
Angin yang sejuk berhembus diantara dedaunan pepohonan. Di dalam sebuah hutan yang luas dan lebat Fobetor tampak duduk disebuah dahan pohon besar, sejauh mata memandang hanya ada dedaunan dan beberapa buah-buahan segar dan beberapa mahluk mistis yang indah. Mata oranye miliknya menatap ke setiap penjuru dan ketika ia sadar tak ada ancaman ia pun menghela nafas.
"Ini sudah tiga hari. Tampaknya tidak ada pemburu lagi... Aneh sekali aku sendiri yang diberikan pekerjaan kotor seperti ini" Fobetor membuka jam saku pemberian Novan, senyuman sedikit terlihat diwajahnya setiap kali ia melihat jam itu. Tampaknya ia begitu menyukai hadiah barunya.
Sama seperti Mammon dan Leviathan, Fobetor juga menjalankan sebuah misi dan misi itu adalah mengawasi hutan besar yang berada tepat di perbatasan dunia, meskipun dibilang mengawasi lebih tepatnya ia diminta untuk menjaga hutan itu dari manusia yang memiliki niat jahat.
Awalnya Fobetor tak mengerti namun begitu ia bertemu dengan para penjual budak yang tengah menculik para hewan dan elf di hutan itu ia akhirnya mengasumsikan bahwa tugasnya adalah memusnahkan semua pengganggu yang mencoba menyentuh hutan.
Satu kelompok manusia mati dan yang lainya terus datang menangkap para elf lain, hingga akhirnya kini telah ada empat kelompok manusia yang Fobetor hancurkan dan usir dari hutan itu. Tak ada keraguan dalam setiap tebasan pisaunya, tak ada ampunan dalam setiap ucapan yang ia ucapkan, yang terlihat hanyalah kemarahan dan kebencian dimatanya.
Fobetor adalah mantan dewa mimpi buruk, 90kematian, darah, dan penderitaan sudah bukan hal yang aneh dan asing baginya. Namun entah mengapa sejak ia membangun kontrak dengan Novan, perasaan yang bernama empati muncul di dalam dirinya. Empati itulah yang membangkitkan amarahnya setiap kali melihat seorang elf menangis dan terluka.
"Aku akan membantumu kabur..."
Ucapan itu terucap begitu saja dan tanganya terentang pada setiap mahluk yang terluka oleh para manusia pemburu. Dan itulah awal dari pembantaian yang Fobetor lakukan, ia tak menyesali perbuatannya karena ia tahu manusia itu akan terlahir kembali diputaran selanjutnya dan ia sadar bahwa para manusia itu memang ditakdirkan oleh para dewa untuk menjadi ancaman bagi para Elf.
Kenyataan itu semakin membuatnya marah bahkan kini ia tak pernah menganggap dirinya lagi sebagai seorang dewa. Dunia yang telah dahulu ia, saudaranya dan ayahnya pimpin kini benar-benar seperti penjara untuk manusia dan hanya sebuah kisah klise yang ditulis seseorang dan terus terulang.
Fobetor menghela nafas dan kemudian turun ke arah tenda yang telah ia buat, disana seorang penyihir dari pasukan kediaman Akasa tampak keluar dari tenda "oh selamat datang kembali tuan Novan" Fobetor mengangguk dan kemudian matanya mengarah ke sebuah keranjang buah yang ada di dekat tenda mereka.
"Nik, apa Kaleid yang membawa buah-buahan ini?" Fobetor berjalan mendekat dan kemudian melihat buah segar itu.
"Tidak haha itu aku mengintip dari dalam tenda dan menyadari bahwa beberapa Elf hutan meletakan keranjang itu disini" Fobetor mengangkat alisnya heran dan kemudian membawa kerajaan buah itu.
"Mereka meninggalkan nya begitu saja? Sepertinya aku harus mengembalikannya-" tepat sebelum Fobetor melangkah ia kemudian di cegah oleh Nik.
"Tidak bukan begitu! Mereka pasti meninggalkan nya sebagai ucapan terimakasih!"
