
Sementara itu di bawah alam bawah sadarnya. Sejauh mata memandang hanya ada pecahan kaca, di sekelilingnya semua menjadi putih dan darah menetes membentuk sebuah penanda jalan. Di alam bawah sadarnya Novan berjalan mengikuti darah itu dan apa yang ia temuka di ujung sana hanyalah seekor ikan hitam yang mati di atas kepingan kaca.
Sementara di atasnya seekor burung terbang mengelilinginya. Sang ikan mati sebelum bisa terbang seperti burung itu, tanpa menyadari bahwa ia memang tak ditakdirkan untuk terbang diatas langit, tapi untuk menyelam di lautan dalam. Itulah penggambaran dari konsekuensi yang harus setiap orang terima bila terpaku pada kelebihan orang lain, konsekuensi bagi para manusia yang iri dan mencoba meniru orang lain tanpa menyadari posisinya.
"Menyedihkan"
Sebuah kaki menginjak ikan itu dan Novan menatap sosok dirinya yang lain tampak memasang wajah dingin ke arahnya, layaknya dunia yang menginjak-injak hidup para manusia yang menyedihkan.
"Seekor ikan tidak akan pernah bisa terbang seperti burung, semua punya takdir dan posisinya nya masing-masing. Iri pada suatu hal yang tak dapat diraih adalah tindakan yang menyedihkan" Novan terdiam mendengar kalimat itu. Kalimat yang menggambarkan bagaimana pandangan dunia, bahwa yang berada di bawah tidak akan bisa terbang ke atas. Bahwa seseorang mau tidak mau harus pasrah akan takdir yang ia miliki dan tidak boleh iri pada orang lain.
"Kalau begitu bagaimana bila sebaliknya?" Novan membuka mulutnya dan akhirnya berbicara "alih-alih iri pada sang burung dan mencoba untuk terbang, bagaimana bila sang ikan memanfaatkan rasa iri nya untuk mendorong dirinya menyelam semakin jauh di dalam air hingga akhirnya sang burung berpikir.."
"Andai aku juga bisa seperti dirinya"
Ekspresi terkejut timbul di wajah Novan dari putaran lain, dan kemudian Novan kembali melanjutkan kalimatnya "menghapus rasa iri adalah hal yang sulit, manusia biasa pasti pernah dan akan merasakan apa itu rasa iri dan cemburu.." ucapan Novan terdengar seperti fakta, rasa iri adalah suatu emosi yang sangat umum hingga manusia tidak sadar bahwa sesungguhnya mereka diam-diam saling menginginkan apa yang dimiliki satu sama lain.
Ketidak puasan akan apa yang mereka miliki, dan keinginan untuk memiliki hidup seperti orang lain. Itulah yang di namakan iri hati, sifat yang menjadi satu dari tujuh dosa besar di dunia.
"Jadi mustahil rasanya untuk meminta seseorang agar tidak iri pada orang lain"
"Bahkan iblis keserakahan pun merasa iri pada iblis iri hati itu sendiri karena tidak bisa mengendalikan air"
__ADS_1
.
.
Apa yang Novan ucapkan dalam alam bawah sadarnya tersalur keluar dari mulutnya meskipun tubuhnya tengah di kendalikan oleh dirinya yang lain.
Leviathan terdiam seribu bahasa, suatu cahaya muncul di matanya saat ia mendengar kalimat dan kata-kata itu. Apa yang Novan katakan seakan menggambarkan apa yang tengah Leviathan alami dan apa akan terjadi padanya bila ia terus berada di dalam perpustakaan ini. Pada akhirnya ia akan berakhir seperti ikan yang mengering karena mencoba untuk terbang seperti seekor burung.
Leviathan tidak dapat membantah hal itu, ia memang selalu bermimpi terbang di langit yang hangat dan cerah seperti iblis lain, ia selalu menatap ke arah sayap Mammon saat sang iblis keserakahan itu terbang di langit bersama dengan badai pasir emasnya, sementara Leviathan hanya bisa menatap dari dalam air yang gelap dan dingin.
Leviathan benar-benar mendambakan kebebasan di atas langit yang tinggi dan hangat, keluar dari dalam lautan yang dingin dan dalam, keluar dari tempat dimana ia seharusnya berada. Karena itu ia rela kabur ke dunia manusia sesaat setelah paus kecilnya mati, selama ini hanya paus itulah alasan ia terus berada di dunia iblis, berada di dalam lautan gelap dan dingin. Namun begitu paus itu tiada, Leviathan sesaat bertanya pada dirinya.
Dan ia kemudian pergi ke comfort dream, tempat dimana langit yang hangat dan cerah berada. Tempat impian yang terus ia dambakan sepanjang hidupnya.
