Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
73. Bencana


__ADS_3

Beberapa waktu sebelum Novan bangun...


"Jadi kalian ditugaskan untuk mengintrogasi manusia ini?" Seth bertanya ke arah tiga orang dewa dari mitologi yang berbeda. Hermes tampak mengangguk begitu juga Hemdall, sementara itu Hopeless tampak terdiam. "Oh aku mengenalmu, kau dewa yang menjaga jalur kereta kegelapan kan? Ini pertama kalinya kita bertemu ya" tatapan Seth menatap ke arah Hopeless yang wajahnya tertutup oleh kegelapan dari bayangan topinya.


"Entahlah, mungkin pertama kalinya untuk anda" senyuman terbentuk di bibir Hopeless dan ia melanjutkan kalimatnya "sayangnya bukan saya yang akan ikut mengintrogasi anak ini-"


"Kau dewa yang unik, memanggil manusia dengan sebutan 'anak'. Apa kau mengenalnya?" Pertanyaan Seth yang diluar dugaan itu membuat Hermes dan Hemdall menatap ke arah Hopeless dengan tatapan yang penuh rasa penasaran namun terasa mencekam. Sementara itu Seth tampak tersenyum, seakan-akan ia hanya salah bicara dan mencoba memberikan kode para Hermes dan Hemdall bahwa ada yang tidak beres.


"Mana mungkin" namun sekali lagi reaksi Hopeless tak sesuai dengan ekspektasi Seth. Mantan dewa tidur itu kini malah tersenyum dan kemudian berjalan mendekati Seth sambil berbisik "lebih baik anda khawatirkan saja pilihan anda dalam bencana kali ini. Jangan menggonggong seakan kau benar-benar seekor hewan buas, dewa kehancuran" dan kemudian Hopeless pergi menyatu dengan kegelapan, meninggalkan Seth yang kini tampak benar-benar kesal.


Hopeless kini menginjakkan kakinya di sebuah kereta yang terus melaju ke setiap sisi dunia mimpi, kereta yang dahulu menjadi titik awal dari perjalanan Arin dan Novan itu tampak tak jauh berbeda dengan yang dulu. Suara mesin yang terdengar perlahan melambat dan kereta akhirnya berhenti di sebuah tempat yang di kelilingi oleh pepohonan berwarna pink dan langit indah yang dihiasi oleh awan-awan yang bertabur bintang. Tak ada saat yang bisa menggambarkan tempat itu, bukan pagi, bukan siang maupun sore atau malam, seakan waktu tak berjalan' di tempat itu.


Tempat yang selalu berubah mengikuti keinginan penghuninya, Ephemeral atau dikenal dengan nama alam Lucid dream. Dahulu itu adalah tempat para manusia mengendalikan mimpi mereka, satu-satunya tempat yang dapat mereka jadikan pelarian dari realita. Namun kini alam yang begitu besar itu tak memiliki satupun penghuni karena para dewa selalu menyeret manusia ke dalam alam mimpi lain seperti comfort dream atau nightmare.


Hopeless menginjakkan kakinya pada rerumputan dan kemudian ia berjalan menuju ke suatu tempat, semakin ia berjalan lebih jauh semakin ia lihat alam yang indah perlahan tampak gersang dan suram. Suara tawa anak-anak yang memiliki sosok yang buram berlarian dimana-mana dan tepat di tengah semua itu seorang pemuda tampak berdiam seorang diri, Nanaru kini tampak sangat kacau setelah memorinya tentang Arin terhapus. Seakan ia kehilangan setengah kesadarannya sendiri.


Hopeless tahu sepanjang waktu Nanaru hanya mencari anak itu, mencoba untuk mengali pikirannya sendiri untuk menemukan 'sosok anak' yang selalu ia sayangi. Namun sekeras apa ia mencari hanya jalan buntu yang ia temui. "Kau tampak sangat kacau, dewa informasi" suara Hopeless membuat Nanaru meliriknya sesaat.


"Padahal ini bukan kali pertama aku melihatmu seperti ini, tapi tetap saja ini menyedihkan"


"Haha.. jadi... Apa 'diputaran anak itu' sebelumnya pun aku seperti ini?" Nanaru bertanya dengan suara gemetar. Pertanyaan menjelaskan bahwa sejak awal ia mengetahui Novan, bahkan sejak awal ia bekerjasama dengan Hopeless dalam membimbing Novan pergi selama ini. Tapi bukan hanya diputaran kali ini, melainkan sudah sejak dahulu saat Novan menginjak putaran pertamanya.


Keduanya perlahan berjalan bersama ke suatu tempat dimana sebuah gunung menjulang tinggi. Namun sebenarnya di balik sana sebuah menara yang tak terpengaruh oleh waktu dan takdir berdiri. Menara yang menjadi alasan Hopeless bisa terus mendapatkan ingatannya kembali disetiap putaran Novan. Menara itulah tempat kedua dimana semua 'data diri' Novan tertulis. Dan orang yang menulis semua informasi itu tak lain adalah Nanaru di setiap putaran kematian Novan, dengan harapan bahwa suatu hari dirinya atau Hopeless di masa depan mengingat setiap informasi yang ia kumpulkan.

