
Gelombang Kemarahan dewa, atau bisa juga disebut sebagai bencana yang akan menerjang seluruh dunia mimpi. Bencana ini adalah sebuah skenario yang para dewa buat setiap lima abad sekali, tujuan dari di gelombang itu selain untuk hiburan para dewa juga adalah salah satu upaya menyaring para jiwa yang berpotensi menjadi penyebab sebuah perang terutama memusnahkan para 'orang asing' seperti Arin dan Novan yang tidak terpengaruh oleh aturan dunia itu.
Gelombang pertarungan yang diisi oleh monster memiliki tujuan untuk membunuh umat manusia yang berada dalam puncak kejayaannya ataupun hanya untuk merusak sumber daya alam dunia yang dapat manusia manfaatkan. Dan ketika paar manusia dilanda dalam keputusasaan hanya ada dua jalan bagi mereka.
Memohon dan kembali menyembah para sosok yang mereka panggil para dewa atau terjun dalam maninya nikmat neraka bersama iblis. Akan ada banyak monster berkeliaran dan nyawa berjatuhan, diantara semua nyawa itu para dewa akan menyaring mereka menjadi tiga kelompok, yang pertama adalah manusia favorit para dewa, manusia yang tak bersalah dan para manusia penghianat.
Para manusia favorit dan tak bersalah akan dikirim ke belahan dunia mimpi yang lain, sementara itu tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada para penghianat.
Setidaknya itulah yang Novan ketahui.
"para dewa pasti sudah merasa terancam karena menyadari ada orang yang teah membantu dua calon raja iblis untuk menguasai satu bagian dunia ini, kita harus bersiap bila terjadi hal yang diluar perkiraan kita" Ucapan Morfeus membuat Mammon dan Leviathan mengangguk setuju.
"Mungkin Loki, indra dan Retna juga akan merasa terancam.."
"Maksudmu Mereka akan membuat Nikolai, Rian dan Dian berkhianat?"
"Tidak mereka memang harus berkhianat"
"Eh?"
.
.
.
Sementara itu di sebuah taman yang dipenuhi oleh mawar biru Dian dan Dewi Ratna "putriku, dengarkan aku untuk kali ini saja" Dewi cantik itu tampak begitu cemas. "Kau harus mengabulkan permohonan ku ini atau kalau tidak aku akan kehilanganmu" Dian yang telah mencoba menghindari 'suara' Dewi kini benar-benar tidak bisa pergi, ia kini hanya terdiam dan membuang mukanya ke arah lain.
"Bencana akan datang" namun ketika Dewi itu mengatakan bencana, Dian lantas menatapnya dengan tatapan pucat.
"Bencana..? Kapan?"
"Aku juga tidak tahu pasti putriku.." Dewi itu mendekati Dian dan menatap gadis itu penuh dengan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu "kau harus menuruti ku, dengan begitu para dewa lainya tidak akan mengecap mu sebagai penghianat... Kumohon.."
__ADS_1
Disisi lain Loki dan Nikolai juga tampak saling bertatapan, wajah Loki kini tampak begitu kawatir dan tegang "ini demi dirimu juga, Nikolai..." Sama seperti yang Dewi Ratna katakan, kini Loki juga tengah mengajak Nikolai untuk menjalankan 'tugas' terakhir mereka sebelum bencana datang.
"Dan anda meminta saya untuk menghianati kakak saya sendiri?!" Suara Rian terdengar begitu kesal saat Indra datang menemuinya dan memintanya untuk menghianati Novan.
"Dengar Rian, aku mengatakan ini agar kau selamat. Apapun itu tidak masalah tapi saat bencana tiba kau tidak boleh berada di pihaknya. Dia adalah monster, dialah penyebab dari bencana ini-"
"Dan kalian para dewa yang membiarkanya begitu saja? Hanya karena kak Novan? Apa itu masuk akal?!" Bentakan Rian membuat Indra terdiam sejenak dan dengan tatapan yang putus asa ia menepuk pundak anak yang baru beranjak remaja itu.