"Terimakasih? Untuk apa?" Fobetor tampak kebingungan, ia sama sekali tidak mengerti. Biasanya memang manusia akan memberikan sesembahan untuk para dewa sebagai balasan atas kebaikan para dewa dan rasa syukur manusia tapi elf bukanlah manusia. "Kenapa mereka memberikan kita ini? Bukankah ini aneh?" Fobetor kini memang manusia tapi ia tak mengerti sama sekali tentang hubungan antar manusia bahkan mahluk sejenisnya. Karena sejak awal tubuh asli Fobetor adalah monster yang mendiami Nightmare jadi ia tidak perluh pusing belajar memahami mahluk hidup.
"Kau kan sudah menolong mereka! Sudah pasti mereka menerimamu dan memberimu hadiah!"
__ADS_1
"Kalau begitu kau juga sama saja kan?" Jawaban Fobetor diluar perkiraan Nik, kini keheningan melanda diantara keduanya dan angin sejauh berhembus menerpa dedaunan hijau "kau juga membantu mereka, mereka juga pasti menerimamu kan?" Wajah Nik terlihat sendu dan senyuman hilang dari wajahnya.
"Haha mana mungkin... Aku ini hanya elf buangan" sadar bahwa Fobetor membuat Nik sedih ia pun kemudian meminta maaf namun Nik menggelengkan kepalanya dan mulai menceritakan sesuatu. Bersamaan dengan itu sore tiba dan hutan yang lebat kini bermandikan cahaya emas sang mentari sore, dedaunan masih berguguran seiring angin berhembus dan suara burung yang terbang membentuk formasi di angkasa terdengar begitu jelas bersautan dengan burung yang bersembunyi di pepohonan.
Api unggun dinyalakan dan Nik mulai menceritakan masa lalunya, awal dari ras buangan seperti dirinya bisa berada di kediaman Askara.
.
.
.
"Bukankah dia itu pangeran elf yang diusir karena memiliki kekuatan sihir?" Novan bertanya kearah seorang pemuda yang tampak memegang sebuah belati. Andi kemudian menatap Novan dan mengangguk. Di sisi lain kediaman Askara tampak begitu sepi dan lentera menyala dimana-mana, di sebuah lapangan latihan berubin batu Andi dan Novan tampak ingin berlatih.
"Iya, aku yang membawanya kesini" angin mulai menyelimuti belati milik Andi dan kemudian ia melemparkan belatinya ke arah apel yang ada di atas boneka target, belati itu tertancap sempurna namun kerutan muncul di dahi Andi. "Gagal lagi.." ia kemudian mengerakkan tanganya, membuat angin yang menyelimuti belati itu menarik belati itu kembali ke tanganya.
"Oh kemampuan mu sudah berkembang ya" Novan tampak tersenyum dan bangga akan perkembangan kekuatan angin Andi, terakhir kali anak itu hanya dapat menggunakan anginnya tanpa senjata, dan sekarang anak itu kini bisa mengendalikan senjata dengan anginnya.
"Tidak, aku mau seperti kakak"
Mata Novan melebar dan ia mengedipkan matanya beberapa kali "apa?" Namun Andi tak menjawab ia kembali melemparkan belatinya dan sekali lagi belati itu berhasil menusuk apel lainya. Kesal karena tidak mendapatkan jawaban Novan ikut melempar belatinya dan belati itu kemudian melesat cepat dan membelah buah apel itu menjadi dua bagian, apa yang tak bisa Andi lakukan dilakukan oleh Novan dengan mudahnya tanpa mengunakan energi sihir maupun aura kekuatan.
"Kalau ada yang bertanya kau harus menjawab"
"Kakak juga tidak menjawab pertanyaan saya terakhir kali.." Andi tampak memasang wajah tak senang.
"Pertanyaan? Soal siapa wanita berambut pirang yang datang setiap Minggu? Soal Kinan?" Andi tak menjawab, seakan ia kini tengah merasa kesal dan tak ingin melanjutkan pembicaraan itu "kau ngambek?!" Novan menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya, Andi yang terkenal dengan sikap ramah dan selalu tersenyum kini tengah merajuk.
