
"Gerbang menuju perpustakaan alam semesta telah terbuka..."
"Perpustakaan alam semesta?"
"Itu adalah tempat dimana semua yang berkaitan dengan alam semesta tercatat, penjaga dari tempat itu adalah Protogonos, titan yang konon lahir dari telur semesta, yang dihasilkan oleh Chaos dan Aether" Fobetor menjawab pertanyaan Novan dan kemudian beranjak dari sofa. "Terkadang ia dipanggil sebagai dewa tapi juga titan, ia adalah sosok yang begitu kuat dan memiliki pengetahuan tetang semua yang terjadi di alam semesta."
"Lalu memangnya kenapa kalau gerbang menuju ke perpustakaan semesta terbuka?"
"Novan, apa kau sudah mengecek tentang air mata Protogonos yang kau minta buatkan pada Valas?"
"Belum memang kenapa-" Ucapan Novan terpotong dania kini sadar karena telah membuat suatu kesalahan. Novan berencana untuk menggunakan air mata Protogonos untuk mencari tau apa yang terjadi, Novan tahu bahwa satu-satunya cara mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu dan masa yang terulang adalah dengan membuat sebuah ramuan yang memicu pengembalian ingatan,maka dari itu Novan meminta Valas membuat sebuah ramuan yang dapat membantunya.
Air Mata Protogonos, sebuah ramuan yang tingkat kekuatannya bisa menyamai Elixir yang dapat membuat penggunanya menjadi abadi dan menyembuhkan segala macam penyakit. Air Mata Protogonos adalah ramuan yang bisa membuat orang yang meminumnya menjadi memiliki pengetahuan dunia yang ia cari bahkan efeknya bisa lebih besar tergantung cara pembuatannya.
Sebuah ramuan yang bahkan tak bisa dipercaya ada di dunia bahkan bisa dibuat oleh manusia itu benar-benar bisa dibuat. Karena Valas sendiri adalah manusia jenius yang berhasil membuat dan mengonsumsinya dimasa lalu.
Satu hal yang tak diketahui oleh Valas bahwa Novan hanya ingin ramuan yang berdosis rendah, dengan begitu ia tidak akan mendapatkan pengetahuan tentang seluruh alam semesta. Karena Novan tahu konsekuensi dari mengetahui rahasia alam semesta adalah hal yang jauh lebih mahal dari nyawa.
"Mungkinkan para dewa tahu kau tengah membuat itu?" Pertanyaan Mammon kini menjawab kebingungan Novan, itu bisa saja terjadi karena tidak mungkin para dewa tidak tahu apa saja yang ia lakukan.
"Tapi ini baru beberapa bulan, pasti ramuan itu belum sempurna-"
__ADS_1
"Tapi buktinya sekarang gerbang menuju perpustakaan semesta terbuka, itu artinya ada yang telah menyempurnakan ramuan itu. mengubahnya menjadi ramuan yang dapat membuka gerbang menuju perpustakaan semesta" ucapan Leviathan kini membangkitkan rasa kawatir dan waspada dari mereka berempat. Akan sangat gawat bila rencana para dewa berhasil, entah apapun itu rencana mereka.
"Tapi apa tujuan para dewa melakukan itu?"
"Entah lah mungkin saja.. mereka ingin mencari tahu tentang dirimu, Novan"
Perpustakaan alam semesta adalah perpustakaan yang tak dipengaruhi oleh waktu dan batasan. Semua pertanyaan dan jawaban ada di dalam sana, jadi tidaklah mustahil para dewa menginginkan informasi soal Novan pada tempat itu mengingat bahwa selama ini Hopeless dengan sangat baik menyembunyikan Novan. Tidak ada yang tahu jati diri Novan kecuali Hopeless dan perpustakaan itu.
"Kalau begitu kita harus segera mengeceknya!"
"Itu mustahil, Untuk bisa datang ke perpustakaan itu kita harus menyeberangi dunia, kalaupun ramuan itu sudah sempurna itu hanya bisa digunakan sekali dan para dewa tidak bisa menggunakannya tanpa perantara manusia" Ucapan Fobetor kini benar-benar membuat Novan kesal dan panik.
"Kalau begitu biar aku bantu" Sebuah portal hitam terbuka tepat dibelakang Novan, dan dari dalam sana Hopeless menampakkan dirinya.
