Mimpi Untuk Nyata

Mimpi Untuk Nyata
30


__ADS_3

Rio yang baru pulang berjualan melihat rumahnya ramai membuatnya bingung dan bertanya-tanya di dalam benaknya, apa karena orang-orang pada beli gorengan ibunya pikir Rio, karena gorengan ibunya memang terkenal enak dan banyak yang menyukainya. Setelah masuk ke dalam, Rio di sambut ayahnya yang berusaha kuat dan tidak menangis di hadapan Rio, agar putranya bisa menerima semuanya.


“Ayah, kenapa rumahnya rame?” tanya Rio


“Kamu harus kuat ya nak, kita harus bisa menerima semuanya, masih ada ayah di sini ayah akan selalu ada buat kamu. Kita berjuang bersama-sama ya” ucap Surya memeluk Rio


“Ada apa yah? Kenapa? Ibu ke mana? Apa semua orang sedang membeli gorengan ibu?” tanya Rio


“Ibu sudah meninggal” ucap Surya, ia tak kuasa menahan air matanya


“Ayah bohong kan? Ibu pasti lagi di dapur, ibu tidak akan meninggalkan Rio dan juga ayah. Ibu sayang sama kita” ucap Rio yang menangis mendengar jawaban sang ayah


“Ayah tidak  bohong, ibu sedang dimandikan di belakang, kalau kamu mau melihat ayo ayah antar” Surya membawa Rio ke tempat dimandikannya Ningsih.


Rio melihat sang ibu yang sudah pucat dan tidak bergerak, Rio semakin menangis memanggil-manggil sang ibu, berharap ibunya sadar dan kembali membuka matanya. Namun, semua itu mustahil terjadi, Ningsih sudah pergi untuk selama-lamanya.


“Ibu bangun bu, kenapa ibu meninggalkan Rio dan ayah? Ibu sudah tidak sayang lagi sama Rio juga ayah?” Ujar Rio di sela-sela tangisnya


Mely yang merupakan tetangga Surya membawa Rio keluar dari tempat pemandian, ia menenangkan Rio untuk tidak menangis lagi. Semakin Rio menangis ibunya akan semakin sedih melihatnya.

__ADS_1


“Sudah nak, kamu harus kuat Allah lebih sayang ibumu. Kamu do’akan supaya ibumu mendapatkan tempat yang indah, semua ini takdir dari Allah kamu harus kuat, kalau kamu sedih ibumu pasti sedih melihat kamu seperti ini. Kamu harus tegas, semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk ibumu” ucap Mely mengelus pundak Rio


“Rio belum siap kehilangan ibu, Rio masih ingin ibu ada di sini” ucap Rio


“Ibu paham bagaimana perasaanmu, tidak ada yang dapat merubah takdir. Semua ini sudah menjadi suratan tangan-Nya kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan berdo’a agar yang diberikan oleh-Nya bisa membuat kita lebih tabah dan sabar lagi” ucap Mely


Rio masih menangis, ia tidak menyangka bahwa ibunya akan pergi secepat ini padahal tadi pagi masih mengobrol bersama. Kalau tahu ibunya akan kecelakaan, Rio akan menemani ibunya berjualan agar ibunya tak perlu berkeliling sampai ke jalan raya.


Surya menghampiri Rio yang ditenangkan Mely, ia memeluk Rio. Surya memberi ketenangan untuk Rio, agar ia berhenti menangis dan bisa mengikhlaskan ibunya. Yang dibutuhkan Ningsih saat ini hanya do’a agar ia tenang di sana.


“Sudah nak, kita tunggu ibu di dalam ya. Jangan menangis lagi, ibu pasti sedih kalo lihat kamu seperti ini” ucap Surya


Surya membawa Rio di ruang depan untuk membacakan ayat Al-Quran, setelah dimandikan Ningsih langsung dikafani dan dimakamkan hari ini. Seluruh tetangga membantu pemakaman Ningsih, Ningsih dan keluarga dikenal baik selama ini tak ada yang pernah merasa disakitinya, Ningsih dan juga Surya menjaga silaturahmi yang baik dengan tetangga-tetangganya, ia tak mau menambah masalah dan juga beban dengan urusan tetangganya apalagi mereka hanya orang miskin yang terkadang dipandang rendah. Tapi mereka tak pernah memasukkan ke dalam hati ucapan orang-orang yang terkadang menghinanya, yang penting mereka tak mengganggu kehidupannya, jika itu terjadi Surya tidak akan tinggal diam.


