
Kegelapan terbentang di bawah bayanganya layaknya kolam api yang siap menarik siapapun ke dalam kegelapan abadi. Matanya yang bersinar secerah lingkaran cahaya merah di kepalanya tampak seperti seorang malaikat yang telah menjelma menjadi iblis.
Wanita itu dengan ragu berjalan mendekat, suara teriakan terdengar dari kejauhan. Hera dengan wujud astral tampak mencoba mencegah wanita itu menggapai kegelapan. Namun alih-alih mundur ia semakin yakin melangkah ke dalam kolam kegelapan yang tercipta di sekitar kaki Novan. Tangan putihnya mengengam uluran tangan Novan dan ketika ia melihat kembali ke arah dewi Hera ia tersenyum.
"Lebih baik aku terjatuh daripada harus berada di atas penderitaan tiada akhir"
Semua yang Vivian impikan saat itu ia lepaskan, tak ada lagi harapan untuk siapapun. Ia sadar bahwa cahaya tak akan selalu ada untuk membimbing dirinya yang terpuruk, tapi kegelapan akan selalu hadir di manapun ia berada. Dan ia memilih untuk tak lagi menjauhi kegelapan itu.
Energi kegelapan Novan merasuki Vivian, mengubah mata nya yang berwarna biru langit menjadi Semerah darah. Sulur duri yang di tumbuhi mawar merah pada dirinya yang melambangkan ikatannya akan takdir yang Hera buat perlahan layu termakan kegelapan dan digantikan oleh mawar hitam yang dihinggapi oleh kupu-kupu hitam Novan.
Hera menatap keduanya dengan tatapan murka namun senyuman terbentuk di wajah Novan. "Tampaknya merpati kesayanganmu lebih suka terbang di kegelapan malam dari pada sangkar yang terang" ucapan itu membuat Hera geram.
"Beraninya manusia seperti kalian! Dasar tidak tahu terimakasih!" Tanaman mawar merah berukuran besar tumbuh di tanah dan sulur berduri ya bergerak ke arah Novan, siap menyerang keduanya. Namun sebelum benda itu mendekat lebih jauh tulang belulang Naga yang telah Novan kalahkan bergerak dan melindungi Novan dan Vivian.
Api hitam membara di sekujur tulang naga itu dan matanya memancarkan cahaya merah. Energi kegelapan Novan telah mengendalikan tulang-tulang itu menjadi rangka tubuh baru mereka. Api kegelapan membakar mawar raksasa itu dan membuat Hera kehilangan setengah kekuatannya karena terkontaminasi kegelapan.
"Tidak... Kekuatan macam apa ini?!"
__ADS_1
Energi gelap Novan terbuat dari para monster pemakan mimpi, dengan kata lain api yang membakar tumbuhan dan menyerang Hera tak lebih seperti energi yang dapat memusnahkan energi mimpi. Kini Novan tak lebih seperti monster pemakan mimpi yang memiliki kemampuan dan pikiran di atas para monster pemakan mimpi lainya.
Suara teriakan terdengar dari kejauhan, Hermes datang bersama dengan seorang pemuda dan segera mengajak Hera untuk mundur "dia bukan manusia! Kita harus mundur dan melaporkan semuanya pada dewa Zeus!" Saat Naga Novan hendak mengejar kedua dewa itu sebuah pedang cahaya yang di genggam oleh pemuda yang di bawa oleh Hermes langsung memotong sayap monster itu.
"Saya tidak tahu bahwa jadinya akan seperti ini, Tuan Novan"
Perseus menatap Novan dengan tatapan tajam yang diselimuti oleh suatu perasaan berat hati. Kedatangan Perseus yang dibawa oleh Hermes menegaskan bahwa alasan dewa itu membawa sosok pahlawan itu adalah agar ia bisa membunuh Novan —atau berkorban agar kedua dewa itu bisa kabur.
"Jadi begitu ya, sebagai ganti dari kepala Medusa, kau malah diperintahkan untuk memengal kepalaku?" Perseus tak menjawab, pedang dan perisainya ia genggam kuat-kuat.
