
"Kenapa Nik? Bukankah seharusnya kau?" Aku menghentikan langkahku dan kemudian menatap bingung ke arah Fobetor, padahal aku kira dia yang akan diincar duluan.
"Apa maksud anda?!" Fobetor mendesis dan hampir mencekik leherku sebelum kemudian ia berteriak.
"Tentu saja mereka mengincar Nik! Karena Nik adalah calon penerus raja light Elf!!"
Aku terdiam dan kini menyadari sesuatu kalau begitu tidak aneh kenapa Morfeus menaruh suatu ketertarikan saat aku mengatakan ingin mengetahui identitas asli Nik "ah jadi begitu ya! Pantas saja Morfeus bertanya begitu, karena dia tahu putaranku sebelumnya pasti aku yang dulu pernah mengenal identitas Nik..." Aku bergumam seorang diri dan kemudian sebuah pertanyaan muncul di benakku.
Karena sekarang alam bawah sadarnya tidak dijaga oleh Morfeus bisakah aku masuk ke dalam sana?
Tanpa mengucapkan sepatah katapun aku mengambil belati ku dan mengarahkannya ke perutku "a-apa yang mau kau lakukan?!" Fobetor berteriak kencang di samping telingaku dan saat pisau belati itu hampir mengenai perutku, tepat pada saat itu aku kembali melihat sosok diriku yang lain. Kini ia berdiri diantara bayangan pepohonan dengan jubah yang terkoyak dan wajah penuh luka, matanya yang berwarna menatap ke arahku dan kemudian berjalan menjauh.
Kakiku reflek bergerak ke arah yang ia tuju, ini aneh biasanya bayangan itu yang akan menghampiri ku seakan menghantui ku tapi entah kenapa kini ia seperti ingin menunjukkan sesuatu. Aku mengikutinya hingga ia menghilang di balik sebuah pohon mati yang berukuran besar. Kepalaku menjadi terasa sakit dan bayangan pohon mati itu untuk beberapa saat berubah menjadi seperti pohon rindang yang memancarkan dedaunan emas, seakan memori lama dan saat ini tengah saling berbenturan.
"Hey kau baik-baik saja? Wajahmu menjadi pucat! Lebih baik kita segera mencari yang lainnya!"
Aku menggelengkan kepalaku, meski aku tak dapat sepenuhnya mendengar apa yang Fobetor katakan karena kini yang terdengar di telingaku hanya suara puluhan suara orang tengah berbisik. Aku mengenal suara itu sebagai suaraku sendiri, suara diriku yang telah gagal selama ratusan kali dalam setiap putaran. Suara-suara itu hanya menyebutkan satu nama yang membuatku kemudian menatap pohon itu dengan seksama.
"Fantasos"
Hanya sesaat setelah aku mengucapkan nama itu sosok seorang elf tua keluar dari balik pohon dan menatapku dengan mata yang mengeluarkan airmata "pahlawan..." Mata hijaunya menatap ke arahku dan kakinya hendak berlari ke arahku namun tongkat yang menyangga tubuhnya kemudian jatuh membuatnya tersungkur ke tanah "pahlawan! Pahlawan!" Ia masih memanggil sebutan itu ke arahku, membuatku kemudian mendekatinya.
"Selamatkan dia..." Ia mengangam tanganku dan meminta tolong padaku. Matanya kemudian menatap ke arah pohon itu dan kembali berbicara "selamatkan dewa kami" ucapanya membuatku terdiam.
Elf bukanlah mahluk yang sepenuhnya menyembah dewa, mereka mencintai alam dan menganggap bumi adalah ibu mereka dan membenci manusia yang merusak bumi. Elf terbagi menjadi dua unsur bukan karena mereka ada di pihak kegelapan dan cahaya tapi ada di dua unsur energi positif dan negatif. Tapi ini adalah dasar dari pengetahuan dunia realita.
