
Pasir pantai yang putih dan air laut yang biru jernih kini telah ternoda oleh darah. Mayat monster bergelimpangan dimana-mana dan suara bising peluru tembakan dan teriakan kesakitan terdengar mengema bersamaan dengan gelora ombak yang semakin kuat.
Dari tengah samudera yang bergelora seorang Dewa dengan trisula emasnya tampak menatap langit dengan tatapan kesal. Layaknya laut yang menyimpan dendam pada angkasa, begitulah kata-kata yang bisa menggambarkan awal mula perang ini.
Para dewa langit seperti Indra kerap membanggakan kekuasan mereka yang luas di atas awan sana, namun para dewa langit cenderung enggan turun ke bumi dan berkomunikasi langsung dengan manusia. Sebaliknya Poseidon sang dewa laut bisa ke daratan kapanpun dan berkomunikasi dengan manusia dan mahluk hidup lainnya, namun ia terkadang iri akan kekuasaan dewa langit, terutama Indra.
Laut yang luas dan dalam tak selebar dan tinggi langit. Langit yang luas tak seramai lautan yang di huni ribuan spesies laut. Keduanya punya pesonanya masing-masing, namun keduanya tetap berselisih.
Suatu saat Poseidon bertanya pada Indra, "diantara langit dan laut mana yang paling manusia butuhkan? Tidakkah kau tahu para manusia itu membutuhkan ikan-ikan ku untuk bertahan hidup?" Seakan menganggap bahwa tanpa laut manusia tidak akan bertahan.
Indra dengan tenang kembali bertanya "siapakah yang menyediakan awan hujan untuk menyirami ladang? Dimanakah para mahluk bersayap terbang bebas dan dimana matahari dan bulan bersinar selain di langit yang luas?"
Keduanya terus berselisih seperti tak akan ada habisnya, para dewa lain menganggap itu hanyalah sikap dari tidak bisa akurnya kedua dewa itu. Dari candaan menjadi perselisihan dan munculan sikap tak ingin mengalah, begitulah awal mula dari perselisihan Poseidon dan Indra.
Dan saat ini pertempuran telah dimulai dan keunggulan ada di pihak dewa Indra. Dengan amarah Poseidon berteriak dengan suaranya, menyampaikan pesannya melewati gelora ombak dan buih lautan hingga ke pesisir pantai.
"Pertempuran ini tidaklah sah! Karena kau menggunakan manusia sebagai bala tentara mu maka artinya kau mengunakan makhluk bumi sebagai tentara yang membela Langit! Ini tidaklah adil!" Laut yang bergelora mulai semakin mengamuk, sore telah pergi dan kini rembulan bersinar terang bersama dengan pasangnya air laut.
"Kau juga sama saja Ares! Apa yang ada dipikiran mu hingga membela dewa congkak itu?!" Amukan Poseidon begitu jelas terdengar dan para mahluk laut mulai semakin menggila hingga para kesatria tak dapat menahan mereka, kini hanya para Gorgon yang sanggup menahan para monster.
"Tidak adil kau bilang? Beraninya orang yang hanya duduk di bawah air dan ke permukaan hanya untuk menggoda manusia berkata hal seperti itu!" Langit yang hitam mulai tertutup oleh awan badai dan ketika cahaya rembulan di tutupi oleh awan kekuatan Dewi Ratna tidak bisa menyentuh para pasukan Poseidon. "Kalau bukan karena seorang manusia yang licik aku rasa aku tidak akan bisa menebak rencana kalian.."
"Poseidon, bisa-bisanya kau tanpa tahu malu meminta bantuan pada dewi rembulan untuk memenangkan pertempuran ini. Kau juga tahu bahwa tanpa manusiaku, aku tidak akan bisa memenangkan pertempuran ini. Sekarang perang ini bukan lagi diantara kita, tapi sudah menjadi bagian dari pertempuran dewa lain" ucap Indra dengan penuh kemurkaan.
Perang yang awalnya hanya terjadi diantara Poseidon dan Indra kini benar-benar melebar. Hera, Ratna dan Poseidon kini secara tidak langsung dinyatakan berperang melawan Loki, Indra dan Ares. Peperangan antar keenam dewa, begitulah nantinya pertempuran ini akan diingat para manusia dan dewa.