Sekilas ingatan terputar di kepalanya ia pergi ke dunia comfort dream dengan membawa mayat paus kecilnya, berharap setidaknya ia bisa mengubur mayat itu di tanah yang subur dengan cahaya matahari yang menyinari nya. Namun kemudian ia malah bertemu dengan seorang malaikat, dan dengan ucapan manis malaikat itu berkata bahwa ia mampu menghidupkan paus itu.
"Akan ku hidupkan apa yang menjadi milikmu, tapi berjanjilah kau akan menyayangi hidupmu mulai sekarang"
Leviathan menerima uluran tangan malaikat itu, sebagai tanda bahwa ia menyetujui syarat yang malaikat berikan. Paus itu kemudian menjadi utuh, luka di tubuhnya hilang dan tubuhnya mulai bergerak. Leviathan begitu senang bisa berinteraksi kembali dengan hewan peliharaannya, satu satunya teman yang dapat ia percaya selain Mammon.
Kesenangan itu membuat Leviathan tak menyadari bahwa itu adalah awal dari kekacauan dalam dirinya. Seperti manusia yang ditakdirkan untuk bernafas, Leviathan ditakdirkan sebagai lambang dari iri hati itu sendiri tidak bisa menahan atau memaksa dirinya untuk tidak iri pada manusia yang hidup nyaman di dunia comfort dream. Meskipun begitu ia tidak membenci siapapun, ia tidak berniat untuk menghancurkan apapun, yang ia inginkan hanya hidup nyaman dan membuang jauh-jauh takdirnya sebagai pangeran iblis.
__ADS_1
Namun meskipun begitu ia tetap saja telah melanggar syarat sang malaikat, paus yang ia pelihara perlahan membesar dan tidak pernah kenyang mau sebanyak apa Leviathan memberikan energinya untuk dimakan oleh sang paus. Puncak dari rasa ketidak puasan itu adalah ketika Leviathan pergi dan meninggalkan pausnya di sebuah gua di hutan, paus itu mengeluarkan suara dan kabut yang memancing setiap orang yang memasuki hutan untuk datang ke dalam mulutnya.
Leviathan tahu itu bukanlah hal yang baik, ia tidak ingin paus yang selalu menemaninya tumbuh menjadi monster, meskipun di sisi yang lain ia dapat merasakan bahwa paus itu bukan lagi teman yang ia kenali. Leviathan lebih menyayangi paus itu dari pada dirinya sendiri, itu karena ia merasa hanya paus itulah alasan ia bisa berada di sini, satu-satunya teman yang bisa mengobati rasa kesepiannya di sepanjang hidupnya.
"Aku ingin kau bebas dan menikmati hidup yang ku inginkan.. jadi teruslah hidup"
Leviathan pada akhirnya tertelan oleh paus itu, membuat dirinya menjadi sumber kekuatan dari sang paus. Sementara itu paus tersebut keluar dari goa dan terbang ke langit, seakan ingin mengwujudkan impian Leviathan untuk terbang diangkasa.
Pada akhirnya semua dewa tertawa saat mengetahui rencana mereka berhasil total. Dan mereka menurunkan sebuah pesan pada para manusia.
"Jangan biarkan mahluk yang tidak pernah bersyukur atas takdirnya itu hidup. Tangkaplah dan tunjukan padanya apa itu kekuasaan dewa"
Itulah awal dari dimulainya gerakan pembasmian Leviathan. Di dalam diri paus itu, Leviathan dapat merasakan rasa sakit yang paus itu rasakan, tapi ia tak bisa kabur dari dalam sana. Leviathan menyadari kesalahannya karena percaya pada mahluk yang digadang-gadang sebagai utusan dewa. Ia sadar bahwa para dewa menjebaknya. Meskipun begitu ia juga tahu tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, untuk beberapa kali akan ada manusia yang berhasil sampai ke tempatnya, manusia dengan energi perasaan iri hati yang begitu kuat, namun mereka semua pada akhirnya mati karena rasa iri mereka.
Dan kini untuk pertama kalinya ia melihat seseorang dengan energi iri hati yang begitu kuat namun orang itu tidak kalah dengan perasaan iri hati nya sendiri.
Matanya berwarna merah terang dan wajahnya menjadi begitu serius dan dingin, belati di tanganya diselimuti oleh asap hitam yang memancarkan aura kegelapan murni. Mata mereka kini saling bertemu dan Leviathan dapat merasakan ada suatu hal yang berbeda dalam diri Novan. Meskipun begitu alih-alih takut Leviathan mulai mempercayai Novan, menganggap bahwa hanya Novan satu-satunya manusia yang paham akan jati diri Leviathan sendiri, bahkan jauh lebih memahaminya daripada dirinya sendiri.
"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan agar bisa memanfaatkan perasaan iri ini?"
...[Bersambung]...
__ADS_1