Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
36. penyerbuan dan Bertahan (4)


__ADS_3

"Maaf, apa aku terlambat?"


Novan muncul dari kegelapan. Jubah hitam yang ia kenapa tampak terlah kotor oleh bercak darah dan debu itu sedikit mengejutkan Nikolai, meskipun begitu ia bersyukur dan dengan wajah lega ia menatap Novan.


"Novan..?"


Dengan wajah senang Novan merentangkan tanganya "waktu kita tidak banyak" Nikolai mengangguk dan kemudian menerima uluran tangan Novan. Kakinya tampak terluka dan terpasang oleh rantai sihir menarik perhatian Novan. "Ya ampun merepotkan saja.." Mata merah Novan sesaat bersinar dan dari tanganya sebuah belati merah muncul.


"Itu.. kekuatan dewa? Tidak.. mengapa auranya sangat gelap?" Tanya Nikolai, namun Novan tak menjawab dan lebih fokus pada rantai di kaki Nikolai dan Arin. Dengan sekali tebasan yang kuat Novan berhasil mematahkan sihir pengekang itu. Kini Nikolai dan Arin bisa pergi dari tempat ini tanpa kebingungan.


"Banyak hal yang telah terjadi, kita harus pergi dulu dari sini, ledakan yang ku buat pasti memancing perhatian para penjaga dan Adipati Akasa di depan gerbang ruang bawah tanah." Novan sengaja mencari jalan lain selain melewati gerbang masuk penjara bawah tanah, alasannya cukup mudah. Ia tidak mau berhadapan dengan Raden Akasa dan Dian yang kini mungkin mendapatkan berkah dari Dewi Ratna.


"Akan sangat berbahaya menyerang mereka, kita harus pergi dulu-"


"Kemana kalian akan pergi?" Suara lembut terdengar dari kejauhan dan dari ujung lorong yang gelap seorang wanita berparas cantik dengan rambut putih berjalan mendekat, tubuhnya bercahaya dan diatas kepalanya mahkota bunga putih yang indah tampak menghias rambutnya.


"Ck.. mengapa dia ada di sini sih.." Novan mengambil langkah di depan Nikolai dan menatap sosok itu dengan wajah tak bersahabat. "Apa turun ke dunia manusia adalah hobi baru para Dewi? Huh Dewi Ratna?" Tanya Novan.


"Haha, seharusnya saya yang bertanya, mengapa kalian buru-buru sekali? Bukankah sebentar lagi malam? Menetap lah saja disini.." dari balik punggungnya kupu-kupu putih berterbangan dan bercahaya di dalam kegelapan "pesta baru akan dimulai" dan ketika kupu-kupu itu mulai menyebar di mana-mana Novan menyadari ada yang aneh. Kupu-kupu itu berterbangan menjatuhkan serbuk-serbuk berkilau dan indah, dan perlahan Novan mulai merasa lelah.


"Bukankah kamu lelah? Istirahatlah saja disini ya, tidurlah.."


Senyuman manis yang mematikan terbentuk di wajahnya, wanita yang begitu indah namun juga mematikan dan tak akan pernah bisa di gapai.


"Haha.. ternyata kupu-kupu rembulan.. ku dengar mereka mahluk fantasi yang bisa menghasilkan serbuk yang membuat orang menjadi lemas dan mengantuk, yang benar saja.. mana mau aku tidur di penjara ini.."


Novan melemparkan sebuah kristal sihir dan ketika kristal itu jatuh ke lantai asap berbau tembakau muncul dan mendominasi bau di penjara itu, dengan begitu ketika Novan bernafas ia tidak akan langsung terpengaruh oleh serbuk putih kupu-kupu rembulan.

__ADS_1


Dengan cepat Novan menarik baju Nikolai dan segera menyeretnya berlari ke arah ruangan rahasia. "Kemana kalian?!" Dewi Ratna mengikuti arah pelarian Novan namun ia hanya menemukan dinding yang tiba-tiba sudah di penuhi oleh tanaman tambat.


.


.


.


"Cepat, kalian pergilah ke gerbang utama, pasukan pengepung sudah berjaga di sana!"


"Bagaimana denganmu?! Jangan gegabah! Kau juga mundur lah! Kau bilang akan gawat kalau berhadapan dengan mereka!" Teriak Nikolai kawatir.


Untuk sesaat Novan menatap Nikolai dengan tatapan seorang kakak yang hangat, ia menepuk pundak teman sekaligus adiknya itu.


