Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
48. Kucing Yang Serakah (1)


__ADS_3

Ada yang bilang sebelum kita mati, kita akan melihat kilas balik kehidupan kita bagaikan melihat sebuah kisah.


Kupu-kupu hitam aneh mengerubuni tubuhku, dan rasanya seperti mereka enghisap energiku perlahan-lahan. Rasa sakit yang tidak pernah ku rasakan menyerang diriku seakan memberitahuku apa itu rasa sakit diambang kematian.


'Sial tidak!'


Aku mencoba berteriak namun suaraku tak keluar. Dan diambang batas ku aku melihat wajah salah satu rival dan musuhku, seakan sosoknya kini menghantui pikiranku, , wajah nya tampak menatapku dengan tatan merendahkan ku.


'Tidak! Aku tidak boleh mati!'


Wajah sombongnya itu seakan mengatakan padaku bahwa selamanya aku tidak akan bisa mengejarnya.Tatapan itu, uaraitu dan wajah itu, aku tidak boleh mati sebelum menghancurkan semuanya!


"Aku tidak boleh mati sebelum mengalahkan Lucifer!!"


Kekuatan ku meledak bagaikan badaai pasir, memancing naluri alamiku sebagai seorang iblis. Pasir emasku muncul dan mengubh semua kupu-kupu itu menjadi emas dan jatuh ke lantai, aku bisa merasakan energi iblisku menjadi semakin kuat.


"Tamat riwatmu sekarang manusia! aku akan mengubahmu menjadi emas dan ku pajang di istanaku, supaya semua manusia tahu apa kosekuensi karena berani menganggu urusanku!" Emosiku meluap bagaikan badai yang bahkan tak dapat ku kendalikan.


Namun alih-alih takut, manusia d hadapanku sekali lagi tersenyum. Aku benci senyuman itu, senyuman yang mengatakan seakan-akan ia tau akan segalanya, senyuman kesombongan yang sama menyebalkanya dengan milik Lucifer.


Aku ingin segera membunuhnya namun hanya beberapa saat setelah itu aku merasakan tubuhku begitu lelah dan dalam hitungan detik aku terjatuh, tanganku gemetar dan rasanya kepalaku sangat sakit. Di tengah kebingungan itu samar-samar aku melihat manusia itu berbicara.


"Ada apa? tampaknya kau terlalu banyak menggunkan kekuatanmu ya untuk kabur ke dunia ini" mataku melebar dan aku menatapnya dengan mata yang mulai tertutup.


"Bagaimana.. bisa manusia sepertimu.."


'Bagaimana kau bia mengetahui aku datang ke sini untuk kabur?!'


Banyak hal yang membuatku bingung namun pada akhirnya aku tidak bisa melanjutkan kalimatku, kesadaranku hilang seketika dan semuanya menjadi gelap.


Aku tidak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri, namun aku ingat dengan jelas sebuah pengeliatan aneh. Di sebuah ruangan yang begitu besar dan megah aku menundukan kepalaku pada seorang pria berjubah merah dengan lingkaran merah terang di atas kepalanya, sayap dipunggungnya berwarna coklat dengan gradasi merah darah di bawah sayapnya.


Entah mengapa aku merasa seperti berhadapan dengan raja iblis. Auranya begitu gelap namun juga murni di saat yang bersamaan, kekuatan besar menyelimuti dirinya dan disampingnya, Lucifer tampak berdiri diam. Sosok itu tersenyum padaku dan memberiku sebuah perintah.


"Bangunlah Mammon"

__ADS_1


Tepat pada saat itu mengelihatanku berakhir dan aku terbangun di atas sebuah bantal. Manusia yang kemarin menyerangku tampak tersenyum menatapku dan tangannya yag terlihat besar mengusap kepalaku.


Tunggu memang tangannya sebesar ini?


"Oh akhirnya kau bagun. Aku kira kau benar-benar mati karena tak kunjung bangun padahal aku sudah memanggilmu beberapa kali" ucapanya terdengar begitu menyebalkan namun tidak semengejutkan saat ia melanjutkan kalimatnya "apa kau tahu saat kau berubah menjadi kucing gemuk seperti ini banyak orang yang memujimu"


Aku dengan cepat bangkit dan menengok ke arah kiri, tempat idmaan sebuah cermin diletakan dan tepat setelah itu aku berteriak dengan kencang. Tepat dipantulan kaca itu seekor kucing berbulu oranye dengan badan gemuk dan pipi besar terlihat.


"Kenapa aku menjadi kucing?!!"


.


.


.


"Bagus, licik sekali kau manusia!" Aku menatapnya dengan tatapan tajam, dan kemarahanku seakin besar ketika ia sekali lagi mengejek penampilanku.


