Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
31. Kepercayaan Akan Kemenangan


__ADS_3

"Apa ini benar-benar akan baik-baik saja?" Rian bertanya dengan mata yang terlihat ragu, di depannya Novan tampak duduk dengan memakan sebuah roti.


"Tentu saja, kau harus ingat kau itu kan manusia pilihan dewa Indra! Aku yakin kau akan bisa melakukan peranmu"


"Tapi-"


Sebuah sentilan di dahi Rian dapatkan begitu saja, ketika ia menatap ke arah Novan, pemuda itu tampak tersenyum tipis "kau hanya perluh percaya, percayalah akan dirimu, begitu juga rencana ini" Rian menyentuh dahinya dengan mata yang sedikit berair karena terasa sakit.


"Apakah.. aku boleh berharap?"


"Semua manusia boleh memiliki harapan"


"Kalau begitu baiklah.. ku harap kau tidak menyesal karena telah percaya padaku!" Meskipun terdengar menyebalkan sejujurnya ucapan Rian itu mengartikan seberapa ia takut kalau seseorang akan kecewa padanya, selama hidupnya ia tidak pernah mendapatkan kepercayaan dan tangguh jawab sebesar saat ini. Tidak ada yang memujinya, tidak ada pula yang percaya padanya, maka dari itu setidaknya sampai sekarang ia mencoba tidak pernah berharap pada seseorang.


"Hey bocah, aku percaya dengan mataku. Aku yakin kau tidak akan membuatku menyesal karena aku telah memilihmu" ucap Novan tersenyum penuh kepercayaan diri. Merasa percuma saja terus berdebat dengan Novan, Rian kemudian hendak berjalan keluar dari ruangan.


"Ini pertama kalinya aku melihat dia bisa bersemangat seperti itu.. hey manusia bukankah kau ini terlalu berharap?" Dewa Indra tampak menatap Novan dengan tatapan penasaran, tubuhnya yang melayang di udara tampak begitu santai dan tenang.


"Bagiku dia sudah seperti adikku, apa salahnya berharap pada adikku?"


"Kau aneh.. sangat aneh"


"Terserah anda mau menyebut saya apa, karena saya tidak ada waktu untuk mendengarkannya. Saya permisi dulu" Novan meletakkan gelas kaca yang ia pakai pada meja makan dan kemudian dengan segera melenggang pergi meninggalkan Dewa Indra sendirian.


"Ck.. dasar manusia aneh" gumam Indra dan tepat pada saat itu seekor burung berkepala dua keluar dari balik punggungnya.


"Jadi bagaimana menurutmu?"


"Bagaimana? Yah dia orang yang tampaknya tidak memiliki ambisi yang buruk.. meskipun auranya menggangguku. Setidaknya kini aku sedikit tahu mengapa anda mengawasinya, Dewa Wisnu"


"Lebih baik kau awasi dia dari dekat bersama manusiamu, kita tidak akan tahu suatu saat ia akan berubah menjadi apa. Mungkinkah seekor burung merpati atau seekor serigala buas"


"Saya mengerti"


.


.


.


"Oh itu Nov!!!"

__ADS_1


"Tampaknya kau begitu bersemangat ya Perseus, jadi bagaimana? Apa perkataan ku menjadi kenyataan?" Tanya Novan.


"Kau benar, monster Gorgon sudah tidak terlihat lagi tapi sebaliknya monster laut mulai terlihat di beberapa sisi pantai. Kami juga menemukan markas para perompak di lokasi yang kau berikan, terimakasih ini semua berkatmu" ucap Perseus dengan senyuman senang, di belakangnya warga kota tampak ikut senang dan berterimakasih.


"Tidak masalah"


"Tampaknya ada banyak kegiatan ya disini" dari kejauhan Dewa Ares yang tengah menyamar tampak datang bersama dengan putrinya dan juga Medusa yang membawa sebuah keranjang anyaman berisi kristal tempat istri Poseidon tertidur.


"Oh tuan Ares!"


Untuk sesaat Ares terkejut mendengar panggilan yang Novan berikan padanya, namun kemudian ia segera mengatur ekspresi dan mendekat ke arah kerumunan orang itu.


"Jadi apa yang tengah terjadi disini?"


"Oh iya sebelumnya perkenalkan, dia adalah kenalan saya. Beliau adalah seorang bangsawan dari ibu kota, panggil saja Tuan Ares" ujar Novan memperkenalkan Ares ke para warga.


Berbincang dan berinteraksi dengan manusia membuat Ares sedikit merasa tak nyaman, namun ketika ia melihat putrinya yang tersenyum ke arah para warga kota ia langsung tersenyum tipis. Sementara itu diluar ekspektasi Perseus tampak berbincang seru dengan Medusa.


"Tuan Novan bagaimana anda bisa mengetahui informasi ini?"


"Anda tampaknya bukan berasal dari sini, bagaimana bisa anda tahu seluk beluk tempat ini?"


"Dari mana anda berasal?"


π΅π‘Žπ‘”π‘’π‘ , π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘π‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘’π‘™π‘Žπ‘– π‘Ÿπ‘’π‘›π‘π‘Žπ‘›π‘Ž π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘Ž..


"Sebenarnya saya datang ke sini atas permintaan langsung dari pemilik wilayah" ujar Novan yang memberitahu secara tidak langsung bahwa Nikolai lah yang telah mengirimnya, dengan begitu pandangan positif Novan di mata para warga seketika bertambah drastis. Tak hanya seorang yang membantu mereka, di mata para warga kini Novan tampak seperti bangsawan terhormat yang begitu dermawan dan murah hati karena mau membantu mereka, tidak seperti bangsawan lainnya.


