Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
83. Kembali ke Awal


__ADS_3

Mengurung para dewa mitologi, itu hanyalah sebuah tujuan kecil dari rencana mereka untuk menghukum para Dewa mitologi Yunani yang telah terlalu jauh menyalah gunakan kekuatan dan posisi mereka.


Hipnos kini berdiri di atas sebuah kereta yang terus berjalan, di sampingnya Hades tampak menatap ke langit yang di penuhi oleh bintang. "Bahkan kini kita tidak tahu bagaimana dunia akan berjalan dan berakhir. Para dewa benar-benar telah terpecah" Ujar Hipnos yang kemudian melepaskan topinya, membiarkan rambutnya diterpa oleh angin dan sedikit memperlihatkan dahinya.


Mata ungunya bersinar dan senyuman terlihat di wajahnya "Kau benar-benar mirip dengan anak itu" Ujar Hades dan Hipnos tertawa dan kemudian menjawab. "Entahlah mungkin karena tubuhku ini menirunya jadi keadaan psikis ku mulai mengikuti sikap Novan juga " Hipnos akhirnya mengakui itu, alasan para dewa tak mengenalinya, alasan mengapa ia begitu berbeda dengan dirinya yang dulu adalah karena ia sama seperti Fobetor, ia juga menjalin kontrak jiwa dengan Novan. Membuat dirinya menjadi sangat mirip dengan Novan namun dengan versi lebih dewasa.


"Sudah waktunya menara membimbing kita" Suara Protogonos terdengar dari belakang dan titan itu kini tersenyum ke arah mereka dengan membawa sebuah butuh. "perang akan kembali terjadi, dan kali ini kita akan memenangkannya"


Kereta itu melaju semakin cepat di atas rel berwarna putih dengan kilauan bintang di setiap gerakannya, di dalam gerbong itu parta dewa yang menginginkan kehidupan yang teratur dan damai tampak duduk di beberapa gerbong, menunggu saat dimana mereka akhirnya akan memulai pertempuran besar atas tujuan pembuatan dunia baru.


Nanaru berdiri di dalam sebuah menara, ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti Hipnos, dengan tatapan serius ia menatap sebuah sangkar tempat dimana jantung menara seharusnya berada, namun kini tempat itu kosong, menandakan menara dunia yang akan menjadi tempat dimana dunia baru terlahir belum bisa terwujud. Menara itu membutuhkan sosok pemimpin dan juga jantung yang bisa memberikannya energi dan menjadi cahaya yang mengatur semua yang ada di dalam sana.


Itu adalah menara yang konon dibuat oleh Khaos pada saat penciptaan dunia. Bangunan itu pada aslinya memiliki sekitar seratus lantai dengan ukuran bangunan yang sangat amat luas dan kokoh, namun semakin lama zaman terus mengikis kekuatannya dan menatap itu mengecil, membuat para dewa tak lagi bisa menghuninya dan kemudian pergi ke segala penjuru alam dan dunia.


Dan kini para dewa legenda hendak kembali membuat menara itu dapat dihuni, menciptakan berbagai dunia baru di setiap lantainya dan memberikan setiap dewa dari alam yang berbeda setiap wilayah mereka masing-masing termasuk dewa mitologi dan bahkan para raja iblis. Kini mereka membutuhkan sebuah jantung yang dapat menopang menara itu, satu-satunya sosok yang pantas berdiri diantara kegelapan dan cahaya dan sosok yang mengerti betapa berharganya satu nyawa mahluk hidup dibandingkan sejuta keegoisan duniawi.


Morfeus berdiri di atas sebuah balok mansion hitam yang besar. Matanya menatap ke arah bangunan perkotaan benteng yang semakin meluas dan berkembang pesat. "Anda masih mencarinya?" Suara seorang anak berambut putih terdengar dan Morfeus berbalik melihat seorang anak yang adalah wujud baru dari Nikolai di putarannya kali ini. Nikolai tampaknya tak lagi memiliki kontrak dengan Loki.


"Itu... Saya rasa saya akan segera menemukannya" kalimat yang sama selalu terdengar dari mulut Morfeus setiap kali ia mendapatkan pertanyaan tentang Novan. Waktu terus berlalu dan entah berapa putaran yang terlewat tanpa Novan. Bahkan kini Samuel sudah tak lagi ada bersama mereka, semua orang yang tak terpengaruh oleh kekuatan Novan perlahan pergi dan datang bagaikan takdir. Medusa, Amfitrit dan Vivian tetap setia bersama Morfeus dan Fobetor dalam menunggu Novan kembali.


Satu-satunya petunjuk bagi mereka adalah ketika Fantasos dalam bentuk Bros mawar putih datang bersama Cerberus dan menyampaikan pesan bahwa Novan membutuhkan waktu untuk membuka matanya kembali.

__ADS_1


Langit berubah menjadi gelap dan petir menyambar di atas awan. Tampaknya badai akan datang dan itu bukanlah pertanda baik. Sementara itu jauh di kegelapan dunia tempat dimana waktu dan cahaya tak dapat menjangkaunya. Arin berdiri diatas sebuah lingkaran cahaya sihir bersama dengan Ivan, benang emas tercipta di tangannya dan benang itu kemudian jatuh ke kegelapan yang semakin dalam seakan menunjukan sebuah cahaya bagi siapapun yang ada di dalam sana.


Peti dimana Novan tertidur kemudian terbuka karena cahaya benang itu, kegelapan yang murni keluar dari balik peti itu dan Novan terbangun dengan mata yang tak memiliki cahaya. Semua yang telah ia ingat dan lalui mengubah kepribadian dan sosoknya sepenuhnya. Kupu-kupu hitam yang memiliki corak cahaya yang indah berterbangan di sekitarnya dan ketika Novan menatap benang di hadapannya ia kemudian mengikuti benang itu.


