Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
35. Penyerbuan dan Bertahan (3)


__ADS_3

"Ini menarik, mari kita lihat selanjutnya siapa yang serangannya akan menyayat siapa, aku dengan belati ku atau kau dengan angin mu?"


Angin yang kencang berputar diudara layaknya ombak yang bergerak bebas diudara, namun ketika ombak itu bergerak menghantam suatu benda entah sekuat apa atau setebal apa benda itu, maka benda itu akan terpotong. Novan mengenal baik bakat adik-adiknya dan mengendalikan angin adalah bakat yang paling dikuasai oleh Andi. Angin yang digerakkan oleh Andi bagaikan bilah-bilah pedang yang terbang diudara dan bisa memotong apapun, namun itu hanyalah kemampuan luar biasa di masa lalu.


Pertarungan diantara keduanya berlangsung saat angin yang berhembus mulai mengejar Novan, dan ketika Novan malah berlari ke arah Andi angin itu kemudian langsung berputar melindungi Andi. Meskipun samar namun pasti, Novan sadar bahwa kekuatan Andi tak sekuat yang ia ingat.


'𝐴𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑚𝑎𝑛𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑎𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑡𝑖ℎ 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑟𝑎𝑠𝑡𝑖𝑠?'


'𝑇𝑒𝑟𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 𝑑𝑒𝑡𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑑𝑎𝑚𝑝𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑖𝑛𝑖..'


Novan sadar bahwa ini adalah kesempatan, sejujurnya sebelum pertarungan dimulai Novan sedikit was-was. Kemampuan Andi itu bukanlah kemampuan yang dapat di remehkan, bila Novan berhadapan dengan Andi yang kekuatanya sama seperti di masa lalu maka ia bisa pastikan setidaknya mungkin ia akan kehilangan satu jari tanganya tanpa ia sadari karena kekuatan mematikan angin itu.


"Sampai kapan anda akan kabur?"


Andi tersenyum dan dari anginya api berkobar mengikuti arah angin berhembus. Api yang berkobar di udara untuk sesaat meledak dan menghalangi pengelihatan Novan hingga Novan tak tahu bahwa di balik api itu puluhan bongkahan es yang tajam siap menusuknya.


Ada alasan mengapa Andi di juluki sang bintang dingin Akasa, itu karena ia bisa membuat bongkahan es runcing dan indah di udara, bongkahan yang tampak seperti bintang itu dapat melesat cepat mengikuti anginya dan membekukan setiap target yang ia tabrak.


Karena spontan Novan kemudian menebas satu dari puluhan bintang es yang melesat ke arahnya dan tangan kirinya seketika membeku terkena kepingan bintang es. "sial.. ternyata kekuatanmu yang ini masih sama kuatnya.." ucap Novan yang langsung menghancurkan es yang menyelimuti tanganya.


"Meskipun saya tidak mengerti tapi saya anggap itu pujian" ucap Andi tersenyum.


"Tapi sayang sekali, padahal dulu kau itu dijuluki sebagai badai es Akasa. Ternyat kemampuanmu tidak sekuat yang ku bayangkan" dari telapak tangan Novan sebuah bayangan hitam mengelilingi tanganya, dan hanya dalam satu kedipan mata ia menghilang dari hadapan Andi.p


Karena Novan mengingat putarannya yang kelima maka ia juga ingat bagaimana caranya ia harus bertarung, kali ini tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Novan dengan cepat bergerak bagaikan bayangan, bergerak tanpa suara di dalam kegelapan dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang.


"Apa?! Kemana dia-"

__ADS_1


"Aku ada di sekeliling mu"


Dengan cepat Novan muncul di belakang punggung Andi dan kembali menghilang, angin yang berhembus di udara mulai mengetahui pergerakan Novan namun sayangnya Novan jauh lebih cepat dari angin.


"Apa kau tahu, angin itu hidup bebas di lingkup ruang yang luas.. sementara bayangan hidup dalam sebuah tempat yang gelap tak peduli bagaimana ukuranya" suara Novan mengema di seluruh ruangan dan ketika Andi berhasil menemukan sosok Novan, Novan malah tersenyum.


"Sayang sekali kau melawanku di dalam ruangan yang minim penerangan"


Lampu kaca yang mengantung di langit-langit bergoyang dengan aneh dan kemudian karena rantainya putus lampu itu dengan cepat jatuh ke bawah, tepat di atas Andi.


Pecahan kaca tersebar dimana saja dan ketika Novan mendekat ke arah Andi, sebuah tanaman mawar tampak melindungi pemuda itu dari kematian karena tertusuk oleh kaca.


"Angaplah ini karma untukmu adikku.. kau beruntung karena dia malah melindungi mu" Novan menatap ke arah seekor kupu-kupu merah yang bertengger di sebuah patung berbentuk wanita cantik.