__ADS_1
Dunia yang aku tempati kini adalah dunia mimpi, pastilah aturannya berbeda dengan yang ada di dunia realita. Tapi setidaknya aku kini mengerti apa yang hendak elf tua ini katakan, aku menatap ke pohon itu dan mataku menemukan sebuah dauh emas yang tampak sangat kering. Fobetor turun dari leherku dan bergerak menyusuri sekitar pohon dan menemukan dedaunan yang sama. Semakin Fobetor mengelilinginya semakin ia memasang ekspresi sedih dan panik, ekor ularnya menyibak beberapa dedaunan kering yang menutupi bebatuan yang berbentuk seperti altar dan ia terus berkeliling.
"Mustahil... Tempat ini.." mata ularnya menatap ke batang pohon yang mati dan bergantian menatapku.
"Jadi begitu ya, ini pohon dunia?" Aku bertanya dan Fobetor kemudian segera bergerak ke arahku, seakan hendak memintaku melakukan sesuatu namun aku hanyalah manusia "bila kau memintaku untuk menyelamatkan pohon ini maka lupakan saja. Aku hanya manusia" Fobetor menatapku dengan tatapan kecewa, tapi setidaknya aku mengatakan kebenarannya dan ia paham akan alasan itu.
Aku memang kuat tapi bukan berarti aku bisa melakukan apapun, membangkitkan mahluk hidup yang telah mati itu diluar kendaliku. "Maafkan aku kakek, aku bukanlah pahlawan yang bisa menyelamatkan nya" aku membaringkan tubuh kakek itu ke batang pohon dan kemudian mencoba tersenyum, tapi pada akhirnya aku hanya dapat menatapnya dengan tatapan bersalah. Kakek itu tampak menutup matanya seakan tertidur namun dari kelopak matanya yang tertutup air mata masih terus menetes.
Perasaan gusar dan bersalah seakan membebani diriku tapi mau bagaimana pun aku tidak bisa melakukan apapun. Fobetor terdiam di tempatnya, ia hanya menatap pohon itu, pohon yang dahulu menjadi pusat dari dunia mimpi itu kini tampak lebih kecil dan tak bernyawa layaknya pohon mati. Aku membiarkannya merenung dan kemudian berjalan kembali ke arah yang harus ku tuju.
Setelah tak menemukan Morfeus aku menangkap seorang Dark Elf dan memaksanya untuk menunjukan dimana tempat markas mereka hingga akhirnya disinilah aku berada. Berdiri diantara pepohonan yang besar dan menjulang tinggi sembari bersembunyi dalam kegelapan bayangan yang menjadi keunggulan untukku. Di hadapanku sana para light Elf termasuk Nik dan Kaleid tampak ditawan.
"Ini jauh lebih buruk dari yang aku pikirkan" mataku menatap ke arah seorang gadis cantik yang berdiri di singgasana hitam, sepertinya dialah anak setengah manusia yang dibicarakan oleh Fobetor. Di sampingnya seorang pemuda berparas lumayan tampak mendampinginya, ia bukanlah elf tapi manusia, hanya dengan melihat interaksi antara keduanya membuatku tahu bagaimana ini bia terjadi. "Semakin dilihat semakin menarik..." Aku turun ke arah semak-semak dan menyembunyikan diriku di kegelapan.
"Haha tentu saja, ini semua berkatmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila kau tidak membantu kami, mungkin selamanya kami akan terus berada di bawah light Elf seperti yang kau katakan" putri itu tersenyum manis dan kemudian menatap ke arah para light Elf dengan tatapan sombong. "Kaulah penyelamat kami, dan aku sangat bersyukur bertemu denganmu"
"Aku juga bersyukur bisa bertemu denganmu..." Pemuda itu menatap wanita itu dengan tatapan penuh kasih sayang namun jauh di dalam matanya sebuah kegelapan terlihat, senyuman manisnya begitu memikat wanita itu tanpa wanita itu menyadari mungkin saja pemuda itu memiliki tujuan lain.
Yah apapun itu aku tidak peduli, rasanya aku akan muntah bila ini terus berlanjut.
"Jadi kalian adalah akar masalah di tempat ini rupanya..." Aku berdiri di belakang mereka, membuat kedua orang itu kemudian terkejut dan segera memerintahkan para bawahan mereka untuk menyerang.
