
Novan POV:
Hermes merebut Fantasos dariku dan ia kemudian mengengam nya. Berusaha merusak benda itu namun cahaya terang yang sama keluar dari Bros itu dan membakar tangan Hermes, membuatnya meringis kesakitan.
"Apa-apaan benda ini?!" Ia melempar Fantasos dan dengan aku segera menangkapnya.
Wujud Fantasos kini kembali berubah dan ia menjadi sebuah pedang putih yang dapat ku gunakan. "Kenapa kau melempar Bros itu?!" Hemdall tampak kesal ke arah Hermes dan Hermes menatapku dengan tatapan yang sama.
"Kau.. akan ku buat kau membayar semua ini" Hermes mengeluarkan tongkatnya dan pertempuran antara kami tak dapat dihindari. Ia bergerak dengan cepat karena sepatu ajaibnya, sementara aku tersudut karena bertarung di tempat yang cerah.
Sial aku lebih unggul di kegelapan, kalau begini..
Kupu-kupu hitam keluar dari bayangan kakiku dan menyebar ke segala arah. Namun sebuah rantai emas menerjang ke arah kupu-kupu itu "tidak akan ku biarkan kau menciptakan kegelapan di tempat ini" Hemdall membantu Hermes dari belakang dengan rantai-rantai emasnya yang di hiasi oleh duri.
Aku semakin terpojok tepat ketika kartu-kartu berwarna hijau melayang di sekeliling ku, membuat daya pengelihatan ku menjadi sangat terbatas dan akhirnya Rantai emas berhasil menyeret kakiku dan menjatuhkan ku. Hermes lantas menginjakkan kakinya tepat di perutku.
"Kini berakhir sudah" simbol kekuatan suci terbentuk di lantai dan perlahan kertas-kertas bermunculan di udara, kertas-kertas yang di dalamnya tertulis semua hal yang ku ketahui.
"Nanaru, lakukan tugasmu. Aku tidak bisa membaca motif anak ini sampai menyerang kita. Tapi kau pasti bisa" Hermes memberikan perintah dan Nanaru yang tampak memegang kartu hijaunya kemudian mendekat dan mulai mengaktifkan kekuatan pencarian informasi pada semua kertas berisi ingatan itu. Namun tepat sebelum ia melakukannya kertas-kertas itu terbakar dan langit yang cerah berubah menjadi gelap.
"Apa yang terjadi?!"
Dari awan gelap itu aku melihat sosok diriku kembali, namun bukan hanya aku yang melihatnya. Bayangan kegelapan keluar dari kakinya yang tak menyentuh lantai dan di kepalanya sebuah lingkaran cahaya merah terlihat begitu jelas. Baik Hermes, Hemdall maupun Nanaru semuanya merasakan tekanan luar biasa yang dimiliki sosok itu. Mata merah nya yang bersinar di kegelapan menatapku dan diluar perkiraan Nanaru segera menarik diriku pergi menuju sebuah portal, keluar dari dunia atas dan meninggalkan Hemdall dan Hermes yang perlahan dilahap kegelapan.
"Sial, sekarang aku mengerti apa yang dikatakan si tua itu!" Nanaru berteriak dengan panik saat kami kini berada di kereta yang dahulu pernah ku naikin dengan 'seseorang'.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
"Hermes membuka alam bawah sadar mu karena ia tidak bisa memasukinya jadi ia memaksa untuk mengeluarkan nya saja."
"Tunggu itu artinya sosok-sosok diriku yang lain juga terbawa keluar?"
"Tampaknya aku tidak perluh lagi menjelaskan. Silahkan berspekulasi sesukamu nak"
"Tapi bagaimana bisa-"
"Di dunia ini banyak benda-benda aneh yang memiliki kekuatan dahsyat dan Hermes memiliki benda yang dapat menjelajahi isi pikiran orang lain bahkan menunjukan alam bawah sadar seseorang. Tampaknya sosok-sosok dirimu itu adalah pengelihatan yang keluar karena benda itu" Nanaru menjelaskan sesederhana mungkin.
Kalau begitu tadi hanya ilusi...
Aku tidak tahu harus bersyukur atau tidak...
Kereta terus melaju dan suara Hopeless terdengar dari seluruh gerbong kereta "selamat datang kembali, senang melihatmu baik-baik saja. Maaf aku tidak bisa menemui kalian untuk sementara waktu ini, kereta akan segera berhenti tepat di dunia comfort dream" suara mesin yang bergerak mulai berderit dan kereta akhirnya benar-benar berhenti.
