Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
34. Penyerbuan Dan Bertahan (2)


__ADS_3

"kak Novan!"


"Abdi?"


Saat itu aku berusia 7 tahun..


Semua orang memanggil ku tuan muda jenius karena bisa menguasai berbagai macam hal hanya dengan sekali lihat, namun aku tidak terpukau sama sekali dengan pujian maupun kemampuan ku. Satu hal yang membuatku terpukau adalah ketika kakak ku dengan lihai melemparkan pisaunya dengan cepat ke arah target latihan kami seakan melesatkan sebuah anak panah.


"Ajari aku mengunakan pisau seperti kakak! Itu terlihat keren!" Berkali kali aku memintanya mengajariku namun ia hanya tersenyum dan mengelus kepalaku sembari mengatakan ucapan yang sama.


"Tidak, kau bisa terluka, belajarlah cara mengunakan busur saja ya.." dengan lembut ia mengelus rambutku dengan pelan "panah adalah senjata utama keluarga kita, kau harus bisa menguasainya.. jangan jadi seperti ku" ucapnya tersenyum getir menyembunyikan rasa sedihnya dengan senyuman.


Kak Novan bukanlah orang yang lebih pandai dariku tapi ia adalah orang yang jenius dalam bidang yang tidak dapat aku kuasai seperti mengatur strategi dan menebak pikiran orang lain.


"Hahaha sekarang kakak Novan punya kumis kucing!"


Aku yang masih kecil selalu menempel padanya, setiap siang hari yang terik kami bersama saudara yang lainya akan berkumpul di tengah lapangan rumput yang hijau sembari bermain. Tawa tak pernah absen dari setiap permainan kami, bahkan ketika wajah kak Novan telah dipenuhi oleh coretan tinta ia hanya akan tertawa dan membiarkan kami terus bermain mencoreti baju atau tangannya.


Kak Novan adalah sosok kakak yang baik bagi kami semua, ia dengan sabar selalu menghibur kedua saudara kembar Andi dan Dian ketika mereka merasa sedih karena ayah tidak memperhatikan mereka, ia selalu membantu Nikolai belajar bagaimana cara berhitung dan mengelompokkan nilai pecahan mata uang, ia jugalah yang selalu ada di sisi Rian yang masih balita ketika Rian menangis dan pengasuh nya tidak bisa menenangkan tangisan Rian.


Begitu juga bagiku, orang yang mengajarkan kepada ku cara menjadi pemimpin yang baik adalah dirinya. Padahal umurnya tidak jauh berbeda denganku tapi pikirannya tampak lebih dewasa dariku, terkadang aku mendengar bisikan para pelayan, mereka ketakutan setiap kali mendengar isi pikiran Kak Novan. Mereka bilang rasanya sama seperti berbicara dengan orang dewasa.


Kak Novan tidak memiliki teman, tak ada yang mau berteman dengannya karena pola pikirnya, itu alasan mengapa ia bisa selalu menghabiskan waktu bersama kami.


Namun suatu hari kak Novan mulai menceritakan teman barunya. Ia bilang ia bertemu dengan seorang malaikat kecil yang mengenakan gaun putih dan memegang seekor kelinci. Kak Novan sangat menyukai temannya itu, dia bilang anak itu seusia denganku jadi terkadang ia menganggap nya sebagai adiknya.


Saat itu aku hanya bisa merasa cemburu, berpikir apakah kak Novan akhirnya akan melupakan kami dan terus bermain dengan temanya itu. Namun kemudian di suatu malam yang cerah dipenuhi bintang seorang wanita berparas cantik dengan rambut coklat pucat muncul di depan kak Novan lewat sebuah pintu, sosok ya tampak persis seperti teman yang Kak Novan bicarakan namun anehnya sosok itu jauh lebih dewasa dari kami.

__ADS_1


Tanpa bisa mengatakan apapun aku menyaksikan tangan Kak Novan tertarik masuk ke dalam pintu itu. Dan ketika aku hendak menyusulnya pintu itu menghilang menjadi cahaya.


𝑰𝒕𝒖𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒂𝒕 π’•π’†π’“π’‚π’Œπ’‰π’Šπ’“ π’Œπ’‚π’π’Šπ’π’šπ’‚ π’‚π’Œπ’– π’ƒπ’†π’“π’•π’†π’Žπ’– π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π’Œπ’‚π’Œ 𝑡𝒐𝒗𝒂𝒏, π’”π’†π’‹π’‚π’Œ π’‰π’‚π’“π’Š π’Šπ’•π’– π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ 𝒂𝒅𝒂 π’π’‚π’ˆπ’Š π’π’“π’‚π’π’ˆ π’šπ’‚π’π’ˆ π’Žπ’†π’π’ˆπ’Šπ’π’ˆπ’ˆπ’‚π’•π’π’šπ’‚.


.


.


.


Awan gelap yang ada di langit meneteskan hujan yang begitu segar membasahi seluruh tubuhku. Tampaknya aku telah tak sadarkan diri selama beberapa saat karena terkena Sambaran petir dari langit.


Pertahanan gerbang depan telah berhasil di bobol dan kini tubuhku ternyata telah terikat oleh sebuah tali. Di hadapanku Kak Novan menatapku dengan tatapan dalam, seakan-akan ia kini mengenalku.


