Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
26. Loki yang tertangkap


__ADS_3

"Satu.. dua.. tiga.." di kediaman milik keluarga Akasa seorang gadis tampak tengah berjalan-jalan di tengah gelapnya lorong, sembari melompat lompat kecil bersama kelinci kecilnya. Malam itu akhirnya Arin dapat berjalan-jalan sendiri tanpa adanya salah satu keluarga Akasa yang mengawasinya. Arin bersenandung senang menikmati waktunya sendirian, dengan mata yang tertutup ia mengatakan semua yang telah ia lalui.


"Katanya ada tamu penting yang harus mereka sambut.. Tuan Adipati memintaku untuk terus bermain begitu juga kak Dian dan Andi, meskipun mereka baik tapi.. aku masih takut.. rasanya seperti dipenjara.." Arin menghentikan langkahnya dan kemudian duduk di pinggir lorong sembari memeluk kelinci kecilnya "Semakin aku mengenal mereka, semakin aku tahu mereka benar-benar orang yang aneh.." mata hijaunya tampak menatap ke arah bercak merah yang ada di tengah lorong.


"Rian.. kak Novan, aku rindu kalian" dengan tatapan sedih gadis itu menatap sebuah lukisan dibelakangnya, sebuah lukisan keluarga Akasa yang begitu bahagia. Lukisan dimana Adipati Akasa tampak memeluk mendiang istrinya bersama dengan keempat anaknya, Abdi, Dian, Andi, Rian dan juga seorang pemuda berambut putih yang tak lain adalah Nikolai.


Suara langkah kaki perlahan terdengar dari ujung lorong dan tepat di sana Nikolai dan Loki menatap Arin dengan tatapan terkejut.


"Apa yang kau lakukan ditempat berbahaya ini?"


"Anda.." Arin membulatkan matanya sesaat, sebelum kemudian berlari menerjang Loki yang entah sejak kapan merubah wujudnya menjadi Novan. "Kak Novan!!" Loki dengan tenang mengelus rambut gadis itu lalu dengan mudah menidurkannya dalam pelukan dirinya.


"Loki, dia.." Nikolai tampak tercengang dengan apa yang ia lihat, pada kaki Arin sebuah rantai terpasang dan dari balik rantai yang mengunci kakinya darah menetes dengan sangat jelas. Tidak itu bukan rantai biasa, tapi rantai sihir, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya. Bahkan Arin sendiri tidak mengetahui kalau ia telah di pasangkan rantai yang membuatnya tidak akan bisa kabur dari kediaman itu.


"Selamat datang" dari kejauhan suara derap langkah segerombolan orang terdengar, dan dari ujung kegelapan lorong Adipati Akasa datang dengan kedua anak kembarnya. Namun hal yang membuat Loki mengerutkan keningnya bukanlah kedatangan keluarga itu, tadi dua sosok Dewi yang melayang di belakang mereka.


"Haha.. situasi macam apa ini, Dewi Hera dan Dewi Ratna?" Tanya Loki dengan mengubah wujudnya kembali menjadi sosok dewanya "bukankah kalian diputaran kali ini adalah musuh?"


'π‘‡π‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘™π‘Žβ„Ž πΏπ‘œπ‘˜π‘–.. π‘ƒπ‘Žπ‘ π‘‘π‘– 𝑖𝑛𝑖 π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– 𝑖𝑑𝑒.. 𝐴𝐾𝑒 π‘¦π‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘‰π‘–π‘£π‘–π‘Žπ‘› π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘‘π‘Žπ‘”π‘œπ‘›π‘–π‘  π‘‘π‘Žπ‘› π·π‘–π‘Žπ‘› π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π΄π‘›π‘‘π‘Žπ‘”π‘œπ‘›π‘–π‘  π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘˜π‘Žπ‘™π‘– 𝑖𝑛𝑖.. π‘€π‘’π‘ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘–π‘™ π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘Ž 𝐷𝑒𝑀𝑖 π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž π‘˜π‘–π‘›π‘– π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž...' batin Loki.


Dengan senyuman dan mata yang tajam Hera menatap Loki dengan tatapan kemenangan "Tuan Dewa Loki dari Nordik, apa anda pikir saya tidak akan mengetahui rencana licik anda?"


Saat itu juga sebuah rantai emas melilit tubuh Loki "Dengan ini aku sebagai salah satu kordinator dunia mimpi dan ratu dari para dewa Yunani menyatakan bahwa Loki sang dewa Tipu daya dari mitologi Nordik terbukti melanggar salah satu dari perjanjian kedewaan"


"Haha saya tidak mengerti maksud anda-"


"Lebih baik anda mengaku saja, saya punya saksi atas kejahatan anda"


"S-saksi?"


