novan menyebar ke seluruh istana, seakan merayakan kematian sang pahlawan dan tokoh utama dalam putaran saat itu. Penguasa baru kegelapan telah lahir dan membunuh pahlawan, tubuh Perseus kini tengelam dalam kegelapan bayangan Novan hingga tak tersisa.


Vivian mendekat ke arah Novan, ia tampak baik-baik saja berada di dalam kabut merah itu. "Selamat atas keberhasilan anda, Tuanku" Vivian membungkuk dan tepat setelah itu suara raungan terdengar dari kejauhan. Seekor singa hitam dengan mata merah berlari ke arahnya dan di atas singa itu Morfeus menatapnya penuh dengan perasaan lega.


"Tuan!!"


"Kalian..." Novan menatap ke arah singa hitam yang kini berubah menjadi Fobetor, sementara Morfeus kemudian berlari ke arahnya. Cahaya Dimata Novan yang hilang kini kembali muncul, dan tatapan nya yang tajam dan dingin perlahan menjadi lebih lembut. "syukurlah kalian selamat" hanya itu yang dapat Novan katakan.


"H-hey penampilan mu..." Fobetor tampak menatap ke arah Novan dengan tatapan terkejut dan sedikit merinding.


"Ada apa? Ada yang aneh?" Fobetor yakin dengan jelas bahwa sosok Novan saat ini benar-benar mirip dengan sosok Novan yang pernah ia lihat di dalam alam bawah sadar Novan. Sosok setengah dewa yang membantai para dewa dengan kabut merah dan kegelapan yang terbentuk di bawah kakinya. Namun apapun itu, Fobetor tak ingin berprasangka buruk, baginya dan Morfeus kedatangan kembali Novan benar-benar adalah kabar yang baik bagi mereka.


"Tidak... Tidak apa-apa, lebih baik kita segera bertemu yang lainnya."


"Tuan Novan, semua orang telah menunggu anda"


.


.


.


Di sebuah benteng yang kokoh dan dilindungi oleh sihir perlindungan yang sangat kuat Medusa tampak mengobati lengan Mammon yang terluka karena pedang api Ares. "Sial! Pelan-pelan bagian itu masih terasa nyeri!" Tubuhnya tampak hampir dipenuhi oleh luka bakar, beruntung ia adalah iblis jadi bukan hal mustahil untuknya sembuh dalam waktu dekat.

__ADS_1


Sementara itu diluar benteng, tepat dimana tanah tak lagi ditumbuhi oleh rerumputan hijau Leviathan tampak memperkuat benteng itu dengan lapisan es. "yang mulia tolong beristirahatlah" seorang gadis dengan rambut pirang dan sisik ikan emas di beberapa bagian tubuhnya tampak menatap Leviathan dengan tatapan khawatir.


"Tidak, ini belum cukup..."


"Tapi anda sudah melakukan ini selama tiga hari-"


"Aku bilang ini belum cukup!"


Leviathan tampak sangat murka, pertempurannya dengan Poseidon berakhir seri dan ia harus menunggu saat yang tepat untuk kembali melawan Poseidon. Tapi hal yang membuat begitu murka adalah fakta bahwa Amfitrit kini kembali tersegel dalam kristal biru lautan karena Poseidon berhasil menangkapnya sesaat. Sepanjang saat Leviathan terus membawa kristal itu di tanganya, rasanya ia akan gila karena khawatir terjadi sesuatu pada Amfitrit bila ia melepaskan kristal itu.


"Tolong tenangkan diri anda raja lautan" suara lembut dan ramah terdengar dari arah belakang dan di sana Nik yang mengenakan mahkota dan jubah khas kerajaan Elf tampak mencoba menenangkan suasana. Di belakangnya Kaleid dan Samuel tampak berjalan bersamanya. Mata Leviathan menatap tajam keberadaan Samuel yang merupakan utusan dewa Wisnu.


"Bagaimana aku bisa tenang bila salah satu dari sekian banyaknya peliharaan dewa malah ada di benteng kami?"


"Saya mengerti bila anda merasa tidak nyaman dengan saya, tapi saya benar-benar bukan musuh" Samuel mengangkat kedua telapak tangannya dan menatap Leviathan dengan tatapan serius.


"Cih bagaimana aku bisa percaya padamu-"


"Tolong jangan membuat keributan di benteng ini, ingatlah ini bukan benteng pribadi kalian" suara Kaleid berhasil memecahkan suasana tegang diantara mereka.


"Tuan Morfeus sudah kembali!!!" Suara teriakan Griffin yang bertugas berpatroli di udara menggema di seluruh penjuru benteng dan semua orang lantas melihat ke luar benteng. Di udara malam yang tak disinari oleh rembulan, seekor naga merah terbang membawa beberapa orang di pundaknya. Bersamaan dengan jarak antara naga itu dan benteng yang semakin mendekat puluhan monster seakan ikut mengikuti mereka.


"H-hey para monster itu menunju kemari!"


"Siapkan pelontar!"