Namun jendela yang dulu selalu menampilkan kegelapan atau pemandangan indah kini tampak menampilkan pemandangan yang kacau. Pintu terbuka dan saat aku melangkah keluar Nanaru tak mengikuti ku. Aku menengok ke arahnya dan ia hanya terdiam sampai akhirnya pintu kereta tertutup dan alat transportasi itu kembali bergerak. Meskipun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya aku tahu, ia tampak begitu sedih.
"Tidak..."
Aku dengan cepat mengangkat reruntuhan itu tak peduli seberapa berat dan sakit tanganku saat menyentuh bebatuan atau kayu tajam yang menutupi tubuh sosok itu "kumohon! Jangan!" Aku terus mengangkat setiap material dan akhirnya ketika aku mengangkat kain kotor yang menutupi wajah anak itu, wajahku benar-benar menjadi pucat. Kepedihan dan kekecewaan memenuhi diriku kala aku melihat wajah Rian dan tubuhnya yang kini kaku dan tak bernyawa.
Aku memeluk tubuh dingin itu dan tanpa kuinginkan air mataku menetes bersamaan dengan suara bisikan yang terus menggema di kepalaku.
Mereka berkata aku kembali gagal...
Suara itu terus menghantuiku, merayuku untuk jatuh ke dalam kegelapan yang berdiam dalam diriku sendiri. Semuanya terasa begitu dingin dan mencekam. Namun ketika mataku menangkap keberadaan monster yang berlari ke arahku kolam kegelapan terbentuk di bawah kakiku dan ketika kaki monster itu menginjaknya ia kemudian tengelam ke dalam bayangan.
__ADS_1
Ia meronta kesakitan dan perlahan tubuhnya termakan oleh energiku, menjadikanya bagian dari kekuatan diriku. Aku menatap kosong ke semua penjuru tempat sembari terus mengendong mayat adikku, ada sesuatu yang rasanya hilang dari diriku, tapi aku tak tahu apa.
Semakin aku berjalan semakin banyak mayat teman-temanku yang aku lihat. Semakin banyak pula aku memakan para monster yang berlari ke arahku.
Yang ada di depan mataku kini hanyalah lautan darah dan aku berdiri sendirian di atasnya. Tiada kawan maupun lawan, semuanya mati.
Suara raungan terdengar dan aku membaringkan tubuh Rian ke sebuah tempat aman "tunggulah disini..." Seekor naga terbang di langit yang merah dan menghancurkan semuanya. Ia terbang ke arah istana tempat seorang wanita dengan berat hati menerima takdir kisah yang telah para dewa buat untuknya.
"Serahkan dirimu dan pahlawan akan menyelamatkan mu, wahai putriku" tumbuhan mawar merah menjerat tubuhnya dan Vivian tampak bagaikan sebuah boneka yang terpajang bagaikan umpan. Naga itu akhirnya datang dan menatapnya.
Keputusasaan, dan penderitaan terpancar jelas pada matanya. Meskipun begitu ia tetap menjalankan 'peran' yang ia dapatkan. Yaitu sebagai putri yang akan dikurung oleh sang naga dan menunggu pahlawan untuk menyelamatkannya.
Sungguh Memuakan.
Apa yang aku lihat ini benar-benar membuatku muak dan kesal. Kemarahan entah mengapa berkobar dalam diriku dan seakan tak puas dengan lautan darah yang ku lihat kini aku melompat ke depan Vivian dan tepat ketika kakiku menginjak lantai cairan darah keluar dari leher naga itu dan ribuan kupu-kupu hitam mulai menggerogoti naga itu dengan ganas.
Aku sadar aku telah kehilangan kendali pada diriku sendiri.
Tapi entah mengapa rasanya menyenangkan.
Vivian menatapku dengan mata penuh kebingungan dan syok. Ia menyadari sosokku kini yang mulai berubah, sebuah lingkaran cahaya merah perlahan terbentuk di atas kepalaku dan mataku bersinar merah terang layaknya iblis. Lingkaran kolam kegelapan masih terbentuk di bawah kakiku layaknya portal menuju kegelapan abadi.
"Aku bisa melepaskan mu dari kekangan mereka"
Ucapan itu keluar dari mulutku dan aku merentangkan tanganku bersamaan dengan ribuan kupu-kupu hitam yang berterbangan ke segala arah, meninggalkan bangkai naga yang kini hanya menyisakan tulang belulang. Seakan akulah malaikat maut yang datang menjemput nya menuju kegelapan abadi.
Ketakutan dan rasa tidak yakin terlihat jelas di matanya tapi ketika kupu-kupu hitamku membuat semua sulur diri mawar merah yang melilitnya hilang ia kemudian mulai berjalan mendekat. "Apa yang harus ku berikan untuk itu?" Ia bertanya dan matanya memancarkan suatu kepercayaan.
__ADS_1
"Kau harus ingat, tidak ada jalan kembali begitu kau mengengam tanganku"
...[Bersambung]...