"Diamlah disini, kau bisa terluka nantinya" ucapannya yang terdengar seperti ancaman itu mengingat kan ku akan kalimat yang selalu ia katakan saat kami kecil, kalimat yang selalu ia keluarkan saat aku memintanya mengajariku mengunakan pisau.


.


.


.


π΄π‘˜π‘’ β„Žπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘–π‘ π‘’ π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘–π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘šπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑑𝑦..


π΅π‘Žπ‘”π‘Žπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘–π‘Ž π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’ π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘šπ‘Žπ‘‘ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” β„Žπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘˜π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘¦π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™?


π΄π‘π‘Ž 𝐴𝑛𝑑𝑖 π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘–π‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘™π‘–π‘šπ‘Ž?

__ADS_1


𝐼𝑑𝑒 π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘˜π‘–π‘› π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘¦π‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘π‘–π‘™π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘šπ‘Žπ‘‘π‘’ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Ž π‘€π‘Žπ‘˜π‘‘π‘’ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘™π‘–, 𝑖𝑑𝑒 π‘Žπ‘Ÿπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘œπ‘Ÿπ‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘ π‘’β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘ π‘›π‘¦π‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘™π‘’π‘›π‘¦π‘Žπ‘ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”, π‘‘π‘’π‘€π‘Ž π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘–π‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘’ π‘™π‘Žπ‘™π‘’π‘–....


πΏπ‘Žπ‘›π‘‘π‘Žπ‘  π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘π‘Ž 𝐴𝑏𝑑𝑖 π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘–π‘›π‘¦π‘Ž?


𝑨𝒑𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 π’šπ’‚π’π’ˆ π’‚π’Œπ’– π’π’–π’‘π’‚π’Œπ’‚π’ π’…π’Šπ’‘π’–π’•π’‚π’“π’‚π’ π’Œπ’‚π’π’Š π’Šπ’π’Š?


𝑨𝒑𝒂 π’Šπ’•π’– π’Šπ’π’ˆπ’‚π’•π’‚π’π’Œπ’– π’”π’†π’ƒπ’†π’π’–π’Ž π’ƒπ’†π’“π’•π’†π’Žπ’– π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π‘¨π’“π’Šπ’?


Benar mau dipikirkan sebanyak apapun satu-satunya hal yang berubah saat aku memulai putaran ini ialah ketika aku bertemu Arin. Bila putaranku selalu membawaku ke masa lalu artinya seharusnya sejak awal tidak ada yang berubah karena aku tidak mengingat putaranku yang sebelumnya, itu artinya seharusnya aku masih berperan sebagai Novan Akasa, bukanya malah bertemu dengan Arin di dunia Lucid dream.


π΄π‘π‘Ž π΄π‘Ÿπ‘–π‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘€π‘Žπ‘˜π‘’ π‘˜π‘’ π‘‘π‘’π‘›π‘–π‘Ž 𝑖𝑑𝑒? π‘‡π‘Žπ‘π‘–.. π΅π‘Žπ‘”π‘Žπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž..


Aku mengalihkan pikiranku ketika suara terompet terdengar dari arah belakang mansion, menandakan bahwah kelompok penyerbu belakang yang di pimpin oleh Kanz telah berhasil mengalahkan Kaleid, komandan pasukan belakang mansion Akasa.


"Semuanya jangan biarkan ada satu orangpun kabur tapi jangan lukai mereka! Ingat kita kemari untuk menemukan pemimpin kita!" Aku memberikan perintah pada seluruh pasukan dan dengan patuh mereka menuruti ku, kekuatan uang memang bukan main.


Seharusnya dalam hukum kerajaan penyerbuan ini adalah hal ilegal, akan lebih baik bila kami mendatangi kediaman Akasa dan menyelesaikan masalah ini dengan damai, namun ini bukan masalah biasa tapi masalah yang para dewa mulai. Kami harus memaksa para Dewi itu untuk menyerah, dengan begitu Loki dan Nikolai bahkan mungkin Arin bisa keluar dengan selamat.


Aku berjalan memasuki mansion itu dan baru saja ia tiba di ruangan tengah seorang pemuda berambut biru tampak menyambutnya, aku mengenal pemuda itu. Andi, salah satu mantan adiknya dan saudara kembar' dari Dian.


Sebuah angin yang kencang berhembus mengelilingi Andi dan secara misterius sebuah luka sayatan muncul di pipiku. Tidak terlihat, tidak pula terasa, begitulah serangan angin yang bisa dilakukan oleh Andi. Dengan jariku aku mengusap darah ku dan senyuman sama-sama terukir pada wajah kami. Harus ku akui dari semua adik-adik yang telah ku rawat saat diputaran kelima dialah orang yang paling mirip denganku.


Dia adalah anak yang menyembunyikan ekspresi aslinya dengan senyuman, ia tidak akan mendengarkan siapapun kecuali saudara kembarnya sendiri Dian. Bahkan bila saudarinya memintanya membunuh Vivian pun ia akan melakukannya, dialah pelaku dari kekacauan di acara kenegaraan. Orang yang hampir membunuh Vivian dengan menjatuhkan lampu kaca ke atas kepala Vivian. Sang bintang dingin dari keluarga Akasa yang hanya setia pada bulannya.


"Ini menarik, mari kita lihat selanjutnya siapa yang serangannya akan menyayat siapa, aku dengan belati ku atau kau dengan angin mu?"


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2