"Tuan Novan, anda sudah tenggelam dalam kegelapan. Tolong sadarlah" ucapan Perseus yang dipenuhi kekhawatiran itu membuat Novan tertawa.
Pertarungan diantara keduanya tak dapat dihindari, kupu-kupu hitam diudara melebur membentuk belasan belati kegelapan yang melesat cepat ke arah Perseus. Pedang cahaya yang dimiliki Perseus mencoba menghalau mereka, benturan demi benturan antara senjata terus terdengar bersamaan dengan Perseus yang berlari kencang sembari menangkis semua belati yang mengarah ke arahnya.
Novan tidak bergerak dari tempatnya, tidak seperti dirinya yang selalu menghadapi lawannya dari jarak dekat. Kini Novan tampak mengendalikan belatinya dari kejauhan dengan baik, perlahan Perseus sadar ia pernah mengenali gaya serangan itu. Gaya serangan yang begitu mirip dengan milik Andi Akasa. Dan entah mengapa Perseus mulai berpikir.
'apakah anda sangat terluka karena kepergian saudara anda hingga masih mengingat teknik serangan mereka'
__ADS_1
Berawal dari belati yang terbang layaknya digerakkan oleh angin hingga panah kegelapan yang melesat dari segala arah. Perseus tahu semua itu adalah teknik keluarga Akasa. Belati yang terbang adalah teknik Andi Akasa, Panah kegelapan yang melesat dari segala arah adalah gabungan teknik Rian dan Abdi, sementara bayangan kegelapan yang bergerak di lantai bagaikan serangan cambuk yang digunakan oleh Nikolai. Semua teknik keluarga Akasa kini dapat Novan lakukan, sembari terdiam di tempatnya Novan sebenarnya membayangkan semua adik-adik kini bertarung bersamanya.
Namun ketika ia sadar bahwa itu hanyalah sebuah angan-angan ia menggertakkan giginya. Sebenarnya Novan tak terlalu memperhatikan pertarungan nya dengan Perseus, semua serangannya hanya didasari oleh insting dan pikirannya yang mengingat semua orang yang pergi dari sisinya. Kepala Novan terasa benar-benar penuh dan ketika ia mulai mengingat sosok seorang anak berambut cokelat pucat sebuah pedang cahaya sudah menembus dadanya dari belakang.
"Anda benar-benar sudah sangat kacau tuan Novan..." Kalimat itu keluar dari mulut Perseus yang kini mengeluarkan darah, baik ia atau Novan keduanya bagaikan dua tokoh yang dipaksa untuk saling berlawanan. Bersamaan dengan pedang cahaya milik Perseus yang menusuk punggung Novan, sekujur tubuh Perseus sudah dipenuhi oleh luka akibat pertarungan antara mereka.
"Kau seharusnya tidak mendekati ku, Perseus"
Kegelapan di bawah kaki Novan perlahan melahap tubuh Perseus dan pedang cahayanya. Kini pedang itu benar-benar tercabut dan hilang ke dalam kegelapan sementara Perseus kini hampir terjatuh namun Novan menahanya. "Sampai akhir kau tetap tidak menyerah ya... Padahal kau bisa membunuhku saat ini juga. Tapi kenapa kau ragu?" Perseus tak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Berhentilah berpura-pura bodoh-" ucapan Novan kemudian terpotong.
"Apa anda tahu, semua orang memanggil saya dengan nama itu. Tapi saya tahu itu bukanlah nama asli saya... Entah diputaran saya sebelumnya atau selanjutnya, saya akan terus menjadi 'Perseus' dan sebanyak itu juga saya harus melaksanakan tugas dari dewa padahal saya tak ingin melakukannya...
"Tapi ketika anda membuat Medusa berada di pertarungan yang sama dengan saya.. itu menyadarkan saya bahwa seharusnya saya yang membuat kisah saya sendiri bukan terus berperan sebagai tokoh pahlawan yang dikirim oleh dewa.. tapi kini semuanya terlambat... Tak ada lagi cara kembali, maka dari itu. Saya rasa mati di dalam genggaman kegelapan anda akan jauh lebih tenang.... jadi tolong..."
"Buat saya menjadi bagian dari kegelapan yang tenang itu"
__ADS_1
...[Bersambung]...