Dari balik kegelapan seorang pemuda bertopi berjalan dengan tenang dan menuju ke arah mereka. Nanaru tersenyum senang memandang ke arah mereka sebelum kemudian mengatakan alasan kedatangannya.


"Saya Nanaru, sang kordinator dari dunia Lucid dream memenuhi panggilan yang mulia ratu para dewa Yunani"


.


.


.


...[Kembali lagi ke tempat Novan berada..]...


....


"Tunggu kalian berdua!"


Pria itu memanggil kami dengan suara yang cukup kencang, matanya yang tajam menatap ke arah punggung Medusa.


π‘†π‘–π‘Žπ‘™, π‘Žπ‘π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– π‘˜π‘’π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘Žπ‘›?


"Nona yang disana, terimakasih sudah melindungi putri saya, pemuda itu bilang andalah yang menolong putri saya" Ares tampak memeluk putrinya dengan penuh kasih, sementara Medusa menjawab degan suara yang sedikit gemetar.


"I-itu buka masalah"

__ADS_1


"Maaf tapi apa ada suatu hal yag bisa saya lakukan untuk membalas anda?"


"I-itu.." Ares semakin berjalan mendekati kami, dan semakin jelas pula tubuh Medusa mulai gemetar.


"Maaf tapi keadaan saudari saya sedang tidak baik" Aku dengan cepat menyela pria itu untuk semakin mendekat "Seperti yang anda lihat, saudari saya tida bisa melihat dengan baik, jadi saya harus mengantarnya sesegera mungkin ke dokter"


πΎπ‘’π‘šπ‘œβ„Žπ‘œπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž..


"Begitu ya, saya mengerti.."


π΅π‘Žπ‘”π‘’π‘ !


"Karena kalian terburu-buru sekali maka aku hanya bisa memperingati kalian sesuatu"


Suasana yang teramat ricuh entah mengapa untuk sesaat terasa dingin.


"Disini adalah wilayah yang berbahaya, sebisa mungkin berhati-hatilah dengan orang asing terutama dengan seorang pemuda berambut hitam dan bermata merah"


π΄β„Ž 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑑𝑒 π‘¦π‘Ž..


π·π‘–π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘– π‘Žπ‘˜π‘’ π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘ π‘–π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘–π‘›π‘π‘Žπ‘Ÿ π»π‘’π‘Ÿπ‘Ž π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘’ π‘‘π‘Žπ‘› π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘Žπ‘’π‘Ÿπ‘Ž π‘˜π‘’π‘˜π‘’π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› πΏπ‘œπ‘˜π‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘Žπ‘ π‘–β„Ž π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘šπ‘π‘’π‘™ π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘’..


π΄π‘‘π‘Ž π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘›π‘¦π‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘›π‘‘π‘œπ‘›π‘”π‘›π‘¦π‘Ž.. π‘Œπ‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘ π‘˜π‘–π‘π‘’π‘› π‘π‘Žπ‘—π‘’π‘˜π‘’ π‘—π‘Žπ‘“π‘– π‘π‘’π‘›π‘’β„Ž 𝑏𝑒𝑙𝑒 π‘˜π‘’π‘π‘–π‘›π‘”..


"Baik, akan kami ingat. Terimakasih atas peringatannya"


Bersamaan dengan malam yang semakin larut dan gemerpal cahaya dari lampu penerangan jalan dan bangunan-bangunan kota pesisir yang indah kami berjalan ke arah pantai.


"Kau sudah menolongku dua kali.. terimakasih"


Dengan nada yang rendah dan ragu Medusa mengungkapkan isi pikirannya, di bawah cahaya bulan yang cerah, matanya yang tertutup oleh sehelai kain tampak menatap ke arah langit.


"Mengapa kau ke kota, bukankah kau tahu itu berbahaya?"


"Aku tahu, tapi sesuatu dalam hatiku mengatakan.. aku merindukannya.. aku merindukan kehidupan ku yang dulu.." Medusa memasang senyuman getirnya dan melanjutkan kalimatnya dengan nada yang terdengar tenang namun teramat dalam.


"Aku tidak bisa menerima wujud mosterku, aku tidak bisa menerima takdirku sendiri, semua yang ku miliki telah direngut dariku.. dengan wujudku yang seperti ini, aku bahkan tidak bisa melihat keindahan dunia ini.."


π‘€π‘’π‘ π‘˜π‘–π‘π‘’π‘› π‘Žπ‘˜π‘’ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’ π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘Žπ‘˜π‘’ π‘šπ‘’π‘šπ‘Žβ„Žπ‘Žπ‘šπ‘– π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘’π‘‘π‘›π‘¦π‘Ž..


