Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
25. Pertemuan dengan Ares


__ADS_3

Malam datang dengan cepat tanpa dinanti, dan dengan tubuh yang lelah Novan merebahkan dirinya di atas kasur penginapan yang begitu hangat "memang beginilah hidup.. Hanya kasur yang bisa menyembuhkan sakitku-" baru sesaat Novan ingin tidur suara ketukkan jendela berhasil membuat dirinya mendengus kesal.


"Dari Nikolai lagi? Apa-apaan ini-"


"Berterimakasih Lah karena aku yang mengantarnya!" burung merpati putih yang tenang itu kemudian berteriak hingga membuat telinga Novan sakit.


"Loki?! Mengapa kau ke sini?!"


"Kenapa lagi? Aku mau mengunjungimu"


"Aku tahu kau hanya mau melihat aku terluka.."


"Cih"


Dengan wajah masam Novan membuka selembar kertas kecil di kaki merpati Loki. "Cepatlah kembali bila kau merasa tidak bisa menyelesaikan nya" itulah tulisan yang Novan baca.


"Bocah, lebih baik kau mulai bergerak. Aku merasakan aura yang tidak menyenangkan disini" ujar Loki dengan kaki yang beberapa kali ia hentakkan di lantai.


"Apa ada dewa lain disini?"


"Seharusnya tidak, para dewa biasanya tidak akan mau repot-repot turun ke dunia mimpi hanya untuk mempermainkan seseorang yang kecuali beberapa dewa golongan tertentu "


"Seperti dirimu?"


"Ekhm, meskipun perkataan mu tidak salah tapi jangan samakan aku dengan dewa lainnya" ujar Loki dengan paruh yang mengangkat ke atas seakan tengah menyombongkan dirinya.


"Kalau begitu maksud mu.. dewa-dewa Yunani?"


"Oh sudah ku duga kau pintar, kebanyakan dari mereka bisa leluasa turun ke dunia ini hanya untuk bermain-main, berbeda dengan kami para dewa mitologi lain tidak bisa leluasa bergerak tanpa izin para dewa Yunani"


"Karena mereka yang memegang kendali dunia ini ya.." lanjut Novan yang memahami kondisi dan sistem dunia mimpi yang sedang terjadi namun kemudian ia menyadari sesuatu "lalu bagaimana bisa kau kemari? Kau bilang kau harus minta izin pada dewa Yunani?"


"Kau pikir sistem itu sempurna? Aku ini dewa Tipu Muslihat, aku bisa menipu siapapun tak terkecuali dewa"

__ADS_1


Ditengah perbincangan itu suara ribut-ribut tampak terdengar dari arah lantai bawah penginapan, tempat sebuah bar dan tempat makan terletak di sana.


Seorang gadis tampak menangis dalam pelukan seorang wanita yang menutup matanya dengan sehelai kain, di depan kedua wanita itu tampaklah seorang pemuda berpakaian bangsawan yang memasang wajah marah.


"Kau berani-beraninya menolak ku!"


Tanpa dijelaskan pun sudah terlihat bahwa pemuda itu sedang mabuk dan hampir melukai gadis yang saat ini menangis. "Oh acara drama!" Loki dengan tenangnya berubah menjadi seekor kucing yang kini berada dalam pelukan Novan. Tak ada komentar, tak ada niatan untuk ikut campur, keduanya memiliki untuk melihat situasi.


"Tidak ingin membantu wanita-wanita itu?"


"Tidak, karena disini sudah ada pahlawan yang bisa mengurusnya"


Perseus datang dengan berani menghalangi pemuda itu, menyebabkan cekcok diantara mereka. "Tuan lebih baik anda pergi dari sini" Perseus mencoba mengusir pemuda itu dengan sopan, namun jangankan menurut pemuda itu malah menaikan suaranya.


...


Pemuda itu dengan kasar menepis tangan Perseus dan kemudian memperkenalkan dirinya "berani-beraninya kau mengusirku, apa kau tahu siapa aku?! Aku Alirrothios! Penguasa pelabuhan Barat kerajaan ini!!" Aku menaikkan alisku untuk sesaat, sekarang aku tidak heran mengapa ia ada disini.


Alirrothios, putra dari Poseidon, karena dia tahu ayahnya adalah dewa ia jadi berbuat seenaknya dan mengira bisa melakukan apa saja karena ayahnya adalah dewa lautan. Pembuat onar itu ada di sini pasti tidak lain karena berhubungan dengan rencana Poseidon. Tunggu dulu, pelabuhan barat? Bukankah itu pelabuhan sementara yang kini di pakai karena pelabuhan ini sedang dilanda masalah? Apa itu artinya Poseidon sengaja membuat pelabuhan ini lumpuh agar pelabuhan putranya berjalan dengan sukses? Kalau begitu bagaimana dengan para bajak laut?


"Kau tampak tertarik ya dengan perkelahian ini, bocah" ujar Loki yang sesaat melihat ke arahku.


"Yah soalnya jarang-jarang lihat dua anak dewa saling bertengkar, yang satu anak Zeus yang di dukung Athena satu lagi salah satu anak kesayangan Poseidon" jawabku dengan jujur dan senyuman. "Karena Athena dan Poseidon itu rival tidak heran kedua pemuda itu saling tidak menyukai satu sama lain secara tidak langsung" ucapanku benar, keduanya saling bertengkar hebat, meskipun tidak dengan perkelahian fisik keduanya saling berteriak dengan suara lantang.


Yah kalau diibaratkan seberapa serunya perkelahian ini..