"Saya menyukai tempat ini namun saya ingin segera melapor kepada Tuan Nikolai kalau tempat ini begitu menakjubkan, sayangnya saya tidak bisa kembali untuk saat ini.."


"Apa terjadi sesuatu dengan tuan pemilik wilayah?!"


"Entahlah, saya tidak tahu detailnya tapi saat ini Tuan Nikolai tengah di sandra oleh Adipati Akasa.."


"Omong kosong macam apa itu?!" seorang penduduk tampak dengan keras mengancam Novan. "Saya adalah orang yang sudah pernah bertemu dengan beliau! Tuan Nikolai bukanlah orang sebaik itu! Pasti Pemuda ini juga punya maksud tersembunyi! Bisa saja dia hanya membual!"


'πΆπ‘˜.. π΅π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿ-π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘’β„Ž, π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘›π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘‘π‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž-π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž.. ' dengan ekspresi setenang mungkin Novan mencoba membalas argumen orang itu namun sebelum ia sempat membalas, Valas muncul dan dengan lantang memperkenalkan Novan sebagai orang yang teramat penting.


"Beraninya kau meninggikan suaramu pada sepupu Tuan pemilik wilayah ini!"


'𝑇𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒 π‘Žπ‘π‘Ž? π΄π‘˜π‘’?' untuk sesaat Novan tampak terdiam seribu bahasa, ia tidak mengira bahwa kejadian seperti ini akan terjadi. 'π‘Œπ‘Žβ„Ž π‘‘π‘–π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘™π‘–π‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘Žπ‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑛𝑖 π‘Žπ‘˜π‘’ π‘π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘–π‘Žπ‘π‘Ž-π‘ π‘–π‘Žπ‘π‘Ž! π‘€π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› 𝑖𝑑𝑒 π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž?!'

__ADS_1


"Hadirin sekalian! Saya Valas Grahard sekaligus kaki tangan kepercayaan Tuan Nikolai berani bersumpah bahwa apa yang Tuan Novan katakan adalah sebuah kebenaran!"


"I-itu benar-benar tuan Valas?!"


Keributan terjadi dan bersamaan dengan itu sekelompok kesatria berzirah menghampiri Valas dan Novan. "Kami memberi salam pada anda sekalian, maaf telah membuat kalian kesusahan. Kami telah lama mencari kalian"


"Mereka ini.."


"Mereka adalah pasukan pelindung kota ini, jangan bilang anda selama ini tidak bertemu dengan mereka?" tanya Valas.


"Haha.. Begitulah.."


"Jangan bilang anda juga selama ini tidak datang ke mansion yang disiapkan Tuan Nikolai? Lalu selana ini anda tidur dimana? Bukan di jalan kan-"


"Cukup! Intinya aku lupa, Nikolai juga tidak memberitahukan hal ini padaku!" sela Novan dengan kesal.


"Mustahil.. Jadi anda adalah utusan yang dikirim oleh tuan Nikolai?" Perseus secara tiba-tiba berlutut di hadapan Novan dan dengan wajah yang tertekuk ia menyampaikan rasa penyesalannya "maafkan saya! Saya tidak bisa menyadarinya sejak pertemuan pertama, tolong ampuni ketidak kompeten ketua pasukan pelindung kota ini!!"


Seakan telah menunggu saat ini dengan senyuman palsu Novan merentangkan tangannya "apa maksudmu? Kau kan telah menyelamatkanku dan saudaraku, kau tidak pantas berlutut padaku. Seharusnya kau berlutut pada tuanmu bukan aku" ucapan yang begitu mulia itu berhasil menembus hati kesatria Perseus.


"Maka dari itu kau juga seharusnya menolong tuanmu, ya kan?"


"Perseus, bisakah kau siapkan pasukan untuk ku bawa ke kediaman Akasa, mari kita jemput Tuan mu itu."


.


.


.


Sementara itu di suatu bar minum yang begitu besar, Samuel tampak menatap papan catur yang ada di hadapan nya dengan tatapan dalam.


"Sesuai perkiraanku, kau memang jenius Novan.." matanya untuk sesaat menatap ke air di dalam guci, air bersinar itu tampak memantulkan sosok Novan dengan begitu jelas.


"Tak hanya menyelamatkan manusia utusan dewa Indra, kau membuat dewa dari Yunani juga berpihak padamu, dengan begini persidangan para dewa akan semakin kacau. Poseidon yang menuntut Ares, Hera yang menuntut Loki dan ditambah dengan dua manusia kesayangan Athena dan Indra. Pasti sidang akan semakin rumit.. Ya kan anak-anak?"


Di hadapan nya sekelompok orang-orang berjubah hijau tampak berlutut dan menunggu perintah dari majikan mereka.


"Sepertinya sudah saatnya aku kembali pada indentitas asliku.." Samuel menyibak rambutnya ke arah belakang, menampilkan dahinya yang tergambar oleh lambang dewa hindu. Perlahan rambut biru tuannya berubah menjadi biru cerah dengan gradasi hijau layaknya warna bulu merak.


"Sebagai salah satu dari kepala keluarga adipati negeri ini, memerintahkan pada kalian bersiaplah untuk bertempur melawan keluarga Akasa!"

__ADS_1


"Baik adipati Wisnu!!"


[Bersambung]


__ADS_2