Tepat di depan benteng itu Fobetor mendarat dan semua orang dapat melihat siapa saja yang berada di punggungnya. Vivian yang masih hidup dan tampak diselimuti oleh aura berbeda sempat menjadi pusat perhatian semua orang, setidaknya sebelum mereka menyadari seorang pria dengan lingkaran cahaya merah di kepalanya, itu adalah Novan.


"Tampaknya para monster menunju kemari karena kita membuat banyak perhatian. Kita harus segera masuk ke benteng-"


"Tidak perluh buru-buru." Novan turun dari atas Pundak Fobetor, sebuah sayap elang muncul di punggungnya dan ketika ia berdiri menatap para monster yang berlarian ke arah benteng sekali lagi kolam kegelapan muncul di bawah kakinya. "Nah sekarang coba datanglah kemari..." Novan bergumam dan ketika ia merentangkan tangannya lima buah belati merah terbentuk di udara dan melesat ke depan para monster, saat belati itu tertancap ke tanah kolam kegelapan yang siap menghisap siapapun muncul, memakan hampir sebagian besar monster itu.

__ADS_1


Semua tatapan mata tertuju pada raungan monster yang tengelam dalam kegelapan layaknya tertarik masuk ke dalam black hole. Dan semua orang dapat melihat Novan perlahan tersenyum, senyuman yang benar-benar sangat jahat. Beberapa orang terjatuh dengan lutut yang lemas dan badan yang gemetar, sementara yang lainya menutup mulut mereka rapat-rapat.


Para monster yang sadar akan bahaya kemudian mundur dan kini hanya menyisakan seekor serigala raksasa berbulu hitam yang terus melangkah maju. Di atas kepala serigala itu sebuah lambang bintang terlihat, seakan ialah pimpinan dari para monster itu. Mata Novan menatap ke arah mata serigala itu, sebelum kemudian ia berjalan mendekat.


"Tampaknya Hermes sudah tidak punya muka ya sampai harus digantikan oleh mahluk seperti mu. Aku akan memberikanmu waktu satu menit dan katakan apa pesan yang para dewa itu katakan."


"Wahai manusia kau telah melakukan dosa yang sangat besar meskipun begitu selamat karena telah berhasil menyebrangi kesengsaraan" Novan mengerutkan keningnya, sadar bahwa serigala yang ada di hadapannya itu ternyata bukan urusan para dewa Olympus atau mitologi lain.


"Rupanya kau urusan para dewa abstrak ya"


"-atas keberhasilan, kami yang diwakili oleh sang pemberi belas kasih dalam kesengsaraan merestui mu untuk menjadi lambang dari kekacauan" serigala itu bercahaya dan lambang bintang di atas kepalanya berubah menjadi warna merah.


Saat cahaya itu meredup ukuran serigala itu menjadi lebih kecil dan ia tampak memberi hormat dengan menundukkan kepalanya di depan Novan, diikuti oleh semua monster di belakangnya, waktu terasa berhenti dan semua orang tak bergerak sama sekali. Di angkasa sebuah sosok manusia bertopeng tampak di kelilingi oleh bintang-bintang menatapnya. Compassion Misery tampak menatapnya dan Novan mengepakkan sayapnya untuk terbang mendekat.


"Dasar, untuk apa kau melakukan itu kalau kau sendiri yang datang kemari? Salah satu dewa abstrak?"


"Yang namanya pelantikan itu harus spesial dong" nada suara Compassion Misery terdengar senang. "Semua dewa harus tahu bahwa sosok pembawa kekacauan telah terlahir"


"Tampaknya rumor itu salah ya, soal kalian yang tidak suka ikut campur masalah orang"


"Mana mungkin" Compassion Misery menggelengkan kepalanya "kami malah sangat benci orang yang suka ikut campur, kau bisa menebak kan siapa yang kami maksud?"


"Para dewa mitologi"


"Benar!" Compassion Misery mendekat ke arah Novan, matanya yang berada di balik topeng tampak memancarkan cahaya emas. "Jadi kami mengapresiasi semua yang kau lakukan selama ini" ia bertepuk tangan dan tertawa.


"Jadi itu alasan kenapa para dewa mitologi tidak tahu pasti apa yang ku lakukan selama ini, pantas rasanya hariku terlalu damai sebelum bencana terjadi. Ternyata kalian telah mengawasiku sejak dulu ya" Novan menebak dengan tepat, itulah alasan kenapa para dewa tidak tahu Mammon dan Leviathan bisa masuk ke comfort dream dan bekerjasama dengan Novan. Semuanya karena para dewa abstrak menutupi jejak mereka, dan tujuan mereka semua melakukan itu hanya satu. Mendapatkan kartu as yang dapat mereka sokong untuk melawan dewa mitologi.


"Kalian mau apa? Membuatku jadi boneka kalian dan melawan para dewa? Maaf sayangnya aku tidak berminat-"


"Kami ingin kau membantu kami mengurung para dewa" Compassion Misery memotong ucapan Novan, membuat pemuda itu kini membulatkan matanya kaget "Namun sebelum itu kau harus melakukan banyak persiapan...".

__ADS_1


"Novan, maukah kau menjadi setengah dewa?"


...[Bersambung]...


__ADS_2