"aku tidak tahu kalau kau akan seimut ini saat menjadi kucing, Mammon" lanjutnya, kalau saja aku tidak menjadi kucing aku yakin aku sudah memukul wajahnya beberapa kali.


"Hey manusia! Kembalikan wujudku seperti semula!" Aku menatap manusia di depanku dengan tatapan kesal. Namun jangankan mendengarkan protes ku ia malah menatap ke arah jendela dan bertanya.


"Jadi kau sengaja membuatku membaca buku itu?!" Aku marah padanya namun kemudian menenangkan diriku dan menjawabnya "Sudah, ck dunia manusia memang rumit" Buku yang ia berikan padaku adalah rincian dari sistem tataan dunia ini. Buku itu berisi budaya bangsawan, peran pemerintahan, kelemahan rakyat biasa dan lain sebagainya.


Kini menjadi jelas menagapa aku merasa aneh saat menemukan buku itu, tujuan manusia ini hanya satu. Ia ingin menunjukan apa itu dunia manusia yang tak pernah ku lihat dan ketahui. Apa artinya ia akan menepati kata-katanya soal menyediakan ku banyak hal bila aku membuat kontrak dengannya? Tapi aku tetap tidak bisa mempercayai manusia ini, terlepas bagaimana bisa aku menjadi seekor kucing padahal aku juga tidak tahu alasannya, tapi ia tampak begitu tenang.


Aku membaringkan tubuhku pada sofa yang terasa nyaman dan empuk, mencoba untuk tidur dan tidak ingin memikirkan apapaun apalagi tentang manusia didepanku ini. Namun sekaan ia tidak membiarkanku begitu saja ia tiba-tiba medekat dan bertanya padaku.


"Mau jalan-jalan?" Ia menampilkan senyuman menyebalkannya dan sedikit tertawa.


"Hah?! jangan membuatku marah! diamlah dan biarkan aku tidur!"


Aku menolaknya mentah-mentah, yang benar saja! sekarang ini aku harus banyak istirahat. Malas sekali aku harus keluar dan bejalan-jalan di dunia manusia yang penuh cahaya dan berisik ini.


.

__ADS_1


.


.


"Hey manusia.. kita mau kemana?" Aku bertanya dengan nada lembut dan suara mendengkur khas seperti seekor kucing saat tanganya mengelus kepalaku dan mengendongku dengan nyaman. Sial, karena sekarang aku dalam bentuk kucing aku jadi bersikap seperti kucing!!


"Bertemu adik-adikku"


Ia membawaku sebuah taman dan di depan sana, tempat rumput hijau yang di tumbuhi oleh bunga-bunga indah, sosok dua orang anak kecil tampak bermain bersama. Mereka dengan cepat menyedari keberadaan kami, mata mereka untuk sesaat berbinar dan seorang gadis dengan rambut coklat pucat langsung berlari mendekat dan menyambut kami.


"Kak Novan! ayo main! Kebetulan kami juga baru selesai membuat mahkota bunga buat Naru dan kucingnya Rian!" Mata anak itu kemudian terarah kepadaku "Siapa ini? teman baru kakak?"


"Iya, namanya Momon. Imut kan?"


Aku sontak menatap ke atas dan dengan wajah tanpa dosa manusia ini malah tersenyum ke arahku, sungguh menyebalkan. Kenapa dari sekian banyak nama ia malah memberiku nama seperti itu!!!!


"Oh Halo Momon!"


Tidak.. Harga diriku...


"Momon mau tidak bertemu teman baru?"


Hm? tunggu apa?


Maksudmu kau mau membuatku bermain dengan hewan lemah dan lebih redah dari manusia? haha jangan bercanda-


Aku tiba-tiba baru menyadari, ada energi dewa di sekitar sini bahkan tak hanya satu tapi dua dewa dengan kekuatan tinggi?!. Aku menatap ke segala arah, mencoba untuk mencari dimana asal energi ini, hingga akhirnya mataku terkunci pada dua objek. Tubuh mereka mengeluarkan begitu banyak energi dewa yang murni dan aura hangat yang kami para iblis benci.


Tunggu- setelah dilihat-lihat ini energi dari Dewa Indra dan seorang manusia setengah Dewa bernama Nanaru. Ku dengar mereka itu termasuk dewa yang harus kami para iblis hindari, sial. Bisa gawat kalau mereka mengetahui keberadaan ku!


Tapi kenapa wujud mereka berbentuk kelinci mungil dan kucing hitam?!


"Nah Momon perkenalkan, ini namanya Naru, satunya itu kucing punya Rian, namanya Tuan Blue"


Ah tunggu.. jangan bilang aku harus berteman dengan mereka?!

__ADS_1


Baiklah aku tarik kembali kata-kata ku soal hewan lemah dan lebih rendah dari manusia..


...[bersambung]...


__ADS_2