"Terkadang ada sesuatu yang lebih baik tidak kau ketahui... Saat ini dunia mimpi harus kembali 'dimurnikan' dari orang-orang seperti Novan"
"Apa sebenarnya maksud anda..?"
"Orang-orang yang menginginkan kehancuran dunia ini"
Mata Rian membulat dan wajahnya menjadi sangat syok "mustahil... Kak Novan bukan orang sekejam itu..." Ucapan Indra terdengar seperti sebuah fakta yang begitu menusuk diri Rian.
"Rian, mungkin kau menyayangi nya karena dia kakak yang paling kau sayangi. Tapi bukankah dia sudah menghilang 10 tahun lamanya? Lantas apakah kau yakin ia benar-benar kakak mu yang asli dan tidak dipengaruhi oleh iblis?" Rian kini membeku di tempat dan Indra melanjutkan kalimatnya "kegelapan itu, aura dan sikapnya yang begitu hitam. Manusia biasa tidak akan memiliki energi seperti itu, Rian".
"Dia bisa saja akan menghancurkan dunia ini bersama para pendosa lainya... Bukankah kau tidak mau melihat rumah kita hancur?"
Ditengah gejolak itu dunia atas juga tengah dilanda oleh sebuah ketegangan yang hebat. Zeus duduk di takhtanya dan ia menatap semua dewa yang hadir pada pertemuan itu, matanya kemudian menatap ke arah Hopeless sesaat seakan terjadi tatapan tajam diantara keduanya sebelum kemudian ia mengalihkan pandangan nya ke arah Nanaru yang tampak begitu kacau dengan mata yang kosong.
"Apa yang terjadi padamu Nanaru?" Nanaru tersentak untuk sesaat dan kemudian menunduk hormat.
"tidak maafkan saya, saya hanya... Sepertinya melupakan sesuatu yang penting" Nanaru tampak begitu pucat, bukan karena Zeus tapi karena ia mencoba semakin mengingat ingatan tentang Arin. Semua ingatan tentang Arin telah sepenuhnya dihapus pada pikiran semua orang kecuali Hopeless dan Protogonos sendiri.
"Aku harap itu tidak akan menganggu kinerjamu dalam misi kali ini" ucap Zeus dan kemudian Nanaru mengangguk patuh, dewa-dewi lain mulai berbisik dan menertawakan nya.
"Lihatlah, dia benar-benar tampak seperti anjing yang telah dijinakkan" beberapa menganggap Nanaru sebagai peliharaan yang begitu lucu.
"Itulah akibatnya bila menantang dunia atas bukan? Seharusnya ia lebih bersikap hormat lagi. Berkat kita dia masih hidup meskipun dia telah melakukan dosa besar" sementara yang lainya menatap rendah pemuda setengah dewa itu layaknya melihat serangga.
"Aku puas melihat orang yang dahulu selalu berjuang melawan kita demi nama kemanusiaan kini malah tunduk pada kita. Aku sudah tidak sabar menanti anjing selanjutnya" ucapan Hermes tiba-tiba membuat seluruh ruangan menjadi hening sejenak sebelum suara bisikan menjadi semakin jelas terdengar, sudah pasti orang yang mereka maksud adalah para manusia pembangkang seperti Novan.
__ADS_1
"Diam" suara dewa Hades membuat para dewa lain kini menjadi tenang "saya harap anda sekalian bisa paham bahwa ini adalah rapat yang penting" mata unggu nya menatap lurus ke arah semua dewa di ruangan putih itu.
"Dewa dunia bawah Yunani benar, kita harus memikirkan dengan baik bagaimana cara kita memberikan pelajaran pada para manusia itu" Odin akhirnya mengangkat suara dan seluruh dewa Nordik kemudian mengangguk setuju.
