
Cklek-
Padang rumput hijau dengan langit senja yang berpadu dengan warna pink menyambutnya, suasana di alam itu tak juga berubah dan di hadapannya ia melihat seorang anak- tidak anak itu kini tampak lebih dewasa dari yang Novan ingat. Matanya berwarna hijau dan rambutnya berwarna coklat pucat.
Pertemuan pertama setelah sekian lamanya itu membuatnya teringat akan pertemuan pertama mereka di putaran saat itu. Saat dimana Novan membuka sebuah pintu yang mengantarnya ke alam Ephemeral, ke tempat adiknya berada selama ini.
"Arin...?"
Sosok gadis itu tersenyum dan kemudian berlari ke suatu tempat, Novan mengikutinya dan perlahan ia mendengar sesuatu seakan memanggil dirinya. Kakinya terhenti ketika ia melihat menara yang menjulang tinggi yang bahkan ujung dari menara itu tak dapat ia lihat. Novan melangkahkan kakinya ke depan gerbang menara itu dan ketika pintu terbuka hanya kegelapan yang dapat ia lihat.
"Novan!!"
Suara terdengar dari arah belakang dan Morfeus, Fobetor bahkan Fantasos kini berada di belakang Novan, sekaan mereka telah mengikuti Novan sejak tadi. "Menara ini... Bagaimana ini ada disini-" ucapan Fantasos seketika terpotong saat suara Hopeless atau Hipnos terdengar dari kegelapan menara.
"Tidak anakku, sejak awal memang disinilah tempat menara ini" Hipnos keluar dari kegelapan, sosoknya kini tampak begitu rupawan dan aura dewa yang kuat dapat terasa di sekitar dirinya. Burung hitam dengan mata berwarna unggu yang menyala bertengger di punggungnya dan ia tersenyum menatap semua pemuda yang ada di hadapannya.
"Ayah?!" Fobetor dan Fantasos terkejut mendapati bahwa ayahnya masih hidup bahkan memiliki wujud yang berbeda dengan dirinya yang dulu. Sementara itu Morfeus tampak tak terkejut sama sekali, ia pernah beberapa kali berbicara dengan ayahnya di setiap putaran dan ia tahu suatu saat ayahnya akan kembali menunjukkan dirinya di hadapan adik-adiknya.
"Senang melihat kalian semua bisa hidup" suara Hipnos terdengar sedikit menyedihkan, seakan ia mengingat kejadian di putaran sebelumnya, putaran dimana ia gagal membuat Novan menyelamatkan semua anaknya."tidak terasa akhirnya kita kembali sampai pada saat ini" ucapan Hipnos membuat puluhan pertanyaan muncul di benak Fobetor dan Fantasos.
Morfeus tampak menatap khawatir ke arah Novan dan sama seperti Morfeus, meskipun samar namun Hipnos juga menatap Novan dengan tatapan yang sama sebelum kemudian kembali melanjutkan kalimatnya "jadi apa pilihanmu kali ini? Maukah kau menjadi jantung bagi menara ini dan selamanya terjebak didunia ini, atau kembali mencoba menguasai dunia ini dan membebaskan semua orang?" Pilihan kedua tampak begitu menarik dan aman, namun sayang Novan ingat ia telah lima kali memilih pilihan itu. Dan sebanyak itu juga ia gagal dan berakhir menghancurkan dunia dan seisinya.
Dunia dan manusia itu bagaikan sebuah bola kaca yang bila tak di tangani dengan lembut dan bijak akan tergores dan pecah, itulah alasan biasanya di dalam satu dunia ada beberapa orang dewa yang harus sama-sama mengurus dan memimpin dunia. Layaknya tanah yang membutuhkan air agar tumbuhan bisa tumbuh dan langit yang membutuhkan matahari untuk melindungi bumi, dunia mimpi butuh beberapa pemimpin untuk mengendalikan setiap bagian dunianya.
__ADS_1
Dan Novan gagal melakukan peran itu karena ia selalu kekurangan orang disisinya untuk membantunya. "Aku tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang sama... Bahkan meskipun kini aku memiliki banyak orang di samping ku" ucapan Novan menjelaskan bahwa ia masih tak yakin ia pantas menguasai dunia mimpi.
"Kalau begitu kau akan mengorbankan dirimu sendiri?"
Pertanyaan itu bagaikan panah yang menusuk bagi semua orang di sana. Baik Morfeus, Fantasos bahkan Fobetor semuanya tampak memasang wajah pucat, mereka seakan tak ingin itu terjadi namun mereka tak dapat menentang kehendak Novan.
"Aku sadar bahwa pertumpahan darah bukanlah jalan keluar dari dunia ini.." Novan menatap tanganya, tangan yang dahulu pernah beberapa kali membunuh para dewa dan teman-temannya sendiri. "Dan yah.. haha aku tahu seharusnya aku tidak berhak mengatakan ini tapi... aku sadar bahwa dosaku sudah terlalu banyak" Hipnos tampak dengan serius mendengarkan ucapan Novan.
"Jadi aku berpikir mungkin mengorbankan diriku adalah satu-satunya jalan untuk mencapai ketenangan jiwa ku."
Novan berpikir, mungkin ia kali ini bisa berhasil namun apakah ia akan kembali ke dunia realita dengan perasaan tenang? Apa ia tak akan lagi dihantui oleh masa lalunya? Apakah ia masih bisa menjadi manusia seutuhnya.