"Bagaimana ada penyusup yang sampai ke tempat ini?!"
"Apa yang kalian lakukan?! Tangkap dia!"
__ADS_1
Senyuman terbentuk di wajahku, ini akan menjadi menyenangkan. "Jadi kalian ingin bermain dengan bayangan? kalau begitu akan ku tunjukan pada kalian!" Panah panah yang dikelilingi oleh racun dan aura energi negative melesat ke arahku setiap kali aku berlari dan menyatu dengan kegelapan.
Aku ingin segera menyelesaikan ini tapi aku tidak bisa melukai mereka begitu saja. Aku menaikan kecepatan ku dan dalam sekejap menghilang dari pengelihatan mereka, mata mereka menelusuri ke arah kegelapan hutan tanpa mengetahui aku kini berada tepat di atas jeruji besi yang mengurung para Light Elf. "Tuan Novan!" Nik dan Kaleid memanggil namaku dan aku memberikan isyarat diam pada mereka.
"baiklah sekarang bagaimana aku bisa menghancurkan ini?"
"Kau tidak bisa menghancurkannya, jeruji ini terbuat dari sihir kegelapan yang begitu kuat, manusia sepertimu tak akan cukup untuk menghancurkannya" Seorang elf yang mengenakan jubah dan mahkota berbicara padaku,, wajahnya yang tetap tenang meskipun tengah berada dalam kondisi kritis seperti ini sudah menjelaskan bahwa ialah raja para light elf, ayah kandung dari Nik.
"aku juga berharap begitu, sayang sekali aku bukan sepenuhnya manusia" aku tahu aku seharusnya tak berkat seperti ini padahal beberapa saat lalu aku mengakui diriku hanya manusia biasa, tapi ketika melihat adanya manusia yang dapat mengelabui dan menghancurkan persahabatan antar kedua kubu Elf membuatku menjadi sedikit kesal. "Karena akulah yang akan menghancurkan para dewa" Kupu-kupu hitam keluar dari bayangan tubuhku dan terang menuju ke arah para dark elf, menyerap kekuatan dan energi negative mereka dan menyalurkannya padaku.
Energi gelap menyelimuti diriku, ini pertama kalinya aku mencoba untuk menghisap energi kehidupan makhluk lain dengan kesadaranku sendiri dan aku bisa merasakan kegelapan seakan mencoba melahap diriku juga. Tubuh beberapa elf jatuh bersamaan dengan tatapan ketakutan dari semua elf "Tolong jangan menyalahkan ku atas karma yang kalian terima ini, anggaplah ini hukuman untuk kalian yang mengingkari janji kalian pada sesama bangsa kalian" Teriakan dan tangisan yang memilukan terdengar saat beberapa Dark Elf itu mulai dimakan oleh kupu-kupu kegelapanku.
Inilah kekuatan yang Hades berikan padaku, kekuatan untuk merampas hidup mahluk lain dan mendapatkan energi mereka menjadi kekuatanku. Tapi tentu saja kekuatan ini memiliki konsekuensinya tersendiri, semakin banyak energi yang ku terima semakin kuat kegelapan akan melahap diriku. Pengelihatan Ku mulai menjadi merah seakan kini aku tengah menyaksikan apa yang ku lihat bukan dari mataku sendiri.
"Lari! semuanya lari!"
"Percuma saja"
Kemanapun langkah mereka berlari kupu-kupu hitamku terbang lebih cepat dari langkah mereka. Rasa takut, penyesalan, dan tak berdaya tercium jelas menyeruak di udara sampai akhirnya seekor naga merah datang dan mencoba menghentikan ku.
"Sadarkan dirimu, Novan!"
Saat itu satu-satunya hal yang terlihat jelas di mataku adalah sosok diriku sendiri dari putaran sebelumnya dan suara Morfeus yang memanggilku. Waktu seakan berhenti dan saat itulah aku mendapatkan memori putaranku yang ke 66.
...[Bersambung]...
__ADS_1