
Udara dingin yang menusuk kulitnya berhasil membangunkannya dari tidur nyenyak ya. Seorang anak berambut biru dengan mata yang mengantuk terbangun dari kasur hangatnya, Novan kecil kemudian menengok ke arah pintu kamarnya yang kini terbuka.
Novan berjalan ke arah pintu dan hendak kembali menguncinya namun dari balik pintu itu seorang wanita berambut coklat pucat muncul dan tersenyum padanya. "Arin!" Novan berteriak senang dan sosok itu segera memberikannya isyarat untuk diam.
Dengan patuh Novan menutup mulutnya dan mengangguk, membuat sosok itu kemudian tersenyum senang dan menarik tangan Novan keluar dari kamarnya. Alih-alih disambut oleh lorong gelap yang suram, kini di depan mata Novan hanya ada hamparan hutan berwarna putih, di atasnya langit malam dipenuhi bintang terbentang luas.
"Selamat datang di Astral, Novan"
Sosok itu merubah wujudnya menjadi anak kecil berambut hitam dengan mata emas dan kemudian mengajak Novan berkeliling. Hutan putih yang bersinar dimalam hari dan sosok-sosok aneh yang muncul di mana-mana tak membuat Novan tahu untuk berlari menikmati pemandangan malam yang menakjubkan.
Sosok sosok menyeramkan di balik pepohonan tak berani untuk mendekat namun perlahan beberapa dari mereka kemudian mendekati kedua anak itu dan bermain bersama mereka.
"Tampaknya kau sangat suka bermain dengan hantu ya" suara seorang pria berjubah hitam dengan topi di atasnya tersenyum ke arah Novan.
"Bagaimana kalau kau tinggal disini saja?"
.
.
.
Novan kini mendapati dirinya terbaring di hamparan rumput hijau dan di bawah langit malam yang dipenuhi bintang. "Apa tadi itu... Ingatan yang aku lupakan?" Gumam Novan dan kemudian bangun.
"Ini bukan Ephemeral.. ini.. Astral?" Novan menatap pemandangan di sekelilingnya dengan mata bingung dan keheranan. "Bagaimana bisa aku ada disini... Apa yang terjadi-"
"Tenanglah nak, aku hanya mengundangmu karena aku merindukanmu" sebuah sosok yang Novan kenali kini duduk di atas sebuah kursi dan di depannya makanan ringan dan cangkir teh berisi air teh hangat tersaji dengan rapi. "Duduklah, ayo kita berbicara sebentar" Hopeless mempersilahkan Novan untuk duduk dan kemudian Novan menurut.
"Pasti kau bingung.. tapi juga merasa familiar dengan tempat ini, benar kan?"
"Sebenarnya.. apa yang terjadi?"
"Kau pasti mengingatnya kan? Masa kecilmu" Hopeless meletakkan cangkir tehnya dan kemudian menarik kertas yang menutupi wajahnya. "kau menghabiskan semua masa kecilmu disini" wajah pria itu tampak rupawan dengan tatapan tajam di wajahnya yang terlihat tegas dan di sisi bibirnya sebuah bekas luka terlihat.
"Jadi maksud anda, alasan saya menghilang dari 'kisah' yang seharusnya saya perankan adalah karena saya berada di sini? Apa itu artinya.. anda adalah seorang dewa?" Novan menatap Hopeless dengan mata curiga, sementara Hopeless hanya tersenyum lembut dan menyesap tehnya dengan tenang layaknya seorang ayah yang berhadapan dengan putranya.
"Ucapanmu tidak salah tapi tidak juga benar. Lebih tepatnya aku adalah mantan dewa"
"Mantan dewa? Maaf tapi saya tidak mengerti.."
__ADS_1
Pria itu tersenyum sekali lagi dan menatap ke arah bintang di langit. "Menurutmu dewa itu apa? Lebih tepatnya para konstelasi yang kalian sebut dewa itu sebenarnya apa?" Tanya Hopeless dengan mata yang memancarkan kehangatan dan kelembutan.