Tentu jawaban dari semua itu adalah tidak.
Ia mungkin akan tersiksa, bahkan menjadi setengah gila bila ia menampung semua ingatan itu sembari menjalani kehidupannya sebagai manusia biasa. Dan tentu ia tidak ingin meninggalkan teman-temannya yang telah berjuang bersama-sama nya, ia tak ingin meninggalkan Fobetor, Morfeus, Fantasos bahkan Mammon dan yang lainya untuk terus di dunia mimpi. Novan ingin semua orang bisa bebas, dan untuk itu ia harus memiliki kekuasaan dan kekuatan dalam mewujudkan itu.
"Cahaya ini..." Zeus tampak menatap cahaya emas yang memasuki Olympus dengan cepat dan kemudian ia merasakan sebuah gempa besar dipenjuru langit.
Menara itu berubah semakin besar dan dari cahaya yang keluar dari sela-sela jendelanya sesosok raksasa yang di kenal dengan nama chaos terlihat untuk sesaat, menatap Novan yang kini memegang sebuah orb bercahaya sebelum kemudian semua tempat dimana para dewa tinggal dengan ajaib berpindah ke dalam mendara, mengurung para dewa di setiap lantainya.
Setiap lantai bagaikan dunia baru yang memiliki kekuasaannya sendiri. Loki tersadar di atas rerumputan hijau yang indah dan langit biru menyambut nya dan seluruh dewa Nordik di lantai itu. Sementara itu Wisnu tampak berdiri di atas sebuah danau teratai yang disinari oleh cahaya rembulan yang bersinar bersama Dewi Ratna di langit malam. Para dewa Mesir kuno menatap Piramida dan hamparan pasir di sekeliling mereka dengan tatapan terkejut dan kagum, sementara semua dewa legenda menyebar di setiap lantai, menunggu dan mengawasi apa yang terjadi di setiap lantainya.
Novan berdiri di sebuah altar dan perwakilan dari masing-masing dewa mitologi mengelilinginya. Zeus, Odin, Wisnu, Ra, bahkan Amaterasu dan yang lainya akhirnya sepakat memulai diskusi.
__ADS_1
"Wahai manusia, aku tidak tahu bagaimana kau bisa melakukan ini semua. Butuh mental dan kekuatan yang besar untuk memanggil kami semua ke menara ini dan kau berhasil melakukannya" Odin tampak menatap Novan dengan penuh selidik.
"Apa kau tahu konsekuensi dari semua ini?" Ra tampak bertanya namun kemudian Wisnu menenangkannya.
"Tenanglah, bukankah memang seharusnya ini yang terjadi? Sekarang para dewa memiliki tempat untuk menetap dan berkuasa, bahkan di menara ini resiko kehancuran dunia bisa di cegah" Wisnu tampak memandang pendirian menara sebagai upaya keseimbangan alam karena kini dunia tak membutuhkan campur tangan para dewa dan harus berjalan sesuai dengan hukum alam semesta dan sang takdir.
"Saya setuju dengan anda" Amaterasu akhirnya ikut mengutarakan pendapatnya "tapi tetap saja membiarkan manusia menjadi jantung menara ini itu sedikit..." Amaterasu menatap Novan dengan tatapan lembut layaknya seorang ibu yang khawatir.
"Dia benar, manusia adalah manusia. Tidak ada tempat baginya untuk berada bersama dewa" meskipun terdengar kasar namun Ra mengatakan bahwa manusia terlalu lemah untuk bisa menanggung tanggung jawab berat sebagai jantung menara yang mungkin bisa menjadi incaran bagi para dewa yang tak menginginkan pembentukan menara.
Semua yang dewa itu katakan didasari oleh pengetahuan dan kebijaksanaan akan keselamatan dunia dan kedamaian langit. Namun sebenarnya Novan tahu beberapa dari mereka hanya berputar-putar, sangat jelas bahwa mereka mencoba membuat Novan ragu dan memintanya mundur secara halus.
"Kalau begitu yang anda pikirkan... Bagaimana kalau saya menyerahkan diri saya sepenuhnya pada sang takdir?" Semua dewa terdiam, apa yang dikatakan Novan berarti bahwa Novan akan melepaskan semua keegoisan dan hasratnya sebagai manusia. Artinya Novan akan sepenuhnya menjadi dewa dan membuang sisi manusianya yang penuh dengan ambisi.
Semua dewa benar-benar membisu bahkan Wisnu dan Amaterasu semakin khawatir "apa kau yakin akan pilihan itu? Artinya kau tidak akan lagi bisa mengharapkan kehidupan seperti manusia biasa"
"Aku tidak punya pilihan lain kan?"
Semua dewa akhirnya mengangguk setuju namun dengan satu syarat "kau perlahan akan kehilangan semua sisi manusia mu, jiwa mu akan berubah sepenuhnya dan pola pikir mu akan berubah namun itu akan terjadi saat besok matahari terbit" Novan membulat kan matanya saat Wisnu mengatakan itu.
"Haha anda memang sangat baik ya..."
The tower akhirnya benar-benar berdiri dan semua dewa tinggal di dalamnya, mereka bebas melakukan apapun di wilayah mereka masing-masing dan tidak diperbolehkan untuk keluar dan mencampuri dunia nyata, sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat.
__ADS_1
Kini hanya tinggal bagaimana cara membebaskan semua manusia di dunia mimpi.
...[Bersambung]...