
Disebuah ruangan yang cukup gelap Novan tampak duduk disebuah kursi, di adapanya Fobetor tampak menunduk, di luar sana langit maam yang cerah bertarbur bintang tampak terlihat di liputi awan yang tebal dan samar-samar bayangan Paus biru tampak berenang diantara awan itu, Novan menaap langit dari jendela dan kemudian kembali menatap Fobetor.
"Mulai sekarang aku akan berperan menjadi Askara. Dan kau akan berperan menjadi diriku" Seutas senyum merkah pada wajah Novan dan dengan ekspresi senang ia menatap ke arah Fobetor.
"Apa yang harus ku lakukan?" Fobetor bertanyadengan tatapan mata yang menatap ke arah jendela, sekan menatap keberadaan paus biru di langit dengan tatapan tak nyaman.
"Cukup mudah, kau hanya perluh menarik perhatian para dewa dan aku akan memberikanmu beberapa tugas. Karena sikapmu dapat meniruku dengan baik, maka tidak akan ada seorang pun yang tahu kau bukan aku. Kalau kau dalam bahaya aku akan langsung memanggilmu dan sementara semua mata tertuju padamu dan menatapmu seperti serigala pengacau kerajaan ini, perlahan aku akan memulai aksiku di balik penyamaraku sebagai seorang anak anjing yang menurut" Jelas Novan, Foobetor mengangkat aslinya sesaat, rasa kawatir terpancar dari matanya namun kemudian ia tersenyum.
"Aku tidak tahu apakah ini efek kontrak atau apa tapi ini terdengar menarik, baiklah aku akan melakukanya.." Fobetor terenyum dan dengan mata yang terpejam ia mengangguk sembari membungkuk, kini rasa sombongnya terasa tak bisa ia tunjukan di hadapan Novan, sekaan ia kini sepenuhnya adalah kaki tangan Novan.
"Bagus"
"Lalu bagaimana dengan Arin? anak itu tampaknya begitu di sayang oleh Nanaru. Apa kau tidak kawatir?" Sejujurnya Fobetor masih tidak bisa mempercayai Nanaru, begitu juga Arin.
"Sebenarya apa alasanmu begitu membenci Nanaru?" Novan bertanya dengan serius, mekipun begitu ia sebenarnya sudah tahu apa jawaban dari Fobetor.
"Dia itu mantan manusia yang membangkang pada para dewa, meskipun kini ia adalah kaki tangan dewa dan setengah dewa. Dilihat dari sifatnya kita tidak bisa mempercayai agen ganda seperti dia. Kita tidak tahu ia masih ingin membelot pada para dewa atau sudah sepenuhnya patuh pada mereka. Hal yang paling aku takutkan ia hanyalah berpura-pura memihak kita."
Novan mengangguk paham, ia kini mengerti kenapa Fobetor begitu membenci Nanaru. Kalau nanaru adalah orang yang membelot pada para dewa di masa lalu, maka pastilah ia terlibat dalam perang Dunia mimpi di putaran pertama Novan. Tapi yang menjadi tanda tanya adalah seberapa berkesanya Nanaru dalam perang itu hingga Fobetor mengenalnya? Fobetos saja tidak mengenali Wajah Novan meskipun Novan adalah ketua salah satu pasukan kuat di pertempuran itu.
Tapi kenapa Fobetor bisa begitu menginggat wajah Nanaru? dan kenapa dari sekian banyak orang yang ikut berperang, Novan tidak menemukan satupun orang yang kini berada satu putaran denganya? seakan mereka semua lenyap dan hanya tersisa Nanaru dan dirinya.
__ADS_1
Apa yang terjadi pada jiwa manusia yang membelot pada dewa di dunia yang dikendalikan oleh ribuan dewa ini?
Novan ingin bertanya banyak hal namun ia tidak bisa mengatakannya.
.
.
.
Di sebuah pantai yang luas dan bertabur pasir putih mayat para monstre telah sepenuhnya di bersihkan, pantai yang tercemar mulai kembali menjadi bersih dan indah. Di atas pasir putih yang tersapu oleh ombak yang cukup tenang seorang Wanita berambut biru terang dengan gradasi putih di ujung rambutnya tampak berdiam diri menatap lautan.