"... Sebuah eksistensi yang terbentuk karena sebuah kisah.."
"Tepat sekali.. begitulah kami hidup.. semakin kisah kami dikenal dan nama kami diingat maka semakin kuat keberadaan kami."
"Itu artinya apakah anda adalah dewa yang terlupakan?" Tanya Novan ragu.
"Tidak, lebih tepatnya aku seseorang yang sengaja dihapus oleh dunia.." mata pria itu menunjukan suatu kesedihan dan amarah di saat yang bersamaan. "Intinya sekarang aku tidak lebih dari sesosok jiwa tanpa identitas. Aku lah yang menjaga tempat ini, alam mimpi spiritual: Astral" ia tersenyum dengan penuh wibawa dan menatap Novan dengan hangat.
"Alam mimpi spiritual?"
"Ya, disinilah alam yang menjadi gerbang bagi setiap arwah untuk masuk ke dunia mimpi"
"Tunggu itu artinya ini adalah alam pembatas antara realita dan mimpi?!"
"Tepat sekali, begitu melintasi alam ini kau akan terbangun dari mimpimu. Tapi tentu saja apa yang sebenarnya terjadi tidak sesederhana itu, kau juga tidak bisa keluar dari dunia mimpi ini sekarang"
Novan menatap Hopeless dengan mata yang memancarkan sebuah kebingungan dan kemudian kembali bertanya "kenapa? Kenapa tidak bisa?".
Hopeless menghela nafas sejenak dan kemudian menatap Novan dengan tatapan serius " sebelum itu duduklah dulu dan minumlah, pasti kau haus" ucap Hopeless dan kemudian kembali melanjutkan kalimatnya "karena para dewa telah menutup pintu keluar dari dunia ini. Artinya tidak ada satu jiwa manusia pun bisa keluar dari alam mimpi untuk saat ini" jawabnya dengan tangan yang memegang cangkir tehnya.
"Novan, seperti yang sudah ku katakan tadi. Para dewa semakin kuat ketika banyak orang mengenal dan mengingat namanya, tapi dunia manusia sudah banyak berubah. Para manusia sudah tidak mempercayai dongeng lama dan eksistensi para dewa kuno. Semakin lama kekuatan para dewa juga semakin tidak bisa digunakan untuk mengendalikan dunia manusia..
"Mereka kemudian mencari cara lain untuk memenuhi rasa bosannya dan akhirnya mereka menemukan dunia ini, dunia mimpi. Tempat dimana para jiwa manusia yang tertidur singgah untuk sementara dan menyaksikan dunia khayalan yang terbentuk dari alam bawah sadar mereka.
"Dahulu dunia ini hanyalah sebuah dunia abstrak yang dipimpin oleh 4 orang dewa mimpi. Namun sekarang seperti yang kau tahu, semuanya telah di kendalikan oleh dewa dunia lain.." Hopeless meletakkan tehnya dan kemudian menatap langit dengan wajah sendu. Sementara itu Novan juga ikut meletakan teh yang ia minum.
"Kalau begitu.. apa yang terjadi pada para dewa mimpi? Bukankah Fobetor juga adalah dewa mimpi? Kalau begitu 3 dewa yang lainya adalah.. Morfeus, Fantasos dan dewa tidur, Hipnos ..?"
Hopeless tersenyum dengan pilu dan kesedihan dimatanya terpancar jelas.
"𝗦𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗶𝗮𝗱𝗮"
Novan membulatkan matanya dan saat itu juga sosok Fobetor dan Morfeus dalam dirinya terbayang jelas di pikirannya. Suara dan sosok mereka yang Novan ingat terbayang bagaikan gambaran yang terlihat terdistorsi.
"Tidak mungkin... Ta,tapi jelas-jelas Morfeus dan Fobetor masih ada-"
"Apa kau yakin mereka adalah sosok yang kau maksud? Bisa saja mereka bukanlah diri mereka yang asli.."
