Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
23. Medusa


__ADS_3

Angin laut tampak begitu segar berhembus menerpa kulit, dedaunan kelapa yang tumbuh di sekitaran pesisir pantai tampak menari riang bersama angin, ombak yang bergelora menghantam pasir putih begitu menghibur mata yang memandangnya. Untuk orang yang pertama kali melihatnya tidak akan mengira bahwa di tempat itu akan segera terjadi bencana.


Sebuah bangunan putih yang di kelilingi oleh batu karang tampak begitu mempesona bagaikan tempat misterius yang menyimpan harta karun, tak terlalu mencolok maupun tertutup, beberapa bagian bangunan tampak telah hancur termakan zaman, retakan dan lumut ada di beberapa sisi bangunan. Di dindingnya ukiran-ukiran aneh terbentuk bagaikan lukisan kuno yang di pahat dengan sedemikian rupa.


"Jadi ini markas Medusa?"


Dan tepat di depan pintu masuknya seorang pemuda berambut hitam tampak dengan santainya berdiri di sana, menatap dengan seksama tempat itu dengan pikiran bagaimana bisa bangunan yang sudah terbengkalai begitu bagus seperti ada yang masih mengurusnya.


"Hey bukankah seharusnya kita tidak boleh ke sini?" Ujar Fobetor.


"Apa yang dikatakan orang aneh itu benar, apa kau sudah benar-benar gila- m-maksudku ayo kita pergi saja" Sela Rian.


Saat ini kedua orang itu tampak berdiri di belakang tubuh Novan, dengan mata yang menatap takut ke arah bangunan itu keduanya sudah mencoba menarik Novan pergi namun mau sekuat apa mereka mencoba Novan tak bergerak dari tempatnya.


"Ayo masuk"


"Ayo pulang saja!!!"


"Bukankah kondisimu sedang tidak baik?! Kalau terjadi pertarungan-"


"Dasar, ini bukan markas para Gorgon" Novan tampak menunjuk ke arah sebuah ukiran di salah satu pilar batu putih di sana, ukiran yang tampak retak dan tak jelas itu samar-samar bergambarkan sosok seorang wanita yang memegang sebuah tombak dan di atas kepalanya sebuah pelindung kepala layaknya kesatria terlihat menutupi kepalanya.


"Ini adalah bekas kuil Dewi Athena?" Fobetor mengenal sosok gambar itu, sosok yang tak akan pernah ia lupakan. Sang Dewi pelindung kota Athena, Dewi kebijaksanaan dan pengetahuan sekaligus Dewi perang dari Yunani, itulah julukan yang dimilik Athena.


"Tampaknya ini sudah lama ditinggalkan.. tapi mengapa masih ada yang berkunjung?" Rian menangkap siluet seorang wanita yang tampak membungkuk di sana dan menyatukan kedua tangannya seakan berdoa.

__ADS_1


Alih-alih curiga Novan mendekatinya "maaf apa saya boleh berdoa di sebelah anda?" Wanita bertudung itu kemudian hanya mengangguk. Dalam kesunyian keduanya hanya menutup mata, tak ada sepatah kata doa pun terpanjang dari keduanya hingga secara tiba-tiba wanita itu membuka mulutnya untuk berbicara.


"Maaf, apakah anda penyembah Dewi Athena?" Mata emas wanita itu tampak berkilau dalam kegelapan dan samar-samar giginya yang bertaring dapat Novan lihat sesaat.


"Bagaimana dengan anda?" Masih menutup matanya Novan bertanya dengan nada tenang, berpura-pura tak menyadari bahwa wanita yang ada di sebelahnya telah berada di belakangnya, siap untuk membunuhnya kapan saja.


"Saya pernah mempercayai nya.." jawab Wanita itu, nadanya terdengar rendah dan dalam, untuk sesaat juga itu terdengar menyedihkan.


"Begitu ya.."


"Anda belum menjawab pertanyaan saya, apa kah anda pengikut Dewi Athena?" Namun kemudian ia bertanya dengan tatapan tajam untuk kesekian kalinya.