__ADS_1
Laut yang bergelora kini seakan berteriak pada langit yang bergemuruh. Petir menyambar ke setiap penjuru lautan, dan ombak menyapu habis pesisir pantai dengan gelombang tinggi. Di tengah cuaca yang mengerikan, Fobetor menatap laut dengan tatapan mata yang memancarkan keraguan.
"Kini pertempuran gelombang kedua baru dimulai.."
Semua kesatria mundur dengan wajah ketakutan dan hanya menyisakan seorang pria yang kini menaiki seekor ular berukuran besar.
.
.
.
Novan terus berlari ke setiap lorong, menelusuri dimana orang yang tengah ia cari berada. Dan ketika matanya mengarah ke taman bunga, Novan langsung berlari ke sana. Aroma mawar biru yang semerbak wangi memasuki penciuman Novan dan disekelilingnya kupu-kupu rembulan berterbangan dimana-mana.
"Akhirnya.. ketemu.." Novan mencoba mengatur nafas karena lelah berlari sedari tadi. Di tengah taman bunga yang indah seorang wanita berparas cantik tampak memegang sebuah angklung.
"Haha.. bagaimana ya.. habisnya dia menyeramkan sih" jawab Novan tersenyum.
"Kau.. manusia yang aneh" kupu-kupu yang berterbangan mulai melesat ke arah Novan, sayap-sayap mereka yang tipis dan ringan perlahan berubah menjadi setajam silet dan dengan susah payah Novan menghindari semua kupu-kupu itu.
"Hey- tidak bisakah kita berbicara baik-baik?!"
Dian tidak menjawab apapun dan ketika Novan berhasil membakar semua kupu-kupu dengan bantuan alat magis buatan Valas, sebuah sulur berduri mengikat tubuhnya, dari beberapa bagian sulur itu mawar merah tumbuh dan mekar, kini sudah jelas siapa dalang dari tumbuhnya bunga itu.
Dari kejauhan dua orang wanita berparas cantik menampakkan dirinya, yang satu indah dan anggun seperti rembulan sementara satunya terlihat cantik dan kuat seperti bunga mawar merah yang berduri. Kini ketiga wanita itu menatap Novan seperti mainan, seakan tak adapa belas kasihan di mata mereka yang dingin dan indah itu.
__ADS_1
"Haha.. ini sih curang namanya, masa tiga lawan satu?" Dengan ekspresi pucat Novan bertanya seakan-akan protes dengan jalanya pertarungan itu.
"Beraninya manusia yang licik seperti mu mempertanyakan kecurangan dan keadilan" ujar Dewi Hera.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan padanya? Tampaknya dia memang hanya manusia biasa, apa informasi yang diberikan Nanaru salah?" Tanya Dewi Ratna kebingungan.
"Dia tampaknya hanya seorang yang besar kepala" sahut Dian yang sontak membuat Novan sedikit kesal.
'aku ini kakakmu loh.. bisa-bisanya kau berkata begitu-' Novan mencoba menyembunyikan ekspresinya namun tampaknya Dian menyadari perubahan mimik wajahnya.
"Mengapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" Teguran itu seketika memancing emarah para Dewi yang langsung menatap Novan dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Tidak hanya berkepala besar ternyata dia juga berani menertawakan wanita? Sangat menjijikan"
"Tunggu! Tunggu kalian salah paham!"
"Musnahlah kau dasar manusia congkak!"
Sulur berduri itu mulai mengikat Novan semakin kuat dan menusuk kulitnya hingga darah tampak menghiasi durinya. Novan merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya, dan tak hanya itu kupu-kupu rembulan dan merah mulai terbang mengerumuninya dan seakan menggerogoti tubuhnya.
Menyakitkan, itulah yang dapat dirasakan Novan dan ketika ia berpikir ia akan segera mati ilusi yang sudah tak lagi ia lihat muncul.
Di belakangnya seorang pemuda berparas sama dengannya tersenyum dan menutup matanya dan saat itu juga Novan kehilangan kendali atas dirinya sendiri bersamaan dengan sebuah suara berat yang mengema di kepalanya.
"Akan ku hapuskan semua rasa sakit ini"
__ADS_1
[Bersambung]