.
.
"Permisi.. anda baik-baik saja?" Tangan Arin hendak menyentuh pemuda itu namun mengejutkannya sebuah suara malah terdengar dari langit bertaburan bintang.
"Wahai anak yang baik kenapa kau tidak menginjak kertas yang berserakan ini atau mengumpulkannya?" Suara itu terdengar berat dan dalam, semua bintang seakan menatapnya dan puluhan kertas dilantai kemudian terbang.
__ADS_1
"Nanaru bilang tidak boleh menginjak buku atau kertas yang sudah ditulis orang lain karena itu akan melukai perasaan sang penulis"
"Oh ini menarik sudah lama aku tidak kedatangan tamu seunik ini..." bintang-bintang bergerak membentuk sebuah cahaya yang kemudian berputar mengelilingi Arin, menyambut Arin dengan suara yang begitu ramah dan dalam "kau adalah anak yang dipenuhi oleh belas kasih dan juga berakhlak mulia. Kau dengan segera berjalan ke arah orang yang menurutmu membutuhkan bantuan tanpa mencurigai situasi dan tak hanya itu kau juga sudah menghormati ilmu pengetahuan dengan tidak menginjak satupun lembar kertas ini.." mata hijau Arin menatap ke cahaya yang kini mengelilinginya dengan tatapan penasaran.
"Nak aku tahu semua tentang dunia ini tapi aku tidak pernah bisa secara langsung memahaminya, jadi katakan padaku.."
Cahaya itu melebur menjadi kilauan bintang yang membentuk sebuah sosok seorang pria yang memegang buku. Sosok itu terlihat samar namun Arin tahu bahwa ia adalah sosok yang kuat dan bijaksana. Tatapan matanya yang lembut namun tajam disaat yang bersamaan tampak sangat cocok dengan aura misterius yang keluar dari tubuhnya. Rambutnya berwarna putih dan matanya berwarna hitam.
"Apa yang sebenarnya kau cari?"
Tangan pria itu tampak ia rentangkan ke arah Arin, dan dengan ragu Arin menggapai tangan itu, seketika membuat lingkungan yang tadinya hanya langit dan altar yang indah kini berganti menjadi sebuah perpustakaan yang sangat besar dan tinggi. Rak-rak buku yang menyimpan jutaan bahkan mungkin miliaran buku tampak menjulang tinggi dimana-mana bahkan Arin tak dapat melihat ujung dari rak buku itu.
Terlihat penuh namun juga sangat luas dan tenang, begitulah perpustakaan itu dilihat secara langsung. Ubin lantai yang tampak berwarna hijau di bawah kakinya samar-samar menimbulkan gelombang cahaya setiap kali ia mengerakkan kakinya dan buku-buku yang melayang bagaikan burung tampak melayang dimana-mana. Bersamaan dengan itu peri-peri kecil berterbangan di beberapa sudut rak buku seakan mengecek semua buku yang ada di dalam sana.
Arin baru menyadari bahwa pria disampingnya telah menghilang dan tepat setelah itu suara langkah terdengar. Di depan sana rupanya pria itu menampakkan dirinya, kini sosoknya tampak begitu jelas, rambutnya berwarna putih dengan gradasi hijau, sebuah kacamata emas terpasang di wajahnya dan dipundaknya sebuah jubah berwarna hijau dan emas tampak begitu elegan dan seekor burung hantu putih tampak hinggap di pundaknya.
"Selamat datang di perpustakaan alam semesta, Arin. Perkenalkan aku Protogonos, penjaga tempat ini" suaranya terdengar ramah dan senyuman manis terbentuk di wajah kakunya.
"Karena kau telah lulus dari ujianku maka aku akan memberikanmu sebuah hadiah" ia menjentikkan jarinya dan suara langkah kaki kemudian terdengar.
Dari salah satu lorong seorang pemuda tampak berjalan keluar, mata Arin tampak melebar sempurna kala ia menyadari betapa miripnya sosok itu dengan seseorang namun dengan warna mata dan rambut yang berbeda. Rambutnya berwarna coklat pucat dan matanya seindah zambrud, namun hal yang begitu membuat Arin terkejut adalah wajah dan postur tubuh dari pemuda itu.
__ADS_1
"Kak Novan?"
...[Bersambung]...