
Sesampainya di rumah nenek Kayla langsung menghampirinya.
“Dari mana Kayla?” tanya sang nenek
“Emm Kayla dari taman nek” jawabnya menunduk
“Kenapa main di luar, kalo nanti Kayla demam bagaimana?”
“Kayla Cuma main sebentar nek, Kayla juga sudah izin sama papah kata papah boleh”
“Ya sudah Kayla ke kamar ya”
Kayla mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya.
“Bi, lain kali kalo Kayla mengajak ke luar jangan lama-lama atau bibi cari alasan agar Kayla tidak keluar. Aku takut kejadian lalu terulang lagi, dan mungkin lebih parah”
“Iya nyonya”
“Ya sudah bibi boleh ke belakang”
BI sri pun langsung ke belakang meninggalkannya.
Tak lama kemudian Rendra datang dan turun dari mobilnya.
“Sudah pulang bu?” tanya Rendra
“Iya baru saja sampai, oh iya Rendra ibu mau bicara sama kamu”
“Mau bicara apa bu?”
“Ibu punya teman dan anaknya itu juga lagi single” sebelum melanjutkan perkataannya Rendra langsung memotongnya
“Bu, Rendra sudah bilang berapa kali kalo Rendra belum siap kalo harus nikah lagi. Rendra masih belum bisa lupa sama Dewi”
“Apa salahnya kamu coba dulu, siapa tahu setelah ketemu kalian cocok”
“Sudahlah bu, Rendra mau ke kamar”
“Rendra tunggu”
“Apalagi bu?”
“Coba kamu pikirkan terlebih dahulu, jangan langsung memutuskan begitu”
Rendra tak menjawabnya, ia pergi ke kamarnya.
Rio langsung pulang setelah Kayla dan bi Sri pulang, karena waktu juga sudah sore. Sesampainya di rumah Rio terkejut karena ibunya pingsan di depan kamarnya.
“Ibu!” panggil Rio
Surya belum pulang dari pangkalannya. Rio berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan.
“Tolong! Tolong ibu saya” teriak Rio
“Ada apa Rio, kenapa teriak-teriak” tanya para tetangga
“Ibu saya pingsan tolong saya bawa ibu ke rumah sakit” ucap Rio
“Apa! Di mana ibu kamu?”
“Di dalam bu”
__ADS_1
“Ayah kamu ke mana?”
“Belum datang, ayah masih belum pulang”
“Ya sudah ayo kita bawa ibu kamu ke bidan”
Ningsih digotong untuk dibawa ke rumah bidan, biasanya warga setempat berobat ke bidan karena kalau harus ke rumah sakit selain jaraknya yang cukup jauh, biayanya juga mahal.
“Terima kasih pak bu, sudah bantu Rio bawa ibu ke sini” ujar Rio
“Iya sama-sama Rio, kalo begitu kita pulang ya. Nanti jika ayahmu sudah datang akan ibu suruh ke sini buat susul kamu dan ibumu” jawabnya
“Iya, sekali lagi terima kasih pak bu”
“Kami pulang dulu ya Rio” “Assalamualaikum” ucap warga
“Waalaikumsalam”
Rio menghampiri ibunya yang masih terbaring.
“Ibu saya kenapa bu?” tanya Rio pada bidan yang memeriksa ibunya
“Ibu kamu tidak apa-apa, mungkin ibu kamu kelelahan jadinya pingsan” jawab bidan itu menenangkan Rio “Bapak kamu ke mana?” tanyanya
“Bapak belum pulang bu, nanti pasti menyusul ke sini kalau sudah pulang”
“Ya sudah kamu temani ibumu dulu ya, sebentar lagi akan siuman”
“Iya bu terima kasih, saya tunggu ibu siuman sambil tunggu ayah ke sini”
“Kalo gitu saya ke luar dulu ya” Bu bidan mengelus rambut Rio dan keluar dari ruangan
Setelah beberapa menit menunggu Ningsih kini siuman.
