
"Gawat, Bangunan ini akan runtuh!!" Fobetor membujuk Novan untuk segera pergi namun Novan menolak, bangunan itu benar-benar roboh, dampak dari serangan Medusa itu ialah sebuah lubang besar yang tercipta di langit-langit bangunan, tepat di atas pilar yang runtuh langit-langit itu ikut runtuh, suatu keajaiban kuil itu tidak runtuh sepenuhnya.
Novan berhasil selamat dari reruntuhan atap kuil berkat bangunan dari Fobetor yang sudah berubah menjadi manusia dan membentangkan sayapnya melindungi mereka berdua dari kepingan bangunan yang berjatuhan. Namun Medusa tak seberuntung itu, tubuh ularnya terjepit diantara reruntuhan yang begitu berat, menyulitkan dirinya untuk bergerak.
"Bagus ini kesempatan kita untuk kabur! Ayo-"
"Fobetor bantu aku!"
Namun jangankan ingin kabur, Novan malah berlari mendekati Medusa dan berusaha membebaskannya dari puing-puing bangunan. "Apa yang kau lakukan?! Kau tahu kan kalau kau tidak sengaja menatap matanya kau akan menjadi batu!" Fobetor menarik tangan Novan mencoba menghentikannya dari aksi sembrononya.
"Kalau begitu aku tidak perluh melihat matanya kan?!"
"Jangan menjawab pertanyaan ku seakan-akan ini hal yang mudah!" Dengan suara yang tunggi Fobetor mencekal aksi Novan, ia sama sekali tidak bisa memahami jalan pikiran orang yang ia jadikan sebagai tuannya itu, ia tidak mengerti akan tujuan dan maksud Novan. Dimata Fobetor Novan begitu abu-abu dan abstrak, terkadang akan melakukan apapun seenaknya dan terkadang ia akan melakukan apapun demi orang lain. Namun Novan tak masalah akan angapan itu.
"Fobetor, aku tahu kau tidak bisa memahami maksud ku. Tapi satu hal yang harus kau ingat, baik kau dan aku kita sejak awal berada di jalan yang berbeda, bukan begitu Dewa Ikelos?" Fobetor seketika tersentak kaget, ia hanya dapat terdiam seribu bahasa, ia tak mengira bahwa Novan akan mengenalinya secepat ini "Awalnya aku juga tidak mengira, aku kira kau hanyalah satu dari sekian mahluk mitologi yang tak dapat ku ingat, karena pada dasarnya memang informasi tentang dirimu begitu sedikit.."
Novan menutup wajahnya lelah, dan ketika ia menurunkan telapak tangannya, mata Novan yang berwarna coklat kini tampak memancarkan cahaya merah "kalau bukan karena mimpi itu aku tidak akan pernah bisa mengingat mu, kalau bukan karena aku bertemu dengan Morfeus. Aku tidak akan ingat bahwa ia adalah dewa yang memiliki dua orang adik"
"Novan.. sepertinya ada kesalahpahaman-"
"Fobetor, kau boleh tidak mempercayai ku"
Untuk sesaat Fobetor merasakan suasana di sekitar nya menjadi gelap dan dingin seakan ada suatu peringatan yang muncul di depannya, seakan-akan apa yang ia hadapi kini bukanlah seorang manusia.
"Kau juga tidak perluh membantuku untuk menolong Medusa, mahluk yang menurutmu begitu menjijikan itu. Namun ketahuilah mahluk itu dahulunya juga adalah manusia yang sama seperti orang yang ada di depanmu ini" samar-samar namun pasti Fobetor sekaan melihat sepasang sayap hitam terbentang lebar di punggung Novan yang bermata merah.
__ADS_1
"𝐊𝐚𝐦𝐢 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐛𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐝𝐞𝐰𝐚, 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐬𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐮𝐭𝐮𝐤 𝐬𝐞𝐞𝐧𝐚𝐤𝐧𝐲𝐚"
Perkataan Novan entah mengapa membuat Fobetor benar-benar terdiam seribu bahasa, begitu juga Medusa. Untuk sesaat wanita itu hampir menitihkan air matanya, ia ingat saat-saat ia begitu menyembah Dewi Athena dan melakukan sumpah dengan kesuciannya, ia ingat saya Poseidon tiba-tiba merebut kesucian itu, membuat Dewi Athena yang murka kemudian mengutuknya menjadi wanita setengah ular. Medusa tidak bisa melupakan saat itu, ketika ia berada di titik terendahnya dan tak ada seorang pun yang bisa menjadi sandarannya kecuali saudari Gorgon nya.