__ADS_1
Novan membeku diam dan keringat dingin keluar dari pelipisnya bersamaan dengan rasa sakit dan pusing yang menyerang kepalanya.
"Apa yang kau lakukan padaku?!"
Novan perlahan sadar bahwa ada sesuatu didalam teh yang ia minum dan pria bernama Hopeless itu hanya terdiam dengan senyuman. Ketika Novan berusaha mencengkram kerah pria itu sebuah ular muncul dari tanganya dan halusinasi menutupi pandanganya.
Kini yang Novan lihat hanyalah langit malam dipenuhi bintang dan ribuan suara tangis yang memilukan, seakan masa lalu yang menghantuinya kini semakin kuat. Dan suara pria itu seakan berbisik di telinganya.
"Apa kau yakin mereka yang ada di hadapan mu benar-benar sosok yang kau ketahui?"
"Sialan! Apa yang kau lakukan-"
"𝑵𝒐𝒗𝒂𝒏, 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒖 𝒍𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏.. "
Pandangan Novan perlahan berubah dan di hadapannya kini hanya ada hamparan mayat manusia. Sementara di atas mayat itu para dewa menatap dari atas langit dan kemudian 4 buah cahaya jatuh dari langit itu.
Di hadapan nya kini, Novan melihat Keempat dewa mimpi kehilangan kekuatan mereka. Dan dari kepingan kekuatan mereka itu kemudian gugur menjadi cahay yang menyebar ke segala penjuru, tawa terdengar dari para dewa dan bersamaan dengan itu suara Hopeless bergema di kepalanya.
"Perang antara dewa dan manusia dahulu telah mengugurkan mereka, kemenangan yang licik berpihak pada para dewa dan tanpa tahu malu mereka mengambil posisi kordinator mimpi dan memonopoli dunia ini. Para dewa membohongi keempat dewa mimpi, berkata bahwa manusia akan segera memberontak dan menghancurkan dunia mimpi ini.. namun kenyataannya itu hanyalah tipu muslihat untuk mengadu domba"
"Para dewa mimpi telah tertipu oleh fitnah dan mereka gugur menjadi kepingan energi yang tersebar di setiap penjuru alam mimpi"
"Kini tiada yang tersisa dari mereka kecuali kekuatan jiwa mereka..."
Novan melihat Keempat dewa itu menghilang dan seorang pemuda menggenggam satu kepingan dari kekuatan Morfeus. Lagi-lagi Novan melihat dirinya sendiri berdiri dengan tatapan mata yang kosong.
Dan kemudian ucapan Fobetor terdengar jelas di dalam kepala Novan.
"Kak Morfeus selalu merubah wujudnya, tidak ada seorang pun yang tahu dirinya yang asli, makanya saat aku merasakan auranya dari tubuhmu kupikir akhirnya kak Morfeus berhasil kembali dalam wujud manusianya"
Ucapan Fobetor terlintas dalam benaknya, tentang bagaimana dia tidak memiliki tubuh dan harus membuat perjanjian dengannya. Dan ketika ia mengingat sosok Morfeus yang terbaring dipeti mati membuat Novan kini tersadar.
Bahwa sejak awal keduanya bukanlah mahluk hidup ataupun jiwa tanpa tubuh. Melainkan mereka hanyalah kepingan kekuatan yang ditinggalkan oleh sosok asli mereka. Bahkan mungkin saja Fobetor tidak menyadari bahwa dia hanyalah kepingan kekuatan dirinya yang dulu.
Perlahan sosok Hopeless yang tersenyum muncul di hadapannya dan dengan senyuman ia mengangkat topinya, memperlihatkan kedua tanduk hitam yang ada di atas kepalanya.
"𝑱𝒂𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒓𝒂𝒔𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒑𝒖𝒕𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂𝒎𝒖?"
[Bersambung]
__ADS_1