
“Terima kasih ya pak semoga rezeki bapak tambah lancar” ucap Rio
“Amin terima kasih dek, bapak buru-buru pulang karena istri bapak hamil besar takutnya nanti ada apa-apa, karena menurut perhitungan dokter bulan ini melahirkan” ucapnya
“Semoga diberi kelancaran ya pak”
“Amin”
“Kalau begitu saya permisi ya pak mau lanjut jualan” ucap Rio
“Iya semoga jualannya laris”
“Amin terima kasih pak”
Rio kembali melanjutkan untuk berjualan, ada seorang yang menabrak Rio sehingga membuat barang dagangan Rio terjatuh. Ada yang jatuh di tanah dan ada yang jatuh ke dalam god, Rio kaget dan melihat orang yang menabraknya namun sayangnya orang itu malah terus berjalan tanpa memberi ganti rugi pada Rio. Kini barang jualannya tinggal sedikit.
“Ya Allah, tisu dan kacangnya tinggal sedikit” ucap Rio menahan air matanya “Orang itu malah pergi dan tidak minta maaf” Rio mengambil tisu dan kacangnya yang masih bersih dan bisa dijual lagi
Rio jadi tidak bersemangat untuk berjualan, Rio memutuskan untuk pulang karena hari juga hampir sore. Di perjalanan Rio hanya menunduk, ia tidak tahu harus bagaimana. Tentu saja Rio harus mengganti semua tisu dan kacang yang terjatuh. Rio menghitung tisu dan kacang yang jatuh, tisu yang jatuh 4 buah dan kacangnya sekitar 5. Rio harus membayar sekitar 30 ribuan, Rio tidak punya uang. Uang di celengannya sudah habis untuk beli sepatu ayahnya, hanya ada uang hasil jualan kemarin 15 ribu, niatnya akan Rio kasih pada ayahnya.
“Assalamualaikum” ucap Rio masuk ke dalam rumah
“Waalaikumsalam, sudah pulang nak?” ucap Rio “Kenapa sedih mukanya” tanya Ningsih
“Tisu dan kacang Rio tadi jatuh bu, jualan Rio tinggal sedikit. Uang hasil jualan kemarin hanya dapat 15 ribu, kurang 15 ribu untuk gantinya bu” ucap Rio
“Jangan sedih nanti minta ke ayah uangnya pasti ayah kasih” ucap Ningsih menenangkan Rio
“Tapi...” Rio belum sempat melanjutkan bicaranya Ningsih sudah memotong
“Sudah kamu mandi dulu biar ibu yang bicara ke ayah nanti”
__ADS_1
“Iya bu” Rio menuruti ucapan Ningsih dan berlalu ke kamarnya
Tak lama kemudian, Surya datang dan menaruh becaknya di depan rumah.
“Assalamualaikum” ujar Surya
“Walaikumsalam ayah” jawab Ningsih
“Rio sudah pulang bu?” tanya Surya
“Sudah yah, tapi Rio sedih karena dagangannya jatuh dan Rio pasti harus menggantinya. Ayah nanti kasih Rio 15 ribu ya biar dia tidak sedih lagi” ucap Ningsih
“Iya nanti ayah kasih, alhamdulillah hari ini dapatnya lumayan banyak karena bapak tadi antar penumpangnya agak jauh jadi dikasih banyak”
“Ya sudah ayah mandi dulu ya, ibu siapkan makan dulu kan nanti ayah dan Rio ke masjid”
“Iya bu, ayah mandi”
“Ini buat Rio” Surya memberikan uang 15 ribu kepada Rio
“Uang? Buat apa yah?” tanya Rio
“Katanya kamu harus mengganti tisu dan kacang yang jatuh tadi. Jadi ini buat bayar buat gantinya” jawab Surya
“Terima saja, kamu jangan sedih lagi ya mungkin bukan rezeki kamu jadi kamu tidak perlu sedih berlama-lama tetap semangat ya” ucap Ningsih menasihati Rio
“Benar kata ibumu, jika memang rezekimu tidak akan pernah tertukar, mungkin esok atau lusa Allah akan mengganti yang lebih banyak jadi kamu jangan berlarut-larut sedihnya ya” imbuh Surya
“Iya Rio akan semangat lagi Rio tidak akan sedih lagi ayah ibu” jawab Rio tersenyum
“Nah begitu baru namanya Rio” ucap Surya
__ADS_1
“Ya sudah ayo kita makan, setelah itu kita ke masjid” sambung Surya
“Iya yah” ucap Rio
Selesai makan Surya membantu Ningsih mencuci piring dan membereskan peralatan masak.
