
Langit biru yang cerah kini perlahan berubah menjadi oranye dan matahari perlahan mulai menyembunyikan dirinya, awan yang putih bagaikan kapas halus dan ringan kini berwarna kuning keemasan dan burung-burung yang terbang di langit membentuk sebuah pola yang begitu indah. Di tengah langit itu seekor paus masih terus bergerak, berenang diatas awan bagaikan seekor ikan yang berenang di dalam air.
Disekelilingnya puluhan prajurit yang menunggangi pegasus masih tetap terbang bersama dengan para penyihir yang terbang dengan sapu terbang mereka. Para prajurit melemparkan tombaknya sementara para penyihir melemparkan sihir mereka ke arah mahluk itu.
Seorang penyihir dengan topi biru tampak mengangkat topinya dan menatap ke arah paus itu sesaat sebelum kemudian berbalik ke Abdi. Tubuhnya tinggi, rambutnya berwarna hijau dengan mata berwarna oranye, kupingnya runcing bak bukan berasal dari ras manusia. Ia kemudian membuka mulutnya "ini sulit, dia tidak membuka mulutnya lagi. Kurasa dia kenyang-" namun kalimatnya segera dipotong oleh Abdi.
"Apapun caranya buat makhluk ini memuntahkan kakakku atau kau yang akan ku paksa masuk dalam sana" ancam Abdi. Penyihir itu tampak memasang wajah takut dan sapu terbangnya bergerak mendekat ke seorang prajurit berambut hitam. Nik tak berani menentang Abdi tapi di sisi lain ia tahu mustahil membuat paus itu melakukan apa yang diminta Abdi.
Sementara itu Kaleid hanya dapat berada diantara keduanya, Nik tampak meminta bantuan pada Kaleid tapi Kaleid sendiri juga tidak bisa membantah. Sebuah suara yang lembut dan sopan kemudian terdengar dari belakang, di sana Samuel tersenyum lembut seperti biasanya, rambut biru panjang dengan gradasi hijaunya tertiup lembut oleh angin dan dibawahnya seekor burung merak terbang membawanya.
"Tampaknya kalian sedang kesulitan. Butuh bantuan?"
"Kami tidak butuh bantuan dari orang yang sudah seenaknya menjadi mata-mata seperti anda" mata emas Abdi menatap ke arah Samuel dengan penuh ancaman, baginya tidak ada kata maaf bagi para penghianat. Dan bagi Abdi sendiri, Samuel adalah orang yang begitu cerdik dan penuh misteri. Tidak ada yang tahu dimana kapan dan bagaimana masa lalu Samuel setelah lahir, seakan keluar Wisnu sengaja mengasingkannya hingga akhirnya ia menjadi satu dari sekian banyak ajudan yang dimiliki oleh keluarga Akasa.
"Haha maaf, kalau begitu aku akan melakukan urusanku sendiri" mata hijau Samuel bersinar bagaikan batu zambrud namun kemudian angin yang kencang berhembus diantara mereka, membuat semua mata seketika terfokus pada arah datangnya angin itu.
Sebuah bayangan ombak terlihat dari arah cahaya matahari, membuat semua orang harus menyipitkan matanya demi melihat apa benda yang terbang diantara sinar mentari sore. Awalnya semua orang mengira itu sekawanan lebah namun tidak mungkin lebah bisa terbang setinggi itu, semakin lama benda itu semakin mendekat dan perlahan terlihatlah kilauan emas.
Pasir emas tampak terbang di angkasa bagaikan badai dan menghempaskan setiap pasukan yang ada di hadapannya. "Apa itu?!" Semua orang segera berlari menjauh tapi ketika badai itu menelan mereka tak ada satupun yang terlihat keluar dari sana.
"Benar pada akhirnya manusia seperti kalian tidak lebih dari mahluk yang tamak"
Suara itu mengema diudara dan dari dalam badai seorang pria berambut emas dengan sayap hitam yang terbentang lebar menatap rendah semua orang disana "jadilah kekuatan bagi keserakahan dunia ini" dan dari dalam badai itu puluhan prajurit yang di tutupi oleh pasir emas keluar. Mammon terbang diatas langit dengan sayap emas nya dan tertawa dengan tatapan yang memancarkan aura iblis.
__ADS_1
Paus itu seakan memberikan reaksi ketika badai emas mulai bergerak mendekatinya. Dengan penuh kepanikan Samuel dan Abdi segera memberikan perintah untuk mundur, menjauh dari kedua iblis berbahaya itu.
Tubuh paus itu kemudian terhantam oleh badai emas dan puluhan prajurit yang telah dipengaruhi oleh Mammon tampak terbang dengan pegasus yang dilengkapi oleh armor emas. Semua prajurit itu memegang sebuah rantai emas dan terbang di sekeliling paus itu, menjerat sang paus dengan rantai emas yang kuat.
Suara yang begitu besar terdengar dari paus itu kala tubuhnya yang dipenuhi oleh luka akibat serangan para manusia kini terlilit oleh rantai emas yang dipenuhi oleh duri. Mammon kemudian mendarat tepat diatas kepala paus itu dan matanya dipenuhi oleh kemarahan.