"Manusia yang kejam.." suara Hera terdengar diudara dan dengan tawa kecil Novan menjawab hinaan itu.


"Aku baru tahu kalau dewi yang kejam juga bisa berpikir begitu. Kupikir kerjaanmu cuman mencelakai orang, ternyata kau punya sisi seperti ini ya"


"Dari pada itu aku berpikir, apa yang kau takutkan dariku hingga menginginkanku mati?" Dengan mata yang dipenuhi amarah Novan memotong sayap kupu-kupu itu dalam sekali tebas "bisa-bisanya kau yang menginginkan kematian orang lain malah mempertanyakan kemanusiaan orang lain"


Kupu-kupu itu kemudian lenyap menjadi cahaya merah dan tepat setelah itu Kanz tampak berlari mendekat ke arah Novan. "Maaf, apa saya terlambat?"


"Tidak, Kanz potonglah tanaman mawar yang melilit anak itu dan bawalah ia ke Valas untuk di obati" perintah Novan dengan mata yang melirik ke arah Andi yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kepalanya. Untuk sesaat Novan teringat akan saat ia melihat mayat Andi di putaran kelima, padahal Novan tidak ingin mengingat itu namun ia tidak bisa melupakan saat-saat mengerikan itu.


Novan merasa seakan kini dialah yang seperti berniat membunuh adiknya sendiri.


"Anu tuan.. bagaimana dengan anda?"

__ADS_1


"Aku akan memasuki mansion ini lebih jauh, khususnya ruang bawah tanah. Kalian berjaga saja diluar dan jangan biarkan ada seorangpun dari kediaman ini kabur, kau mengerti?"


"Baik, tuanku"


Novan untuk sesaat mengeluarkan jam saku yang diberikan oleh Valas padanya dan dari sana ia melihat bahwa senja akan segera datang dan bulan akan mengantikan matahari, sebisa mungkin Novan harus menemukan Nikolai dan Arin sebelum bulan muncul.


"Aku harus bergegas!"


Novan menelusuri semua ruangan yang ia duga adalah tempat paling pas untuk menyandra seseorang dan pada akhirnya ia berakhir di sebuah ruangan besar dengan tak buku di setiap sisinya, itu adalah ruang kerja unik milik Adipati Akasa. Novan ingat jelas ayahnya begitu terobsesi akan masa lalu yang terlupakan, maka dari itu ayahnya mengumpulkan banyak buku yang berkaitan akan tragedi masa lalu.


Untuk sesaat mata Novan tertuju pada sebuah buku aneh bertuliskan bahasa kuno yang begitu rumit. "Perang.. Benua..langit?" Novan tak mengerti arti lebih jelas dari tulisan di samping buku itu namun yang bisa ia tangkap adalah susah terjadi perang yang besar di masa lalu, dan mungkin saja telah terjadi ribuan tahu yang lalu.


Terkadang Novan bingung akan kemampuannya membaca huruf kuno, namun ia bersyukur bisa memiliki kemampuan itu. Dengan cepat Novan menarik suatu buku dan dari sana ruangan rahasia terbuka, lorong yang gelap dan lembab menyambutnya di bawah sana, rasanya sudah lama Novan tak melewati lorong yang langsung menembus langsung ke area bawah tanah Adipati Akasa.


"Kalau tidak salah lorong ini langsung mengarah ke 'tempat itu'..."


Langkah demi langkah Novan jejakkan menuruni anak tangga yang tak dapat dilihat oleh mata, Novan tidak membawa penerangan karena ia sendiri hafal akan setiap letak anak tangga itu. Ketika tiba tepat di ujung lorong hanya ada sebuah dinding bata hitam yang menghalangi jalanya.


"Aku tahu ini akan terjadi.. mana mungkin Ayah sialan itu akan membiarkan tempat ini terbuka begitu saja bila di baliknya adalah sel tahanan.."


Novan meraba setiap bata demi bata hitam, mencoba menemukan suatu celah diantara batu bata itu dan sesekali mengetuknya untuk memastikan ketebalannya. Ketika ia sudah menemukan lokasi yang ia inginkan, Novan merogoh kantongnya dan dari sana sebuah kristal merah menyala tampak berkedip-kedip.


"Mari kita lihat bagaimana benda ini akan bekerja.."


Novan menempelkan benda itu di sisi celah yang ia temukan dan kemudian mengambil beberapa langkah mundur. Dan hanya dalam hitungan detik ledakan angin menghancurkan tembok itu. Di balik sana Nikolai yang memeluk Arin tampak memasang ekspresi terkejut kala tembok di samping mereka hancur bersamaan dengan hembusan angin yang kuat dari dalam sana.


"Maaf, apa aku terlambat?"

__ADS_1


"Novan..?"


[Bersambung]


__ADS_2