
"Jual lah jiwamu itu padaku"
Suaranya terdengar seperti hasutan, mataya memancarkan kejahatan dan atmosfer di sekitar ruangan menjadi begitu tegang. Cahaya bulan yang indah tak dapat menjangkau tempat yang dipenuhi oleh kegelapan itu dan pasir emas berserakan dimana-mana bagaikan hamparan harta karun yang begitu banyak dan berharga.
'Akhirnya tiba juga saatnya..' Novan menatao kedua orang di bawah sana dengan mata yang memancarkan kewaspadaan dan ketertarikan akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
'Mammon bertemu dengan Kanz!'
"Hey bukankah kita harus menghentikan ini?"
Novan tidak merespon pertanyaan fobetor, matanya terus fokus akan keberadaan Kanz dan Iblis yang ada di hadapan Kanz. Sementara itu dibawah sana Kanz tampak tersenyum.
"Maaf saja tapi aku sudah bekerja untuk orang lain"
Dengan wajah sombong Kanz berpura-pura menolak tawaran Mammon. Semuanya sesuai dengan perkiraan Novan.
'Dia memang hobi jual mahal ya...'
Namun alih mammon mmenyerah ia malah semakin gencar menawarkan perjanjian pada Kanz. Pasir emas yang berhamburan dimana-mana semakin banyak dan bergerak berputar mengitari keduanya, badai pasir emas yang indah dan menghipnotis mata muncul bersamaan dengan kedua sayap yang berbentuk seperti sayap naga namun berwarna emas.
"Bagaimana kalau aku memberimu semua ini? Apa kau akan tetap bisa menolaknya?" Mammon berjalan mendekat dan dengan tangan yang memegang kartu emas ia tersenyum "kesombongan mu itu tidak lebih besar dari keserakahan mu, manusia. Seharusnya kau merasa tersanjung karena aku yang adalah lambang keserakahan di dunia ini menemui mu.."
"Jadi bagaimana? Apa kau akan menolak keserakahan mu dan memilih kesombonganmu? Atau kau ikut denganku?"
__ADS_1
Pasir emas yang menahan Kanz bergerak menjauhinya, dan dengan tatapan yang tak dapat diartikan Kanz membungkuk hormat.
"Keinginan anda adalah perintah untuk saya"
Seringai kemenangan terlihat jelas di wajah Mammon dan Novan di saat yang bersamaan. Sementara itu Fobetor tampak memasang wajah bingung dan panik.
"Bukankah ini sudah gawat?!" Novan tampak tidak mendengarkan ucapan Fobetor yang tengah dilanda kepanikan dan kebingungan yang mendalam. Di dalam kepalanya, Fobetor bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan selanjutnya terjadi, mengapa Novan membiarkan Kanz menghianati ya dan tidak mencegah anak itu.
Novan mengambil satu koin emas di sakunya dan kemudian koin itu menggelinding turun ke bawah sana, hingga akhirnya berhenti di depan kaki Mammon. "apa ini? Koin emas?" Mammon mendongak ke atas dan di saat itulah ia melihat Novan yang tampak mengenakan topeng kini tertawa.
"Apa kau tahu diantara pasir dan koin, manakah yang lebih berharga?" Novan merentangkan tanganya dan dari sana koin emas muncul diudara dan berjatuhan bagaikan hujan emas.
"Pilihlah, apa jawabanmu?"
Sementara itu Mammon mengerakkan giginya dan dengan tatapan kesal ia menatap Novan sembari mengerutkan alisnya "meskipun samar aku tahu kau itu hanyalah manusia.. beraninya manusia seperti mu membandingkan miliku dengan milikmu!" Pasir emas yang menyelimuti lantai perlahan berkumpul dan berubah menjadi seekor burung gagak emas yang terbang ke arah Novan.
Namun sebelum gagak itu mendekat sebuah dinding berwarna transparan menahan serangan benda itu. "Sayang sekali, anda meleset" suara yang sama dengan milik Novan terdengar dari ujung lorong gelap dan di sana sosok yang sama dengan Novan menampakan dirinya dengan topeng yang serupa.