"Aku ingin hidup, tapi mengapa rasanya aku tidak pernah merasakan apa itu hidup"


π·π‘Žπ‘› π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑛𝑖, π‘–π‘Ž π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› 𝑖𝑠𝑖 β„Žπ‘Žπ‘‘π‘– π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘šπ‘›π‘¦π‘Ž..


"Kalau aku berkata aku bisa menciptakan dunia dimana kau bisa benar-benar merasa hidup, apa kau akan membantuku?"


...


Medusa mengangkat alisnya, raut wajah terkejut terlihat jelas pada wajahnya. Meskipun ia tak dapat melihatnya, meskipun ia tidak bisa mempercayai ucapan yang terlalu manis itu..


Tapi entah mengapa ia bisa merasakan bahwa orang yang ada di depannya bisa mengwujud kan hal itu.


"Wahai manusia, sebenarnya siapa kau? Mengapa rasanya aku bisa merasakan energi dewa yang begitu kuat terpancar dari dalam dirimu?"

__ADS_1


"Entahlah, yang aku tahu aku hanyalah manusia yang telah dibuang oleh dunia ini"


Dengan mata yang memerah Novan merentangkan tangannya "begitu juga kau" senyuman merekah diwajah Novan dan bersamaan dengan itu sepasang sayap samar-samar tercipta di punggungnya.


"Kita adalah para manusia yang mencari keadilan untuk diri kita sendiri"


.


.


.


Sementara itu jauh di pusat kota, Fobetor bersama Rian tampak terduduk di sebuah restoran makan, dengan wajah canggung keduanya menatap pria yang ada di hadapan mereka.


"Jadi bagaimana kalian bisa ada di sini?"


Abdi tampak bertanya dengan wajah serius, meskipun terlihat kaku Fobetor tahu manusia di depannya ini rasanya seperti terobsesi dengan Novan.


"Ekhm.. sudah saya bilang, anda salah orang" ujar Fobetor.


"Tolong jangan berbohong, saya tahu itu kakak!"


"Siapa yang kakakmu?!"


Rian tampak hanya bisa terdiam membeku, meskipun Abdi dan dia adalah keluarga, keduanya sama sekali tidak memiliki hubungan yang baik. Abdi adalah anak emas dari keluarga Akasa, sedangkan Rian hanyalah anak bungsu yang bisa dibuang oleh keluarganya sendiri.


Bagi Rian, Abdi bukanlah kakaknya tapi hanyalah sebuah Terget yang harus ia lampaui bila ingin terus bertahan. Namun sekarang rasanya Rian telah sedikit menyerah akan ambisinya itu. Ketika ingatan saat ia kalah melawan para ular itu terputar di kepalanya, ketika itu juga ia merasa dirinya begitu lemah.


'πΎπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑑𝑒 π‘π‘œπ‘£π‘Žπ‘› π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘”π‘˜π‘’.. π‘ƒπ‘Žπ‘ π‘‘π‘– π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘’ π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž....' Rian mengepalkan tangannya dengan kuat, mau tidak mau ia harus membuat rasa bencinya pada Novan, biar bagaimanapun Novan adalah penyelamatnya.


Kembali pada situasi saat ini, ketiga laki-laki tengah saling berdiskusi. Dengan wajah kesal Fobetor hanya dapat mengumpat dalam hati, persis seperti apa yang selalu Novan lakukan.


π‘€π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘ π‘–π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘’π‘π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘–β„Ž? π·π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘˜π‘Žβ„Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘›π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘›π‘”π‘œπ‘‘π‘œπ‘‘ 𝑖𝑑𝑒 π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž π‘—π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘›π‘Žπ‘™ π‘π‘œπ‘£π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ 𝑖𝑛𝑖.. π‘†π‘–π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– π‘™π‘Žπ‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘›?! batin Fobetor.


"Dengar, nama saya adalah Fobe! Saya bukan Novan dan saya tidak kenal siapa itu Novan!"


"Tidak hanya berbohong dan kabur, kakak juga membuat identitas baru ya.."


"Sudah ku bilang aku bukan-"


Sebuah lingkaran sihir berwarna merah terang tiba-tiba terbentuk diatas kepala Fobetor.


'π‘†π‘–β„Žπ‘–π‘Ÿ π‘π‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘–π‘™?!!'


"Rian!"


Fobetor dengan cepat memegang tangan Rian, membuat keduanya seketika berteleportasi dan menghilang menjadi kepingan cahaya tepat di depan mata Abdi. Entah itu adalah suatu kebetulan atau keberuntungan, namun berkat itu keduanya bisa kabur dari tangkapan Abdi.


...


Fobetor membuka matanya tepat di sebuah ruangan yang begitu familiar, dan tepat di depan matanya Novan tampak terkapar tak berdaya.


...[Bersambung]...

__ADS_1


__ADS_2