Andi adalah anak yang cenderung menyembunyikan perasaannya, ia terus hidup dibawah bayangan saudari kembarnya dan lebih nyaman untuk tidak menunjukan wajah aslinya. Setiap kalimatnya, setiap tindakannya bahkan setiap gerak-geriknya bisa saja hanyalah tipuan yang ia buat. Namun Novan adalah orang yang telah mengenal Andi diputaran kelima, ia tahu kapan anak itu berbohong dan kapan anak itu jujur.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi, jadi ceritakan siapa Nik ini. Tampaknya ia adalah penyihir kebanggaan kita dan sahabat Kaleid"
__ADS_1
Andi menghela nafas dan mulai mengatakan apa yang telah terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu. Tepat pada saat ia pertama kali bertemu dengan Nik di sebuah pelelangan budak.
.
.
.
Saat itu usiaku mungkin baru 14 tahun, dan aku pergi ke tempat pelelangan diam-diam bersama saudari kembarku, Dian. Sejak kecil dia memang adalah seorang jenius, pikirannya bisa seperti orang dewasa dan sikapnya benar-benar sempurna layaknya telah terbiasa dengan budaya bangsawan tidak seperti ku dia lebih bisa menjaga dirinya, maka dari itu aku selalu mengikutinya.
Disuatu malam saat pelelangan dimulai kami melihat benda-benda unik yang dilelang, hingga tibalah kami pada pengunjung acara. Seorang anak bertelinga elf dengan rambut hijau panjang tampak terkurung dalam sangkar.
"Dia adalah keturunan dari raja elf, anak ini adalah bintang utama dalam sesi pelelangan hari ini. Elf biasanya adalah mahluk yang dekat dengan alam dan mengendalikan kekuatan alam, namun anak ini memiliki aura sihir di dalam jantungnya! Bila kalian merawatnya dengan baik ia bisa menjadi seorang penyihir!"
Dian terus menatap anak itu kemudian menggeleng, seakan kecewa dengan sesuatu, itu adalah barang lelang terakhir dan kami tidak membeli satupun barang, karena memang tujuan kami kesana bukanlah untuk membeli barang-barang gelap.
"Hancurkan semuanya, buat tempat ini diterjang oleh badai dan jangan biarkan ada yang tersisa" itulah perintah eksekusi pertama yang Dian berikan.
Angin ku menerjang setiap tempat layaknya badai dan menghancurkan semuanya, seharusnya aku tidak bisa melakukan ini tapi ada alasan mengapa aku bisa bertahan di keluarga Akasa, itu karena aku dalam monster yang dapat menghancurkan semuanya. Aku lah anak yang diberkati dengan angin dari langit. Anginku berhasil menghancurkan semuanya hingga tersisa satu kandang berisi Elf yang tadinya ku lihat.
Mata kami saling bertemu dan entah mengapa aku tidak bisa membiarkanya, itulah kali pertama aku memutuskan untuk membuat keputusanku sendiri. Aku membawa anak itu ke kediaman Akasa dan Dian membantuku mendapatkan izin dari kepala keluarga. Aku pikir setidaknya ia akan bisa bertahan ditempat ini namun ia belajar terlalu cepat, anak yang tingginya tak lebih dari pundakku kini tumbuh begitu besar dan jenius, menjadikanya satu-satunya penyihir yang disegani dari keluarga kami.
.
.
Novan mengangguk paham dengan cerita Andi dan kemudian matanya terarah ke buah apel yang tertusuk oleh belati Andi. Malam sudah semakin larut dan Andi memutuskan untuk tidur, setelah ia berpamitan kini hanya tersisa Novan.
Dalam kegelapan malam dan kesendirian ia kemudian bergumam "kalau saja kau manusia asli mungkin aku akan lebih mempercayai mu, Andi"
...[Bersambung]...
__ADS_1