“Iya nak, kok ibu bisa ada di sini?” tanya Ningsih
“Tadi ibu pingsan di depan kamar ibu jadi aku minta tolong sama warga buat bawa ibu ke sini. Ibu tiduran saja dulu”
“Rio, bagaimana keadaan ibu?” Surya yang baru sampai langsung menghampiri Ningsih
“Ibu gak pa-apa kok yah, ibu Cuma capek aja tadi” jawab Ningsih
“Ibu ngapain kok bisa kecapean sih?” “Kan aku sudah bilang, ibu istirahat saja tidak usah ngapa-ngapain” sambung Surya
“Ibu dati Cuma menyapu sama ke kebun sebentar kok buat cari sayur”
“Lain kali ibu tidak usah ke kebun. Kalo ibu mau apa-apa tunggu ayah atau Rio pulang saja” Surya kelihatan cemas melihat istrinya yang lemas.
Ketika Surya pulang ke rumahnya, ada tetangga yang bilang kalau Ningsih di bawa ke bidan dan ditemukan pingsan di depan kamarnya. Surya langsung mengayuh sepedanya dengan cepat, karena ia khawatir dengan keadaan Ningsih.
“Iya yah, ibu sudah tidak apa-apa kok ayah sama Rio tidak usah khawatir ya”
“Sudah datang pak Surya” sapa bu bidan
“Eh bu bidan, iya saya baru sampai rumah dan tetangga bilang kalau istri saya pingsan dan dibawa ke sini”
“Istri bapak hanya kecapean saja, lain kali bu Ningsih jangan melakukan aktivitas yang berat-berat ya” saran bu bidan
“Memang ibu saya sakit apa ya bu?” tanya Rio
“Saya tidak bisa memastikan penyakitnya apa, jika memang ingin mengetahui secara lebih jelas, saya sarankan untuk membawa bu Ningsih ke rumah sakit”
“Tidak usah bu bidan, palingan aku cuma sakit biasa saja, karena belum makan juga jadinya pingsan”
__ADS_1
“Nanti saya akan bawa istri saya ke rumah sakit, karena saat ini masih mengumpulkan uang” jelas Surya
“Ini obat dan vitaminnya diminum sehari tiga kali ya bu, ingat pesan saya ibu jangan terlalu capek”
“Iya bu bidan terima kasih, dan ini uangnya” Surya memberikan uang 50.000
“Apa istri saya sudah boleh pulang?” tanya Surya
“Iya boleh pak Surya”
“Kalau begitu kami pamit, terima kasih bu” ujar Ningsih
Surya membantu istrinya untuk berjalan dan naik ke becaknya. Ningsih dan Rio duduk di becak sedangkan Surya mengayuh sepedanya.
“Ayo ayah bantu bu” Surya memegang tangan Ningsih dan menuntunnya ke dalam kamar.
“Kamu mandi dulu setelah itu sholat, tidak usah ke masjid takut ibu nanti butuh kita ya” ujar Surya pada Rio
“Iya yah” jawab Rio
“Ayah keluar dulu ya bu, kalo ibu butuh apa-apa panggil saja”
“Ayah mau ke mana”
“Ayah mau masak dulu, nanti kalo Rio selesai mandi bergantian takut gak keburu sholat magribnya”
“Iya yah”
Ningsih merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah tidak empuk lagi. Ningsih terlihat lemas, tenaganya belum kembali karena pingsan tadi.
Rio yang sudah selesai sholat menghampiri ayahnya di dapur.
“Ayah belum mandi?” tanya Rio
“Belum, kamu gantikan ayah dulu ya, ayah mau mandi terus sholat”
Surya keluar dari dapur dan mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi. Selesai sholat Surya kembali ke dapur.
“Sudah masak nak?” tanya Surya
“Nasinya sudah yah, ikannya sedikit lagi matang” jawab Rio
“Sini ayah bantu”
Surya dan Rio selesai masak, membawa masakannya ke depan. Surya mengambilkan nasi dan ikan untuk Ningsih, dan membawa ke kamarnya.
“Bu makan dulu”
“Iya yah, terima kasih” Ningsih mengambil piring yang diberikan Surya.
“Aku makan di luar sama Rio”
“Iya yah”
Surya keluar dan duduk di samping Rio.
“Makan yang banyak biar cepat besar” ujar Surya
“Memang kalo makannya banyak bisa cepat besar yah? Rio baru tahu, tapi Rio tidak mau banyak makannya” ujar Rio
“Loh kenapa?” tanya Surya heran
“Yang ada Rio gendut nanti” ucap Rio diselingi tawa
__ADS_1
Surya tertawa mendengar jawaban Rio. Memang benar waktu yang paling indah memang bersama keluarga, karena kebersamaan itu tidak bisa dibeli dengan uang.