"Aku harus menyelamatkan keluargamu, bukan?" Ucap Novan dan kemudian tersenyum sembari berlari menjauh. Nikolai terdiam sejenak, senyuman, tatapan dan suara Novan rasanya pernah ia rasakan dimasa lalu, tapi ia tak bisa mengingatnya setidaknya sebelum suara Loki memasuki telinganya dan rasanya sebuah rantai yang mengikat dirinya lepas.


Ia kemudian mengingat kakaknya itu.


Nikolai mencoba memanggil Novan. Namun mau sekencang apa ia memanggilnya, Novan tak juga berhenti, jangankan memelankan langkahnya, ia tak sedetikpun menengok Nikolai.


Novan tidak bisa kabur, ia tahu konsekuensi apa yang akan Raden Akasa dan anak-anaknya tanggung bila misi ini gagal untuk mereka menangkan. Seperti di putaran kelima, seluruh keluarga Akasa pada akhirnya mati di tangan Dian yang tubuhnya dikendalikan oleh Dewi Ratna.


'𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑢 𝑏𝑖𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑟𝑎𝑔𝑒𝑑𝑖 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑙𝑎𝑔𝑖!'


.


.

__ADS_1


.


Ombak bergelora dengan ganas, dari kedalaman lautan samudera yang gelap dan dingin para monster laut bergerak ke pesisir pantai pelabuhan Utara. Di atas sebuah benteng dermaga yang kokoh seorang pemuda berambut pirang dengan mata tajam menatap gerakan aneh dari dasar laut.


Matanya yang tajam menemukan adanya banyak monster telah bergerak dan dengan komando yang tegas ia memerintahkan para kesatria untuk menyalakan meriam. "Tembak!!" Suara komandonya yang disusul oleh bising peluru meriam berjatuhan ke arah laut dan ketika peluru meriam itu bertabrakan dengan monster ledakan demi ledakan terjadi di dalam air.


Perseus terus menemukan adanya monster yang mendekat, namun meriam masih di isi ulang. Saat ini tugas mereka hanyalah satu, bertahan dan memukul mundur pada monster agar tidak mendekati kota.


"Pasukan pemanah bersiap!" Rian tampak duduk di atas sebuah gajah yang di selimuti oleh petir dan dengan suara lantang ia memberikan perintah untuk para pemanah menembakkan panahnya "Tembak!" Panah biasa yang melesat ke arah para monster seketika terselimuti oleh petir dari kekuatan dewa Indra.


Air di pantai kini memancarkan Kilauan listrik dan dari atas udara Dewa Indra tersenyum puas menyaksikan pertempuran yang begitu menarik. Namun monster terus bergerak maju, para penembak maupun pemanah masih mengisi kekuatan mereka kini giliran pasukan pelindung yang bergerak.


"Angkat pedang dan perisai kalian! Jangan biarkan monster-monster itu mendekat dan mengotori kota kebanggaan kita!!" Fobetor berteriak layaknya Novan yang memberikan arahkan komando dengan berani. Fobetor dan Ares sama-sama bahu membahu melindungi benteng, dengan pedang mereka para monster terbebas dengan cepat.


Pertempuran air di kendalikan oleh Perseus dan Rian yang memberikan komando untuk terus menembak dan melemahkan para monster, dan ketika para monster mendekat ke benteng maka Fobetor dan Ares bersama para pasukan kesatria akan menumpas habis mereka.


"Bagi pasukan yang terluka parah atau kelelahan segera mundur dan pasukan bantuan segera gantikan posisi mereka!" Valas berteriak sembari memimpin para tim medis dan penyihir untuk segera menyembuhkan luka para pasukan.


"Berapa lama lagi kita harus bertahan, wahai manusia?!" Tanya Ares sembari terus menebas para monster laut.


"Tunggulah sampai waktunya! Matahari akan segera terbenam dan bala bantuan akan datang!" Fobetor menjawab pertanyaan Ares dengan cepat.


"Bala bantuan? Bala bantuan apa-"


"Itu dia mereka.. haha aku tidak percaya akan mengatakan ini tapi.." dari arah yang berlawanan puluhan ekor ular raksasa bergerak mendekat dan menyerang para monster laut.


"Syukurlah para Gorgon telah tiba"

__ADS_1


Dari belakang para ular itu tiga sosok wanita bertubuh ular tampak menatap tajam.


[Bersambung]


__ADS_2