"Untuk itu aku ingin menugaskan seseorang untuk memimpin bencana ini, akan ada sekitar dua dewa yang akan memimpin bencana ini di dua tempat. Comfort dream dan Nightmare" sebuah tangan kemudian terangkat dan semua pandangan para dewa langsung terarah ke arah sang pemilik telapak tangan berkulit gelap itu.
"Bagaimana kalau Ares saja?"
"Ini tidak seperti dirimu yang biasanya. Bukankah kau selalu ingin mendapatkan giliran ini, Seth?" Mendengar namanya disebut oleh dewa kegelapan dan kekacauan Mesir kuno membuat Ares kemudian bertanya dengan heran. Keduanya memang sudah sering berdebat akan masalah ini dan biasanya Seth lah yang paling menginginkan menghancurkan dunia itu.
"Kenapa tidak kalian berdua saja?" Hopeless tampak tersenyum dan kemudian menatap ke arah Hades "saya yakin dewa Hades tidak ingin mengotori tanganya sendiri kan?" Senyuman terbentuk tipis di bibir Hades dan ia mengangguk sekaan setuju dan mengerti maksud Hopeless.
"Kalau begitu kita putuskan begitu saja" ucapan Zeus mendapatkan tanggapan yang positif dari semua dewa disana. Baik Odin, Wisnu dan pemimpin dewa dari mitologi lainya setuju tapi hanya ada satu dewa yang tak menyetujui itu.
Seorang dewa dari kalangan para dewa abstrak kini hanya terdiam menatap seluruh dewa. Wajahnya ditutupi oleh topeng yang menunjukan mata yang melengkung ke bawa seperti tersenyum namun juga ada bercak tangisan darah yang terbentuk di topengnya. Ialah perwakilan dari semua dewa abstrak yang tak menginginkan rapat itu, seperti yang Hopeless ceritakan pada Novan para dewa abstrak tak menganggap diri mereka sebagai dewa yang memiliki hak mengatur dunia, mereka lebih suka melihat dan membantu manusia dari bayangan.
Di sekelilingnya bintang-bintang berterbangan, tubuhnya tertutup oleh jubah dan dari balik jubah itu bayangan hitam terlihat seperti tentakel bergerak. "Tidak bisakah kalian memilih opsi lain selain bencana ini? Rasanya cara ini kuno sekali" kritik pedasnya itu menggema di seluruh ruangan dan tidak ada dewa yang berani membalas.
"Compassion misery, apa anda punya pendapat lain?" Hopeless bertanya dengan sopan namun sosok itu menghela nafas sejenak dan menggeleng.
"Aku hanya berharap kalian tidak keberatan aku berpartisipasi" suaranya terdengar begitu senang "dengan begitu mungkin aku akan membuat bencana ini menjadi sedikit lebih menarik" meskipun begitu semua dewa tahu bahwa ia merencanakan sesuatu.
Ia adalah dewa yang misterius dan suka melihat manusia sengsara, namun ketika ia telah puas maka ia akan membantu manusia itu dengan cara memberikan berkah pada manusia-manusia itu. Para manusia mengenalnya dengan berbagai nama karena dia memang tak memiliki nama yang pasti, namun satu julukan yang disepakati oleh semua dewa adalah 'Compassion Misery' yang berarti belas kasih kesengsaraan.
"Ayolah kalian tidak keberatan kan?"
"Atau kalian takut dewa rendahan seperti ku melakukan sesuatu?"
"Apa alasan anda tertarik dengan bencana kali ini?" Hermes bertanya dengan tatapan bingung.
"Bukan sesuatu yang spesial, aku hanya merasakan ada manusia yang memiliki energi kesengsaraan yang amat kuat" Compassion Misery menatap ke arah Hopeless dan Hades dan dari balik topengnya ia tampak tersenyum seakan ia tahu apa yang kedua dewa itu sembunyikan. Seakan Compassion Misery tahu akan rahasia kutukan Novan.
"Bukankah tebakanku benar?"
__ADS_1
...[Bersambung]...