"Amfi! ya ampun anda disini ternyata!" Seorag wanita yang mengenakan tudung dan menutupi matanya dengan khawatir menghampiri wanita itu. Medusa memakaikan jubah pada pundak wanita itu untuk melindunginya dari dinginya angin laut di pagi hari.
"Apa yang dikatakan Medusa itu benar, dewi" Sebuah portal hitam muncul dari dari balik sana Hopeless menampakan dirinya tanpa topeng kertas yang biasanya ia kenakan. Ia trsenyum dan membungkuk sembari merentangkan tanganya "Apa yang nantinya yang terjadi kalau anda sakit saat manusia yang menyelamatkan anda datang?" Hopeless dengan jelas mengatakan bahwa Novan mengkin akan datang, seakan ia tahu keputusan apa yang akan Novan ambil kedepannya.
Wanita yang di panggil Amfi atau dewi itu tersenyum dan menunjukan sebuah kerang indah yang di dalamnya terdapat beberapa butir mutiara "Aku ingin memberikan hadiah untuk manusia itu, apa ia akan menerima ini?" Matanya menunjukan suatu cahaya harapan dan ia tersenyum embut, menjadi jelas kini siapa manusia yang mantan dewi laut itu maksud.
"Haha, sayangnya ia adalah orang yang bergelimang harta.. mesipun begitu ia adlaah orang menghargai usaha orang lain. Saya yakin hanya dengan melihat anda kini tersenyum senang ia akan ikut senang"
"Anda tampaknya sangat dekat denganya ya"
__ADS_1
Ucapan Amfirit itu membuat Hopeless kemudian terdiam dan matanya memblat untuk sesaat, sebelum kemudian raut wajah aneh dan terkesan sendu terpancar drai pupil matanya. "Dekat ya.. entahlah, mungkin hanya saya yang menganggapnya begitu.." Hopeless menatap ke laut dan kemudian ia terdiam untuk beberapa detik.
"apa anda merasa sedih?"
Hopeless menatap Amfirit dengan alis yang terpaut dan wajah yang menunjukan sedikit senyuman "Bahkan di putaran kali ini saya tidak bisa membohongi anda ya.. mengapa anda berpikir saya sedih?" Hopeless bertanya dan kemudian Amfirit menatap ke arah Medusa untutk sesaat.
"Karena biasanya kami juga menatap laut dengan tatapan seperti itu saat kami sedih"
Baik Amfirit maupun Medusa, keduanya merasa sedih akan takdir yang menimpa mereka, sekaan mereka lelah akan hidup mereka dan ketika mereka melihat buih dilautan yang dalam dan luas, terkadang mereka berharap mereka juga bisa menghilang seperti buih itu.
Takdir mereka bagaikan ombak yang menghantam karang namun mereka tidak ingin menjadi karang yang sedikit demi sedikit terkikis karena air laut. Tapi mereka juga tidak bisa menjadi buih yang terbawa oleh ombak dan menghilang begiu saja, setidaknya mereka ingin bahagia.
Namun apa itu artinya Hopeless juga berpikir begitu?
Meskipun ia menyembunyikannya, namun dalam hatinya ia memang berpikir begitu. Tidak ada yang mengetahui masalahnya, penderitaan nya, harapanya dan perjuanganya selama ini. Tidak ada seorangpun yang tahu akan dirinya, bahka dirinya sendiri.
"Saya... hanya tidak bisa menyerah" Kalimatnya terdengar aneh dan tak dapat dimengerti, meskipun begitu sebenarnya ia memberikan isyarat, bahwa mau seberapa besar ia ingin menyerah untuk mencapai harapannya, ia tidak bisa melakukan itu.
Dari kejauhan Perseus tampak menatap ketiga orang itu dengan tatapan tajam dan tangan yang memegang sebuah kertas.
"Tampaknya putaran kali ini tidak akan mudah.."
__ADS_1
...[Bersambung]...