"Sebenarnya.. saya tidak percaya dengan para dewa" wanita itu tampak terkejut dan masih dengan mata yang terpejam Novan kembali melanjutkan kalimatnya "untuk apa saya percaya pada sosok yang terlalu manusiawi seperti mereka? Anda juga sependapat dengan saya kan, Medusa?" Medusa yang siap untuk menyerang kemudian membeku diam.


Keheningan melanda untuk beberapa saat bersamaan dengan Medusa yang berpikir bagaimana bisa Pemuda di depannya mengenali dirinya padahal mereka tak saling bertatapan.


"Bagaimana kau bisa tahu..?"


"Entahlah, rasanya mau tidak mau pasti aku akan menemui mu" apa yang Novan katakan sesuai dengan apa yang ia yakini, ia yakin perasaan familiar dan Dejavu yang ia rasakan setiap kali bertemu orang baru itu muncul karena peristiwa lama yang sudah ia lupakan. Dan Medusa adalah salah satu dari orang-orang yang dahulu pernah ia temui.


Jangankan terancam, sebuah perasaan lega entah mengapa menyeruak masuk dalam hati Novan, seakan bertemu dengan teman lama, teman yang pernah menghilang dalam waktu yang lama, itulah yang Novan rasakan.


'𝑁𝑔𝑜𝑚𝑜𝑛𝑔-𝑛𝑔𝑜𝑚𝑜𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐴𝑟𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐴𝑏𝑑𝑖.. 𝐴𝑝𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑦𝑎.. ' batin Novan untuk sesaat.


"Karena sepertinya aku sudah lebih baik maka aku akan pergi sekarang" ujar Novan yang kemudian berbalik dan berjalan menjauhi Medusa masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


"𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒄𝒂𝒏𝒅𝒂.."


"Hm?"


"Dasar manusia aneh!! Jangan kira aku akan membiarkanmu pergi begitu saja!!!" Dengan cepat Medusa tiba-tiba mengubah wujudnya menjadi wanita setengah ular dan berusaha menyerang Novan dengan ganas.


Dari kecepatan bergerak dan kekuatan unik milik Medusa yang bisa mengubah siapa sjaa menjadi batu bila melihatnya, Novan tahu ia tak akan bisa menang bila melawan wanita ular itu tampa bantuan dirinya yang lain, tapi ia juga tidak mau terus bergantung pada dirinya yang bahkan tak dapat membedakan mana kawan maupun lawan. Sebisa mungkin Novan terus berlari dari satu pilar ke pilar lain demi menjauhi jangkauan serangan Medusa, ia tidak ingin bertarung


"Sial, aku tidak akan bisa keluar kalau terus menutup mataku. Sekali mata kami bertemu maka aku akan berubah menjadi batu" Novan merogoh kantongnya dengan cepat "beruntung aku sempat membeli ini" dari pantulan cermin kecil Novan dapat melihat sosok Medusa.


Tubuh bagian atasnya tampak mengenakan pakaian pendeta yang tampak sangat lusuh, di kepalanya ular-ular berwarna hijau bergelantungan tampak mencari dimana ia berada kini sementara tubuh bagian bawah nya tampak seperti ekor ular yang besar.


Belum cukup dengan kekacauan yang terjadi tiba-tiba seekor tikus kecil menghampirinya dan berbicara "Perseus ada di depan", Novan tahu itu adalah Fobetor. Kalau Perseus bertemu dengan Medusa bukan hal yang mustahil untuk pemuda itu membunuh Medusa dengan bantuan perisai kacanya, kini satu-satunya cara untuk kabur hanyalah membuat Medusa sedikit tenang agar Perseus tidak terpancing masuk ke dalam kuil.


"Bagaimana dengan Rian?"


"Aku memintanya untuk menahan Perseus selama mungkin, lebih baik kita segera keluar-"


"𝐃𝐢𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐚𝐮 𝐫𝐮𝐩𝐚𝐧𝐲𝐚!"


Dengan mendadak Medusa muncul di belakang pilar tempat Novan bersembunyi, dan dengan kekuatan penuh ia kemudian mencoba menyerang Novan yang sayangnya serangannya malah meleset dan membuat pilar di depannya runtuh.


"Gawat, bangunan ini sudah sangat rapuh! ini akan segera runtuh!!"


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2