Diluar dugaan benang itu mengarahkannya ke alam para iblis, sisi lain dari underworld atau tartarus yang juga dikenal dengan neraka. Jubah merah Novan mengeluarkan energi kegelapan di setiap gerakan langkahnya, lingkaran cahaya merah terbang di atas kepalanya dan kakinya tertutup oleh asap kegelapan yang muncul di setiap langkahnya.


Novan mengingat tempat itu dengan jelas, karena di beberapa putarannya itu adalah tempat tinggalnya. Ia terus melangkah dan tidak ada seorang pun yang menghentikan dirinya terus berjalan ke istana iblis yang tengah di gunakan untuk rapat ketujuh raja iblis penguasa neraka. Sesuatu sekaan memanggil Novan dari dalam ruangan tempat para raja sedang berdiskusi, dan ketika para iblis mencoba menghentikannya kupu-kupu milik Novan menghalangi mereka untuk mendekat.


Pintu itu terbuka dan semua mata raja iblis menatap ke arah Novan, termasuk Mammon dan Leviathan yang tak dapat menahan ekspresi terkejut mereka seperti para raja lain. Bagaimana mereka tidak terkejut, manusia yang telah menghilang dalam jangka waktu yang lama kini berada di hadapan mereka dengan sosok yang terlihat berbeda dan aura yang bahkan mendekati seorang dewa.


"Novan...?"


Suara Mammon menarik perhatian Novan dan dengan tatapan mata merahnya yang redup Novan menatap keberadaan Mammon dan Leviathan. Novan tak bisa mengingat pasti bagaimana mereka di setiap putaran sebelumnya namun sesuatu dalam diri Novan mengatakan bahwa mereka adalah satu dari sedikit nya para pengikut setianya. Novan tanpa sadar tersenyum tipis dan ia kemudian berbicara.


"Maaf membuat kalian menunggu ku"


Kabar bangunnya Novan dari tidur panjangnya menyebar begitu cepat layaknya air yang mengalir deras. Tak hanya kekuatan yang kembali ia dapatkan, tapi juga dukungan dan juga tujuan baru. Tujuan untuk memastikan bahwa kali ini adalah putaran terakhirnya dalam menjalani kutukan mengerikan yang telah di berikan oleh para dewa.


"Aku senang kalian menepati sumpah kalian" di atas sebuah takhta Novan duduk dengan tenang sembari menatap ke arah para bawahannya. Medusa dan Amfitrit tampak tersenyum, kini Medusa tak lagi harus menyembunyikan sosoknya kepada para manusia, namun ia masih mengenakan tudung dan juga kain yang dia gunakan untuk menutup matanya.


"Selamat datang kembali, tuan"

__ADS_1


Sementara Amfitrit menjadi orang yang bertanggungjawab atas hubungan manusia dan para mahluk lautan seperti duyung dan monster laut dia juga bisa di bilang satu-satunya partner kerja sama dengan Leviathan karena Leviathan hanya mau mendengarkan permintaan Amfitrit ketika Novan tidak ada. Leviathan kini mengenakan sebuah jubah biru yang menutupi lengan kirinya, dan juga mantel bulu yang ada di lehernya.


"Dasar... Dari mana saja sebenarnya kau ini manusia.." Mammon tersenyum sembari melipat tangannya.


"Haha ya setidaknya kau kembali" Leviathan tampak tertawa pelan.


Mammon menguasai daratan yang dahulu dikuasai oleh Bahemoth, bersama dengan Kanz ia hampir menguasai dunia nightmare bersama dengan utusan kaki tangan raja iblis Lucifer dan arc angel Michael. Ujung rambut Mammon kini tampak sedikit menjadi merah dan salah satu ciri khasnya adalah jubah merah yang memiliki warna kuning di bagian dalamnya.


Morfeus dan Fobetor tak jauh berbeda, mereka masih tetap sama seperti dulu namun Novan tahu kekuatan mereka juga berkembang selama ia tak ada. Perasaan aneh sesekali menyeruak masuk ke dalam diri Novan, tentang bagaimana ia harus bertindak setelah semua ingatannya kembali, bagaimana ia harus menghadapi para bawahannya dan bagaimana ia memandang dunia dan seisinya.


Layaknya dunia game yang telah ia mainkan ratusan kali dan ia juga telah melihat ending yang berbeda-beda tergantung pada semua pilihannya, Novan merasa bahwa dirinya bukan lagi manusia maupun dewa, mungkin sesuatu eksistensi yang tak seharusnya ada.


Di tengah pergulatan batinnya itu seekor kelinci putih dengan pita hijau muncul di hadapannya. Bersamaan dengan itu kakinya melangkah mengikuti kelinci itu, perasaan deja vu dapat ia rasakan dan ketika sebuah pintu muncul di hadapannya ia meraih gagang pintu itu, dan ketika ia membuka pintu tersebut dunia yang dahulu pernah ia datangi terbuka.


Cklek-


Padang rumput hijau dengan langit senja yang berpadu dengan warna pink menyambutnya, suasana di alam itu tak juga berubah dan di hadapannya ia melihat seorang anak- tidak anak itu kini tampak lebih dewasa dari yang Novan ingat. Matanya berwarna hijau dan rambutnya berwarna coklat pucat.


Pertemuan pertama setelah sekian lamanya itu membuatnya teringat akan pertemuan pertama mereka di putaran saat itu. Saat dimana Novan membuka sebuah pintu yang mengantarnya ke alam Ephemeral, ke tempat adiknya berada selama ini.


"Arin...?"

__ADS_1


__ADS_2