
Di Pagi yang berawan sebuah retakan misterius muncul di langit dan beberapa tempat lainya, retakan berwarna hitam itu membuat langit dan lingkungan disekitarnya menjadi suram dan dipenuhi oleh energi negatif. Sementara itu Novan tampak menyaksikan langit yang terbelah itu dengan tatapan serius.
"Ini jauh lebih cepat terjadi dari pada yang aku ingat.... "
Novan menatap sebuah kalung komunikasi jarak jauh yang ia dapat dari Valas, rencananya ia akan menggunakan itu untuk memimpin para pasukan yang berada jauh darinya seperti di bagian hutan dan laut utara. "Karena aku sudah tahu pola gerakan bencana ini maka aku bisa memberikan peringatan dan perintah yang tepat pada setiap pasukan" Novan merasa yakin bahwa ia akan bisa melewati putaran ini dengan baik.
"Kak sebenarnya yang di langit itu apa? kenapa seperti bug game?" Suara Nikolai yang datang bersama dengan yang lainnya menarik perhatian Novan. Dari arah belakang Nikolai datang bersama Dian, Andi, Abdi dan Rian. Semua anggota keluarga Akasa kini berkumpul di satu tempat dan menyaksikan apa yang terjadi di langit.
Semua orang tidak mengerti apa yang Nikolai maksud tapi tampaknya Novan tahu pemuda itu membahas suatu benda dari dunia 'Realita' yang tidak ada di dunia mereka. "Itu adalah retakan dimensi, para dewa sengaja membuat retakan itu supaya mahluk pemakan mimpi bisa masuk ke dunia ini dan menghancurkan semua yang ada disini" Mahluk pemakan mimpi adalah mahluk yang memakan mimpi seseorang, tapi bila mahluk itu datang ke dunia mimpi mereka tak lebih seperti parasit yang menggerogoti dunia itu.
"Mereka adalah monster yang akan datang menghancurkan tempat ini, musuh utama kita"
"Kakak tampaknya tidak takut ya" Nikolai bertanya dan tersenyum sembari berjalan mendekat.
"Ya aku punya suatu rencana untuk-"
Sebuah belati kini tertancap di perut Novan, saat Novan menatap ke arah orang yang telah menusuknya- tak lain dan bukan ialah Nikolai. Mata Novan membulat dan saat ia menatap mata Nikolai pupil mata pemuda itu tampak bersinar dan energi dewa menyelimuti tubuhnya, menjelaskan alasan dibalik serangan itu adalah karena perintah para dewa.
Novan melompat mundur dan mencoba menjaga jarak sembari menutupi pendarahan di perutnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang belati merah miliknya. Di depannya kini Nikolai, Dian, dan Rian menatapnya dengan tatapan kosong.
Sementara itu Abdi dan Andi yang awalnya kebingungan segera memasang sikap waspada untuk melindungi Novan. "Beraninya boneka seperti kalian menghalangi para utusan dewa" suara Dian terdengar begitu berbeda, matanya menatap dingin ke arah ketiga pemuda itu.
"Kak Novan cepat pergi!" Andi berdiri di depan Novan melindunginya dari kupu-kupu bulan yang berterbangan ke arah mereka sementara Abdi mengarahkan panahnya ke arah Nikolai yang mulai mengeluarkan cambuknya.
__ADS_1
"Seharusnya kau sadar diri, kau ini.." sebuah anak panah listrik yang ditembakkan oleh Rian mengenai dada Andi "bukanlah mahluk hidup melainkan hanya ilusi" listrik bertegangan tinggi membuat Andi seketika lumpuh ditempatkan, ia terjatuh ke tanah dengan keadaan menahan rintisan kesakitan.
"Andi!"
"Jangan mendekat ke mari kak Novan!" Abdi menatap tajam ke arah ketiga saudaranya yang telah di kendalikan oleh dewa. "Biar saya saja yang mengurus ini, kakak harus segera berkumpul dengan yang lainya! Jangan biarkan para dewa kembali menghancurkan semuanya!"
Semua orang menatap bingung dan terkejut ke arah Andi, perlahan aura emas menyelimuti tubuh abdi dan kekuatan dewa memberkati dirinya untuk melawan.