Tanpa sepatah kata pun Novan kemudian mendekati Medusa yang kini giliran menutup matanya, dan demi menghilangkan keraguannya Medusa kemudian bertanya "apa kau tak takut padaku?" Dan dengan nada tenang Novan menjawab.
"Mana bisa aku takut pada orang yang takut pada dirinya sendiri?" dan detik itu juga Medusa menyadari alasan ia masih bertahan di kuil itu. Medusa masih tidak bisa menerima dirinya, ia tak bisa menerima takdir yang menimpanya, ia ingin kembali ke masa lalu, ia masih ingin Athena memaafkannya dan mencabut kutukannya dan ia takut pada sosok dirinya sendiri.
Medusa kini seakan menatap dirinya sendiri dicermin, sosok yang begitu ia takuti, alasan ia begitu membenci pantulan dirinya pada cermin.
Dengan penuh kesabaran Novan memindahkan satu persatu puing bangunan dari tubuh Medusa, setidaknya sampai kemudian Fobetor tiba-tiba membantunya dengan mudah. Novan tersenyum tipis melihat wajah Fobetor yang tampak canggung.
"Terimakasih"
Tak butuh waktu yang lama untuk Medusa akhirnya bisa mengeluarkan dirinya karena berkurangnya beban yang menimpa tubuhnya.
"Wahai manusia, siapa namamu?"
Dengan suara yang dalam Medusa bertanya pada Novan, Novan memjamkan matanya dan dengan senyuman ia menjawab.
"Novan"
Perlahan tubuh Medusa yang bersisik mulai berubah dan ekornya pun menghilang, tudung yang ada di belakang punggungnya kini ia pakai untuk menutupi kepalanya yang dipenuhi ular, sementara sehelai kain ia pakai untuk menutup matanya.
"Baiklah, aku tidak akan melupakan namamu.."
__ADS_1
Medusa kemudian pergi begitu saja ke arah pintu keluar, melewati Perseus yang tampak masuk ke dalam kuil dengan tergesa-gesa. Untuk pertama kalinya kedua sosok yang adalah musuh bebuyutan di dalam kisah mereka saling bertemu tanpa memandang satu sama lain.
"Nov! Fobe! Apa kalian baik-baik saja?! Kami mendengar suara kencang dari dalam sini! Sayangnya pintunya baru bisa terbuka tadi!" Ujar Perseus. Tanpa mencari tahu pun Novan tahu itu adalah ulah Medusa yang tak membiarkan dirinya pergi.
"Kami baik-baik saja, tapi sepertinya tidak dengan bangunan ini. Ayo pergi" jawab Fobetor yang membersihkan debu dari bajunya.
"Baguslah, tapi apa benar tidak apa-apa? Kenapa pupil matamu menjadi merah, Novan?"
"Apa?"
Novan dengan segera mengambil kaca kecil yang ia kantongi, retakan tampak ada di kaca itu dan dari pantulan kaca yang telah retak mata kiri Novan benar-benar telah berubah menjadi merah.
'𝐼𝑛𝑖 𝑎𝑛𝑒ℎ, 𝑝𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑙 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑛𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎..' batin Novan, saat ia berubah menjadi kepribadian nya yang lain adalah ketika kedua matanya memerah, itulah yang Fobetor katakan pada Novan, lantas apa artinya bila hanya satu mata saja yang berubah? Apa ini berhubungan dengan Morfeus yang ia temui kemarin malam atau hanyalah reaksi sementara karena luapan emosinya sesaat.
"Apa itu penting sekarang? Ayo kita kembali saja" Rian tampak menepuk pundak Novan yang badannya sedikit lebih tinggi darinya.
"Kau benar, hari sudah semakin sore"
Keempatnya sama-sama menatap pemandangan langit oranye yang begitu luas, di atas sana awan yang indah mengapung bersama dengan burung-burung unik yang berterbangan di angkasa. Matahari yang sebentar lagi pergi digantikan oleh bulan tampak sangat menawan memancarkan cahayanya yang terpantul dipermukaan air.
Air ombak yang sejernih kristal itu kemudian berkilau indah mengikuti warna langit yang berwarna oranye terang, gemercik air yang menenangkan dan ombak yang menabrak karang begitu menenangkan hati setiap orang yang melihatnya, hingga di balik keindahan itu tidak ada yang menyadari bahwa ada kegerian di baliknya.
Medusa berdiri di pinggiran pantai, kakinya yang putih pucat tak bersepatu itu tampak terbasuh oleh air pantai yang mulai mendingin. "Suatu saat, aku akan membalasmu, Poseidon" dan dari lengannya sebuah kristal biru yang di dalamnya samar-samar terdapat sosok seorang wanita berekor ikan tengah tertidur.
[Bersambung]
__ADS_1