“Bu, sepertinya ibu belum bisa periksa ke dokter sekarang uangnya kita gunakan buat beli beras dulu, ayah janji akan kerja lebih keras lagi supaya uangnya cepat terkumpul” ucap Surya
“Iya tidak apa-apa mas, lagian aku sudah mendingan kok. Kalo kondisi aku terus membaik nanti aku akan jualan lagi, mungkin di sini-sini saja atau sambil titip di warung-warung” ucap Ningsih
“Apa ibu yakin? Nanti kalau ibu capek bagaimana?”
“Aku yakin, kalau capek aku akan istirahat, jualannya hanya sedikit saja. Ibu bosan kalo hanya diam tidak ada kerjaan” ucap Ningsih
“Ya sudah kalo ibu maunya seperti itu, tapi jangan paksa kalau tidak kuat atau sudah lelah ya”
“Iya ibu janji” ucap Ningsih
Satu minggu kemudian
Rio dan Kayla sudah melaksanakan ujian kenaikan kelas dan semuanya dinyatakan naik kelas, Kayla sangat senang. Besok Rendra akan membawa, Kayla dan juga Mayang akan ke Bandung sesuai janjinya pada Mayang, untuk bertemu dengan Bela dan sekalian liburan dan merayakan kenaikan Kayla ke kelas enam.
Sri yang sedang menyiapkan pakaian Kayla dan juga Rendra, Rendra sudah memilih beberapa baju tinggal memasukkannya ke dalam koper. Mereka akan ke Bandung selama seminggu, Sri tidak ikut karena merasa tidak enak badan takutnya malah merepotkan di sana. Mayang sudah mengajak Sri tapi Mayang memaklumi kalau Sri harus istirahat di sini. Di Bandung mereka bisa makan di luar jika Mayang tidak masak.
Rendra tidak menyetir sendiri karena membawa Mayang, jika ibunya ingin keluar biar diantar sopir saja, tidak mungkin Rendra bisa selalu mengantar ibunya, karena Rendra juga harus pergi ke kantor. Rendra khawatir jika Mayang menyetir sendiri, usia Mayang tidak terlalu tua.
Kekhawatiran seorang anak pada ibunya juga besar, jika seorang ibu khawatir pada anaknya karena tidak pulang sampai larut malam lalu ia tidak bisa tidur. Seorang anak pun juga bisa khawatir kepada orang tuanya, tentu semua itu ada karena rasa cinta dan sayang yang tumbuh di hatinya. Perasaan itu harus dipupuk sejak kecil, dipupuk dengan perhatian serta kasih yang tulus.
Seperti Rendra yang selalu mendapatkan semua itu, meski ia sempat kehilangan sang ayah, Mayang tak pernah rela jika Rendra tidak merasakan kasih sayang yang lengkap. Begitu pun saat ini Kayla, meski ia tak dirawat dan dibesarkan oleh ibunya, ia tak pernah kekurangan perhatian dari nenek dan papahnya, apalagi ada Sri yang selalu ada untuk Kayla. Sri memang hanya pembantu, keluarga Mayang tak pernah memperlakukan Sri dengan buruk, apalagi Sri yang selalu mengurus Kayla sejak saat masih bayi.
__ADS_1
Kayla dan Mayang bisa jalan-jalan kalau Rendra sedang di kantor, kalau Rendra bisa naik taksi atau minta jemput pada Erik karena rumah Erik satu arah dengan apartemen Rendra.