"Apa?! Bagaimana bisa ada dua orang yang sama-"
"Sekarang giliran kami" tawa terdengar dan dari atas lampu gantung sosok yang sama tampak bertengger dan menjentikkan jarinya, tepat setelah itu koin-koin emas yang berserakan bergerak dan berterbangan ke arah Mammon namun dengan mudah Mammon menangkis semua koin itu dengan pasirnya.
Di sisi lain ketika semuanya terarah pada pertempuran itu, Kanz malah menatap koin-koin emas yang ada di hadapannya dan ketika cincin yang ia kenakan menyadari niat Kanz yang ingin mengambil koin-koin itu, seketika cincin yang dikenakan Kanz menyerap semua koin yang ada di hadapannya. Cincin itu kemudian memancarkan cahaya yang sangat terang dan kemudian berubah menjadi cahaya yang terbang ke udara dan seekor kucing berbulu emas yang indah.
__ADS_1
Kucing itu terjatuh ke bawah dan dengan cepat Novan menangkap kucing itu, senyuman terukir di balik topeng Novan saat mata kucing itu terbuka dan melihatnya. Sementara itu Mammon tampak sangat kesal saat apa yang ia incar sedari awal diambil darinya.
"Kau- dasar manusia congkak! Beraninya kau menganggu urusanku!" Saat Mammon hendak mengendalikan pasir emasnya ke arah Novan, lantai yang ia pijak tanpa di duga mengeluarkan cahaya dan sebuah sangkar sihir berwarna hijau mengurungnya.
Dari atas lampu gantung tawa seseorang yang serupa dengan Novan terdengar, namun kemudian suaranya semakin lama semakin nyari dan ketika topeng dan jubahnya menghilang terlihat jelas siapa orang yang berada di atas sana. Loki sang dewa Tipu Muslihat tampak tersenyum puas saat jebakan yang ia pasang berhasil menangkap seekor mangsa. Koin-koin emas yang masih berhamburan di mana-mana menghilang menjadi kepingan cahaya hijau, sementara sisanya tergeletak begitu saja di beberapa tempat.
Sementara itu Kanz yang hendak kabur segera di hentikan oleh sosok bertopeng yang telah menantinya di lorong, ketika Kanz terjatuh dan rantai perak melilit dirinya, sosok di depannya kemudian melepaskan topengnya dan kemudian terungkaplah bahwa ia adalah Nikolai.
"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan.." dari leher Novan, Fobetor yang sedari tadi mengawasi akhirnya turun dalam wujud ular dan merubah wujudnya kembali menjadi manusia. Jangankan menjawab Novan malah memberikan kucing berwarna emas itu pada Fobetor, membuat Fobetor seketika bertatapan dengan kucing itu dan tanpa ia duga sang kucing malah mencakar wajahnya. Sementara itu Novan berjalan ke arah sangkar dan kemudian mendekati Loki yang tampak memegang sangkar sihir yang mengurung Mammon.
"Jangan lukai dia, akan merepotkan kalau dia terluka" tegur Novan yang melihat wajah Loki yang sekaan mendapatkan mainan baru.
"Benarkah? Sebenarnya apa rencanamu, Novan? Aku kaget loh saat kau tiba-tiba memohon pada Nikolai untuk segera memanggilku, padahal sidang baru selesai" ujar Loki yang seakan terdengar seperti protes.
"Jangan kawatir, karena ini tidak akan membuatmu dalam masalah. Bukankah secara alamiah dewa dan iblis bermusuhan? Kalau ada dewa yang tahu kau menjebak iblis justru mereka akan memujimu" Novan menatap Mammon dan kemudian mengeluarkan sebuah kartu emas yang tadinya Mammon pegang.Dan raut wajah syok dan panik kemudian terlihat jelas pada wajah Mammon.
"Itu kartuku?! Tapi sejak kapan-?!"
Novan mengarahkan telunjuknya ke arah mulutnya dan menjawab "entahlah, mungkin seekor ular mencurinya darimu?" Mata Novan untuk sesaat melihat ke arah Fobetor. Ia tahu betul apa yang terjadi, karena semuanya berjalan sesuai rencana.
"Nah, sekarang bagaimana kalau kita mulai membahas soal kontrak?"
"Aku yakin kau tidak mau kan kartu ini rusak"
__ADS_1
...[Bersambung]...