"Sombong sekali kau manusia, apa kau pikir kau sendirian bisa melawan tiga utusan dewa sekaligus?"
"Aku memang merasa tidak bisa, tapi ketika 'mereka' mengatakan aku pasti bisa maka artinya aku harus bisa" tiga energi dewa menyelimutinya dan zirah emas terbentuk melindungi tubuhnya. Rian yang dikendalikan oleh dewa Indra lantas menatap zirah itu dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata sederhana, wajahnya tampak terkejut namun juga terasa sedih.
Indra mengenal zirah itu. Itu adalah zirah Bathara surya, zirah yang dahulunya milik seorang pejuang hebat tak lain dan bukan adalah sang Suryaputra atau juga dikenal dengan Adipati Karna. Dikisahkan dalam kisah pewayangan dewa Indra yang takut Arjuna kalah melawan Karna maka dewa Indra menyamar menjadi seorang pertapa dan meminta baju zirah itu, diluar dugaan indra, Adipati Karna benar-benar memberinya zirah itu tapi sebagai imbalannya Indra memberinya senjata ampun bernama Konta.
Melihat aura kekuatan Arjuna yang begitu ia sayangi dahulu kala membuat Indra menjadi ragu. Namun di tengah keraguan itu dua peti mati berlapis emas muncul mengurung Andi dan Novan di saat yang bersamaan, seketika mengunci kekuatan dan tubuh mereka. "Kalian melakukan tugas kalian dengan baik" seorang dewa dengan topeng berkepala anjing menampakkan dirinya, Seth tampak menatap kedua orang yang berhasil ia kurung dalam peti itu.
"Aku yakin para dewa Hindu akan mengurus masalah ini, benar?" Seth menatap peti tempat abdi berada. Dengan cepat Bathara Indra yang ada di tubuh Rian lantas menanggapinya namun Seth bukanlah sosok dewa yang penuh belas kasih. "Tapi pemberontak tetaplah pemberontak" darah keluar dari peti itu, membuat Indra seketika terdiam seribu bahasa.
Seakan tak puas Seth kemudian bertanya "kita hanya perluh membuat manusia ini tidak ada di tempat ini kan selama bencana? Kalau begitu serangga yang lainya boleh di singkirkan" anjing pasir hitam terbentuk dan berlari mencabik-cabik Andi. Membuat Nikolai dan Dian yang setengah sadar dalam pengaruh kekuatan dewa kini berwajah pucat. Berbeda dengan Abdi atau mereka yang akan kembali terlahir kembali di putaran selanjutnya, Andi hanyalah tokoh yang bila mati maka ia akan sepenuhnya hilang, dan kini Andi benar-benar tak dapat diselamatkan.
Seth tersenyum dan kemudian terbang ke langit yang gelap "kalau begitu kita mulai saja bencana ini" raungan dari langit terdengar dan retakan dimensi semakin melebar, membuat para monster kemudian bermunculan.
.
__ADS_1
.
.
Novan kehilangan kesadarannya tepat ketika ia terperangkap dalam peti mati emas milik Seth. Kini ia menyadari dirinya terbaring di sebuah altar putih yang dikelilingi oleh awan. Sejauh mata memandang hanya ada langit biru yang cerah dan awan indah yang melayang dimana-mana. Luka ditubuh Novan juga telah hilang tak tersisa.
Novan mengambil posisi duduk dan kemudian melihat tiga orang dewa tampak kebingungan dengan tatapan aneh, ketiganya tampak berdiskusi dengan serius
"Kenapa... Kenapa kita tidak bisa memasuki ingatannya..?"
"Hey Hermes kau benar-benar tidak bisa membaca pikirannya?"
"Diamlah Hemdall, kenapa tidak kau minta Nanaru saja yang melakukannya?"
"Kalau aku bisa melakukan sudah ku lakukan sejak awal, kawan"
Ketiga dewa itu kemudian menyadari Novan yang menatapnya dan Hermes dan Hemdall lantas tersenyum merendahkan.
"Oh lihat siapa yang bangun" hanya butuh beberapa saat sampai Novan menyadari bahwa ia tengah di jebak dalam dunia atas.
Sementara dunia mimpi tengah mengalami Bencana yang jauh lebih mengerikan dari yang ia ingat.
...[Bersambung]...
__ADS_1