Semua orang sudah pulang, kini tinggallah Rio dan ayahnya yang masih menatap makan Ningsih. Buah hati mana yang sanggup berpisah dengan ibunya, apalagi Rio masih kecil tentu nantinya butuh seorang ibu yang selalu perhatian padanya.


“Rio, ayo kita pulang. Sudah hampir maghrib, kita do’akan ibu dari rumah” ucap Surya


“Tapi Rio masih ingin bersama ibu, yah” jawab Rio

__ADS_1


“Besok kita ke sini lagi, sekarang kita pulang dulu ya”


Rio akhirnya pulang, karena Surya juga harus mempersiapkan untuk acara tahlilan. Tahlilan hanya dilakukan oleh warga sekitar, karena rumah Surya yang sempit tidak akan muat menampung banyak orang.


Banyak yang berempati pada Surya, selain karena mereka baik dan suka menolong sesama, para tetangga juga kasihan jika melihat kehidupan mereka yang bisa dibilang sangat cukup. Banyak warga yang memberi beras dan juga santunan pada Rio, karena tak mungkin mereka akan pergi bekerja selama tujuh hari ini, mereka harus menyiapkan keperluan untuk tahlilan, meski warga sudah melarang Surya untuk memberikan suguhan, Surya tetap memberikan walau hanya air putih saja, Surya tidak mampu kalau harus membeli yang lain.


Malam ini merupakan malam ke tujuh setelah kematian Ningsih, Surya dan Rio ikut mendo’akan untuk Ningsih. Selesai tahlilan para warga pamit untuk pulang dan ada juga yang masih berbincang-bincang dengan Surya.


“Yang sabar ya pak Surya, semoga ke depannya bisa menghadapi semua cobaan dan ujian yang diberikan oleh-Nya. Rio juga harus jadi anak yang kuat dan rajin belajar, ibumu pasti bangga melihatmu. Kamu anak yang pekerja keras, jaga ayahmu ya” ucap pak Anton


“Iya pak, terima kasih sudah bantu-bantu selama tujuh hari ini untuk bu Mely juga terima kasih banyak sudah banyak membantu selama tujuh hari ini. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah. Insya Allah kami akan sabar dan lebih tabah lagi ke depannya, Ningsih sudah bahagia di sana, ia juga tak perlu merasakan sakit lagi” ucap Surya yang berusaha menahan air matanya


“Iya pak, bu Ningsih pasti sudah ada di tempat yang terbaik hanya do’a-do’a yang saat ini diperlukan oleh bu Ningsih, kalau pak Surya dan juga Rio butuh sesuatu atau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu kami, siapa tahu kami bisa membantunya apalagi rumah kita dekat jadi anggap saja kita sebagai kerabat” ucap Mely


“Iya bu, terima kasih banyak atas tawarannya” ucap Surya


“Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang dulu ya pak Surya, Rio” ucap Anton


“Iya pak, bu terima kasih”

__ADS_1


Anton dan Mely pulang dan kini hanya tinggallah Surya dan Rio di rumahnya. Rumah yang biasanya berisi tiga orang, kini hanya tinggal dua orang yaitu Surya dan Rio. Rasa kehilangan masih terasa, tapi mereka tidak mungkin berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa kehilangan. Semua harus berjalan seperti sedia kala, aktivitas yang biasanya dilakukan juga harus berjalan seperti hari-hari sebelumnya.


Surya harus bisa merelakan Ningsih, ia harus bisa merawat Rio dan memberikan kasih sayang yang biasanya Ningsih berikan. Surya tak mau jika Rio berlarut-larut dalam kesedihan, meski pada akhirnya rasa kehilangan itu terasa.


__ADS_2