__ADS_1


Hal yang membedakan antara Hopeless dan Nanaru adalah Nanaru tak mengingat semua putaran itu dan ia tak mau membaca informasi yang 'dirinya yang dilu' tinggalkan, tapi hatinya selalu tahu bahwa ia harus membantu Novan apapun yang terjadi. Dan Nanaru tak pernah menentang apa yang hatinya katakan selama ini kecuali saat ia mendapatkan perintah dari para dewa.


"Dewa Hipnos, tolong katakan... Bahwa ini adalah yang terakhir kalinya. Tolong katakan, saya bisa pulang..." Nanaru bertanya apakah ini adalah terakhir kalinya ia akan merasa menderita, apakah putaran Novan akan benar-benar berakhir dan ia bisa kembali ke dunia nyata. Menjadi manusia biasa seperti dahulu.


"Semua tergantung pilihanmu dan Novan"


"Nanaru aku tahu ini sulit bagimu tapi untuk terakhir kalinya, bantulah Novan"


.


.


.


Bencana terjadi dimana-mana, air laut bergelora membawa para monster ke daratan dan dari pegunungan para monster turun dan menghancurkan perkotaan. Pilar keamanan yang di rancang oleh Valas dan para penyihir berbakat kerajaan terlihat membuat sebuah tembok sihir yang dapat melindungi para warga.


"Kalian monster rendahan!" Pasir emas menerjang kelompok monster itu dan mencabik-cabik mereka, Mammon melindungi para manusia yang ada di sekitarnya bersama dengan Kanz. "Sial... Leviathan apa kau mendengar ku?! Dimana Novan?!" Mammon mengaktifkan alat komunikasi miliknya dan berbicara pada Leviathan.


Sementara itu di pantai Utara Leviathan membekukan air lautan demi membuat sebuah tembok es yang begitu besar agar mencegah tsunami yang membawa para monster untuk menerjang kota. "Aku tidak tahu, aku sangat sibuk disini!" Tangan Leviathan tampak membeku dan di bawah kakinya es yang begitu dingin dan tebal terbentuk.


"Dimana Morfeus dan Fobetor?!" Tanya Mammon.


"Mereka berpencar ke tempat lain, tampaknya mereka juga mencari Novan"

__ADS_1


"Sial, apa ini juga ulah para dewa?! Kalau begitu bagaimana cara kita menghadapi ini-" ucapan Mammon terputus saat sebuah trisula emas melayang hampir mengenai Leviathan,


membuat alat komunikasi Leviathan kini rusak.


Leviathan menatap ke arah lautan, tempat dimana seorang dewa tampak menatapnya dengan tatapan tajam. Poseidon mulai mengarahkan para bawahannya untuk menembus dinding es, sementara para bawahan Leviathan terus bersiaga di balik dinding es. "Sial.." beberapa retakan terbentuk dan dari sana monster ganas mulai muncul dan menyerang para duyung dan monster bawahan Leviathan.


Sementara itu Mammon kini tengah sibuk melawan Ares. Pasir emas dan api yang begitu panas saling berbenturan, membuat pasir emas Mammon terkadang meleleh. Sementara kedua dewa itu menahan iblis tingkat tinggi yang berada di pihak manusia, Seth memimpin para monster ke seluruh penjuru alam dunia mimpi, menciptakan banyak nyawa hilang dan kehancuran bagi segala ras.


.


.


.


Saat novan kini menatap ketiga dewa yang ada di hadapannya dengan tatapan tajam. Senyuman merendahkan terbentuk di wajah kedua dewa di depannya. "Kebetulan dia sudah bangun, bagaimana kalau kita interogasi langsung saja?" Sebuah rantai emas muncul dan mencoba memborgol tangan dan tubuh Novan. Namun percikan cahaya dari Bros mawar putih di dada Novan membuat rantai itu seketika hancur.


Novan sadar bahwa itu adalah kemampuan Fantasos yang kini menyamar menjadi Bros miliknya. Kini Novan tidak boleh membiarkan Fantasos ketahuan. "Sayang sekali saya tidak berminat mengatakan informasi apapun" sebuah belati merah muncul di tangan Novan dan ia melemparnya ke arah Hemdall namun kemudian Hermes menendang belati itu sebelum mengenai Hemdall.


"Kau ini bodoh atau apa?" Hermes terbang dan muncul di belakang Novan "aku tidak butuh izin darimu untuk mendapatkan informasi dari mulutmu" senyuman terbentuk di wajahnya saat ia menunjukkan Bros mawar putih yang kini ada di tanganya membuat Novan seketika sadar bahwa dewa itu berhasil menipunya sesaat dan mencuri Bros mawar putih miliknya.


"Karena aku bisa memperkirakan masa depan dan merebut semua yang kau miliki"


...[Bersambung]...

__ADS_1


__ADS_2