Ini seperti melihat Poseidon dan Athena bertengkar secara langsung lewat anak-anak mereka..


Suasana benar-benar kacau, setidaknya sampai seorang pria berbadan besar dan tinggi memasuki ruangan, auranya yang begitu mengintimidasi dan menyeramkan berbicara "Tampaknya ada suatu keributan selama aku pergi ya" yang berhasil membuat pemuda bernama Alirrothios itu memilih berdecak kesal dan kemudian pergi begitu saja. Di kala kerumunan orang telah pergi Loki tiba-tiba turun dari tanganku.


"Lebih baik kau juga pergi, pria itu bukanlah manusia" aku tahu apa yang Loki maksud tapi aku tidak bisa membiarkan Perseus bertemu dengan Medusa lagi. Karena aku tahu cepat atau lambat Perseus akan tahu bahwa Medusa adalah monster, meskipun ia tidak mendapatkan perintah membunuh Medusa, bisa saja ia benar-benar akan membunuh wanita itu karena ia adalah seorang monster.


Aku mendekati kedua wanita itu dan membawakan sebuah sapu tangan "anda tampak sangat kesulitan, apa anda baik-baik saja?" Gadis yang menangis itu kemudian menerima saputangan ku, sementara wanita yang menutup matanya itu tampak memanggilku dengan kaget.

__ADS_1


"Kau.. Novan?"


"Senang bertemu denganmu lagi" sapaku dengan senyuman, meskipun tidak dapat melihatku aku tahu ia merasa tertekan dan kesal karena aku yang mengetahui identitasnya ada di sini.


"Alkippe!!"


Pria yang sebelumnya mengusir Alirrothios kemudian mendekati gadis itu dan memeluknya hangat "ayah!!" Gadis itu menangis di pelukan ayahnya, meluapkan semua rasa takutnya. Meskipun usianya telah terlihat dewasa, yang namanya seorang ayah pastilah akan tetap mempedulikan anaknya meskipun sang anak sudah dewasa. Sungguh momen yang mengharukan, tapi hatiku tidak tersentuh, melainkan jantungku berdegup kencang.


π΄π‘¦π‘Žβ„Ž?


π΄π‘™π‘˜π‘–π‘π‘π‘’ π‘‘π‘Žπ‘› π΄π‘™π‘–π‘Ÿπ‘Ÿπ‘œπ‘‘β„Žπ‘–π‘œπ‘ ? π½π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘Ÿπ‘–π‘Ž 𝑖𝑛𝑖..


𝑨𝒓𝒆𝒔, π’”π’‚π’π’ˆ π’…π’†π’˜π’‚ π’‘π’†π’“π’‚π’π’ˆ π’šπ’–π’π’‚π’π’Š?!


𝐷𝑖 π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘˜π‘–π‘ π‘Žβ„Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘’ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’, π΄π‘™π‘–π‘Ÿπ‘Ÿπ‘œπ‘‘β„Žπ‘–π‘œπ‘  π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘˜π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘ π‘œπ‘›π‘Žπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘‘π‘– 𝑑𝑖 π‘‘π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π΄π‘Ÿπ‘’π‘  π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π‘šπ‘’π‘™π‘’π‘π‘’β„Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž, π΄π‘™π‘˜π‘–π‘π‘π‘’. πΎπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑑𝑒 π‘Žπ‘π‘Žπ‘˜π‘Žβ„Ž π‘π‘Ÿπ‘–π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿ-π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿ π΄π‘Ÿπ‘’π‘ ? 𝑆𝑖 π‘‘π‘’π‘€π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” 𝑠𝑖𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 π‘‘π‘Žπ‘› π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π»π‘’π‘Ÿπ‘Ž 𝑖𝑑𝑒?!


Aku menatap pria itu dengan pandangan tak percaya, sosoknya yang kini ada di hadapanku benar-benar sangat berbeda dengan julukannya. Ia adalah seorang pria berambut merah dengan mata tajam pupil merah, setelan jas yang ia kenakan sangat membuatnya berwibawa, sementara tangannya yang terbalut sarung tangan menambah kesan bahwa ia adalah pria yang sopan dan dewasa.


π‘‡π‘–π‘π‘–π‘˜π‘Žπ‘™ π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘ π‘Žπ‘€π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘Ÿβ„Žπ‘œπ‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘‘!


π‘‡π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜, π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž β„Žπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘Ÿ! π·π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž 𝑖𝑑𝑒 π‘Žπ‘˜π‘’ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘€π‘Ž π‘€π‘’π‘‘π‘’π‘ π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘π‘’π‘Ÿ 𝑑𝑒𝑙𝑒!


Mataku menatap sosok Medusa yang mengenakan jubah tampak begitu kawatir karena mulai merasakan banyaknya orang yang berkerumun di sekitar sini. Meskipun jati dirinya adalah manusia, ia sadar ia adalah monster, dan ia tahu manusia akan merasa takut dan terancam bila melihat seseorang yang berbeda dengan kaum mereka, bisa saja Medusa akan di serang kapanpun.


"Apa kau baik-baik saja?" Aku mendekatinya dan berpura-pura bersikap seperti kerabatnya, dengan begitu tidak akan ada orang asing yang mendekatinya.


"Ayo kita pulang!"


Aku menarik tangannya dengan hati-hati dan kemudian berbisik "kita harus kabur" namun belum sempat kami keluar dari kerumunan orang Ares tiba-tiba memanggil kami.


"Tunggu kalian berdua!"


π‘Ίπ’Šπ’‚π’..

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2