"Sudah ku duga, daripada bau iblis yang jahat. Apa yang tercium dari tubuhmu hanyalah bau busuk para dewa" Mammon menjentikkan jarinya dan Kanz kini telah berada di sebelahnya.
"Tunggu- bagaimana aku bisa disini-"
"Akan ku berikan emas sebanyak yang kau inginkan, tapi kau harus mematuhi perintahku" seperti biasa Kanz langsung menundukkan kepalanya dan memegang pedangnya.
"Apa perintah anda"
Mammon menunjuk ke ujung kepala paus itu dan kemudian berpindah ke arah ekor "dari sini, sampai situ. Belahlah tubuh paus ini" sebuah cahaya emas menyelimuti tubuh Kanz dan dari kepalanya sebuah tanduk hitam muncul, Mammon meminjamkan sedikit kekuatannya pada Kanz membuat Kanz kini semakin lebih kuat dengan kekuatan dunia iblis.
"Sesuai perintah anda, tuanku"
Suara pecahan kaca terdengar setiap kali keduanya bergerak dari lorong ke lorong. Leviathan dan Novan dengan cepat berlari ke setiap lorong mencari dan memecahkan cermin yang ada di dalam perpustakaan itu sembari menghindari kejaran dari bayangan tiruan Novan yang terus mengejar mereka. Semakin lama bayangan Novan semakin menjadi tak jelas, tubuhnya membesar dan tak lagi berbentuk seorang manusia tapi seekor serigala hitam dengan sayap di punggungnya, ia berjalan dengan dua kaki layaknya manusia serigala namun mulai mengeluarkan suara yang begitu rendah.
"Demi para dewa.. demi kebebasan.."
Serigala itu meraung dan terus menghancurkan setiap lorong rak buku yang ia lewati, berharap dengan begitu Novan dan Leviathan akan tertimpa rak buku.
__ADS_1
Novan berlari dan sedikit membungkukkan badanya setiap kali rak buku hampir menimpanya. Novan bersyukur lantai di labirin itu cukup licin dan mempermudahnya untuk berlari. Ikan-ikan kecil yang menghiasi perpustakaan berenang ke suatu arah dan setiap kali Novan mengikuti mereka ia akan selalu menemui cermin yang harus ia hancurkan.
Kesimpulan Novan hanya satu, cermin-cermin diruangan ini adalah palsu dan bila tidak memecahkan mereka dengan cepat secara bersamaan maka cermin itu akan kembali utuh. Dan diantara sekian banyak cermin, terdapat satu cermin yang dapat membawa mereka keluar. Cermin yang bila di dekati maka bayangan kita tak akan terpantul di dalam sana.
Namun cermin itu tidak akan muncul bila semua cermin tak dalam keadaan hancur. Novan terus memecahkan cermin demi cermin menggunakan belatinya sementara Leviathan menggunakan kekuatannya. Hingga akhirnya keduanya tiba di satu tempat yang sebelumnya tak ada di dalam perpustakaan itu.
Berbeda dengan cermin lain yang hanya berukuran setinggi pria dewasa, cermin yang ada di hadapan mereka kini berukuran begitu tinggi dan besar layaknya sebuah tembok kaca. Di pantulan kaca itu tampak menunjukan sosok bayangan Novan yang telah berubah menjadi seekor naga hitam besar yang seketika membuat Leviathan terdiam.
Leviathan lantas beralik dan sosok bayangan itu tampak berbeda dengan bayangan yang ada di dalam cermin, bayangan serigala raksasa itu kini menjadi sangat tak berbentuk, dan Leviathan bisa melihat wajah para manusia yang mati karena rasa iri mereka tampak berteriak dan tersiksa di dalam bayangan itu.
Bayangan energi iri hati Novan tampaknya menyerap semua energi negatif dalam tempat itu, membuatnya menjadi semakin besar dan ganas bak arwah jahat yang siap untuk menghancurkan apapun.
"Kita harus segera menyebrang ke dalam kaca sebelum semua cermin yang kita hancurkan kembali utuh!"
Novan menarik tangan Leviathan namun dengan segera Leviathan menarik tangannya. mata merahya bertatapan dengan ribuan mata bayangan itu dan ia kemudian bergumam pelan.
"Aku sudah tidak mau lagi terbang bebas.."
Leviathan dengan mudah mendortong Novan, membuat Novan seketika terjatuh ke belakag tepat ke arah cermin. Sebelum keduanya berpisah Leviathan kemudian tersenyum dan mengatakan sebah janji.
"Aku akan mencoba untuk mempercayaimu, maka dari itu percayalah padaku"
Novan terlempar keluar dan Leviathan termakan oleh monster bayangan itu. Dalam kegelapan yang dingin dan berisikan oleh perasaan iri hati, Leviathan menutup matanya dan sisik es perlahan terbentuk di kulitnya bersamaan dengan tanduk es yang bercabang, ia kemudian membuka matanya yang memancarkan cahaya biru dan kemudian meyelam ke dalam semua perasaan iri yang telah ia kumpulkan selama ini, dan perlahan menyerapnya.
__ADS_1
Sekali lagi membangunkan potensi kekuatannya.
Merubah dirinya menjadi satu dari raja iblis yang akan menguasai neraka.